Destiny Holder

Destiny Holder
Teknologi Diluar Nalar



Waktu disini tidak diketahui, bahkan langitnya akan biru setiap saat.


Jam disini tidak berlaku, mereka menggunakan benda lain untuk mengetahui waktu.


"Apa apaan ini, jamku rusak atau apa, baterainya baru ku ganti kemarin masa sudah rusak lagi" ucap Yukichi geram.


"Lapor, divisi 2 disini, jam tidak berfungsi, apakah kalian juga?" ucap Arizawa di walkie talkie.


"Divisi 4 Menjawab, kami juga bermasalah disini" balas Homura. "Kapten, aku menemukan teknologi mereka yang biasa dipakai untuk melihat waktu." ucap Felix tengah berlari.


"Benda itu sering mereka sebut sebagai 'Hikone' benda ini sangat aneh, memancarkan hologram yang bentuknya tidak kelihatan saat dinyalakan" jelas Felix.


"Begitu ya, yasudah kita bawa saja dulu, ini lumayan menarik" ucap Homura sambil berjalan


Lalu situasi berpindah ke divisi 3 yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam gedung yang berbentuk seperti lambang tidak terbatas.


Mereka memakai ruang yang terbengkalai untuk menjadi markas sementara. "Sedang apa kau disana?" tanya Katsura


"Aku sedang memasang kain tak terdeteksi, ini membuat kita tidak akan terdeteksi sama sekali, mereka tidak dapat melihat kita, namun kita dapat melihat apa yang dia lakukan." ucap Korga sambil turun dari tangga.


Lalu seseorang dengan memakai kemeja putih masuk ke ruangannya, dan dia hanya melihat-lihat, seperti ingin melakukan sesuatu.


"Kau benar, dia tidak melihat kita" ucap Feria yang lagi duduk. "Namun kelemahan kain ini adalah, jika robek sedikit saja, kita akan terlacak lagi" ucap Korga.


Lalu divisi 1 yang sedang berjalan di jalanan pun melihat gedung dengan bulatan raksasa ditengahnya, seperti ada maksud tersembunyi.


Mereka tetap berjalan sampai akhirnya Zeldris menyadari bahwa ini mungkin ada kaitannya dengan alat yang Felix maksud tadi.


"Hei bisakah kau membawakan alat yang kau bilang tadi? aku membutuhkan nya" ucap Zeldris di telepon handphone nya.


Sesaat kemudian, Felix datang ke divisi 1 untuk mencoba ke gedung itu, hasilnya adalah hologram yang membentuk seperti Segi 6 dan ditengahnya ada seperti jarum yang panjang mengarah ke huruf δπό.


"Apa itu, ini mirip seperti jam, namun lebih rumit. akan kucari tahu sebentar" ucap Tooru sambil membuka handphone nya.


Setelah beberapa menit, dia menemukan jawabannya. "Ini adalah bahasa Yunani, jika diterjemahkan adalah 12 malam, jadi jam sekarang menunjukan jam 12 malam" jawab Tooru.


"Wah kamu ternyata cukup pintar ya" ucap Aizo. "Ah Tidak, aku hanya cukup ahli di bidang ini" balas Tooru.


Setelah itu Yubino memberi tahu setiap divisi bahwa sekarang adalah jam 12 malam, dan dia memberi tugas untuk Felix dan Toshi untuk berjaga disini sembari memberi tahu waktu.


"Seperti itu ya, pantas saja tidak ada orang yang datang, jarang sekali, paling hanya 1 tadi yang masuk ke ruangan ini" ucap Herald.


Setelah itu setiap divisi mulai bergerak lagi sampai pada akhirnya divisi 3 menemukan ruangan yang besar, dan aneh.


Disitu tertulis sebagai ruangan terlarang, hanya staff yang boleh masuk.


"Pintunya dikunci, apa kita dobrak saja? ucap Feria.


"Memang begitu seharusnya!" ucap Korga sambil mendobrak pintu.


Setelah itu pintunya pun terbuka, lalu mereka melihat tabung-tabung yang dingin dan panjang, serta banyak mesin.


