Destiny Holder

Destiny Holder
Kelompok Yang Terbuang



"Dimana aku?" tanya Katsura, namun matanya tertuju pada cahaya lampu yang bersinar terang diatasnya.


Feria yang mendengar gumaman kecil Katsura langsung mendekatkan kepalanya ke atas wajah Katsura dan berkata, "Katsura, kau sudah bangun?"


Katsura terkejut, dia pun reflek menjauhkan wajah Feria dari dirinya.


Setelah beberapa detik, dia baru sadar bahwa Feria sedang khawatir kepadanya.


"E-eh.. Maafkan aku, aku tidak tahu" katanya sedikit cemas.


"Tidak apa kok, aku tidak terluka sama sekali. Bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Feria balik dengan senyumnya.


"Buruk sekali, sekujur tubuhku nyeri, ditambah kakiku keram. Namun rasanya seperti patah. Siapa yang merawatku, sih?" Katsura kesal dengan perawatannya.


"Bawahan Showa yang bernama Afir. Dia tadi barusan meninggalkan ruangan ini" jawab Feria.


"Cih pantas saja, biasanya jika aku terluka yang merawatku itu Yukichi atau bahkan Homura. Mungkin mereka sibuk, ya?" Katsura kecewa.


"Sudah pasti mereka sedang menyembuhkan diri mereka sendiri dulu. Kamu juga berbaring dulu jangan bangun!" Feria mendekat ke Katsura dan menyuruhnya berbaring.


"Aku bosan berbaring, melihat dunia dari bawah itu tidak enak."


"Ya mau tidak mau, agar kepulihanmu dapat terjamin. Tenang saja, aku temani disini, kok!" kata Feria gembira.


"Asal ada kamu, mungkin tidak apa-apa."


Pipi Feria memerah, lalu mereka berdua saling pandang memandang.


"Kau tahu? mungkin aku takkan bisa menggunakan kekuatanku untuk sementara waktu" ungkap Katsura tiba-tiba.


"Loh, memangnya kenapa?"


"Aku terlalu memaksakan tubuhku untuk terus memakai Golden Orb, alhasil aku jadi lumpuh begini. Mungkin aku perlu kursi roda untuk berjalan" jelasnya.


"Disaat tubuhku sudah hampir tidak bisa bergerak seusai melawan Ferus, aku malah memaksakan diriku lagi untuk menggunakan Golden Orb saat membuka portal. Alhasil energiku sekarang benar-benar nihil dan tidak mau keluar sama sekali" Katsura melanjutkan penjelasannya.


Katsura membuktikan pada Feria dengan mengangkat salah satu telapak tangannya, dan dia mencoba untuk membuat sebuah api, namun yang muncul hanya percikan biasa saja.


"Kau lihat, kan? aku tak bisa menciptakan sihir untuk sementara waktu. Bahkan aku juga tidak bisa memanggil Crescent Deluz" tambah Katsura.


Feria turut bersedih atas kondisi Katsura saat ini, dia menggenggam tangan Katsura yang dingin lalu berkata, "Tidak apa, selagi kamu tidak bisa menggunakan sihir, masih ada yang lain yang dapat membantu. Sekarang kamu fokus saja pada diri sendiri, ya?"


Katsura tersenyum, dan mengiyakan. Kemudian ia kembali berbaring dan berbincang-bincang bersama Feria.


Hingga pada akhirnya Katsura memutuskan untuk kembali tidur, dan Feria pun pergi dari ruangan Katsura.


Sudah 2 hari berlalu semenjak pertarungan melawan Ferus, Homura terlihat sudah segar bugar dan sedang menjalankan penelitiannya kembali di markas.


Feria melihat bahwa Embodiment Crystal-nya sedang dijadikan objek penelitian oleh Homura, jadi dia pun menghampiri nya.


"Apa yang kau lakukan dengan itu?"


"Ah, aku mencoba menganalisa bagaimana kau membuatnya. Serta aku juga sedang mempelajari segel yang menjulur di segala sisi kristal ini. Aku merasakan tekanan yang sangat besar didalamnya, jika saja Katsura tak menambahkan segel energinya, maka sudah pasti Ferus akan lepas" jawab Homura rinci.


"Oh begitu, baiklah. Maaf aku tak bisa membantu, aku ada urusan lain" Feria pergi meninggalkan lab.


"Tidak apa, lagipula aku sudah 80 persen selesai" kata Homura.


Di tempat lain, Arizawa sedang sibuk berkunjung ke markas baru yang sebelumnya sedang di bangun. Saat dia sampai disana, alangkah terkejutnya dia melihat markas barunya yang sangat besar.


"Ini markas atau kastil?" tanyanya kagum.


"Kita tidak mampir kemari semenjak Showa datang menyerang. Dan sekarang perkembangannya sudah sangat melesat jauh. Mungkin beberapa minggu ke depan semuanya sudah 100 persen selesai" ucap Yukichi.


