Destiny Holder

Destiny Holder
Pertarungan Yang Tak Terduga



Katsura lalu menoleh ke arah Feria yang sedang tertidur meletakkan kepala dan tanganya diatas meja.


"Kamu ini.. sampai tertidur juga ya.." kata Katsura lalu dia tertawa kecil.


Katsura mengelus kepala Feria dan berkata lagi


"Kamu pasti melalui hari yang cukup berat, tidurlah, aku juga akan pergi tidur ke kamar. Apa kamu ingin tidur bersamaku juga?" gumam Katsura seakan dia ingin menggendong Feria ke kamarnya.


"Tapi itu ide yang bagus, tapi aku juga bisa kena pukul lagi sama dia, ah sudahlah tidak usah" ucap Katsura lagi seakan tidak peduli.


'Melihatmu tidur seperti ini, aku merasa kasihan deh, kubawakan bantal 1 deh."


Katsura berlari ke kamarnya dan membawakan Feria 1 bantal dan futon miliknya, dan menaruhnya di lantai.


Setelah meletakkannya di lantai, Katsura menggendong Feria yang tadinya tidur di kursi, menjadi tidur di futon yang telah disiapkan Katsura.


"Berat juga ya badanmu.. tapi tak apa, semoga tidur mu nyenyak ya, Sayang." ucap Katsura lalu pergi meninggalkan kantin.


"Omong omong, tugas sekolahku belum selesai, aduhh malasnya minta ampun deh. Tapi apakah aku akan lanjut sekolah ya? hmm antara aku fokus latihan atau fokus pendidikan, keduanya penting bagiku." gumam Katsura saat sedang perjalanan ke kamarnya.


"Akan kuminta Feria untuk membantu deh, mungkin dia punya solusi, dia kan lumayan pintar, ehe" kata Katsura.


Katsura berjalan melewati kamar Karma, lalu dia berkata


"Kamar Karma? oh ya aku tidak ingat dia tinggal disini, nggak pernah keluar, sih."


"Kira kira apa yang dilakukannya ya? apakah dia berencana untuk kabur?" celetuk Katsura sambil mendekati pintu kamar Karma.


Katsura menguping dari depan pintu, terdengar suara seperti ledakan kecil, dan dan mencium bau asap. Disaat itu pun Karma menjerit kaget.


Katsura reflek langsung memasuki kamar Karma, ternyata komputer nya meledak.


"HUWAA PANAS PANAS PANAS" jerit Karma yang kesakitan karena tangannya terkena ledakan komputernya dari jarak dekat.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Katsura terburu-buru, khawatir terjadi sesuatu.


"P-P-PANASSS DAN JUGA ITU TERBAKARR!!" seru Karma sambil menunjukkan jarinya yang tengah terbakar ke arah komputer nya yang meledak. Api dari ledakan itu perlahan mulai menyebar ke seluruh ruangan.


"Tenanglah sedikit" ucap Katsura menenangkan Karma yang sedang panik.


..."Sihir Air : Pemadam Kebencian"...


Katsura menciptakan air dari tangannya, memadamkan seluruh api yang menjalar di ruangan. Katsura juga memetikkan jarinya, dan membuat jari Karma yang tadinya terbakar menjadi padam.


..."Sihir Air : Mata Air Penyembuhan"...


Katsura menciptakan gelembung air kecil, gelembung itu perlahan memasuki jari Karma yang memiliki luka bakar, dan menyembuhkannya perlahan.


"WOOAAAHHH TERIMAKASIH TERIMAKASIHH!!" ucap Karma yang sangat senang akan hidupnya terselamatkan.


"Iya, tapi kau jelaskan apa yang terjadi dengan semua ini" pinta Katsura.


"Ah iya iya, jadi aku sedang bermain komputer seperti biasa, lalu aku mendapatkan sinyal pesawat tuan Nico aktif, lalu aku melacak pesawatnya, saat aku berhasil menemukannya, aku menyabotase pesawatnya hingga kehabisan bahan bakar. Tapi aku malah diketahui olehnya, dan dia memberikan serangan lewat jaringan yang membuat komputer ku terbakar."


"Aku kesal dengannya, walau aku tahu jika aku kembali, aku yang akan dihajar olehnya. Tapi dia malah mau menyiapkan pesawat nya untuk pergi dari semesta ini." urai Karma dengan perasaan kesal.


"Loh? Nico ingin pergi? bukankah tujuan dia ingin mengambil kepalaku?" tanya Katsura.


"Iya.. dia ingin pergi mendadak karena dia mendapat panggilan langsung dari kerajaan, dia lupa mematikan sistem komunikasi pada pesawat nya. Tidak, lebih tepatnya aku memperbaiki nya agar bisa digunakan lagi, setelah pesan itu tersampaikan baru aku menyabotase nya lagi" balas Karma.


"Tunggu, kau terhubung dengan pesawat milik Nico?" tanya Katsura lagi.


