
Katsura dan seluruh anggota terbang ke atas gua, mereka menaiki batu yang dilapisi oleh cahaya Katsura agar bisa terbang dan mengabaikan gangguan.
Selama perjalanan naik keatas, Feria memandangi Katsura dengan tatapan yang sedikit takut, tapi merasa ketenangan. Dia merasa bahwa Katsura yang di dalam mode itu berbeda dengan dirinya yang biasa.
Perjalanan menuju keatas tanah memakan waktu cukup lama, selagi perjalanan keatas, Homura bertanya kepada Katsura.
"Hey, apakah kau baik-baik saja dalam perubahan itu? sepertinya tidak terlalu baik jika digunakan terlalu lama."
"Aku tidak merasakan apapun, rasanya sangat tenang dalam perubahan ini. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk tidak tenang didalam perubahan ini" balasnya dengan sangat santai.
Akhirnya mereka semua sampai di atas permukaan tanah, semuanya sangat bahagia dan gembira karena sudah menyelesaikan masalah ini dengan sangat lancar.
"HUAA AKHIRNYA SELESAI JUGA! TERIMAKASIH YA TUHANN" seru Raiha dengan tangis bahagianya.
Arizawa memeluk kepala Raiha yang sedang berlutut di tanah, dia sangat senang misi kali ini tak memakan korban sama sekali.
Katsura memandangi langit gelap yang disertai dengan bintang-bintang. Dirinya sangat rileks sehingga tidak sadar bahwa Feria berada di sampingnya.
"Ada apa, Feria?" tanyanya.
"Tidak, kok, hanya saja, kamu terlihat sangat menawan jika dalam perubahan ini. Aku senang" Feria menyenderkan kepalanya ke bahu Katsura.
Katsura tersenyum, memandangi Feria yang sangat nyaman berada di sisinya.
Homura menepuk pundak Katsura dan berkata, "Kerja bagus, Katsura! kau sudah bekerja dengan baik."
"Kami semua berterimakasih atas bantuanmu, jika tidak ada dirimu, entah apa yang terjadi pada Viper. Eh tidak, Mato" tambah Arizawa.
"Jangan berterimakasih padaku, Suza lah yang mengajariku semuanya, dia yang membantuku untuk mengendalikan Juryoku No Ikari."
"Suza, ya? semoga dirinya selalu diberi kesehatan dan kehidupan yang layak" Cezo bersuara.
"Iya, aku harap begitu juga."
"Hey Katsura, aku hanya penasaran saja, tapi apakah kau tidak bisa mematikan perubahanmu itu? aku sedikit khawatir pada kondisi tubuhmu. Sama seperti saat kasus kau pertama kali mengaktifkan Juryoku no Ikari" ujar Aizo.
"Hmm, rasanya sangat tenang jika aku memakai perubahan ini, entah mengapa aku enggan melepasnya. Atau memang aku tidak bisa" ungkap Katsura.
"Kau sebelumnya kesulitan saat mengaktifkan Juryoku no Ikari, tapi mengapa kau seperti sudah biasa saat mengaktifkan Aoi Tsukiakari?" Homura bertanya di dekat pohon yang tumbang.
"Aku juga tidak tahu, apakah kau ingat kubus penyerap buatanmu itu? yang pernah ku gunakan untuk menyerap kekuatan Nico sesaat waktu itu. Sepertinya kubus ini terhubung satu sama lain, jika ada sesuatu didalamnya, maka akan terhubung ke seluruh kubus lainnya. Tapi, jika salah satu kubus itu hancur, isi didalamnya tidak hilang karena ada si seluruh kubus" jelas Katsura.
"Kubus yang satu hancur karena gaya tarik menarik yang sangat kuat dari lubang hitam, tapi karena aku pernah menyimpan kekuatan Nico disana, saat aku menggenggam kubus itu lagi, aku merasakan kekuatan yang memilihku menjadi tuannya. Dan itulah Aoi Tsukiakari" tambah Katsura.
"Begitu, ya, bahkan aku saja tak pernah memberi tahu rahasia produkku sendiri, tapi kau malah berhasil menebaknya dengan tepat. Hebat sekali" puji Homura.
"Apa kau tak merasa kelelahan?" tanya Azashi.
"Tidak, sama sekali tidak" balas Katsura.
"Waktu sudah malam, bagaimana kita besok memberi tahu seluruh warga kalau kita berhasil mengungkap kejahatan Johan? serta kita akan maju memperkenalkan diri sebagai Mato, dan juga sebagai pemimpin negara ini" ulas Arizawa.
"Baiklah, dimana kita akan mengambil posisi?" tanya Yukichi.
"Hmm, mungkin di istana negara saja. Kita membutuhkan bantuan Karma saat ini, ada yang lihat dia?" kata Arizawa.
Seluruh anggota lupa dengan Karma, mereka sama sekali tak ingat dengan Karma.
