
"Menakutkan sekali!" kata penjaga dalam hati di dekat pintu.
Tak lama kemudian, seorang sekretaris wanita berkacamata memakai seragam yang sama dengan pasukan Showa yang lainnya datang membuka pintu. Sontak membuat penjaga kaget, karena mereka kira yang masuk adalah musuh.
"Permisi" katanya.
"Oh, Sekretaris Furaha, ada apa repot-repot kemari? bukankah pesawatmu jauh dari pesawatku?" sapa Showa sambil membalikkan kursi nya.
"Aku kemari ingin menanyakan sesuatu, mengapa kita menunggu 3 hari? bukankah saat di planet Gomanta anda sangat menanti-nanti untuk pergi kesini? aku sedikit heran dengan keputusanmu, itu saja"
"Oh begitu, jadi kau repot-repot kemari karena hanya ingin menanyakan hal itu? baiklah. Aku memberi mereka waktu 3 hari untuk bersiap-siap, karena aku tidak suka yang tidak sempurna, perang mendadak itu sangat tidak sempurna. Jadi kuberikan mereka waktu untuk menyiapkan mental dan pasukan."
"Bukankah kau terlalu berbaik hati pada mereka?"
"Tidak, mereka hanyalah sekumpulan kroco, mungkin ada satu orang yang benar-benar bisa menghiburku di pertarungan nanti, aku tak sabar menantikannya" bayangan Katsura terlintas di pikiran Showa.
"Omong-omong, apa kau mengganti gayamu? rambut mu terlihat berbeda dari biasanya" Showa baru menyadari perubahan gaya Furaha.
Furaha berbalik badan, dia seakan tak acuh akan perkataan Showa, dan dia lebih memilih keluar dari ruangan Showa.
"Enak sekali ya jika sudah dekat dengan beliau, bisa bercanda layaknya kerabat dekat. Aku boro-boro mau mengobrol dengannya, berbicara sebentar saja sudah membuatku ketakutan setengah mati" gumam salah seorang penjaga yang melihat Furaha keluar setelah mengobrol dengan Showa.
...****************...
Keesokan harinya...
Di sisi lain, Arizawa dan anggota yang lain sedang menguburkan jasad Hosura di dekat makam anggota yang telah gugur sebelumnya. Mereka merasa déjà vu pergi kesana untuk yang kesekian kalinya.
Mereka semua berdoa agar Hosura dapat beristirahat dengan tenang, dan sebelum pergi, mereka membungkukkan badan sebagai rasa hormat. Setelah itu mereka pergi dari kuburan dan mulai membantu para polisi untuk mengevakuasi warga.
Arizawa sudah mengumumkan soal evakuasi mendadak ini semalam, jadi sekarang hanya perlu waktu saja.
"Oke, sudah banyak mobil polisi yang berangkat, tugas kalian adalah membawa pesawat yang besar untuk mengangkut banyak warga, kusarankan untuk berpisah, ya. Kita tak punya banyak waktu jadi cepatlah lakukan" Arizawa membawa mereka semua kedalam gua bawah tanah yang sebelumnya merupakan tempat persembunyian Johan, menjadi tempat penyimpanan pesawat.
Semua mengambil posisi dan lepas landas di titik yang di tentukan, sementara Homura dan Arizawa tak ikut karena akan ada penelitian yang menunggu mereka.
"Hey Homura, apakah kau terpikirkan siapa yang akan membantu kita dalam perang ini?" tanya Arizawa sambil menatap langit.
"Bukankah para tentara? kita bisa memanfaatkan kekuatan tempur mereka walau sedikit tidak berguna disana. Karena semua bawahan Showa mempunyai sihir."
"Itu yang aku khawatirkan, tentara kita hanya bisa memakai senjata api, tapi semua itu takkan berguna dihadapan pengguna sihir."
Homura memikirkan sesuatu, dia seperti teringat akan sesuatu saat sedang berada di semesta J-60. Setelah cukup lama merenung, dia akhirnya ingat juga.
"Kita bisa memakai energy sword dari semesta J-60, dan versi yang di tembakannya. Aku pernah mengambil 2 saat kita disana, mungkin bisa aku pelajari" ucap Homura.
"Tidak ada waktu untuk itu, Homura" Arizawa menghela nafas.
"Mungkin kau benar, tapi kita tetap memanfaatkan itu sebisa mungkin, akan kugandakan saja. Walau tak akan banyak, tapi cukup berguna. Disaat yang seperti ini, kita membutuhkan Suizei, tapi dia sudah menghilang entah kemana" Homura berbalik badan dan mulai berjalan.
