Destiny Holder

Destiny Holder
Mimpi Buruk Terburuk Telah Datang



Saking cepatnya, Katsura tak sadar bahwa tangan Ferus sudah terlebih dahulu menebas lehernya. Karena itu juga dia tak merasakan apapun saat dia sadar kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.


Kepalanya terpental, darah bercucuran sangat deras. Feria yang sedang duduk sangat shock, dan tak bisa berkata-kata lagi.


Feria menoleh ke arah Ferus, tangan kanan yang telah menebas leher Katsura dilapisi dengan aura berwarna kuning. Feria pun sangat marah dan tanpa pikir panjang langsung menerjang ke arah Ferus disaat itu juga.


"SIALAN KAAUU!!" teriaknya, sembari mencoba menusukkan tangannya yang dilapisi oleh api, dia meniru cara Ferus sebelumnya. Namun tentu saja, serangan itu diblokir oleh Ferus dengan mudah.


Bahkan walau dengan tangan kirinya, tangannya tak tersentuh sama sekali. Walau terlihat bersentuhan, namun sebenarnya tidak, karena terhalang oleh aura Ferus yang sangat dahsyat sehingga menjadikannya sebagai tameng.


"APA-APAAN PRIA INI?"


"Kau.. Cukup bodoh menantangku bertarung" Ferus menusukkan tangannya ke perut Feria sehingga berlubang.


Tubuh Feria yang ditusuk Ferus seketika meledak, menghasilkan asap berwarna merah yang terbuat dari bubuk mesiu. Tentu, itu mudah meledak ketika terkena api.


Feria yang asli muncul dibalik toko, lalu mengeluarkan jurus.


..." Malam Api Membara! "...


Sebuah ombak api tercipta didepan Feria, dengan cepat mengarah ke arah Ferus dan membuatnya meledak.


Semua pengunjung yang ada disana sangat panik, dan berusaha dievakuasi sendirian oleh Feria beserta kloningannya.


"Pergi lah! cepat! serangan ini takkan mampu menghambatnya!" serunya panik.


Para pengunjung pun hanya menurut, lalu pergi sejauh-jauhnya agar tak mengganggu pertarungan.


"Serangan yang cukup bagus, kuakui itu" semua asap dan ledakan terhempas, Ferus keluar sambil menepuk-nepuk bahunya.


"Bahkan bajunya pun tak ternodai sedikitpun.. Gawat.. Ini masalah yang besar" batinnya.


"Sepertinya tak sopan ya aku langsung menyerangmu begitu saja tanpa perkenalan apapun. Baiklah akan ku perkenalkan diriku."


"Namaku adalah Ferus, pengawal raja generasi pertama di semesta J-60" Ferus membuka matanya lebar-lebar, memamerkan pupil matanya yang terlihat seperti iblis.


"Fer..us? namanya seperti pernah kudengar."


"Aku kemari untuk mencari Golden Orb, apakah kau tahu sesuatu soal itu? jika kau bersedia memberi tahu, aku tak keberatan menghidupkan kembali pacarmu yang sudah mati disana. Lalu aku pun akan pergi dengan damai" Ferus menatap sinis Feria, lalu menunjuk Katsura.


"Apa.. Yang dia maksud? semua musuh yang datang kemari alasannya pasti untuk mencari Golden Orb. Aku tak tahu sama sekali soal itu!"


"Aku tak tahu sama sekali, maaf saja mungkin kau mengunjungi semesta yang salah" balas Feria.


"Oh begitu? tapi aku sudah tahu pasti Golden Orb ada disini. Aku lah yang paling tahu soal itu. Jadi aku akan bermain denganmu sebentar disini, lalu aku akan menghancurkan bumi ini, lalu pergi ke seisi semesta untuk mencari Golden Orb."


"Sepertinya kau sangat menginginkan kekuatan itu, ya? semua yang datang kemari juga seperti itu."


"Tunggu, 'yang datang kemari'? Jadi ada orang sebelum diriku ya, sialan aku terlambat" matanya semakin kuat tatapannya terhadap Feria.


"Aku tak boleh mengkhawatirkan Katsura terus menerus, aku yakin dia pasti akan kembali sebentar lagi! dia tak mungkin mati disini. Akan ku hambat dia sebisa mungkin" Feria menyiapkan kuda-kudanya.


"Tak mau mundur ya? padahal sudah kuberi kesempatan untuk kabur. Baiklah maju!"


Feria melapisi kedua kakinya dengan api, dengan cepat ia disamping Ferus dengan menjaga jarak sekitar 1,5 meter, dia mengayunkan kakinya keatas dan kebawah terus menerus, ditambah gerakannya yang sangat anggun nan menawan bagaikan ia sedang menari.


