
"Selamat tinggal, Katsura" Versace melambaikan tangannya, sementara Homura hanya menatap tajam Katsura dari atas helikopter.
Sebenarnya Katsura bisa saja menyerang dan menjatuhkan helikopter Versace, namun dia masih tak siap mental untuk melakukannya.
Dia hanya berteriak sangat keras namun tidak bergerak. Teriakan itu terdengar sangat kencang, bahkan Suizei yang berada di markas untuk istirahat pun mendengarnya.
"Katsura?" Suizei menanggapi dengan lemas.
Walau begitu, teriakan Katsura tidak mampu mengubah pikiran Homura. Lalu dia pun tersungkur di tanah dan mengucurkan air matanya lagi.
Mereka semua hanya tetap begitu sampai berjam-jam, mereka masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Homura telah berkhianat. Bahkan Aizo terlihat seperti orang mati yang membuka matanya.
Yukichi tergeletak lemas, dia setengah hidup. Sihirnya telah diambil beserta energi kehidupannya juga oleh Versace.
Di dalam pikiran Aizo terbayang-bayang sosok Homura yang telah menyelamatkannya dulu, begitu juga Feria yang telah diselamatkan dari trauma beratnya di masa lalu.
Di pikiran mereka, mereka menjerit sekuat tenaga dan kerap bertanya-tanya. "Ini sungguhan? apakah ini dunia nyata?"
Kini mereka harus melawan orang yang benar-benar mereka percayai.
Kini situasi berpindah ke Yubino dan Zeldris yang sedang mengalahkan orang-orang kiriman Versace satu persatu.
Jumlah mereka sangat banyak, seperti semut yang sedang berpindah sarangnya, dan juga mereka cukup bisa melawan balik Yubino dan Zeldris.
"Mereka banyak sekali, ya" Yubino mengelap keringatnya.
Mereka berdua melawan banyak orang di tempat yang berpisah, ketika Yubino mengambil rehat sejenak, Zeldris melompat mundur hingga membelakangi Yubino.
"Hei kau sepertinya kesulitan, bukan?" Yubino bertanya, namun Zeldris mengacuhkannya.
Yubino paham bahwa Zeldris sedak tak ingin ngobrol, dia pun mendiamkannya dan mengambil posisi menyerang.
Zeldris secara tiba-tiba berkata, "Yubino, kita bertukar posisi" kemudian dia berlari ke orang yang sedang di lawan oleh Yubino.
"Tunggu!" seru Yubino, namun Zeldris telah pergi lebih dulu.
"Ya ampun, kebiasaan dia itu" sesaat setelah dia berkata begitu, seorang yang di lawan Zeldris menebas dengan kapak, namun tidak kena.
"Sialan kau!" geramnya, dia mengambil kapaknya yang tersangkut di tanah.
"Kau yang di lawan Zeldris, ya? baiklah."
"Jadi nama orang itu Zeldris? menyedihk-" perut orang itu seketika berlubang oleh pilar api dari bawah tanah.
"Kau bahkan tak mampu menarik kembali kapak mu" Yubino berbicara dibalik api yang ada dibelakang orang itu.
Orang itu mengeluarkan darah dari mulutnya, "Berisik kau keparat!" ocehnya dan dia siap memukul walau tangannya lemas sekali.
Yubino menyentuh wajahnya, dan orang itu pun hangus menjadi debu.
"Mengapa dia kesulitan melawan si bodoh ini yang bahkan sering mengoceh?" Yubino membersihkan tangannya dengan cara menepuk-nepuk.
Zeldris juga menghabisi orang yang di lawan Yubino dengan sekali serang, dia menyetrum lawannya hingga mati.
"Yubino! waspada lah, yang ku lawan bukan hanya dia seorang!" seru Zeldris dari kejauhan.
Dibalik puing-puing bangunan, ada suara orang melompat. Yubino pun berbalik dan siap menghadapi orang itu.
Orang itu sangat tinggi dan mempunyai rambut berwarna ungu gelap, sikapnya sangat cuek dan dingin, dia juga membawa katana yang di hias.
"Apa ini? mengapa orang yang ku lawan berbeda?" dia mengoceh.
Yubino tidak menanggapi, dia merasa bahwa orang yang akan dia hadapi sangat berbahaya.
