
"Berhenti sampai disana" ucap Suizei bergema.
Katsura dan Homura menoleh, namun Katsura tak yakin bahwa yang ada di belakangnya saat ini adalah Suizei. Dia bisa merasakan energi yang murni hanya dikeluarkan oleh satu orang.
"Suizei?" Homura bertanya.
"Tidak, itu palsu. Namun aura miliknya sangat mirip, apalagi senjata itu. Terasa sangat asli" Katsura menjawab pertanyaan Homura.
"Tidak usah sok menyimpulkan begitu, aku Suizei yang asli akan membunuh kalian berdua disini!" Suizei menarik pedang bermata dua miliknya yang disangkutkan di bahu.
Saat pedang itu berhasil di genggam dan siap untuk menyerang, pedang itu hilang dari genggaman Suizei.
Katsura terlihat tak bergerak, namun senjata milik Suizei sudah ada di tangannya, dan dia sedang memperhatikan keseluruhan dari senjatanya.
"Apa?!"
"Ini senjata asli, namun kau yang palsu" ucapnya singkat, lalu secara mendadak badan Suizei terbelah menjadi dua dengan senjata nya sendiri.
Penyamaran pun terbongkar, salah satu anggota Descartados yakni Rloyd, dia menyamar sebagai Suizei untuk memberhentikan Katsura dan Homura walau gagal.
"Bagaimana bisa ada dua orang mempunyai kemampuan yang sama?" Katsura bertanya sambil mengibaskan pedang Suizei yang berlumuran darah.
"Itu adalah Rloyd, dia adik kembar dari Foyd, seseorang yang pernah kau lawan."
"Aku sudah bunuh dia" Katsura menyela.
"Kemampuan mereka pada dasarnya hampir sama, Foyd memiliki kemampuan untuk meniru penampilan orang lain, sedangkan adiknya yaitu Rloyd memiliki kemampuan untuk meniru kekuatan orang lain."
"Disaat yang bersamaan, mereka berdua saling meniru kekuatan. Rloyd meniru kemampuan Foyd yang bisa menjadi orang lain, begitu pula sebaliknya. Menjadikan mereka mempunyai kekuatan yang sama walau berbeda orang" jelas Homura tentang sistem kekuatan kakak beradik Descartados.
Katsura menerima penjelasan Homura, lalu mereka terus berjalan menuju tempat persembunyian Yotsuya.
Namun, seketika dinding-dinding di dalam gua berubah bentuk dan menjadikannya labirin yang sangat besar, kekuatan Yotsuya bahkan mampu merubah memori non makhluk hidup.
"Sial, kita harus mencari jalan keluar dari sini" ujar Homura, lalu Katsura membantahnya.
"Tidak usah repot-repot, kita hancurkan saja seisi gua ini."
Katsura hanya mengeluarkan aura miliknya dan meluaskannya, terbukti semua tembok labirin hancur seketika.
Namun, tembok itu tumbuh lagi, seperti sebuah makhluk hidup.
"Apa yang?" Katsura melanjutkan dengan meninju tembok didepannya. Alhasil tembok itu hancur dan jalan pun terbuka.
Lagi dan lagi tembok itu tumbuh kembali dan menghalangi jalan Katsura.
"Sialan, dia sengaja menjebak kita disini, ya.." Katsura kesal.
"Sudah kubilang, kita harus mencari jalan keluar sendiri dari sini. Ayo ikuti aku" Homura mulai berjalan.
Di sisi lain, Zeldris dan Suizei sedang beradu pukulan di udara. Aura keduanya sangat menggila dan menggelegar di seluruh atmosfer.
Zeldris melepas pukulannya dan mundur ke arah bebatuan yang terbang, lalu dia pun merencanakan sesuatu bersama Aizo.
Suizei bergerak cepat, dia menebas semua bebatuan kecil yang mungkin dapat dijadikan pijakan oleh Zeldris.
..." Thunder Wrath! "...
Kepala naga berwarna kuning petir muncul dari permukaan tanah, dengan mulutnya yang terbuka, naga itu membawa Suizei ke langit bahkan sampai ke atmosfer paling luar.
Zeldris turun ke bawah dan menghampiri Aizo, "Aku perlu bantuanmu sekarang juga" ucapnya terburu-buru.
"Tolong gunakan Juryoku No Ikari dan terbangkan banyak bebatuan kecil untuk pondasi ku melangkah" pinta nya, lalu Aizo pun setuju.
"Naga itu tak membunuhnya, kan?" tanya Feria.
"Tidak mungkin naga itu membunuhnya. Dia sangat kuat" jawab Zeldris.
*Sret!
Bahu Zeldris tertebas oleh sesuatu yang tak terlihat, lalu Suizei pun turun dari langit dengan beberapa serpihan energi berwarna kuning petir sebelumnya.
"Lihat, kan?"
Suizei mengepalkan tangannya lalu menyerang Aizo hingga terpental jauh, Zeldris membalas dengan mendorongnya menjauh dari rekannya yang lain.
Zeldris menghentakkan kakinya dan menghancurkan area yang diinjaknya. Pecahan bebatuan itu akan ia gunakan untuk serangan berikutnya.
..." Jizoku Kanōna Denryoku! "...
