Destiny Holder

Destiny Holder
Crescent Deluz



Katsura tercengang melihat panah Suizei menembus leher Showa, awalnya dia terlalu meremehkan Suizei dan terlalu memandang tinggi Showa.


"H-hebat.." kata Katsura.


Suizei tak membalas perkataan Katsura, dia masih harus tetap fokus pada Showa karena mungkin saja dia masih bisa bangkit.


"Hahaha... Serangan yang bagus" kata Showa terbata-bata, karena tenggorokannya sudah hancur.


Suizei sudah menduganya, dia mempersiapkan rencana cadangan dengan melebarkan panah itu hingga memenggal penuh kepala Showa.


Namun panah itu tiba-tiba hancur seketika, lenyap menjadi abu.


"Apa yang-"


Showa membungkuk dan menusuk menggunakan tangannya ke arah leher Suizei, walau tusukan tangan itu tak mengenai Suizei, dampak yang dihasilkan ialah hampir melenyapkan bahu Suizei. Dia pun panik.


Suizei melompat mundur dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang balik, dia juga memanggil kembali tombaknya.


"Orang ini benar-benar menyusahkan, dia bisa menggunakan hampir seluruh senjata, ini akan sangat merepotkan" batin Showa.


"Apa itu barusan? bahu ku hampir saja menjadi abu!" kata hati Suizei yang panik.


Menunjukkan raut wajah yang mulai gelisah, Showa melihat ada kesempatan baginya untuk menang. Baginya, melawan Suizei itu lebih merepotkan daripada bertarung melawan Katsura.


Suizei memutar tombaknya dan diayunkan secara diagonal ke arah Showa, Showa menangkis nya hanya dengan satu tangan, kemudian ditambah dengan sihirnya, tombak Suizei hampir hancur.


Dengan cepat Suizei menarik tombaknya dan membalikkannya, lalu menusuk Showa menggunakan belakang tombaknya.


"Aku perlu senjata yang lebih elastis.." katanya.


Showa menyengir, lalu mematahkan pegangan tombak Suizei. Dengan cepat ia pun mengambil pedang besarnya yang sebelumnya terjatuh.


Showa mengayunkan senjata itu secara acak dan membabi buta, tanpa tahu kemana Suizei akan mengelak setelahnya. Dia sempat kesal karena Suizei membaca seluruh pergerakannya.


..." Encouragement Blow! "...


Suizei mengibaskan kedua tangannya, lalu membuat sebuah area lingkaran dengan gelombang angin yang cukup kuat untuk mementalkan Showa. Serta sihir itu memberinya ruang untuk merapal mantra. Ditambah, tak ada benda yang dapat memasuki area lingkaran itu karena akan langsung terpental.


..." Catena Falx "...


Suizei tanpa pikir panjang langsung menerjang Showa dengan sabit rantainya, kali ini dia memegang kondisi kemenangan karena dia bisa bermain dari jarak jauh.


Suizei menebas Showa yang sedang bertahan menggunakan pedangnya, Suizei menggunakan kedua belahan sabitnya untuk mengikis kekuatan dari pedang Showa.


Suizei melompat mundur, kali ini dia mundur cukup jauh agar bisa memainkan sabitnya dengan lebih mudah.


Pertama ia melemparkan sabit pertamanya ke arah samping Showa, tentu saja Showa membalasnya dengan balik menebasnya, tetapi Suizei menarik rantainya dan diubah dengan sabit kedua dari atas.


Showa meninju udara agar arahnya berubah, setelah arah dari sabit itu melenceng, Suizei kembali mengerahkan sabit pertamanya dari bawah, yaitu titik buta Showa.


Suizei berhasil melukai Showa menggunakan sabit pertamanya yang membentuk bulan sabit dari bawah keatas.


Saat kedua belahan sabit ada di tangan Suizei lagi, dia memutarkan keduanya dengan cepat, lalu melemparkan sabitnya secara acak lurus kedepan, lalu ditarik kembali dan dilancarkan lagi sabit yang lain.


Showa hanya fokus menangkis semua sabit yang di lancarkan Suizei, tak ada habisnya ia menangkis. Sampai pada akhirnya kakinya tersayat cukup lebar oleh sabit Suizei.


Suizei melompat dan berdiri diatas tiang, lalu ia mengulangi serangan yang tadi hingga Showa benar-benar terpojok di ujung plafon.


"Berakhir sudah" kata Suizei, lalu melompat dan mengarahkan kedua sabitnya ke Showa dengan arah yang berlawanan. Sabit pertama dari atas, dan sabit kedua dari bawah.


Showa meluruskan pedangnya, dia sadar bahwa semua serangan Suizei terlalu simetris, jadi dia hanya perlu fokus pada satu sabit, maka sabit yang lain akan menyerangnya dengan gaya yang sama namun dengan arah yang berbeda.


