
"Aku... Menang?" ucap Katsura memandangi keadaan disekitarnya yang hancur dan berserakan dengan tubuh penuh luka.
"Iya sih.. Aku tak bisa merasakan energi Nico di manapun" ucap Katsura lirih sembari mencoba berdiri walau sakit.
"Sepertinya dia lenyap bersama dengan lubang hitam itu" ucap Homura.
Katsura menoleh ke belakangnya, ternyata Homura, Arizawa dan Yubino datang menjemput Katsura.
"Kalian kok tahu aku ada disini?" tanya Katsura dengan kebingungan.
"Kami melacak energimu yang berhamburan di langit, untungnya kami membawa Homura, jadi dia bisa mengambil sampel energimu dan mulai melacak lokasimu" jawab Arizawa.
"Kau bisa melakukan itu juga, ya?" tanya Katsura lagi sambil tersenyum.
"Itu semua bukan masalah, yang penting adalah kau sehat walafiat. Walau tubuhmu penuh luka begitu, sih" balas Homura.
"Aku kan pingsan selama beberapa jam, kenapa kalian baru sampai sekarang?" oceh Katsura.
"Hmm bagaimana mengatakannya ya, lubang hitam setelah saling adu gaya tarik menarik oleh benda ciptaan ku menciptakan kawah yang lebih besar dan juga menciptakan penghalang untuk sementara. Itu dikarenakan 2 energi dahsyat yang saling tarik menarik itu kehabisan sumbu untuk tetap ada, jadi mereka meledak."
"Dengan kata lain, di dalam satu area kawah itu masih tersisa energi bekas benturan 2 ledakan yang menyelimuti 1 kawah. Membuat kami tidak bisa masuk. Jika kami masuk, yang ada kami malah akan hancur dikarenakan kuatnya tekanan energi yang berada disana, makannya kami lebih memilih menunggu dari kejauhan" jelas Homura.
"Disamping itu, pertarungan kau melawannya benar-benar menakjubkan, Katsura! tak ku sangka kau bisa sekuat itu! kalau begitu aku juga akan mulai berlatih lebih keras lagi" puji Yubino dengan penuh semangat.
"Nanti kapan kapan kita adu tanding lagi, ya?" ajak Yubino mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Katsura tersenyum, lalu dia berjabat tangan dengan Yubino sebagai pertanda kalau dia setuju.
"Baiklah aku setuju, tapi jangan sekarang"
"Tentu dong, keadaanmu lagi kacau begitu" balasnya.
"Sudah sudah ayo kita pulang, bisa gawat kalau pemerintah setempat datang kesini" ajak Arizawa sambil berjalan ke arah pesawat mereka.
Mereka pun kembali dengan selamat, pergi meninggalkan Pulau Ecuador.
Selama perjalanan, Katsura menceritakan semua pertempurannya dengan Nico tadi, termasuk tentang mode lepas kendalinya.
"Jadi begitu.. kau dikuasai oleh amarahmu sendiri dan dapat membahayakanmu juga"
"Kehilangan kesadaran.. melihat diri sendiri.. terjebak dalam pikiran.." ucap Homura dan Yukichi selagi mendengarkan cerita Katsura.
"Iya.. Nico bilang kekuatanku akan lebih maksimal jika aku tidak dilahap oleh amarah, namun faktanya aku tetap tak bisa mengendalikan kekuatan gravitasi ini. Bahkan mengaktifkannya saja butuh pemicu dari amarahku"
"Aku bisa mengendalikan nya sekali, dan benar itu sangat dahsyat kekuatannya. Aku dapat menandingi kekuatan Nico, bahkan mengunggulinya sekejap" jelas Katsura merenung dengan pandangan ke bawah.
"Makannya itu, mungkin kalian punya saran, aku ingin mencoba latihan amarahku agar bisa dikendalikan. Dan juga belajar mengaktifkan kekuatan ini tanpa terpicu" ucap Katsura sedih karena emosi nya yang tidak stabil.
"Hmm mungkin aku bisa membantumu" ucap Homura.
"Eh benarkah?" tanya Katsura dengan penuh harapan.