"Apa ini? aneh sekali" ucap Azashi. "Hei lihatlah kemari, ada orang didalam sini, dia dibekukan" ucap Feria.


"Ini sepertinya mereka membekukan banyak warga untuk hidup lebih lama, teknologi ini juga sedang diteliti di semesta kita." ucap Korga.


Lalu Katsura melihat tabung lagi, namun disini sangat panas, ditambah ditabungnya ada air berwarna hijau. Katsura mencoba membuka salah satu tabungnya dan orang didalamnya terjatuh ke lantai.


Setelah di cek orang tersebut telah mati, badannya pucat dan dingin, padahal airnya panas.


"Mengapa mereka memasukan mayat kesini?" ucap Katsura sambil mengangkat mayatnya lagi kedalam tabung.


"Mereka menyimpan mayat dibelakang" ucap Katsura.


"Mayat? untuk apa disimpan begitu" tanya Herald kebingungan.


Lalu terdengarlah suara seperti orang berjalan kaki ke arah mereka.


Tak disangka dia adalah orang yang tadi Katsura keluarkan dari tabung.


"B-Bagaimana bisa?" tanya Katsura yang keheranan.


"Akhirnya aku telah hidup kembali, terimakasih tuan, kukira aku tidak akan dihidupkan kembali." ucap pria aneh tersebut.


"Hidup kembali..?" tanya Herald dengan muka kaget.


"Iya, aku membayar mereka untuk dihidupkan kembali. Terimakasih ya, tenang saja aku tidak akan memberi tahu identitas kalian, kalian mata-mata kan? dah ya! oh ya aku lupa memperkenalkan diri, namaku adalah Yosua! salam kenal" ucapnya sambil lari.


"Teknologi ini benar-benar diluar nalar akal sehat, menghidupkan orang yang sudah mati itu mustahil. Katsura, ambilkan air yang didalam tabung itu, lalu kalau bisa ambilkan tabungnya juga, kita bawa ke rumah." ucap Korga.


Lalu ada seseorang berteriak "Siapa disana? maling ya sialan? akan ku kunci semua pintu keluar!"


"Sialan, kain tadi sudah robek saat dibawa lari, ayo mengumpat" ucap Herald panik.


Situasi berubah ke Divisi 4 yang sedang berlari, mereka sedang di jalan sempit. Namun ada seorang yang memakai kemeja putih itu mencegat mereka keluar, ditambah mereka membawa pasukan.


Lalu dia menyerang dan mengincar leher si orang itu, namun dapat di tangkap dengan tangannya, lalu orang itu berniat memukul Homura yang terkunci, Homura dengan sigap menendang ************ pria itu.


Lalu Homura memotong kedua tangan pria itu untuk berjaga-jaga, dan dia pun mulai menyerang pasukan musuh.


Hosura dan Raiha membantu untuk menghabisi yang di belakang.


Tak lama sebuah helikopter muncul di atas mereka lalu mulai menembakan peluru. Hosura kemudian meledakkan granat sungguhan ke atas baling-balingnya.


"Bunuh saja! jangan sampai ada yang hidup kalau tidak ingin ketahuan!" teriak Homura.


Raiha yang membawa pistol kemudian menembakannya kepada pilot helikopter. Dan helikopter itu terjatuh dan meledak


"Suara bising itu pasti akan membawa situasi buruk, kapten kita harus mundur!" teriak Raiha.


Di sisi lain, Homura sedang menghabiskan seluruh bala bantuan yang dipanggil pria ber kemeja putih itu.


"Kalian pergi saja duluan! gunakan lubang saluran air!" seru Homura.


Kemudian Hosura dan Raiha pergi ke bawah saluran air, sementara Homura masih tetap berjuang, dia pun menggunakan granat asap nya untuk kabur serta menghilangkan ingatan mereka.


"Mereka banyak sekali, kita harus mundur ke pesawat" ucap Hosura.


"Kau benar, yang terpenting adalah bertemu divisi lain dulu, divisi terdekat disekitar sini adalah divisi 1, ayo kita kesana" ucap Homura sambil berlari.


