
Katsura melayang di angkasa, tepat di antara bumi dan bulan. Sambil memejamkan matanya, ia berkonsentrasi untuk mengingat kembali apa yang ia rasakan saat pertarungan akhir melawan Showa.
"Aku merasakan energi yang familiar.. Sangat familiar. Tapi terlalu samar, aku tak bisa merasakannya dengan lebih jelas. Dengan kekuatan Kirameku Hoshi Akari-ku saja tak mampu menjangkau energi seseorang, sudah pasti jaraknya di antara galaksi lain" gumam hati Katsura.
"Berkat Nico, aku jadi bisa menggunakan sihir waktuku, tapi takkan berjalan lama. Aku perlu menemukan Suizei secepat mungkin!" serunya lantang.
Kembali ke Nico, dia sedang duduk bersantai di atas ranting pohon sambil memakan sebuah apel, lalu dia berkata, "Katsura, andai saja kau tahu kau mempunyai kekuatan yang terlalu besar membelenggu dirimu. Kau harus cepat-cepat menemukan senjata yang dapat beradaptasi dengan kekuatan luar biasamu."
"Jika tidak, kita semua dalam masalah besar. Aku mendapat kabar bahwa tuan Ferus telah meninggalkan kerajaan, bahkan pergi dari alam semesta nya sendiri. Jika dia sampai kesini, situasi akan semakin gawat. Aku hanya bisa berharap padamu, Katsura. Sesungguhnya yang aku minta darimu adalah, membantuku mengalahkan Ferus itu."
Di markas Mato, semuanya sedang menjalani pekerjaannya masing-masing, dan mereka bersiap untuk pindah markas karena markas yang mereka singgahi sekarang hanya untuk markas pengintai.
"Hei Homura, aku ada ide, bagaimana kalau kita jadikan bawahan Showa sebagai tenaga kerja untuk membangun markas kita yang asli nanti? bawahan Showa yang masih hidup ada sekitar 508 orang. Itu lumayan banyak, ya" usul Zeldris kepada Homura di lab.
"Lebih baik kau mengusulkan ide itu kepada Arizawa, aku sedang sibuk meneliti. Tapi menurut pendapatku, itu bagus, sampaikanlah juga pada Arizawa" balas Homura.
"Mengapa harus pendapatmu yang disampaikan padanya?" tanya Zeldris.
Homura menghela nafas, lalu berkata, "Biasanya yang didengarkan hanyalah pendapatku, jika dari anggota lain dia pasti bertanya kepadaku dulu, cepatlah pergi, aku sedang sibuk" pinta Homura.
"Oh baiklah, maaf, ya" Zeldris membungkukkan badannya, lalu pergi.
Homura mengangkat sampel obat buatannya, lalu didekatkan kepada cahaya. Hal itu membuahkan hasil, yaitu cairan didalam wadah tersebut menguap, Homura akhirnya mendapatkan sampel energi Katsura yang persis seperti kejadian saat energinya menguap di ledakan supernova.
"Begitu, cairan ini menguap karena akan berpindah kepada sesuatu yang lebih kuat. Tidak, lebih cocok dijadikan sebagai 'wadah' untuk cairan tersebut singgah. Hal ini sama seperti Katsura yang energinya menguap kepada energi supernova karena tubuh Katsura tak mampu menampung seluruh energi luar biasa dari kekuatannya itu, sehingga membuat energi Katsura menyatu dengan supernova."
"Kinerja serangan Showa sangat berbeda dari yang dijelaskan, aku sendiri meneliti bahwa serangan itu memaksa suatu pengguna meningkatkan jumlah energinya sampai melewati batas dan menguap pada suatu benda yang dapat dikatakan lebih mampu menjadi penopang energi tersebut."
"Alasan mengapa Katsura masih bisa menggunakan sihirnya adalah karena masih ada sisa sihir yang menempel pada dirinya sebelum pada akhirnya energi itu akan benar-benar hilang pada dirinya. Ini mekanisme kekuatan Showa, benar-benar rumit sekali. Dia memaksa suatu kekuatan melebihi batas penggunanya agar bisa menguap dan ditelan oleh "wadah" yang jauh lebih kuat."
"Jujur, aku sangat terkesan dan sedikit kesal juga. Aku sudah menemukan cara agar Katsura bisa memulihkan kekuatannya pasca diserang oleh serangan Showa yang dapat menghilangkan sihir. Karena serangan itu bukan tipe 'sihir' yang dapat dinetralkan oleh sihirku. Katsura butuh 'wadah' baru untuk energi nya agar menghuni tubuhnya lagi, dan berpindah ke suatu benda yang beradaptasi dengan jiwanya langsung.
