Destiny Holder

Destiny Holder
Kembali Sejenak



Seluruh anggota sedang menunggu di perbatasan hutan, sembari melihat warga yang kepanikan karena pertarungan Katsura.


Arizawa khawatir, sudah 5 menit lebih Katsura belum kembali juga, harusnya dia sudah sampai disini.


"Mengapa Katsura sangat lama? bukankah katamu dia sudah menguasai kekuatannya?" tanya Arizawa kepada Feria.


"Memang, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin dia tersesat atau bagaimana."


"Duh.. cepat kembali, dong. Aku khawatir sekali tahu" hati mungil Feria berbicara.


"Yasudah kit-" disaat Arizawa berbicara, muncul suara orang jatuh dari belakang mereka. Setelah di lihat-lihat, ternyata Katsura yang habis teleportasi dari tempat Johan.


"Tunggu, KATSURA!!?" seru mereka bersamaan.


Homura berlari dan membantu Katsura yang kesulitan berdiri, dia pun berkata, "Kau kenapa bisa sampai bonyok begini?"


Katsura dengan lemas menjawab, "Sihirku, dicuri olehnya."


"HAH?! BAGAIMANA BISA?!" Feria terkejut, dia keheranan kekuatan Katsura yang begitu dahsyat bisa dicuri dengan mudah.


"Tunggu, santai dulu, biarkan dia beristirahat" ucap Azashi menenangkan Feria.


Waktu sudah 30 menit berlalu, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat kemah sementara. Karena para warga dan polisi sedang sibuk membantu di tempat pertarungan, mereka bisa bebas untuk berpergian.


Katsura meneguk minumannya, dan dia pun mulai menjelaskan.


"Johan memiliki barang yang bisa mencuri sihir, dan dia memakai sihir api dan lahar untuk melawanku. Perkiraanku adalah, dia mencuri sihir Yubino dan Feria. Disaat itu aku lengah, aku berhasil dialihkan perhatiannya dan Juryoku No Ikari ku hilang dicuri. Dan dia sangat mudah sekali menggunakannya, tidak seperti aku yang sangat sulit saat pertama kali membangkitkannya."


"Apakah tidak ada syarat tertentu saat dia mencuri semacam sihir?" tanya Cezo diatas pohon.


"Ada, penyerapan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama, anehnya saat aku berusaha dicuri, aku tak bisa bergerak sama sekali, jadi aku meledakkan diri bersamanya. Tapi, itu juga tak berhasil, dia malah mendapatkan sihirku yang susah payah ku kuasai."


"Lalu kenapa kau bisa kabur kalau kau sedang dihajar habis-habisan? sihir terkuatmu juga sudah diambil" kata Homura.


"Aku baru ingat, Nico pernah mengubah konsep es di seluruh dunia menjadi kebal panas, dan itu benar terjadi. Sihir utamanya adalah api, dan aku memiliki keuntungan dengan memiliki sihir es. Dia tak bisa keluar untuk sementara waktu, aku mengurungnya dalam kubus es, jika didalamnya adalah aku, aku akan meremukkan gravitasi di sekitar dan menghancurkannya. Tapi dia bukan aku."


"Apakah kau tak punya cara lain? kau tidak mungkin menyerah begitu saja, bukan?" Arizawa tampak lelah dengan semuanya, dia kira sekali serangan akan menghasilkan hasil, ternyata tidak.


"Cara lain, ya.. Sihir terkuat ku sudah.." Katsura seketika terdiam, dia baru ingat ada hal lain yang dimilikinya.


"Benar juga! aku masih memiliki sihir waktu!"


"Baguslah jika kau ingat, di pertarungan selanjutnya aku akan memban-"


"Bukankah itu sudah hancur saat kau melawan Nico saat pertama kali? kau sudah tidak punya pelindung waktu" Aizo memotong pembicaraan.


"Ya, memang, sih. Tapi aku tak bisa menyerah begitu saja!" balas Katsura dengan semangat.


"Kalau saranku ya, lebih baik kau menguasai sihir-sihir dasar dan juga sihir cahaya mu, itu bisa menjadi senjata yang bagus. Ditambah Johan belum tau apa-apa soal sihir cahayamu, jadi kurasa itu lebih baik daripada kau harus berlatih sihir waktu lagi, pasti akan memakan waktu lama. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi, kita akan menyerang mereka lagi saat 2 hari kedepan!" kata Arizawa tegas.


"Benar juga, saat aku bertarung dengannya tadi, aku merasa bahwa aku tanpa Juryoku No Ikari sudah cukup untuk melawannya. Tapi jika aku harus berlatih lagi, aku berlatih dimana?" Katsura kembali berada di titik buntu, tidak tahu harus kemana.


