
Setelah pernyataan Homura kemarin, Katsura semakin serius menanggapi masalahnya. Ia berhasil menguasai bahasa Jepang dalam kurun waktu 2 hari saja. Sedangkan Feria dia masih terus mempelajari nya setelah Katsura selesai.
Suatu pagi, Katsura buru-buru pergi ke perpustakaan sebelumnya, menyetor semua buku yang sudah dia baca. Tapi, dia meminjam buku lain.
Dia sekarang meminjam buku-buku yang menceritakan tentang psikologi emosi. Salah satunya adalah, "The power of social and emotional intelligence."
Dia meminjam sekitar 8 buku dan saat membawanya ke kasir. Kasir heran, mengapa dia begitu banyak meminjam buku. Akhirnya dia bertanya, "Pak, apakah anda yakin ingin meminjam semua ini?"
"Iya, akan ku kembalikan dalam 1 minggu" balas Katsura.
Kasir merasa bersimpati padanya, dia merasakan adanya gangguan emosi yang cukup besar di dalam Katsura.
Katsura pergi, dan pulang ke hotelnya sambil membawa kresek penuh buku. Sesampainya ia disana, ia disambut dengan Feria yang masih belajar bersama Suza.
"Oh hey Katsura, kamu habis meminjam buku lagi, ya?" sapa Feria.
Katsura hanya diam, dia tak memedulikan nya seakan tidak ada yang memanggil.
Suza menatap Feria dengan sedih, mungkin ada alasan dibalik semua itu. Setelah Katsura masuk ke kamar, dia menyimpan semua buku itu dan membawa 1 untuk dibaca di atas atap.
"Sudahlah Feria, ayo lanjutkan belajarnya" kata Suza. Feria pun mengangguk pelan.
Sudah 2 hari tak ada kabar dari Viper, biasanya Homura selalu mengirimkan kabar lewat handphone Katsura. Tapi sekarang Katsura tak membuka handphonenya. Itulah yang membuat Katsura sangat dingin hari ini.
Dia berusaha menenangkan pikirannya sejenak dari dunia luar, sambil memandangi sunset, dia membaca buku yang ia pinjam.
Katsura masih mengenakan kalung pemberian Homura, jaga-jaga jika nanti dia akan lepas kendali lagi.
Feria naik ke atap, memandangi Katsura dari jauh. Angin berhembus kencang, membuat dedaunan berterbangan.
Dengan suara kecilnya, Feria berkata, "Katsura, ayo kita kembali, sudah menjelang malam."
"Iya, aku akan kembali nanti" balas Katsura.
Feria menghampiri Katsura secara perlahan, saat sampai di dekatnya ia berkata, "Kenapa kamu bersikap dingin sekali hari ini? ini bukan dirimu yang sebenarnya."
"Inilah diriku, diriku yang baru yang tak mengenal emosi. Aku siap untuk kembali ke Viper" kata Katsura yang memalingkan muka.
"Ini bukan dirimu! sadarlah Katsura! ini bukanlah pengobatan yang sebenarnya! kembalilah!" pinta Feria sambil meneteskan air mata.
"Memangnya kenapa? kau kenapa menyuruh-nyuruhku? akulah yang punya kendali tubuh ini. Kau tak berhak memerintahku" balasnya dengan tatapan sinis.
Feria kembali meneteskan air mata, tak disangka Suza datang menampar Katsura.
"Dasar bodoh! bukan seperti itu caranya mengendalikan emosi. Kau hanya melukai hatinya!" Suza menampar Katsura lagi, di sisi yang berbeda.
Katsura terdiam, dia akhirnya sadar bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan besar. Dia membuat Feria menangis, dan bahkan tak melihat kabar dari Homura.
Katsura langsung berdiri, dia seperti kelelahan. Bahkan sampai mengeluarkan keringat. Suza pun mengguyur nya dengan botol minumannya.
"Sudah sadar? apakah sudah lebih baik?" kata Suza.
Pengelihatan Katsura buram, lama-lama menjadi jelas kembali. Dirinya telah diambil alih oleh emosinya lagi, tapi jauh lebih memburuk. Emosinya mengambil alih tubuhnya, tapi dengan lebih tenang dan tidak membangkitkan kekuatan gravitasinya.
"Apa.. apa yang terjadi?? mengapa aku ada disini?" tanya Katsura yang penuh kebingungan.
"Ingatlah baik-baik" ucap Suza.
Katsura mulai mengingat semuanya, dirinya diambil alih saat dia pulang dari perpustakaan. Dan dia mengingat bahwa dia mengatakan Feria dengan kata-kata yang kasar.