Tongkat itu menyatu dengan pedang nya, membuat pedang itu semakin panjang seperti tombak.
..." Goma Desparramar "...
Karet hitam menyebar dari ujung pedang Rey, sebaran nya sangat luas bahkan menutupi ruang Yubino untuk bergerak, dia jadi sangat lengket.
"Sihir Karet? pantas saja Zeldris kesulitan melawannya!" gumamnya selagi menarik kaki sekuat mungkin.
Yubino lengah, dia terlalu fokus pada kakinya sehingga dia tidak menyadari bahwa Rey sudah ada di samping atasnya dengan posisi terbalik dan jari yang menyentuh dahi nya.
Rey tak mengucapkan apapun, lalu ledakan energi terjadi dan menembus kepala Yubino.
"1 pergi."
Namun, sebuah jentikan terdengar tak jauh dari tempat Rey saat ini, dan Yubino masih hidup. Dia berteleportasi dengan jentikan jarinya, disertai pilar api yang melindungi teleportasi nya.
Rey tanpa banyak bicara memperbanyak karet miliknya sehingga mengikat kaki Yubino sampai benar-benar tidak bisa bergerak.
Rey juga menambahkan bom bom berbentuk bola hitam di sepanjang karet nya. Namun dia juga terkena dampaknya sehingga ia tidak bisa kabur.
"Kau harus mengetahui sesuatu dulu, jangan sombong pada satu orang karena sihirmu lebih unggul dari mereka!" Yubino memanaskan medan area, membakar semua karet yang ada.
Rey tidak bisa berkata-kata lagi, dia seakan menerima bahwa ini adalah ajalnya.
Yubino lepas dari ikatan karetnya dan melompat mundur, dia pun meledakkan area karet itu bersama dengan Rey di dalamnya.
Dia jalan menuju Zeldris, lalu Zeldris juga sudah selesai melawan orang itu.
"Kita kembali ke markas sekarang, aku punya firasat buruk" wajah Zeldris terlihat sangat gelisah.
Ledakan karet tadi berhasil membuat Katsura kembali sadar, begitu pula Arizawa, mereka membawa paksa yang lain untuk pulang ke markas dan berbicara disana.
Sesampainya di markas, mereka disambut oleh Suizei yang sedang berdiri didepan pintu.
"Ada apa dengan wajah kalian? sampai pucat begitu?" tanyanya dengan santai.
"Masuklah, kita bicarakan di dalam" Arizawa menyela masuk dan menurunkan Yukichi.
Tak lama kemudian, Zeldris dan Yubino pun menyusul dengan cepat, mereka berteleportasi secepat mungkin ke markas dan setelah melihat raut wajah teman-temannya, Zeldris semakin yakin bahwa memang ada yang terjadi.
"Ada apa? mengapa wajah kalian murung sekali?" Yubino mencoba mencairkan suasana yang canggung itu.
"Homura telah tiada" ucap Katsura.
"Tiada? maksudmu dia telah mati?" Suizei bertanya.
"Tidak, dia berkhianat, dia bukan di sisi kita lagi sekarang" Arizawa mengungkapkan kebenarannya, dan lagi-lagi fakta itu mengejutkan semua orang.
Zeldris menjadi hampa, tatapannya sangat kosong, begitu pula perasaannya. Namun dia kekeh tidak percaya, "Aku takkan percaya sampai aku melihatnya dengan kepalaku sendiri!" dia menyanggahnya.
"Homura telah menyerang Yukichi dan bahkan mengabaikan ajakan dari Katsura. Dia pergi bersama seseorang menggunakan helikopter. Dan orang yang bersama nya adalah ketua dari orang-orang yang kalian lawan" jelas Arizawa.
"Hei, dia Homura, tidak mungkin dia berkhianat semudah itu, aku yakin itu adalah rencana dia untuk menjatuhkan orang it-"
"Tidak, dia serius tidak akan kembali. Dia dari awal sudah mempermainkan kita, dari awal sekali" Katsura menyela omongan Yubino.
"Dia takkan kembali, kita hanya punya dua pilihan, menyerah atau kita melawannya, yang manapun itu sama-sama membuat kita terpukul" kata Katsura serius.
Bersambung...