"Secara tak langsung itu dapat memulihkan tubuh Katsura yang telah terkontaminasi oleh serangan Showa yang membuatnya tak bisa menerima energi lagi. Dua 'wadah' yang bersatu akan menghilangkan efek negatif dari sesuatu yang mengandung sihir" urai Homura jelas tentang kekuatan Katsura yang tiba-tiba menghilang.
"Tak ada yang tahu Ferus akan sampai kapan, yang pasti sebentar lagi dia akan datang kesini" kata Nico.
"Tak ada yang tahu musuh yang lebih kuat akan datang kapan, aku punya firasat bahwa sebentar lagi akan ada mimpi buruk sepanjang sejarah datang" kata Homura.
"Aku mengandalkanmu, Katsura"
"Kami mengandalkanmu, Katsura" ucap Homura dan Nico bersamaan walau berbeda tempat.
Di luar angkasa yang gelap gulita, Katsura menemukan sebuah titik terang, yaitu sebuah energi yang menyangkut pada sebuah pesawat luar angkasa, dia bisa memanfaatkan itu untuk berteleportasi kesana dengan cepat.
"Ketemu! semoga saja ini adalah Suizei!" katanya.
Katsura sampai di tempat yang aneh dan gelap, dia muncul dari atas pesawat bekas yang terlihat seperti rongsokan. Lalu didepannya terdapat sebuah plafon yang sangat lebar beserta barang-barang aneh diatasnya. Di sampingnya ada planet berwarna oranye kemerahan sedang memutari objek yang Katsura tinggali.
"Planet itu mengitari planet kerdil ini? oh bukan, ini adalah bulan, dari perspektifku terlihat bahwa planet itu mengitariku, ternyata bulan ini yang mengitari planetnya" ungkapnya.
Ada seseorang yang membuat markas kecil-kecilan dengan barang seadanya, sehingga hanya terbangun sebuah plafon besar tanpa adanya tembok dan lain-lain. Plafon ini ada dari inti bulan sampai diluarnya.
"Oh? ada yang datang.." kata seseorang dengan langkah kaki misteriusnya.
Katsura bersiaga dan menyiapkan kuda-kuda bertarung, disaat cahaya mengungkapkan siapa pria dibalik bayangan kegelapan itu, menunjukan wajah yang familiar bagi Katsura, itu adalah Suizei.
"SUIZEI?! ITUKAH KAU?!" seru Katsura.
"Oh Katsura, ya? kita bertemu lagi, halo" Suizei tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Kukira kau sudah mati, diluar sini berbahaya tahu" kata Katsura.
"Jahat sekali kau berpikiran seperti itu, aku masih sehat walafiat sekarang, kau bisa lihat sendiri, kan?"
"Aku bisa beradaptasi dengan lingkungan disini, kok. Sama sepertimu saat kemarin bertarung dengan seseorang" ungkap Suizei secara mengejutkan, dia mengetahui pertarungan Katsura dengan Showa.
"Kau.. Bagaimana kau tahu aku habis melawan seseorang?"
"Bagaimana ya.. kekuatanmu sangat amat besar dan sampai mengenai pesawat ku yang sedang mengudara, namun setelah itu pesawat ku mulai rusak dan mogok, aku pun langsung membawanya kembali kesini."
"Jadi kau masih mengenali energiku, ya? mengesankan."
"Aku takkan lupa. Jadi, apa maumu kemari? jika kau membujukku untuk kembali aku menolak."
"Tidak, hanya saja, aku ingin mengembalikan kekuatanku. Satu-satunya cara adalah dengan membuat senjata yang mampu beradaptasi dengan keadaan jiwaku saat ini dan menghancurkan segel yang mengunci kekuatanku untuk keluar. Dan itu harus menggunakan energi ku sendiri, apakah bisa dilakukan?" pinta Katsura tulus.
"Aku mengerti.. Namun proses pembuatannya akan sedikit sulit, tak apa?"
"Tak masalah, yang penting aku dapat menggunakan sihirku kembali. Aku mohon bantuannya ya, Suizei!" Katsura tersenyum lebar.
Ditengah-tengah perbincangan mereka berdua, dari arah bawah bulan muncul seorang pria dengan setelan yang sangat dikenali Katsura, ditambah wajahnya yang sekarang, dihiasi dengan luka bakar di matanya dan rambutnya berubah warna sebagian. Dia memakai jubah yang cukup panjang sehingga menutupi seluruh badan sampai kaki, lalu terlihat di perutnya terdapat sebuah goresan yang Katsura ingat betul.
"Kau..."
"SHOWA!!" Katsura menunjukkan wajah terkejut serta paniknya.
"Ketemu kau, Katsura Laith" kata Showa dengan tatapan tajamnya.
Bersambung...