"Iya, setiap pesawat kerajaan dapat dikendalikan langsung oleh pegawai kerajaan, dan hal itu dapat dilakukan jika ada disk pesawat nya. Dan aku sudah mengambil disk pesawat tuan Nico, makanya aku dapat menyabotase nya" jawab Karma lagi.


Jari Karma yang tadinya terkena luka bakar, sekarang sudah pulih kembali seperti biasa berkat sihir penyembuhan Katsura.


"Ooh begitu, baiklah jaga dirimu ya, aku sudah mengantuk, dah" ucap Katsura lalu pergi meninggalkan Karma.


Katsura pergi ke kamarnya, dan bersiap untuk pergi tidur.


Hari sudah pagi, Katsura bangun dari tidurnya dan bersiap untuk rutinitas paginya.


Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi, Katsura pergi ke toko untuk membeli beberapa apel. di perjalanan pulangnya tak ada yang spesial, hanya menemukan pengemis jalanan saja.


Disaat Katsura ingin memasuki markas, kebetulan Feria sedang ada di halaman dan sedang duduk memandangi kuli bangunan.


"Hei, kamu sedang apa?" sapa Katsura dari belakang dan menepuk pundak Feria.


"Eh Katsura? aku sedang melihat tukang bangunan, seru saja melihatnya" balas Feria.


"Oohh, omong omong apakah kamu ingin membantuku?" ajak Katsura dengan pandangan lurus dan tangan bertumpu ke bangku.


"Membantu apa?"


"Membantu ku mengerjakan tugas, hehe"


"Lahh? kamu masih sekolah? kukira sudah lulus sekolah"


"Yaa, aku pengennya putus sekolah, tapi aku juga bingung, apakah aku harus latihan atau mengejar pendidikan" ucap Katsura dengan perasaan bingung.


"Ooh begitu ya, aku sarankan untuk tetap bersekolah sih, pendidikan itu penting loh, kalo untuk latihan kan bisa kamu lakukan setelah bersekolah" saran Feria terhadap situasi Katsura saat ini.


"Nah ayo, aku bantu mengerjakan tugasmu" Feria lalu bangun dari duduknya dan pergi ke markas.


"Baiklah.. tunggu aku"


Sesampainya di kamar Katsura, Feria langsung membantu Katsura mengerjakan tugasnya yang bolong bolong.


"Ehh.. Tugasmu banyak sekali, berapa lama kau bolos?" keluh Feria dengan raut wajah penuh kekesalan.


"Eh? Jangan marah begitu dongg.. hehe. Aku alpa selama kurang lebih 5 bulanan" jawab Katsura.


"Yasudah ayo kerjakan soalnya, kalau perlu aku juga akan membantu menulis, tugasmu segaban gini" ucap Feria sambil mengambil pulpen dan buku Katsura.


Katsura menulis beberapa jawaban, dan dia menanyakan kepada Feria apakah jawabannya dia benar atau salah.


"Itu.. benar tulisan tanganmu?" tanya Feria dengan wajah penuh kekecewaan.


"Iya, memangnya kenapa?" balas Katsura.


"Tulisannya bagus sekali! aku sampai tidak bisa membacanya" balas Feria yang sedang menyatir.


"Wajar wajar, sudah sana kerjakan cepat! aku kerjakan yang bagian bahasa dan fisika saja" suruh Feria sambil menulis.


"(Dia itu... benar benar cocok menjadi ibu dari anakku, dari sifatnya saja yang membuatnya sangat cocok menjadi pengasuh anak)" gumam Katsura dalam hati.


Jam menunjukkan pukul 4 Sore, tugas Katsura baru selesai setengahnya saja.


"Huuhh, huuhh, pegalnya tanganku gila! rasanya seperti copot" keluh Katsura yang sedang berbaring di ranjangnya.


"Tugasmu itu.. seberapa banyak sih?? huhhh, huhhh" keluh Feria sambil menggosok matanya.


"Mari kita istirahat 30 menit, lalu kerjakan lagi, ya Katsura?" Feria lalu menoleh ke arah Katsura, ternyata dia malah tertidur lelap.


"Lahh malah tidur.. ya sudahlah.. kecapekan sepertinya dia" Feria lalu bangun dari kasur Katsura, dan menatap Katsura lagi.


"Dia.. lucu juga kalau sedang tidur, hehe" gumam Feria sambil tertawa kecil.


"Ah aku juga capek, dengan tangannya yang terbuka lebar begitu, aku jadi ingin tidur di sisinya."


"Tak apa kan? tak apa.. kan???"


Feria lalu berbaring lagi, tapi dia sekarang berasa di sebelah Katsura, lalu Dia pun tertidur juga.


Jam sekarang menunjukkan pukul 7 malam, Katsura akhirnya tergugah dari tidurnya.


"Eh sudah jam 7? aduh Aku ketiduran lama sekali." ucap Katsura yang baru bangun.


Katsura menoleh ke sampingnya, Feria masih tertidur lelap di sebelahnya.


