
"Disana terdapat satu orang yang kekuatan sihirnya luar biasa besar, besarnya sama sepertimu, Katsura."
Katsura menyilangkan kedua tangannya dan memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, "Benarkah?" tanyanya.
"Apakah perlu ku ukur lagi? namun tidak masalah, kau belum melihat demontrasi alat ini" Arizawa meraih sebuah lencana berbentuk perisai dengan angka 0 di tengah-tengah lencana itu.
"Ini adalah alat yang bisa mengukur tingkat sihir seseorang, begitu alat ini ditempelkan kepada seseorang, alat ini akan merespon dengan memberikan angka yang sesuai pada tingkatan sihir mereka."
"Alat ini juga berfungsi sebagai penanda bahwa kita dari Mato. Lencana ini berbeda-beda tergantung siapa yang memakainya. Jika kita sebagai pendiri Mato, lencana ini akan memiliki sayap di sampingnya. Jika yang memakainya orang selain kita, hanya akan menambahkan cincin yang mengelilingi sisi lencana tersebut."
"Dan lencana ini sekarang resmi diberikan kepada orang-orang yang telah lulus akademi sihir untuk membantu mereka meningkatkan sihir mereka lebih jauh" jelas Arizawa tentang lencana ini yang sekarang menjadi penanda bagi seluruh orang pengguna sihir.
Arizawa menunjuk ke angka 0 di tengah-tengah lencana, "Misalnya ini 0, berarti belum ada yang terdeteksi oleh alat ini. Begitu alat ini ditempelkan ke tubuh seseorang.." Arizawa menempelkan lencana itu ke tubuh Suizei dan angka yang tercetak adalah 6.
"Semakin tinggi angkanya, semakin besar juga kekuatannya" Arizawa mencabut lencana yang dia tempelkan di tubuh Suizei dan membuat angka di lencana itu kembali menjadi 0.
"Jadi lencana itu hanya bekerja jika alat itu menyentuh tubuh seseorang secara langsung, namun tidak berfungsi jika terpisah dari sang pengguna, benar begitu?" ulas Katsura soal lencana itu.
"Ya benar, namun lencana ini juga dapat bekerja dengan mendeteksi aura atau energi seseorang. Katsura, gunakan Golden Orb mu" Arizawa menyuruh Katsura dan menunjukkan bagian depan lencana ke arah Katsura.
"Perlu kah aku melakukan ini?" Katsura menegaskan sekali lagi.
"Sudah lakukan saja."
Katsura memejamkan matanya dan mengaktifkan Golden Orb yang auranya sangat tenang agar tidak mengacaukan seisi stasiun. Aura emas bercahaya merambat melalui udara di stasiun dan akhirnya mengenai lencana itu.
Lencana itu bereaksi dan memberikan angka 7 dalam angka romawi, yakni VII.
"VII? mengapa punyaku berbeda dengan punya Suizei?" Katsura bertanya dengan wajah penasaran.
"Karena kami hanya menyeting sampai tingkatan 6 saja, namun kekuatanmu terlalu besar dan melampaui cara kerja alat ini. Alhasil lencana ini memberikan tingkatan dengan angka romawi karena tidak dapat diukur dengan sepastinya."
"Jarak antar tingkatan dengan tingkatan yang lainnya sangatlah jauh, saat ini orang dengan sihir tingkat 6 hanya Suizei, Aizo dan Hiromi. Sisanya dibawah tingkatan 5. Dan perlu kau ketahui juga, jarak tingkatan 6 ke VII sangat-sangat jauh, begitu juga seterusnya" jelas Arizawa lebih rinci.
Katsura menonaktifkan Golden Orb-nya, "Lalu kenapa kau bisa tahu tingkatan sihir yang ada di planet itu setara denganku? bukankah kau baru mengukur tingkatan sihirku sekarang?" tanyanya lagi.
"Aku mengambil sampel dari Embodiment Crystal yang sekarang berada di ruangan rahasia stasiun ini, kau melapisi Embodiment Crystal dengan Golden Orb sehingga aku bisa mengukurnya."
"Dan untuk planet itu, akan ku tunjukkan padamu" setelah lencana itu kembali ke titik nol, Arizawa mengatur proyektor miliknya dan kembali menunjukkan planet yang disebut memiliki keanehan.
"Walaupun orang-orang yang kami kirim tidak kunjung kembali, namun berkat mereka aku tahu, bahwa planet itu memancarkan Mana yang sangat besar di angkasa, dan proyektor milikku mampu merasakan Mana.
Arizawa mendekatkan lencana itu ke hologram planet dan indikator angka menunjukkan angka yang sama persis dengan Katsura, yakni VII.