Katsura langsung berlari ke arah Feria dan memeluknya sambil berkata, "Maaf, maafkan aku.. aku tak sadarkan diri lagi, aku memang tak pantas untuk hidup. Aku tak tahu lagi harus apa, maafkan aku, ya?"
Feria kembali memeluk Katsura dan berkata, "Tidak apa, aku akan menemanimu sampai kau berhasil."
"Romantis sekali, ya, aku jadi iri deh" gerutu Suza.
Katsura dan Feria berbalik ke Suza dan berkata, "Eh, maaf, Suza!" bersamaan.
"Iya, aku kadang diambil alih jika aku termakan oleh amarah saja. Tapi, ini berbeda. Dia mengambil alih tubuhku dan seakan-akan menjadi aku" ungkap Katsura.
"Saat diambil alih itu juga, aku mendapatkan kekuatan yang dahsyat, tapi saat tadi tidak. Dia benar-benar menjadi kloningan diriku, tapi berbeda sifat" tambah Katsura.
"Aku mengerti, kau datang pada orang yang tepat!" seru Suza.
"Apa maksudmu?" Katsura balik bertanya.
"Kalian belajar bahasa Jepang denganku, kebetulan, aku juga pernah terlelap oleh emosi yang mendalam, dan tak terkendalikan juga. Tapi, aku berhasil mengatasinya" ulas Suza.
"APA?!!?" teriak Katsura terkejut.
"Tidak usah terkejut begitu, mau aku ajarkan juga?" Suza tertawa kecil.
"Tentu mau!" balas Katsura bersemangat.
"Hahaha, tapi bayaran nya lebih, ya" sindirnya.
"Tentu, mau berapa? akan ku bayar berapapun" kata Katsura serius.
"Hei, tidak usah serius begitu, aku hanya bercanda, kok. Tidak ada biaya tambahan, jika itu mau mu, maka kita akan pergi besok" jelas Suza.
"Tunggu, kita akan pergi kemana?" tanya Feria.
"Kita akan ke air terjun Nachi di Nachikatsuura, dekat Taiji" jawab Suza sambil mengeluarkan handphone.
"Tunggu sebentar, aku akan mengeceknya dulu" Katsura melihat lokasinya di google maps, ternyata jaraknya sangat jauh dari tokyo.
"Jauh sekali, ya..." keluh Feria.
"Hanya cara itu lah yang dapat membantumu mengendalikan emosimu. Tapi pertama-tama, coba tunjukkan kekuatan terpendam mu" kata Suza percaya diri.
"Tunggu, aku tidak akan mengeluarkannya disini, kau bisa mati!" bantah Katsura tegas.
"Mati? kau terlalu meremehkanku, cepat keluarkan saja" katanya lagi.
"Ini adalah sihir gravitasi yang menyelimuti seluruh tubuhku, ditambah kecepatan dan akurasi serangan ku akan bertambah sangat pesat" jelas Katsura.
"Sihir? apa kau percaya hal seperti itu benar-benar ada?" ucap Suza tak percaya.
"Tentu, mau ku tunjukkan salah satunya?" kata Katsura.
..." Sihir Api : Bola Api Yang Membara "...
Katsura melemparkan bola api ke Suza, tapi Suza menangkis nya. Tak dipercaya, tangannya menjadi air dan meleleh.
Katsura terkejut dan merasa bersalah, dia merasa seperti membunuhnya.
"Aduh... kau.. kau.. benar-benar luar biasa!!" seru Suza yang tiba-tiba berdiri lagi.
Katsura melongo, dia kira Suza akan tamat disaat itu juga, nyatanya tidak. Suza malah beregenerasi.
"Kau memang merepotkan, tapi sudahlah" Suza meregenerasi lengannya yang terlewati bola api. Tubuhnya sebenarnya adalah air.
"Kau tidak percaya sihir tapi mengapa mempunyai sihir?" kata Katsura.
"Aku bukan mempercayainya, ini kuanggap sebagai kemampuan belaka. Sebuah sihir tidak hanya mampu mengeluarkan elemen-elemen dasar saja. Sihir hanyalah sebuah dongeng, yang ada di masa lalu, sekitar 170 tahun yang lalu."
"Jika kau mampu membuktikan kalau kau mempunyai sihir gravitasi, maka mungkin aku akan percaya terhadap sihir" jelas Suza.
"Tunggu, 170 tahun yang lalu? disaat bencana besar yang hampir membuat manusia punah? dan disaat semua negara membentuk aliansi perdamaian?" gumam Katsura didalam hatinya.
"Mungkin.. itu bukanlah sebuah kebetulan semata."
Bersambung...