
Katsura tersenyum bangga selagi mengaktifkan mode barunya, yang ia namai Juryoku No Ikari. Feria melongo tak percaya, Suza hanya bisa bertepuk tangan.
"Bagus sekali, kau bisa berdamai dengan cepat. Jadi ini wujud sihir yang katamu itu berbahaya? terlihat biasa saja bagiku walau cukup keren" kata Suza mendekati Katsura.
"Ya kalau aku tidak ngapa-ngapain ya biasa saja, akan sangat hebat jika aku beraksi" balas Katsura.
"Begitu, ya, yasudah kerja bagus!" seru Suza bangga.
"Kamu tahu cara menonaktifkan mode ini tidak?" tanya Feria.
"Tentu, dong. Aku tinggal melepas saja beban berat ini" Katsura pun menonaktifkan mode nya.
"Kalau begini aku bisa langsung pulang dan membantu Viper deh" Katsura berjalan ke arah bebatuan untuk duduk.
Suza menepuk pundak Katsura dan berbisik, "Apa kau tidak mau memperbaiki sesuatu pada hati Feria kemarin?"
Katsura baru sadar, walau Feria terlihat biasa saja dengannya, di lubuk hatinya yang paling dalam dia masih terasa tersakiti.
"Kau benar, akan ku pikirkan dulu sebelum pulang" balas Katsura.
"Jika mencari penyegaran, disini ada banyak sekali hal-hal yang menarik. Kau harus mencobanya. Misalnya festival kembang api" usul Suza.
"Baiklah, terimakasih sarannya, Suza" Katsura tersenyum haru.
"Baiklah, kita akan pulang atau bagaimana? misimu kan sudah selesai" kata Suza.
"Benar juga, kita kembali ke Tokyo saja. Tak ada yang bisa kulakukan lagi disini" ujar Katsura.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali ke mobil sebelum banyak orang berkunjung kemari" Suza berbalik dan berjalan ke arah mobilnya, begitu juga dengan Katsura dan Feria.
Mereka pun kembali ke Tokyo, mereka sampai saat hari menjelang malam.
"Akhirnyaa kita sampai juga, badanku pegal sekali" Feria meregangkan badannya yang kaku dan pegal.
"Besok festival nya, ya... kalau begitu akan ku pesan hari ini saja tiketnya" gumam Katsura di dalam hati sambil melihat-lihat info soal festival itu.
"Baiklah aku pamit pulang, ya, jika kau ingin pulang beritahu aku, aku akan menemanimu disaat-saat terakhir" kata Suza sambil melambaikan tangan.
"Baiklah, terimakasih atas bantuanmu saat ini, ya" Katsura tersenyum. Lalu mereka berdua pun masuk ke hotel, sementara itu Suza pulang kerumahnya.
"Feria, kau tunggu di kamar dulu, ya. Aku ingin pergi membeli sesuatu" kata Katsura di lobby.
"Mau membeli apa?"
"Rahasia, hehe"
Feria kebingungan dengan barang yang akan dibeli Katsura, tapi karena dia sangat lelah dia ingin pergi tidur.
"Baiklah, tempat festival nya berada di sekitaran Sungai Sumida, mungkin loket tiketnya ada disana" ucap Katsura sambil berjalan. Tapi, saat berjalan dia mendengar orang yang sedang membicarakan festival nya juga. Katsura mencoba bertanya-tanya pada mereka.
"Permisi, apakah anda tahu tempat penjualan tiket untuk festival ini?" tanya Katsura kepada orang-orang itu.
"Festival? festival kembang api maksudmu? itu tidak usah membeli tiket. Kau cukup datang saja, semua orang diperbolehkan masuk dan melihat kembang api yang meriah itu. Festival nya dimulai saat jam 7 malam" jawabnya.
"Oh begitu ya, baiklah terimakasih tuan" Katsura menundukkan punggungnya sebagai ucapan terimakasih.
"Kalau begitu aku akan membeli kimono saja, supaya lebih identik dengan festival-festival yang ada di Jepang" Katsura berjalan menelusuri distrik yang ia masuki, mencari toko baju.
Setelah berjam-jam ia berkeliling, akhirnya Katsura membeli 2 pasang Kimono, untuk dirinya dan Feria. Dia pun kembali ke hotel untuk istirahat.
Sesampainya di kamar, Katsura langsung tidur untuk bersiap di hari esok.
Keesokan harinya, Feria yang bangun lebih awal terheran dengan kimono yang menempel di gantungan lemari.
Katsura pun terbangun, Feria langsung menanyakan soal kimono itu.
"Ini untuk apa?"
"Itu hadiah dariku untukmu, malam ini kamu pakai kimono itu, ya. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menakjubkan" jawab Katsura dengan tersenyum.
"Baiklah.."
Hari menjelang malam, Katsura dan Feria bersiap pergi ke festival. Tapi Feria tidak tahu soal festival ini.
Dengan semangat, Katsura mengenggam tangan Feria dan berlari ke Sungai Sumida sebelum penuh. Dia mencari tempat yang bagus untuk menyaksikan pertunjukkan kembang api.
"Ini adalah festival kembang api, aku mengajakmu kesini sebelum kita pergi dari sini. Ini akan menjadi tempat kenangan kita" balas Katsura.
Feria terharu, dia menyembunyikan ini untuk kejutan bagi dirinya. Hatinya yang dingin mulai luluh kembali oleh Katsura.
"Bagaimana kalau kita membeli jajanan? ada banyak sekali makanan disini, aku akan membeli beberapa" Katsura kembali menarik tangan Feria dan membawanya berjalan-jalan.