"Oh dia juga tidur? mungkin kelelahan habis membantuku, maaf ya merepotkanmu hehe" ucap Katsura sambil mengelus kepala Feria.


"Mungkin aku harus refreshing menghirup udara di luar, pengap sekali rasanya disini" ucap Katsura sambil berjalan ke luar markas.


Sesampainya diluar markas, dia langsung menghirup udara segar setelah seharian mengerjakan tugas bersama Feria, lalu Katsura mencoba jalan jalan sedikit ke sekitar hutan.


*Sreek Sreek


"Suara apa itu tadi? seperti suara di semak semak" ucap Katsura keheranan sambil melihat semak di kirinya.


"Selamat malam, Katsura" ucap seseorang dari arah semak di kiri Katsura.


"Siapa disana!" seru Katsura sambil memancarkan api dari telapak tangannya.


"Ini aku.. aku ingin bertanya suatu hal.."


"Apakah kau tahu, soal Golden Orb?"


Pria itu menunjukkan tampangnya, ternyata dia adalah Nico yang memakai jubah hitam.


"Kau... Nico!" ucap Katsura dengan kaget serta siaga.


"Jadi Kau tidak benar benar pergi dari sini ya?" tanya Katsura dengan tatapan tajam.


"Tidak.. aku memang berencana pergi, tapi si Karma sialan itu merusak pesawatku, beginilah kondisinya"


"Nah lupakan, jadi apa yang kau tahu soal Golden Orb?" ucap Nico sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Tak pernah dengar, yang aku tahu,Golden Orb adalah kekuatan tertinggi yang dipegang oleh Raja di semestamu" jawab Katsura.


"Memang begitu, tapi dia menghilang baru baru ini. Dorman Akami telah resmi menghilang dari semesta kami, beserta dengan Golden Orb" balas Nico.


"Maaf tapi aku tak pernah dengar selain it-" ucap Katsura, lalu dia menghindar dari pukulan mentah Nico yang dilancarkan kepada mukanya.


"Kau bohong! kau pernah menemuinya disini, CEPAT BERITAHU AKU DIMANA DIA SEKARANG!" seru Nico dengan suara kencang.


"Hah?" ucap Katsura yang sangat kebingungan dengan omongan Nico.


"Percuma saja kau menyembunyikan sesuatu dariku, aku dapat masuk ke memori internal seseorang, dan dapat melihat isinya, disana kau bertemu dengannya dan bertarung dengannya!"


" Tapi, Kelemahan kekuatan ini adalah, aku tak bisa mendengar suara percakapan yang ada di memori seseorang. Disinilah kau harus bekerja untukku, jika kau memberi tahu lokasi tuan Dorman sekarang, aku akan berhenti meneror mu"


"Jika tidak.. aku akan membunuhmu sekarang dan disini" ucap Nico dengan tatapan ingin membunuh.


"Aku menolak, dari yang kualami sendiri, dia hanya berkata yang tidak penting, tidak ada indikasi bahwa dia akan pergi kemana setelah melawanku" tolak Katsura sambil mempersiapkan kuda kudanya.


"Begitu ya.. kalau begitu akan ku paksa kau mengeluarkan kejujuranmu"


..."Sihir Bayangan : Tusukan Duri Hitam"...


Sekelompok Duri yang besar muncul dari bawah pijakan Katsura, Katsura melompat dan membinasakan sihirnya dengan 1 sihir.


..."Sihir Api : Api Penyucian"...


..."Sihir Angin : Pusaran Kematian"...


Nico membuat pusaran angin di sekitar Katsura, pusaran itu cukup kuat sehingga dapat mencabut pohon dari akarnya.


..."Sihir Asap : Pembuatan Ilusi"...


"Setelah kau mempermalukanku kemarin, akan ku bunuh kau disaat dalam mode terkuatmu."


Nico membuat ilusi replika Feria, yang muncul di depannya, setelah pusaran angin itu berhenti, Katsura akhirnya terjatuh dari atas, setelah dia melihat Feria dia langsung berlari ke arahnya dan berkata


"FERIAA!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, CEPAT PERGI DISINI BAHAY-" Katsura dan Feria tertusuk oleh Nico dari belakang menggunakan pedang cahaya.


..."Sihir Cahaya : Pedang Suci Penebas Kejahatan"...


"K-K-Kau... SIALAN!" gertak Katsura sambil menoleh kebelakang.


Nico hanya menyengir, Katsura kembali dialiri amarah yang kuat, membuat tanah disekitarnya menjadi hancur.


Nico melompat mundur untuk menjauh, melihat Katsura dalam mode lepas kendalinya lagi.


"GRRRRRHHHHH.. KALAHKAN..... BUNUH... BUNUH!!!" ucap Katsura yang sedang tertelan amarahnya sendiri.


"Hahahaha, bagus bagus, itulah yang ingin ku lihat darimu" Nico tertawa seakan yakin bisa melawan Katsura.


"Nah ayo sini maju, ku bunuh kau dengan cepat"


Bersambung...