Destiny Holder

Destiny Holder
Penyerangan Balik, Dimulai!



Perjanjian kontrak antara Felix dengan iblis itupun terukir di masing-masing jiwa mereka, melarang mereka untuk melanggar kontrak tersebut. Karena hal ini, mereka pun lama kelamaan menjadi satu kesatuan.


"Jadi.. apa yang menyebabkan kau terkurung disini?" Felix bertanya, memecah keheningan diantara mereka.


"Terkurung? aku dari dulu memang tinggal disini" balas iblis itu, dia tidak paham dengan apa yang ditanyakan Felix.


"Bukan itu" ucap Felix, dia mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Maksudku, mengapa kau bisa sampai kehilangan tubuh fisikmu?"


Iblis itu terdiam sebentar, lalu bayangan yang terpapar di dinding gua bergerak sedikit ke samping, seakan-akan iblis itu berpindah tempat untuk menjelaskan.


"Sebenarnya, sejak dahulu sekali, saat masa keemasan Underworld, ada satu manusia yang berani memasuki Underworld. Tentu, kami para iblis sangat keheranan dengan kedatangan manusia tersebut" Iblis itu mulai menjelaskan sambil menggerak-gerakkan tangannya.


Anak itu tak lain dan bukan adalah Ferus, Ferus terjatuh ke dalam sungai tak berujung dan menembus perbatasan antara dunia manusia dan dunia para iblis.


Kedatangan Ferus di sana tentu tidak disambut baik, namun, dia mempunyai akses keluar masuk secara bebas ke dunia Underworld yang mana sang raja iblis pun tidak bisa melakukan itu.


Karena kemampuan itu, Ferus agak sedikit disegani dan bahkan, Ferus diajak untuk berkeliling Underworld bersama raja iblis, Lucifer.


"Namun, setelah bertahun-tahun kedamaian yang terjadi di Underworld, seseorang menerobos masuk kedalam Underworld dan memusnahkan seluruh iblis yang ada, kecuali manusia itu."


"Aku pun sangat panik, dan mengaktifkan teknik terlarang yang mampu membuatku menyatu dengan seluruh Underworld, namun, sebagai gantinya aku kehilangan tubuh fisikku" jelas iblis itu kepada Felix.


Felix menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil bergumam, "Hm hmm.." kini dia paham alasannya.


"Berarti, selama ini aku berada di dalam Underworld?"


"Ya tentu, kalau bukan di Underworld, kau tidak akan bisa bertemu denganku."


Felix mengerutkan dahinya, lalu duduk menyender ke dinding gua dibelakangnya. "Namun aku masih tidak memahami alasanku ada disini, kau punya jawaban?"


"Maksudmu?" sahut iblis itu, dengan nada yang sedikit lembut.


"Cih, maksudku, mengapa aku bisa ada disini? bahkan secara logika pun sangat tidak masuk akal jika aku tenggelam, namun aku malah muncul di sisi lain dunia. Aku pikir kau punya jawaban tentang itu" ujar Felix kesal.


"Oh maksudmu itu" iblis itu menaikkan tempo suaranya, menandakan bahwa ia paham dengan konteksnya.


"Aku tahu penyebabnya" katanya lagi.


Tanpa berkata, Felix pun memasang telinga tajam-tajam dan menatap ke arah bayangan iblis tersebut, dia siap mendengarkan.


Penyebab utama Felix memasuki Underworld adalah karena saat Felix tenggelam ke dalam lautan luas, dia secara tidak sadar memasuki pusaran air khusus yang menarik tubuh Felix ke kedalaman yang jauh lebih dalam.


Gelombang pusaran itu relatif kecil, lebarnya hanya seukuran tubuh Felix. Felix terseret dan terus terseret ke bawah permukaan air, sampai akhirnya, ketika mencapai kedalaman maksimal yakni 15 kilometer di bawah air, membawa Felix ke pusat pusaran air berbentuk bola air yang menggumpal.


Biasanya, semua hal yang tersedot kedalam pusat pusaran air akan hancur lebur ketika menyentuh pusat itu. Namun, berbeda dengan Felix, tubuhnya memang menghilang, namun pusat pusaran itu lebih seperti portal, yang membawa masuk tubuh Felix kedalam pusaran lain yang berada persis di Underworld.


Dan setelah keluar dari pusaran air, tubuh Felix mengambang terus keatas permukaan air. Dari situlah mengapa Felix bisa berada di Underworld, sisi lain dari dunia manusia.