Namun setelah cukup lama dia mencoba menyerang Ferus dengan tariannya, tak ada satupun yang mengenai Ferus, bahkan menggoresnya saja tidak.


Setelah mendengar pernyataan itu, Feria langsung merinding dibuatnya. Dia pun melompat menjauh dan memilih untuk bersiaga saja.


"Namun akan kuberikan kau hadiah karena sudah berani menantangku" jubah Ferus naik sedikit karena angin yang dia keluarkan.


"1 persen."


Feria sudah tidak kuat menahannya lebih lama setelah dia mendengar bahwa Ferus baru saja mengeluarkan satu persen kekuatannya. Dia pun menghubungi markas Mato untuk memanggil bantuan.


Jauh di dalam pikiran Katsura, dia mulai tenggelam di dalam lautan darah, menandakan bahwa itu adalah pikirannya. Jika dia sampai memejamkan mata, maka Katsura akan mati sepenuhnya.


"Dimana.. Aku..?" ucapnya lirih.


"Benar.. Aku telah mati.. Aku mengecewakan semuanya.. Maafkan aku" Katsura meneteskan air mata, air mata itu tak menyatu dengan darah, melainkan terbang ke permukaan. Setelah sampai ke permukaan, seluruh lautan darah hilang seketika dan Katsura berasa di tempat yang sangat aneh.


Tempat itu gelap, semuanya hampa dan gelap. Tetapi didepan Katsura terdapat area luas dihiasi rumput hijau dan sebuah pohon sakura yang sangat besar. Dedaunannya pun berterbangan terbawa angin yang sangat kencang.


Dibalik hembusan angin yang membawa daun sakura itu ada seorang yang menghadap kebelakang, sehingga wajahnya tak bisa diketahui Katsura.


Pria itu berpakaian seperti orang Jepang pada tahun 90an dengan kimono putih, lalu rambut berwarna biru cerah. Kemudian dia pun berkata, "Bangkitlah Katsura, kekuatanmu tak hanya sebatas ini."


"Siapa kau? mengapa kau tahu namaku?" tanya Katsura yang kebingungan dengan situasi.


"Kau tak perlu tahu diriku, kelak kau akan tahu sendiri. Kau lah yang menyadarkanku nanti di masa depan. Bangkitkanlah kekuatan itu.. Katsura" setelah perkataan itu pria itupun kembali menghilang dan menjadi dedaunan sakura yang terbawa angin.


"Siapa sebenarnya pria itu..?" kata-kata terakhir Katsura sebelum dirinya terbangun.


..." Flaming Phoenix Kick! "...


Feria mengerahkan semua tenaga dan energinya untuk serangan terakhir ini, dia memusatkan semua apinya pada kaki kanannya, sehingga api itu membentuk burung phoenix.


Setelah itu dia menerjang dan mengarahkan kakinya untuk menendang dengan sangat kuat. Tetapi, tendangan yang sangat kuat itu ditahan dengan satu tangan oleh Ferus. Phoenix yang ada di kaki Feria langsung menyerempet Ferus dengan cepat dan membuatnya terbakar.


Bagusnya, serangan itu membuat tangan Ferus sedikit tergesek dan meninggalkan bekas luka. Namun, Feria dibanting dengan sangat keras ke bawah tanah sampai kedalaman 10 meter.


Disaat momen itu, kepala Katsura yang sudah terpenggal matanya menjadi warna hijau cerah dan mengeluarkan aura hijau elektrik yang sangat luas, begitu pula dengan badannya.


Waktu seluruh dunia terhenti, tak ada yang bergerak terkecuali Ferus, dia terkesan dan membiarkan Katsura beregenerasi.


"Dia ini.. Yang benar saja. Tak kusangka ada yang bisa selamat setelah seranganku yang tadi. Seharusnya kutanyakan namamu di awal tadi" kata Ferus.


Perlahan tapi pasti, tubuh Katsura mulai menyatu kembali dengan kepalanya, hal yang mustahil terjadi baru saja Katsura pecahkan dengan sihir waktunya.


Disaat itu juga, Ferus malah terkejut merasakan aura Katsura, dia merasa sangat familier dengan rasa itu, dia rasa pernah melawan seseorang dengan aura seperti itu.


Katsura telah kembali hidup seutuhnya, dia pun membuka matanya yang penuh semangat.


"Bagus sekali, siapa namamu?" Ferus bertanya.


"Katsura.. Laith!"


..." Lenyapkanlah, Crescent Deluz! "...


Bersambung...