"Iya, aku mempunyai sihir penetralan, membuatku bisa menetralkan apapun. Mungkin mode lepas kendalimu itu bisa ku netralkan juga" jawab Homura.
"Untuk sesi latihan nya kita akan bicarakan nanti, pertama tama kau harus istirahat dulu" ucap Homura lagi sambil berdiri dan melihat keluar yang penuh dengan lautan biru.
"Baiklah.. akan kuturuti saranmu" Katsura mengangguk setuju.
Setelah perjalanan selama 5 jam, akhirnya Katsura dan yang lain kembali ke markas.
Feria yang sedang menunggu di taman segera berlari ke depan markas untuk menemui Katsura.
Pintu pesawat perlahan terbuka, Katsura berjalan keluar dengan sempoyongan, bahkan hampir jatuh.
Feria berlari ke arah Katsura dan menangkap nya yang hampir terjatuh.
"Aduh duh-duh.. Feria kamu tidak apa apa?" tanya Katsura khawatir.
"Harusnya aku yang mengatakan itu.. mengapa kamu pergi bertarung tanpa sepengetahuan ku?" balas Feria sambil menangis kecil.
Matanya yang dipenuhi air mata itu pun di usap oleh Katsura lalu dia berkata. "Sudahlah tidak apa, aku tak tega membangunkanmu disaat kamu tertidur di kamarku makannya kubiarkan saja. Aku juga tidak tahu bahwa Nico akan menyerangku di malam itu"
"Aku.. telah gagal melindungi mu" hembus Katsura pelan, dan dia memegangi kedua pundak Feria.
"Gagal apa? Aku kan masih sehat?" tanya Feria yang kebingungan.
"Nico menusuk kita secara bersamaan, namun itu hanyalah ilusi belaka"
"Lalu memangnya kenapa? kan itu cuma ilusi belaka?"
"Ya syukur itu adalah ilusi, bagaimana jika itu dirimu yang sebenarnya? Aku lengah karena perhatianku terfokuskan pada hal lain. Ini membuktikan bahwa aku belum cukup pantas untuk melindungi mu"
Mata Feria berkaca-kaca, rona pipinya memerah lalu dia mengenggam tangan Katsura untuk membawanya masuk ke markas.
Katsura dan Feria terus berjalan sampai pada akhirnya Katsura semakin lemas dan pandangannya mulai kabur lagi.
"Aduh sepertinya aku mengantuk sekali, pikiranku kabur" Katsura menggosok matanya.
"Memangnya kamu tidak bisa tidak tidur 1 hari ya?" ucap Feria dengan sedikit rasa kecewa.
"Bukan begitu.. aku baru saja memenangkan pertarungan yang sangat sengit, makannya aku butuh istirahat lagi."
Katsura dan Feria terus berbincang sampai akhirnya mereka berpisah didepan kamar Katsura.
"Dah ya, aku ingin tidur dulu" Katsura melambaikan tangannya ke arah Feria.
"Ya, istirahat yang cukup" balasnya.
Setelah Katsura masuk, dia tidak langsung berbaring, tapi dia duduk di ranjang sejenak memikirkan cara untuk mengendalikan emosinya.
Katsura memalingkan pandangannya kebawah, mood dia sedang sangat buruk saat itu. Sesaat dia membayangkan air mancur yang terefleksi di lantainya.
Mata Katsura terbuka lebar, dia seakan tahu cara untuk mengendalikan emosinya. Saat dia melihat halusinasi tentang air mancur yang ada di lantai, dia berpikir bahwa dengan meditasi mungkin akan membantu menstabilkan emosinya.
Katsura tersenyum percaya diri, lalu dia pun berbaring dan tertidur.
Di ruang tamu ada Arizawa, Homura, Yukichi, Yubino, Aizo dan Azashi sedang berbincang bincang.
"Hahahaha, tidak mungkin sang kancil dapat melakukan itu, walau mereka hewan yang cukup cerdik tapi mereka mana mungkin dapat memanfaatkan binatang lain hanya untuk kesenangannya" gurau Yukichi.