Sebuah segitiga yang terbuat dari petir kuning mengitari tubuh Suizei, lalu Zeldris menggandakan jumlahnya menjadi tiga kali lipat. Setiap segitiga itu memiliki ukuran yang berbeda-beda.
Zeldris berniat untuk mengurung Suizei sementara agar tak bisa menyerang karena dia akan merapal sebuah mantra yang cukup panjang.
Secara mendadak dada Zeldris tertusuk oleh panah cahaya biru, Suizei terlihat seperti telah melepaskan sebuah serangan yang mampu menembus penghalang yang dibuat Zeldris.
Zeldris mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, namun itu tak membuatnya berhenti untuk melanjutkan mantranya.
Saat Zeldris membuka mulutnya lagi, sebuah panah kecil menusuk bahu Zeldris dan membuatnya tumbang.
Panah itu jenis yang sama seperti yang menusuk dada nya tadi, lantas dia pun terbaring lemas.
Sihir yang mengurung Suizei pun hilang, pertanda energi Zeldris semakin redup.
Suizei melompat dan menerjang Zeldris dari atas, namun sebuah pilar api yang menjalar dari jauh memukulnya jauh.
Aizo tak mau mengambil resiko, dia membawa Zeldris menggunakan sihir gravitasi.
Saat Zeldris sampai di hadapan mereka semua, Feria menggunakan api penyembuhannya untuk menyembuhkan Zeldris secara instan.
Di gua Yotsuya, tampak Homura dan Katsura berhasil melewati labirin super panjang itu. Lalu mereka pun masuk ke ruangan yang serba putih polos. Bagaikan sebuah dimensi cat putih.
Dan terlihat dari jauh, seorang pria sedang duduk manis di kursi nya.
"Itu Yotsuya?" tanya Katsura.
"Ya, benar" Homura mengangguk.
Katsura meregangkan kedua tangannya, lalu salah satu tangannya mengarah ke Yotsuya seakan ingin menembakkan sesuatu.
Aura emas besar datang menghampiri Yotsuya yang sedang berdiam diri, namun aura itu malah terpecah menjadi dua bagian saat ingin mengenai nya.
"Berhenti, mulai sekarang aku yang ambil alih" ucap Homura serius.
Kembali ke medan pertempuran, Suizei berhasil melenyapkan pilar api Yubino dengan satu tebasan dari tombaknya.
Aizo menggunakan banyak pecahan batu dan tanah untuk mengurung Suizei didalam. Namun tentu saja dia menolak dan menghancurkan segalanya yang mendekat.
..." Blaze Binder! "...
Tali api yang banyak bermunculan dari permukaan tanah dan mengincar setiap tubuh Suizei, dia mencoba melawannya namun pada akhirnya tangan dan kakinya berhasil terikat kuat.
Aizo menaikkan satu batu didepan Suizei persis. Lalu dia mengepalkan tangannya, lalu seluruh bebatuan dan tanah tertarik ke arah batu yang berada di depan Suizei.
Terciptalah bola batu yang sangat besar di langit, mengurung Suizei didalamnya. Beserta tali api yang menghiasi bola besar itu.
Zeldris terbang dan berada di jarak yang cukup jauh dari bola batu Aizo.
"Jangan pikir mantra ini dapat dibatalkan, ya."
..." -Dengan amarah suci mu."...
..." Omnes Videntes! "...
Cuaca menjadi sangat ekstrim, langit sangat gelap bahkan lebih gelap daripada malam hari.
Sebuah pusaran awan muncul di atas bola batu besar, Dan petir petir bermunculan di sekitar medan pertempuran.
Zeldris mengangkat tangannya dan menurunkannya, sebagai isyarat bagi petir agar menyerang.
Petir alami yang sangat dahsyat pun muncul dari tengah-tengah pusaran awan, namun batu besar itu pecah dan Suizei lepas dari genggaman Aizo.
Suizei sudah siap dengan kuda-kudanya, lalu dia pun melemparkan tombaknya ke arah pusaran awan itu.
Tombaknya sudah dilapisi dengan panah miliknya yang berwarna biru cahaya, setelah tombak itu memasuki pusaran, cuaca pun kembali menjadi normal. Namun ledakan luar biasa tercipta di atmosfer bumi.
Semua kerjasama tadi sia-sia, Suizei yang masih bersemangat melanjutkan tekadnya, namun seketika ia terjatuh dari langit.
Di sisi lain, Homura berhasil mengenai Yotsuya dengan sihirnya dari kejauhan. Dia menggunakan perantara bayangan Kursi yang di duduki Yotsuya untuk menyampaikan sihirnya.
Semua yang telah di kuasai oleh Yotsuya kembali menjadi normal, termasuk pikiran para orang di pengadilan.
Di bawah tanah, terlihat Yukichi sudah putus asa dengan semuanya, lalu dia memerintahkan Arizawa untuk mundur.
Dia mengangkat tangan kanannya, lalu mengeluarkan aura berwarna ungu kehitaman.
..." Yoru Ni Saku Fuji "...
Kilat berwarna ungu menyambar dari tangan Yukichi, menembus kubus yang katanya tak terhancurkan dari dalam.
Arizawa segera mengangkat Yukichi yang pingsan akibat serangan tadi, saat sampai di permukaan, seseorang menghampirinya.
"Kerja bagus, akhirnya kau bisa keluar dari sana" ucap Hiromi dengan penampilan baru nya.
Bersambung...