"Begitu.. aku mengerti sekarang, terimakasih" Felix tersenyum, dia merasa bahwa dia masih ada alasan untuk terus hidup dan tidak menyerah.


Bertahun-tahun pun berlalu, kini iblis itu menyerahkan seluruh kekuatannya kepada Felix sebagai ucapan terimakasihnya, dan membiarkan Felix pergi keluar karena ancaman yang besar, yakni Escalivor telah bergerak.


****************


"Yah jadi kira-kira begitulah ceritaku saat itu, terimakasih sudah mendengarkan" ucap Felix, lalu dia berjalan ke arah kaca yang pecah.


"Cerita yang bagus, namun, apa rencana kita selanjutnya?" Aizo berkata.


"Kita tidak mungkin membiarkan Ferus dilepaskan begitu saja, bukan?" tambahnya dengan kedua tangan disilang didepan dadanya.


"Aizo benar, kita tidak bisa berdiam seperti ini selamanya" Arizawa menimbrung di pembicaraan.


"Memang, aku telah menyiapkan segalanya" Felix berbalik dengan ekspresi yang berbeda, tatapannya seakan yakin dengan apa yang disiapkannya.


"Kita akan menyerang mereka, besok pukul 5 pagi dari bumi. Kita sergap mereka habis-habisan."


"Oh?" Arizawa menyengir, "sangat menarik, pasti akan membutuhkan banyak kekuatan, ya kan? aku akan meminta bantuan kepada Hiromi jika perlu" ucapnya gigih.


"Kita butuh banyak kekuatan tempur, dan kalau bisa, ada yang berjaga di bumi. Aku punya feeling yang buruk" saran Aizo.


"Sudah ditentukan, intinya kumpulkan pasukan sebanyak mungkin, kita bertemu lagi pukul 4 subuh besok" ucap Felix sebelum dia menghilang lewat bayangan dibawahnya.


Tanpa disadari siapapun, Arizawa pun sudah menghilang dari tempatnya, entah dia pergi kemana, namun semua orang tampak biasa saja dengan kepergiannya.


"Sudah seharusnya aku juga pergi menemui beberapa orang" Katsura berbalik perlahan dan berjalan, namun Suizei bertanya, "Tunggu, Katsura, kau ingin kemana?"


"Ini akan menjadi pertempuran besar, bukan? setidaknya, aku akan pergi menemui beberapa orang dulu" jawab Katsura tanpa menoleh, lalu dia pun teleportasi ke bumi.


Seolah-olah tahu siapa yang akan dikunjungi Katsura, Suizei hanya tersenyum dan melihat ke lantai, lalu dia pun pergi bersama Yubino ke pesawat.


Di bumi, ternyata Arizawa sudah pergi lebih dulu ke pemakaman, lebih tepatnya makam Homura. Dia duduk di samping makam Homura dan berbicara seakan-akan Homura masih ada.


"Eeh? mengunjungi makam orang saat malam hari itu tidak baik, lo" ucap seseorang pria dari belakang Arizawa.


Mata Arizawa terbuka lebar-lebar, sontak dia pun tahu itu suara milik siapa. "Oh, kau, ya.." ucapnya tanpa berbalik.


Suara itu adalah Hiromi, dia datang dengan sendirinya. "Jarang sekali aku melihatmu disini, pasti ada sesuatu yang akan terjadi, kan?"


"Ya, perang akan segera terjadi, maka dari itu aku-"


"Aku ikut" Hiromi memotong perkataan Arizawa, dia sudah tahu niat hati Arizawa ingin meminta bantuan padanya.


"Kau ini, masih sama saja seperti biasanya, ya?" pipi Arizawa sedikit memerah, lalu dia pun berjalan mendekat.


"Aku juga berpikir demikian" Hiromi ikut berjalan mendekat.


Ketika mereka berdua sudah cukup dekat, keduanya saling mengerahkan senjata satu sama lain, Arizawa mengarahkan belati kecil di depan leher Hiromi, sedangkan Hiromi menodongkan pistol pada dahi Arizawa.


Mereka berdua tersenyum, dan akhirnya tertawa bersama-sama, sambil melepas kedua senjata mereka.


Di sisi lain, Katsura sampai pada sebuah hutan. Tentu, dia ingin menemui Nico dan menyampaikan kabar penting.