"Lihat? dia setara denganmu, namun kami masih tidak tahu apa niat orang itu."
Katsura terpukau sekaligus terkejut melihat angka yang sama terukir di lencana itu, lantas dia bertanya, "Jadi kau mau aku pergi kesana untuk menyelidiki orang itu?"
"Ya benar, aku ingin kau pergi kesana. Aku yakin kau takkan bisa hilang semudah itu hanya dengan mana yang ada di angkasa."
Semua orang berbalik dan melihat Karma yang sedang duduk diatas meja yang penuh dengan permainan.
"Hei kami belum selesai bermain!" kata Yubino, dia sedikit kesal karena permainannya di acak-acak oleh Karma.
"Karma? sedang apa kau disini?" tanya Arizawa.
"Aku hanya mendengarkan penjelasan kalian tentang alat itu, namun aku tahu lebih soal planet itu" Karma turun dari atas meja dan berjalan ke hologram planet.
"Yang ada di sekitar planet ini bukanlah Mana, namun Shin" ucapnya begitu dekat dengan hologram planet.
"Shin? apa itu?" Suizei ikut penasaran dan bertanya.
"Shin adalah versi lain energi atau Mana bagi seseorang yang telah melampaui sihir sejati. Mengapa ada versi lain? karena Mana dan Shin sangat berbeda jauh, Mana hanyalah kumpulan energi sihir yang membentuk partikel tak terlihat, sedangkan Shin jauh lebih superior dari itu."
"Seseorang yang mampu menggunakan Shin dapat memanipulasi Shin mereka menjadi apapun yang mereka mau, mereka bisa membuat sebuah pelindung atau serangan dengan Shin mereka, Shin juga saling terhubung dengan sihir sejati mereka dan jiwa mereka."
"Untuk mengeluarkan sihir sejati, kau bisa menggunakan Mana ataupun Shin. Jika kau mengeluarkan sihir sejati dengan mana, staminamu akan ikut terkuras, berbeda dengan Shin. Shin mengeluarkan sihir sejati yang jauh lebih kuat, namun bisa membuatmu mati."
Karma menyentuh hologram itu, "Sehingga jika seseorang terlalu banyak memakai Shin, jiwa mereka bisa terkuras habis hingga akhirnya mereka mati. Tentu Shin dapat diisi ulang seperti Mana, namun cara mendapatkannya tidaklah mudah" urainya jelas.
"Aku mengerti, jadi Shin sama seperti sihir sejati, namun itu hanya bentuk awalnya sebelum Shin dijadikan sebagai bentuk dari sihir itu sendiri, ya?" celetuk Aizo di tengah-tengah pembicaraan.
"Tepat sekali, yang ada disekitar planet ini adalah Shin, sehingga mereka yang tidak dapat merasakan Shin akan mengira bahwa ini adalah Mana, dan mereka akan jatuh dalam perangkap. Dalam kasus ini, Shin milik seseorang yang ada di planet ini mampu melenyapkan sesuatu sampai ke inti jiwa mereka" respon Karma terhadap pertanyaan Aizo.
"Apakah ada cara untuk menghindari tidak terkena Shin miliknya?" tanya Katsura.
"Tentu, caranya adalah melapisi tubuhmu dengan Shin milik sendiri, seseorang seperti kalian yang sudah mencapai sihir sejati pasti sudah bisa mengeluarkan Shin, fokus saja keluarkan energi di dalam jiwa mu maka Shin akan terbentuk."
"Informasi yang bermanfaat sekali, kau sangat berguna, Karma. Terimakasih" Arizawa tersenyum.
Karma berbalik dan mengangguk pelan, dia senang di apresiasi seperti itu.
...****************...
Di sisi lain, di semesta J-60, di dalam kerajaan yang mewah dan elegan, 6 orang sedang berkumpul di ruangan utama.
Mereka semua sedang melakukan kegiatannya masing-masing, dengan penampilan yang sangat menyeramkan dan aura mereka menekan seluruh bumi, mereka adalah Escalivor.
Salah satu anggota yang sedang duduk dan membaca buku menurut bukunya dan berdiri tegak, jubah berbulu biru disertai warna hitam melambai terkena udara yang berhembus dari salah seorang disana.
"Zero sudah bergerak, begitu pula kita, siapkan 'itu' sekarang, kita akan berangkat hari ini juga" ucap pria itu dengan nada yang tenang.
Pria itu mengangkat satu tangannya dan membuka telapak tangannya, "Takdir kita ubah sekarang, bagi mereka yang mempunyai kekuatan, mereka lah yang dapat merubah segalanya" ucapnya serius, dan di telapak tangannya terukir angka 7.
Bersambung...