"Jangan lupa pakailah ini, ini jubah buatan Felix dan Cezo, jubah ini bernama Inosservato, jubah ini dapat menghilangkan jejak kita dan membuat kita tak terlihat. Mereka memang jenius" puji Homura sambil memberikan jubah itu.


Lalu situasi berpindah ke divisi 2, disana mereka memasuki ruangan bawah tanah yang cukup besar, disana banyak barang yang di masukan ke tabung.


Dikatakan benda ini dapat memberi sihir kepada seseorang, dan dapat menarik jiwa seseorang. Lalu ada benda lain berbentuk seperti jarum jait, saat ditekan maka jarum itu akan bisa membuat apapun yang diinginkan pengguna.


Dan ada benda lain seperti tabung menggandakan diri, bahkan ada ruangan khusus pembuatan anak tanpa pembuahan dari suami atau istri, murni manusia ciptaan teknologi.


"Gila sekali teknologi disini, aku ter wah-wah." kata Suizei sambil berjalan.


Lalu mereka melihat ada senjata seperti pedang, namun dapat menembakan bola plasma yang sangat kuat, yang dinamakan `Energy Sword`


"Wah ini bagus untuk referensi ku!" ucap Suizei sambil memegang pedang itu.


Lalu Cezo berlari dan mengatakan, "Hei kalian, cepat lari! ada penjaga yang sedang kemari, mereka ada banyak!"


"Sialan mereka! ayo lari" teriak Arizawa. Lalu Suizei pun ikut berlari dan meninggalkan pedangnya di lantai.


Situasi kembali ke divisi 3, mereka sedang dikepung oleh banyaknya pasukan bersenjata khusus, seperti Energy Sword tadi, namun dalam bentuk senapan.


"Sialan kita harus paksakan ini!" ucap Korga.


"Aku sudah siap, Feria, kau tetap dibelakangku saja" ucap Katsura.


"Apa-apaan kau? aku tidak selemah yang kau kira tahu!" balas Feria.


Setelah itu mereka keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai menyerang balik pasukan.


Herald yang membawa katana Torasa pun mulai menghabisi pasukan musuh. Katsura lalu mengambil senjata musuh yang sudah mati lalu membantu Herald.


Korga menerobos keluar dengan pukulannya, lalu Feria menghancurkan air dalam tabung lalu membungkusnya dan menyiramnya ke musuh.


Salah satu musuh menembakan senapannya ke Katsura, namun dapat dengan mudah dihindari. Feria mulai merakit bom dari air tabung tadi serta menambahkan beberapa serbuk peledak didalamnya.


Katsura yang menyadari Feria akan diserang dari belakang mulai berpindah ke sisi belakangnya untuk melindungi Feria yang sedang merakit bom.


"Cepatlah, akan ku tahan mereka sebisa mungkin" ucap Katsura sambil menembakan senjatanya ke musuh.


"Sebentar lagi selesai!" teriak Feria.


Katsura mengambil serpihan kaca dari tabung dan ditempelkan ke senjatanya agar bisa di ayunkan, terbukti lebih cepat menghabisi musuh daripada ditembak.


Lalu Katsura melempar senjata nya dan menembakannya lagi dengan senjata baru yang dia ambil sambil berkata dalam hati "Senjata ini memiliki bahan bakar energi plasma, jika ku aliri dengan listrik maka akan meledak."


"FERIA! MENUNDUK!" teriak Katsura sambil melompat ke arah Feria.


Ruangan pun meledak dan gosong, Katsura dan Feria yang masih didalam akhirnya keluar, dan mereka pun berlari kebawah untuk memasang bomnya.


Setelah dipasang mereka pergi keluar gedung, dan gedung itu meledak.


"Kita harus kembali ke pesawat, perintah dari Homura!" kata Korga yang tengah berlari.


"Kita akan bermalam terlebih dahulu, kita akan beraksi lagi saat malam hari." balas Herald.


"Kita akan lebih di waspadai, jangan ragu untuk membunuh lawanmu!" ucap Azashi.


Setelah beberapa saat mereka pun kembali bertemu dengan divisi lain di pesawat, mereka menceritakan semuanya, namun ada 2 orang yang tak kembali.


Bersambung....