
Showa menghilang secara tiba-tiba, dia berteleportasi kembali ke tempat dia menyerang Hosura.
Katsura perlahan menonaktifkan perubahan Juryoku no Ikari-nya, dan semua orang yang tadi ada di perkemahan kembali berkumpul.
"Tak kusangka dia tiba-tiba menyerang seperti itu. Aku bahkan tak tahu harus apa selain kabur saat itu. Auranya benar-benar mengancam" ujar Azashi.
"Itu benar, bahkan aku saja tak berani mendekatinya, auranya memancar sangat jauh, aku perkirakan jaraknya sekitar 500 meter. Aku hanya berdiam diatas pilar sana sambil melihat pertarungan kecil diantara Katsura dan Showa. Pertarungan yang menakjubkan" kata Yubino yang sesudah melompat dari atas pilar hingga ke tanah.
"Showa, ya? aku belum mengeluarkan kekuatanku sepenuhnya. Tapi, bahkan dia bisa bertahan dari Juryoku no Ikari dengan sangat santai, ditambah dia bisa tertawa. Dan lagi, aku merasakan dia belum serius!" Katsura masih tak percaya apa yang barusan dialaminya.
"Bukan spekulasi lagi, dia memang belum serius. Entah apa yang bisa dilakukannya jika dia benar-benar serius. Dia saja masih menyisakan banyak celah untuk diserang balik" kata Aizo.
"Aku memang tak serius juga memakai Juryoku no Ikari-ku, tapi sepertinya perkataan Zeldris benar, bahwa Showa jauh lebih kuat daripada Nico" balas Katsura yang masih agak shock, lalu dia pun duduk.
"Jadi, bagaimana caranya kau menang dari dirinya?" Zeldris berbicara, dia tak yakin bahwa Katsura yang sekarang takkan bisa menang.
"Aku usahakan yang terbaik. Akan ku kalahkan dia dalam perubahan Aoi Tsukiakari, atau mungkin aku akan membuka perubahan baru lagi" balasnya.
Mereka semua hanya termenung mengingat deklarasi perang Showa sudah resmi, dan akan menyerang 3 hari kemudian. Lalu Aizo pun mengusulkan rencana.
"Bagaimana jika kita ungsikan 1 pulau ini ke pulau lain? kita tak mau memakan korban, kan?" usulnya.
"3 hari untuk penduduk sebanyak 1 pulau tidak akan cukup, kita setidaknya butuh waktu sekitar 1 bulan jika ingin mengevakuasi seluruh penduduk. Yang bisa kita lakukan mungkin mengungsikan beberapa kota yang mungkin akan terjadi pertempuran" potong Azashi.
"Itu benar, kudengar berita yang sangat mengerikan dari kalian semua. 3 hari untuk 1 pulau itu tak akan cukup, pilihan kita hanyalah beberapa kota. Dan kalau bisa dibuat pembatas agar peperangannya tidak merambat keluar pembatas dan melukai warga sipil. Ini hanya masalah kita dan dia saja, walau aku tak tahu latar belakang Showa mendeklarasikan perang itu untuk apa" Homura muncul di tengah-tengah pembicaraan.
"Sejak kapan kau ada disini?" Aizo terkejut.
"Aku baru saja datang, aku dibawah tanah sangat kaget karena aura dan energi yang besar nan menyeramkan tiba-tiba datang. Dan saat Katsura mengaktifkan Juryoku no Ikari-nya, aku sadar bahwa itu bukanlah musuh biasa" jelas Homura.
"Oh ya aku baru sadar kalau kau sedang berada di lab bawah tanah" ucap Katsura.
"Jadi apa yang kau temukan?" tambahnya.
"Tidak ada, penelitian ku terhenti karena kejadian tadi, sepertinya akan ku tunda untuk sementara waktu" jawab Homura.
"Sepertinya kita harus memberitahukan ini kepada semua anggota, termasuk Arizawa. Dan mungkin warga juga" usul Zeldris.
"Tidak, jika warga diberi tahu, maka akan menimbulkan kepanikan yang dahsyat. Lebih baik kita tak usah mengumumkan deklarasi perangnya, kita evakuasi saja tanpa ada alasan yang jelas. Yang pasti jalan itu lebih baik" bantah Homura.