Feria hanya bisa terdiam dan malu-malu, dia tak bisa berkata-kata lagi. Katsura membeli ramen, takoyaki, dango dan taiyaki. Sementara Feria hanya memakan 2 tusuk dango saja. Dirinya sangat mendalami festival ini.
"Wah..! makanannya enak-enak sekali, memang tak salah kita kesini, benar bukan, Feria?" kata Katsura yang tersenyum lebar.
Feria tersenyum dan mengangguk, melihat Katsura yang tersenyum seperti itu membuatnya sangat bahagia. Hatinya mulai terluluhkan oleh perbuatannya, dirinya tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Katsura dan Feria duduk di bangku bersama, saat sedang memandangi situasi festival yang ramai, Katsura dipanggil oleh suara yang ia kenal.
"Katsura!! kemari dulu" serunya sambil melambaikan tangan.
"Loh? suara itu aku seperti kenal, sebentar ya, aku akan segera kembali."
Katsura menghampiri asal suara itu, suara itu berasal dari gadis berpakaian kimono biru dengan rambut oranye pendeknya yang mencolok, dan senyumnya yang melelehkan hati.
"Kau.. Yuchi Kosei?" Katsura mencoba menebak-nebak.
"Benar sekali!" balasnya.
Katsura tertawa kecil dan berkata, "Apa yang kau lakukan disini? kau bukannya pindah ke Kyoto, ya?"
"Aku hanya ingin kembali ke Tokyo, melihat-lihat keadaan. Eh tapi aku malah bertemu dengan teman lama, hehe" balas Yuchi.
Yuchi Kosei adalah teman lama Katsura, teman SD dan SMP nya. Tapi saat kelas 3 SMP dia pindah ke Jepang mengikut keluarganya. Yuchi juga adalah seorang mantan Katsura, yang sudah menolak cintanya sebanyak 3 kali. Katsura masih menyimpan perasaan selama 2 tahun setelah kepergiannya, walau sekarang sudah hilang, orang yang dulunya ia sangat kagumi dan cintai kembali muncul di hadapannya.
"Loh mengapa hanya diam? ada apa denganmu? apakah sakit?" kata Yuchi mengkhawatirkan Katsura.
"Tidak usah mengkhawatirkan ku, bagaimana kabarmu selama ini?"
"Aku baik, kok! aku mempunyai teman yang seru sama seperti di sekolah sebelumnya, dan juga pengalaman-pengalaman yang sangat seru yang tidak pernah ku alami sebelumnya, hanya saja aku tak bisa bercerita pada teman lamaku."
"Begitu, ya, baguslah kalau begitu, aku sering kau kenapa-kenapa saat pindah, hehehe."
Yuchi mengenggam tangan Katsura dan mengajaknya pergi ke suatu tempat yang sepi, Katsura dijalan bertanya, "Hei mau kemana kita? aku tak bisa meninggalkan temanku disana."
"Cuma teman, kan? ikut aku sebentar saja, ada yang mau aku sampaikan" jawabnya dengan serius.
Sampailah mereka di ruang sepi, Yuchi berhadapan langsung dengan Katsura, mengungkapkan sesuatu yang serius.
"Aku.. bohong."
"Aku tidak bahagia disini! aku sangat menyesal pergi kesini! semua temanku palsu, hanya memanfaatkanku saja. Pengalamanku tidak ada yang seru, semuanya buruk aku dirundung satu kelas. Saat aku mencari pujaan hati, semuanya hanya memikirkan hasrat saja! aku tak menemukan yang persis sepertimu! kau baik, cerdas, peduli pada orang lain siapapun itu. Aku, aku mencintaimu, Katsura!"
Katsura hanya terdiam sejenak, memikirkan yang barusan diungkapkan Yuchi.
"Aku bersedia menunggu jawabanmu selama apapun, selama aku mendapatkan dirimu aku sudah tenang lagi, daripada aku harus diperbudak oleh pria brengsek disini!"
Katsura menunduk, dan berkata, "Maaf, maaf sekali, dulu aku pernah memberimu 3 kali kesempatan, tapi kau masih menyia-nyiakan perasaanku, aku sudah berbuat sebaik apapun untuk memikat hatimu, tapi kau tak kunjung berbalik padaku juga. Akhirnya aku menyerah. Lagipula, aku sudah mencintai 1 wanita yang tak akan aku ubah lagi, dia adalah takdirku saat ini. Semoga kau bertemu dengan yang lebih baik dariku. Masih ada banyak sekali lelaki yang baik di ujung dunia ini, hanya saja kau belum bertemu dengannya."
"Sekali lagi, maaf sekali, ya.." Katsura dengan berat hati pergi meninggalkan Yuchi sendirian, dan kembali pada Feria.
Yuchi tampak sedih dan murung, satu-satunya lelaki yang bisa ia andalkan telah pergi meninggalkannya.
"Maaf membuatmu menunggu, Feria" kata Katsura yang tengah berlari.
"Tidak apa, kok."
"Katsura, kemari sebentar."
Waktu sudah menunjukkan pukul 7, kembang api telah diluncurkan membuat suasana semakin meriah.
Selagi kembang api diluncurkan, Feria mengeluarkan satu tangkai bunga mawar merah yang ia terima dari Katsura dulu, dan berkata, "Ingat bunga ini? bunga yang kamu kasih dulu, aku.. menerimamu."
Katsura terdiam sejenak, kedua pasangan itu saling tatap menatap satu sama lain, situasi yang tegang ditambah perasaan yang bergejolak dalam hati mereka menambah kenangan di festival ini.
"Aku mencintaimu juga, Katsura!!"
Bersambung...