"Benar juga, sisa inferior didalam saja. Dan juga untungnya kita merekrut semua bawahan Showa walau seperempat nya habis dibantai Ferus, namun bisa kita manfaatkan sebagai tenaga kerja disini" ujar Arizawa.


Saat mereka berdua berjalan cukup jauh, mereka menyenggol seorang wanita yang memakai topi proyek hingga wanita itu terjatuh.


"Eh maaf, kau tidak apa?" Yukichi membantu wanita itu berdiri.


Wanita itu tak mengatakan apapun, lalu dia pergi tanpa mengucapkan terimakasih kepada Yukichi.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Yukichi heran.


"Tunggu Yukichi, ayo kemari sebentar, ada yang janggal" Arizawa menarik tangan Yukichi dan keluar dari markas.


"Memangnya ada apa?" tanya Yukichi lagi.


"Kau lihat wanita yang tadi kita tabrak kan? di lehernya terdapat sebuah luka bakar dari sebuah tongkat besi."


"Oh ya aku menyadarinya saat ingin menolongnya. Memang ada apa?"


"Kejanggalan yang pertama, kita tak pernah melihat adanya pekerja wanita disini. Semuanya adalah laki-laki."


"Lalu luka itu.. Dia adalah Vira, kau mengingatnya?"


Mata Yukichi terbuka lebar, dia baru menyadari sesuatu.


"Mantan anggota, ya?" terka Yukichi.


"Benar. Apa yang dilakukan mantan anggota sendirian disini, ditambah dia juga menyamar sebagai pekerja. Pasti ada yang mau dia kerjakan."


"Apakah Hiromi sudah mulai bergerak? dia tahu betul kelemahan kami sekarang!" kata Arizawa dalam hati.


"Kalau tujuan 'mereka' ini adalah mengambil alih kembali Viper, maka sekarang pasti waktu yang tepat karena Katsura sedang tak bisa bertarung" tambah Arizawa.


"Namun mengapa dia tahu tempat ini? harusnya yang tahu lokasi tempat markas baru dibangun hanyalah anggota mato saja" kata Yukichi.


Arizawa tersadar sesuatu, dengan panik dia langsung menyuruh Yukichi kembali ke pesawat.


"CEPAT KEMBALI KE PESAWAT!" seru Arizawa panik.


Mereka berdua berlari secepat mungkin ke pesawat mereka, namun naas, dari kejauhan sudah tercium asap ledakan.


Benar saja, saat mereka sampai di pesawat, pesawat mereka sudah hancur lebur.


"Cih! kita telat" Arizawa kesal, dia menginjak tanah dengan kencang.


"Apa yang terjadi?" Yukichi bingung.


"Aku tak punya banyak waktu untuk menj-"


..." Cultural Light "...


Sebuah kubus berwarna kuning transparan mengurung Arizawa dan Yukichi, memerangkap mereka agar tak bisa keluar.


"Kita terperangkap" ucap Arizawa.


"Hahaha, bagus sekali. Kalian termakan umpan kecil" Hiromi bertepuk tangan dan perlahan memunculkan dirinya dihadapan Arizawa.


"Apa yang kau rencanakan, sialan!?"


"Sepertinya mulutmu kalau sudah emosi sudah tidak terkontrol lagi, ya. Sama seperti dulu" tatapan mata Hiromi semakin tajam.


"Sebenarnya siapa mereka, mengapa kau mengenalnya?!" tanya Yukichi.


"Kami cuma teman lama. Namun dia tahu terlalu banyak" jawab Hiromi.


"Hm, mungkin alasan kau di keluarkan adalah karena mulutmu yang bocor itu. Aku tahu karena tak sengaja dengar dari mulutmu, loh" Arizawa memprovokasi.


Hiromi semakin geram, lalu dia pun membeberkan rencana nya.


"Kau mau tahu rencanaku? rencana kami adalah merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kami. Yang pertama, kedudukan kami di Viper, kedua, jabatanku" ungkap nya.


"Jabatan? dia dulu berpangkat apa di Viper?" Yukichi bertanya.


Arizawa berkeringat dingin, lalu dia berkata, "Sialan.. Hiromi adalah mantan pemimpin Viper, dan sekarang dia menjadi pemimpin organisasi pemberontak. Isinya adalah orang-orang yang dibuang dari Viper, termasuk dirinya."


"Sebarkan lah berita itu semaumu, terimakasih telah membuatkan markas yang megah untuk kami."


"Jaga mulutmu itu ya brengsek" Arizawa semakin kesal.


"Ini adalah kesempatan emas bagi kami, walau kekuatan tempur kami dibilang biasa saja, namun pion terkuatmu sedang dalam masa rehat dan tidak bisa bertempur, bukan?" kata Hiromi yang cukup mengejutkan, karena hanya orang Mato lah yang tahu bahwa Katsura sedang rehat.


"Sebenarnya kau dapat informasi semua ini darimana?!" tanya Arizawa menyentak.


"Rahasia."


Bersambung...