"Loh kukira dia sudah mati terbakar, apakah harus dia? kita saja cukup kan?" ujar Cezo.
"Mati? mati katamu?" kata seseorang dari semak di belakang.
Semua anggota bersiap siaga, tak terkecuali Katsura yang siap menerjang.
Suara itu perlahan menunjukan wujudnya, ternyata dia adalah Karma dengan baju yang sangat lusuh. Seperti pengemis.
"HAH? KARMA??!!" kata semua anggota terkejut. Mereka kira Karma sudah hangus terbakar.
"Ya mau bagaimana lagi, kau bukan anggota resmi kami, makannya kami tak ingat. Apalagi disaat diserang, kami hanya memikirkan diri sendiri" balas Raiha.
"Betul kata Raiha, kau hanya menumpang karena takut dengan Nico, kan? secarang Nico sudah tiada, kau malah masih seenaknya disini" tambah Yukichi.
"Tuh kan, perlakuan kalian ke aku jahat sekali, huhuhu" Karma tampak sedih, walau sebenarnya dia satir.
"Sudah-sudah, apakah kau bisa membantu kami?" pinta Arizawa.
"Untuk apa aku membantu kalian kalau aku di bully begini?"
"Oh begitu ya?" Arizawa mengeluarkan pistol energinya, seketika Karma langsung bersujud meminta maaf.
"EH, TUNGGU, MAAF, MAAF, MAAF, AKU AKAN MEMBANTU KALIAN" katanya.
"Bagus, mengerti juga kau."
"Butuh bantuan apa?"
"Aku ingin kau memberitahukan seluruh negara bahwa akan ada pemberitahuan khusus di istana negara nanti, kau bisa, kan?"
"Eh.. tentu bisa, memang kapan dibutuhkannya?"
"Sekarang juga."
"WOY CEPET AMAT!" Karma tersentak.
"Baiklah, akan ku usahakan sebisanya" tambah Karma sambil membuka laptopnya.
"Bagus, mulailah bekerja."
Keesokan harinya...
Arizawa sudah menyiapkan panggung yang sangat besar didepan istana negara. Walau waktu masih pukul 6 pagi, sudah banyak orang bergerombol datang. Mereka sangat bingung kenapa ada panggilan langsung, padahal sebelumnya jika ada informasi maka akan masuk berita.
Arizawa yang berada di atas panggung, samar-samar mendengarkan ocehan para warga, mereka katanya sangat terbebani pagi-pagi harus berangkat langsung ke istana negara.
Seluruh anggota naik keatas panggung, Arizawa bersiap berpidato.
"Baiklah, salam kenal semuanya, saya adalah Arizawa Munako, pemimpin dari organisasi Mato. Saya disini ingin memberi tahukan bahwa setelah presiden kita tewas, negara kita dikendalikan oleh orang yang sangat licik dan penuh tipu muslihat. Dia adalah Johan Nicholas. Dia yang sudah membunuh presiden kita, dan dia menyelundupkan barang-barang illegal. Dan juga dia mempunyai sebuah gua rahasia, yang isinya adalah hasil curian dari para warga. Tujuan kami hadir disini adalah dengan menyatakan bahwa kami, Mato, menjadi sebagai pemimpin negara ini!"
"Tentu, kami disini tidak hanya akal-akalan kami saja, ada beberapa menteri yang sudah mendukung kami untuk menjadi pemimpin negara ini. Jika ada pemimpin dari kalangan menteri lagi, mereka takut hal yang sama akan terjadi lagi. Maka dengan ini, saya nyatakan bahwa saya, Arizawa Munako adalah presiden ke 9!" urainya.
"Dia sangat bersemangat, ya" Homura tertawa kecil.
"Dan juga, jika kami yang memimpin, kalian sudah pasti terjamin keamanannya, karena di pihak kami ada seorang yang mempunyai kekuatan sihir yang dahsyat, dialah, Katsura Laith!" seru Arizawa.
Katsura perlahan memperlihatkan diri ke depan panggung, dengan Aoi Tsukiakari nya yang masih aktif sejak malam tadi.
"A-apa itu? aura biru muda cerah! dengan perasaan mencekam ini.." kata seorang warga.
"Mereka benar-benar menyimpan senjata rahasia."
"Dengan begini, kalian sudah paham bukan? kami adalah salah satu yang cocok menjadi pemimpin negara selanjutnya! kami juga memiliki bimbingan dari beberapa menteri. Tidak usah khawatir" ulas Arizawa.
Beberapa warga ada yang mengangkat tangan mereka pertanda setuju, perlahan hampir semua warga yang terlihat disana mengangkat tangan dan setuju dengan Arizawa.
"HIDUP MATO!!!" teriak salah seorang warga.
Arizawa terkejut, dia tak menyangka pidatonya akan diterima banyak orang. Dia pun tersenyum bangga.
"SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI, DENGAN INI, MATO ADALAH HIERARKI TERTINGGI DI NEGARA INI!"
Bersambung...