Disaat kepanikan itu menyerang Katsura, benar saja, gelembung yang membungkus Hosura pecah.
Semua anggota berlarian kepadanya dan mengangkat kepalanya secara perlahan. Tapi, sayangnya tubuh Hosura sudah mulai kaku dan dingin.
"Tunggu tunggu, mengapa ini tidak berhasil?" Katsura gemetaran, dia akan kehilangan 1 temannya lagi.
Hosura menggenggam bahu Katsura, dia berkata dengan lemas, "Terimakasih untuk semuanya, aku memang sudah tak bisa diselamatkan lagi. Aku sudah terkena serangan di titik vitalku, semoga peperangan itu kalian menangkan, ya?"
Tak lama setelah ia mengucapkan itu, dia tersenyum dan warna matanya mulai memudar, pertanda bahwa dirinya sudah tiada.
Air mata membendung semuanya, tak bisa menahan tangis, namun, ada seorang yang berbicara pasca Hosura tiada. Suara itu berasal dari balik pohon.
"Kalian mau tau identitas Showa yang sebenarnya? aku tahu sedikit soal masa lalunya."
Orang itu menunjukkan dirinya, dia adalah Karma.
"Karma? apa yang kau lakukan disini?" tanya Katsura sambil meneteskan air mata.
"Tentu saja setelah merasakan energi sebesar itu aku takkan diam saja. Kalian pasti penasaran, kan? aku bisa memberikan beberapa klu."
"Cepat berikan saja, kita tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, setelah ini kita akan langsung ke Arizawa untuk menjelaskan situasi" kata Homura serius.
"Ku mulai dari awal, tentu saja, orang seperti Showa sudah pasti berasal dari semesta kami, J-60. Dia awalnya adalah seorang anggota kerajaan, dia setingkat diatas Nico. Walau itu dulu sekali. Dia pernah menjadi pengawal kerajaan, dan sihirnya adalah sihir Atom. Dia telah mencapai tingkat sihir sejati, yang mana Nico belum menguasainya. Saat itu, dia melakukan kejahatan yang mana dia harus di usir dari kerajaan. Yaitu, dia mencoba memberontak kepada sang raja, dia dengan gagah berani menyerang raja langsung di singgasananya. Tentu itu menyulut kemarahan raja, dan dia langsung diasingkan dari kerajaan, serta semesta J-60. Sebelum itu, dia sudah mengumpulkan pasukan untuk ikut bersamanya jika memang ia gagal."
"Dia memberontak ke kerajaan dengan persiapan penuh, dia tahu bahwa raja akan mengeksekusi mati dirinya jika memberontak. Tapi, dia memanipulasi keadaan sebisa mungkin agar raja tak sempat mengeksekusi dirinya. Karena raja tak diperbolehkan menyerang siapapun itu kecuali jika ada perang yang serius."
"Dan setelah diasingkan, dia lari ke tempat yang sangat jauh, disinilah dia bersembunyi, di planet Gomanta. Sebuah planet gersang dan hanya ditumbuhi oleh karang mati. Disanalah ia bersembunyi. Suatu hari, ia menerima sinyal bahwa Golden Orb telah lenyap dan berpindah ke tangan orang lain diluar semesta J-60, disitu dia langsung bersemangat sekali untuk merebut Golden Orb selagi yang bukan memegangnya adalah raja. Dia langsung bergegas kemari kesini dan mendeklarasikan perang. Karena dia dulunya juga adalah maniak perang yang haus akan peperangan berdarah" jelas Karma.
"Begitu, ya.. jadi semua yang mengincar kita hanya mencari Golden Orb? bodoh sekali, padahal kita tak mengetahui apapun soal itu" ucap Katsura.
"Penjelasan yang bisa diterima, terimakasih Karma" kata Homura dan dia menepuk pundak Karma.
"Sihir sejati, apa itu? kalau tidak salah ingat, dia juga mengatakan itu padaku. Dan lagi, sihirnya sihir atom? tidak masuk akal!" gumam Katsura dalam hati.
"Katsura, bersiaplah, kita akan pergi ke istana negara menemui Arizawa" Homura mempersiapkan pesawat nya.
Bersambung...