Homura menaruh jarinya pada bibir Arizawa, pertanda bahwa dia harus diam. Lalu Homura pun lanjut berkata, "Diam dulu, teknologi ini hanya kau dan aku yang tahu, oke?"
Arizawa hanya mengangguk saja dan menuruti kata Homura. Lalu mereka pun berjalan ke arah lab.
...****************...
Sementara itu, Katsura dan Yubino sudah menancapkan Pilar yang ke 6, mereka sudah letih dan ingin istirahat, tapi mereka tetap bekerja.
Katsura meletakkan telapak tangannya di pilar yang barusan ia tancapkan, dan dari pijakan tangan Katsura itu mengeluarkan semacam garis-garis berwarna biru mengelilingi seluruh batang pilar dengan acak-acakan. Seperti teknologi yang baru di program.
Yubino yang penasaran apa yang dilakukan Katsura sejak awal, dia pun bertanya pada Katsura, "Sebenarnya apa yang kau lakukan saat seperti itu?"
"Aku menanamkan energiku disini, disaat sudah waktunya, aku akan mengaktifkan segel tangan dan seluruh pilar akan aktif secara bersamaan dan membentuk pelindung atau penghalang. Ini cara yang jauh lebih efektif dibandingkan aku harus menyalakan satu-satu pilar" jelas Katsura.
"Begitu, ya.. Memang lebih efektif dan lebih praktis, sih. Jadi, kapan kau akan menyalakan itu?" tanya Yubino lagi.
"Saat ada info dari Arizawa bahwa seluruh warga yang ada di area ini sudah di evakuasi. Jika tidak, maka mereka akan terjebak didalam sini" jawabnya.
"Baiklah, jadi kita lanjut ke lokasi berikutnya?" Yubino bersemangat kembali.
"Tunggu, aku merasa jika aku perang tanpa senjata akan menyulitkan, apakah kau tahu tempat pembelian senjata yang bagus?"
"Mengapa tidak ke Homura saja? setauku dia menyimpan banyak senjata dari semesta J-60" usul Yubino.
"Hmm, baiklah, kita lanjutkan ke yang terakhir!" seru Katsura dengan lantang.
Hari sudah sore menjelang malam, Katsura dan Yubino sudah berada di gua rahasia sebagai markas sementara, dan juga terlihat Homura sadar bahwa Showa dan pasukannya berada di bulan, jadi dia memata-matai nya dengan teleskop.
"Mengerikan sekali, dia punya banyak sekali pasukan berada di bulan, menunggu menyerang kita. Ku perkirakan ada sekitar 178 pesawat luar angkasa dengan besar masing-masing pesawat mungkin diisi dengan 16 kru. Belum pesawat yang paling besar, kemungkinan disitulah Showa berada" urai Homura.
"178 pesawat, banyak sekali.. Aku harus memberantas kira-kira 100 pesawat agar aman, sisanya mungkin ku serahkan ke kalian" kata Katsura.
"Jangan sembrono begitu, tak semua hal bisa kau lakukan sendiri" ucap Zeldris.
"Itu benar, jangan merasa kau paling atas, bisa saja Showa langsung menyerang mu. Itu akan menjadi penghambat paling besar. Kita butuh rencana juga" tambah Homura.
"Aku punya rencana, kita akan menunggu musuh menyerang, kita membawa pasukan sekitar 30.000 tentara, dan ditambah 5 tank energi. Kita akan saling membantu, dan aku sudah membagi siapa saja yang akan ikut serta dalam peperangan ini. Katsura, Yubino, Zeldris, Homura, Aku. Masing-masing dari kita akan memimpin 6.000 Pasukan, diusahakan jangan terungkap sebelum Katsura bertarung dengan Showa. Katsura akan berdiri di tengah-tengah area pertempuran dan akan memancing musuh keluar. Kalau bisa hancurkan beberapa pesawat mereka dari jauh. Setelah Showa diatasi, kita baru mulai menyerang. Sekian rencana dariku, semoga kita semua selamat" jelas Arizawa.
"Katsura, kudengar kau sedang mencari sebuah senjata, kan? aku punya cadangan energy sword. Pakai saja. Ku yakin ini akan sangat kuat di tanganmu" ucap Homura sambil memberi pedangnya.
"Baik! jadi, kapan aku harus menutup penghalangnya?" kata Katsura lantang.
"Besok pagi, pukul 8 pagi, semua warga telah dievakuasi, langsung saja tutup."
"Dengan ini, semoga kita bisa menang. Kami berharap penuh padamu, Katsura."
Bersambung...