"Benarkah begitu? maka baguslah. Kau pergi saja latihan, aku akan menyiapkan beberapa rencana kedepannya. Kita akan menyelesaikannya di serangan berikutnya!" seru Homura.


"Tapi, ada satu hal yang membuatku agak bingung" Aizo berbicara di belakang.


"Jika Johan berhasil kita singkirkan, siapa yang akan memimpin negara ini kedepannya? apakah kita harus mencari kandidat presiden selanjutnya? jika tidak ada pemimpin, negeri ini akan kacau balau."


"Tidak, kita tidak perlu mencari sampai sejauh itu, kita hanya perlu memberi tahu masyarakat tentang kebusukan Johan dibelakang. Sementara kita, Mato yang akan memimpin negeri ini" ulas Arizawa.


Seluruh anggota tersentak, tentu mereka sangat terkejut dengan pernyataan Arizawa. Mereka belum siap untuk menjadi petinggi sebuah negara.


"Tunggu, kau tak berhak menyatakan seperti itu" Cezo menyela, dia tak setuju.


"Ya aku berhak. Aku adalah pemimpin organisasi ini, aku yang akan membawa kita kemanapun. Aku rasa kita adalah yang terbaik dari semuanya, ditambah jika kita benar-benar menjadi petinggi negara, kita bisa mengetahui gerak-gerik para pejabat yang lain agar tak ada masalah seperti ini lagi" balas Arizawa dengan tatapan serius.


"Kita ini masih minim pengalaman, tahu. Kurasa itu bukanlah sebuah pilihan, tapi merupakan sebuah keharusan. Kita harus memerintah negara ini dengan cara kita. Tentu, kita akan mencari orang yang sudah berpengalaman di bidang politik agar berjalan lancar" Homura membalas.


"Betul apa perkataan Homura, sebenarnya aku benci politik dan masalah kenegaraan. Tapi, ini adalah keharusan kita untuk mengambil alih. Mau sampai kapan kita diperintah terus menerus? sekali-kali kita lah yang memerintah. Dengan nama baru, warga tak akan tahu kita adalah mantan Viper, kita adalah Mato" Arizawa tersenyum kecil.


Cezo tampak masih tak bisa menerimanya, dia belum siap untuk memerintah suatu negara. Pengalaman memimpin saja dia tak mempunyainya. Tapi dia berusaha mengikuti apa kata Arizawa.


"Katsura, kira-kira berapa lama Johan akan terkurung disana?" tanya Homura.


"Aku tidak tahu pastinya, mungkin selama 1 hari lebih, mengingat dia tak bisa menggunakan sihir apinya terhadap es yang ku buat."


"Baguslah kalau begitu, sekarang kalian semua beristirahat lah, besok malam kita akan kembali menyerang mereka. Tak akan kubiarkan Johan memberitahukan informasi tentang kita lebih jauh lagi!"


"Bukankah kata Arizawa kita akan kembali menyerang 2 hari lagi?" ucap Yukichi yang sedang tiduran di tanah.


"Tidak, ku percepat saja, lebih cepat lebih baik, bukan? cepatlah kalian semua beristirahat. Untuk Katsura, kau tidak usah berlatih lebih keras lagi, kau harusnya mencoba menikmati pertarungan, bukan memikirkan hal yang lain. Dan juga, daripada kau memikirkan sihir waktumu itu, aku punya saran yang lebih baik" kata Homura.


"Apa itu?"


"Kau ingat pertarungan akhirmu melawan Nico? disaat sebelum kau beradu lubang hitam, kau menggunakan mode yang seperti Juryoku No Ikari mu, tapi ini berwarna biru muda cerah dan kau sangat tenang memakainya. Tapi, kekuatan itu sangat dahsyat bahkan mampu memukul mundur Nico yang sudah melampauimu disaat mode Juryoku No Ikari. Itu adalah petunjuk untukmu, Katsura" bisik Homura kepada Katsura.


Katsura merasa tercerahkan, dia pun memikirkan tentang kekuatan itu, lalu dia pun tidur.


Keesokan harinya, semua anggota sudah bangun dan sedang mempersiapkan rencana.


...****************...


Sementara itu di tempat Johan...


Es itu telah retak, Johan melangkah keluar. Para pengikutnya telah menunggu semalaman agar Johan bisa keluar.


"Akhirnya! anda keluar juga, tuan Johan" kata salah satu pengikutnya sambil berlutut.


"Akhirnya! aku keluar dari penjara sialan itu! tunggu saja kau, aku akan membalasmu" kata Johan dengan tatapan kesal ke langit.


"Kau, namamu Riz, kan?" kata Johan kepada pengikutnya yang sedang berlutut.


"Iya! saya senang dapat dikenali oleh anda!" balasnya.


"Bagus, kalau begitu bawa aku ke gua bawah tanah, aku akan mengecek beberapa penemuanku."


"Siap, tuan!"


Bersambung...