"Kita akan memulai perang, Escalivor sudah bergerak, apa gerakanmu selanjutnya, Nico?"


Nico muncul dari balik bayang-bayang pepohonan, wajahnya diterangi oleh sinar bulan yang melintas akibat rotasi bumi.


"Entahlah, aku tidak begitu peduli dengan Escalivor. Namun, jika ini berhubungan dengan Ferus, aku ikut" ujar Nico, dia maju selangkah dan terlihat bahwa di belakang punggungnya, dia memiliki sesuatu berbentuk bulat yang bersinar terang.


Setelah beberapa menit, Katsura pun pergi ke markas lamanya untuk menemui Feria. Namun, belum sempat mengetuk pintu masuk, Feria terlebih dahulu membuka pintu dan menarik Katsura masuk ke dalam.


Dengan cepat Feria menarik dan menekan Katsura kepada dinding, mencegah Katsura untuk kabur.


"Ada apa.. Feria?"


Feria tampak tidak biasa hari ini, dia dengan agresif menarik dan memeluk Katsura sangat erat, membuat situasi menjadi sedikit panas.


Feria tak mengatakan sepatah kata apapun, lalu dengan kesadaran penuh dia mengangkat wajahnya sedikit keatas, mulut Katsura dan Feria hampir bersentuhan, dan Feria melanjutkan aksinya.


...****************...


Sisi berganti ke Escalivor yang berada di luar angkasa, lebih tepatnya diatas Radix Interitum. Menunjukkan 6 anggota yang sedang melingkari Embodiment Crystal yang diletakkan pada sebuah podium.


Karl, sebagai anggota nomor 1 Escalivor memimpin ritual untuk membuka segel Embodiment Crystal, dia pun membuka kedua matanya lebar-lebar dan membentuk segel tangan yang menyatukan kedua jari tengah dan telunjuk di depan mulutnya.


..." Dari semua kegelapan semesta, bintang, langit dan Tuhan, lepaskanlah kami yang suci dan tidak berdosa."...


..." Kehidupan, kematian, takdir dan benang waktu, semuanya terukir dalam satu luapan, berikanlah harmoni pada kekuatan yang telah diberikan."...


..." Liberar "...


..." Mulai! "...


...****************...


Waktu telah menunjukkan pukul 4 subuh, Katsura kini berada di makam Herald, sahabat pertamanya. Katsura berniat mengucapkan beberapa kata pada sahabatnya, sekaligus hari ini, tanggal 30 Desember adalah ulang tahun Herald.


"Selamat ulang tahun, Herald. Aku.. aku tak tahu apa yang harus ku ucapkan, sudah lama sekali semenjak kita terakhir berbicara" Katsura duduk dan menaruh bunga di samping makamnya.


"Jadi, bagaimana keadaan diatas sana? apakah kau menemukan hal yang menarik? aku yakin kau pasti bahagia disana" Katsura tertawa lembut.


Tak lama kemudian, sekitar beberapa menit, Suizei datang menjemput Katsura di depan pemakaman, dia memberi tahu bahwa Felix sudah siap membuka penyerangan.


"Baiklah Herald, sepertinya itu saja yang ingin ku bicarakan, selebihnya akan kuberi tahu soal pertarunganku nanti. Setelah aku pulang dari peperangan tersebut. Sampai nanti, Herald."


Dengan berat hati, Katsura meninggalkan pemakaman dan pergi bersama Suizei menuju tempat Felix, yakni di hamparan padang rumput yang luas dimana ada lebih dari 100.000 pasukan yang berkumpul disana.


Sesampainya disana, Felix memastikan sekali lagi bahwa semuanya telah siap sedia. "Semuanya, apakah seluruhnya sudah siap?" tanyanya.


Dengan kompak dan serentak, seluruh pasukan menjawab "Ya!"


Felix tersenyum melihat semangat pasukan, lalu dia menyadari Katsura datang bersama Suizei tepat di sampingnya.


Semakin yakin, Felix pun membuat garisan hitam tepat didepannya, itu adalah portal yang akan membawa mereka ke tempat Escalivor berada.


"Jangan khawatir, semuanya. Aku akan menyelesaikan ini.. tidak.. kami akan menyelesaikan ini. Aku takkan membiarkan Ferus keluar untuk yang kedua kalinya" ucap Katsura di dalam hatinya, ekspresi percaya diri terpampang jelas di wajahnya.


"Peperangan ini.. akan segera ku akhiri!"


Bersambung...