"Tapi itu ada loh, aku pernah melihatnya di tv dulu, walau hanya film sih" balas Homura sambil meminum jus jeruknya.
"Itu hanya dongeng, mana mungkin bisa menjadi nyata, kan? kalau ada di dunia nyata juga bukan kancil yang memanipulasi, para pejabat negara misalnya" celetuk Azashi yang sedang memakan anggur.
"Oiya ngomong ngomong soal pejabat, negara kita sedang ada kasus pembunuhan misterius di suatu desa bukan?" ucap Homura kepada Arizawa yang sedang bersender di tembok.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Arizawa.
"Apakah kita akan membantu? aku bosan akhir akhir ini tidak ada kerjaan serius" keluh Homura sambil bermalas-malasan di atas sofa.
"Disaat yang lain ingin libur, kau malah pengen kerja. Kesampingkan hal itu, aku lupa memberi tahu kalau kita diberikan libur misi selama beberapa bulan, dan juga kalau bisa aku tak ingin kita ikut campur dalam urusan negara terlalu banyak" jelas Arizawa yang memalingkan pandangannya ke arah jendela.
"Memangnya kenapa? toh bukan masalah yang terlalu berat juga bukan?" tanya Aizo penasaran.
"Hmm, bagaimana menjelaskannya ya, begini deh, kasus pembunuhan misterius pada desa itu, pembunuh hanya membunuh yang memiliki kedudukan diatas dia, misal kepala RT atau bahkan kepala desa."
"Masalahnya semakin banyak dia membunuh, maka semakin banyak pula orang yang berjabat tinggi yang ia akan tuju."
"Aku sudah muak dengan mereka, mereka selalu saja menyerahkan tugasnya pada kita, biarkan saja mereka yang urus masalah ini, tapi jika dia sampai menyerang warga sipil, mau tidak mau kita harus turun tangan juga" jelas Arizawa serius.
"Kau tidak suka sekali membantu pemerintah, ya?" tanya Homura.
"Ya begitu, sih. Lagian setiap masalah yang mereka miliki saat kita yang menyelesaikan nya, yang namanya naik adalah mereka, bukan kita. Itulah yang membuatku sangat malas membantu mereka. Jika itu sebuah misi aku terima, tapi jika bukan? akan ku tolak mentah mentah" ucap Arizawa dengan tatapan sinisnya.
"Masuk akal juga katamu ya.. tapi ya sudahlah, aku juga akan melatih Katsura nanti, menambah sedikit pekerjaanku" Homura berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Azashi.
"Hoaaaammm, Aku ingin ke kamar, ngantuk juga rasanya ya, berasa di dongengi" Homura pun pergi meninggalkan mereka.
"Aku juga tidak ada pekerjaan sih, apakah aku akan berlatih denganmu Yubino?" tanya Azashi.
"Hmm aku lebih suka sendiri, sih. Tapi jika kamu mau, aku bisa mengajarkan beberapa teknik untukmu" balas Yubino.
"Menarik.. aku terima" Azashi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Hey hey kalian sebelum pergi dengan ide cemerlang kalian itu, bagaimana kalian membantuku membenarkan atap kita yang bolong itu? sudah berminggu-minggu loh" desak Yukichi di tengah obrolan.
"Ya ampun aku sampai kelupaan kalau ada lubang sebesar itu, baiklah akan ku bantu secepat mungkin" ucap Yubino.
"Aku juga akan membantu, sebagai anggota baru aku merasa aneh sekali disini tak punya teman dekat" Aizo murung dan tampak sedih.
"Jangan begitu, kita semua teman disini, kita saling membantu disaat membutuhkan, ya kan?" ucap Yukichi untuk memberi Aizo semangat.
...*** Di Istana Negara ***...
*Teng Nong
Suara pintu otomatis terbuka, Pria tak dikenal masuk tanpa izin, semua satpam yang bersiaga didepan gerbang langsung berjaga.
Semua satpam yang ada disitu langsung terkapar tidak berdaya sehabis menghirup parfum yang dikenakan oleh orang misterius berjas hitam.
Bersambung...