"Serangan seperti ini takkan cukup untuk mengalahkanku!" serunya.


"Oh ya kah? aku hanya mengincar pedang itu, sih" balas Suizei sinis.


"Apa maksud-"


Pedang Showa malah hancur, karena sedari tadi pedangnya ia gunakan untuk menahan semua sabit yang dilancarkan Suizei.


"Asal kau tahu ya, didalam sabit itu tak hanya terbuat dari besi yang spesial, tapi aku juga memasukkan kandungan kimia yang mampu melemahkan besi" ungkap Suizei.


"Sialan kau!" Showa kesal lalu ia menerjang Suizei dari bawah, namun Suizei sudah mempersiapkan jebakan terakhirnya.


"Ini hadiah terakhir dariku" Suizei mengangkat tangannya, lalu tubuh Showa terikat oleh rantai dari kedua sabit yang di gunakan Suizei tadi.


..." Meledaklah "...


Showa meledak bersamaan dengan sabit Suizei, hal ini memberi cukup waktu untuk bertukar posisi dengan Katsura yang baru saja selesai mentransfer energi.


"Katsura kita bertukar, tahan dia selama 3 menit, senjata mu akan kusiapkan secepat mungkin. Cepatlah!" ujar Suizei terburu-buru.


"Bisakah aku meminjam tombakmu? aku perlu senjata agar bisa melawannya dengan seimbang sekarang" pinta Katsura.


"Ambil saja" Suizei melemparkan tombaknya pada Katsura, lalu Katsura pun pergi ke tempat ledakan itu terjadi.


Tak lama kemudian asap ledakan itu mulai menyusut, dan menunjukkan Showa dengan luka barunya di tangan kanannya. Dia menahan semua ledakan itu di tangan kanannya.


"Jadi sekarang yang ku lawan itu kau, aku agak kecewa tapi tak masalah, sejak awal targetku adalah kau" kata Showa.


..." Particular Simulacra "...


Katsura mengaktifkan mantra tombak yang tersembunyi, lantas membuat Suizei sedikit terkejut Katsura mampu mengaktifkan potensi senjatanya ke tingkatan yang lebih tinggi.


Ujung tombak yang berwarna biru cerah dan dilapisi dengan emas, gagang yang berwarna abu-abu kehitaman, dan ujung belakang tombak dengan berlian ruby.


"Senjata yang norak" ejek Showa.


Katsura bergerak sangat cepat, dia mengitari Showa sampai meninggalkan bayangan dari kecepatannya itu.


"Kecepatan rendahan, aku bisa lebih cepat dari ini!" Showa menangkap tusukan tombak dari arah jam 5 tanpa melihat.


"Sudah kubilang, kecepatan reaksiku jauh diatas kecepatan ini!" Showa mengenggam ujung tombak dan mengepalkan tangannya hingga tombak itu hancur.


"Kena kau" Katsura menyengir.


Sebuah gelombang cahaya berwarna biru cerah menembus tubuh Showa, menyerap energinya dan membawanya ke Suizei.


"Bajingan kau!" gertak Showa yang sangat kesal.


"Memang trik murahan, tapi itu dapat mengecohmu, ya" ejek Katsura balik.


"KEPARAT!" Showa meninju Katsura sekuat tenaga, namun saat tinju itu terlihat berhasil membunuh Katsura seketika, tangannya malah terkurung oleh energi berwarna hijau muda.


..." Sihir Waktu : Pengembalian Waktu "...


Tangan Showa dipaksa mundur ke waktu dimana tangannya belum terbentuk. Alhasil dia kehilangan satu tangannya.


"BAGAIMANA BISA DIA MENGGUNAKAN SIHIR? HARUSNYA DIA SUDAH KEHILANGAN SIHIRNYA!" Showa tampak panik.


"Lo? kenapa sekarang kau yang panik?"


"Mengesankan, Katsura Laith" puji Showa.


..." Despair Shot! "...


Showa menciptakan banyak sekali bola energi di angkasa, saking banyaknya sampai tak terhitung.


Kemudian, secara perlahan Showa mengarahkan tangannya ke Katsura, diiringi dengan seluruh bola energi itu meluncur ke arah yang ditentukan.


Dengan santai, Katsura menghindari serangan itu. Dia juga menangkis banyak sekali bola energi dengan sihir waktunya. Ia memerangkap bola energi itu dan mengembalikan disaat bola itu belum tercipta.


..." Ember Cordon! "...


Katsura yang lengah terkurung oleh energi hitam pekat yang sangat panas.


"Sudah berakhir. Katsura" ucap Showa percaya diri.


"Oh ya? kupikir belum, tahu."


Seluruh sihir dan mana yang ada di area pertempuran lenyap seketika. Membuat Showa bingung.


"Apa... yang kau lakukan?"


..." Lenyapkanlah, Crescent Delus! "...


Bersambung...