Destiny Holder

Destiny Holder
Tokyo



"Jadi ini Tokyo kelihatannya, sangat bagus sekali, dibandingkan aku melihatnya di internet" puji Feria.


"Lihat! itu ada penjual ramen!" seru Katsura sambil menunjuk ke arah restoran ramen.


"Hey kecilkan sedikit suaramu, nanti kita bisa dikira tidak waras" bisik Feria.


"Kamu benar juga, hehe maaf deh" balas Katsura malu-malu.


"Mending kita pergi, kita cari area penginapan" Feria menarik tangan Katsura dan mulai berjalan.


"T-tunggu dulu, aku masih mau melihat-lihat" Katsura membalas, tapi tidak dipedulikan.


Setelah beberapa menit Feria menarik Katsura, akhirnya berhenti juga di dekat halte bus.


"Huh.. huh.. mau sampai kapan kamu menarikku?" tanya Katsura terengah-engah.


"Kamu ini, aku sudah menemukan tempat penginapan yang cocok, kita akan naik bis dan pergi ke sekitaran Ningyocho" ucap Feria.


"Memangnya disana ada hotel?" tanya Katsura.


"Iya, lumayan terjangkau juga harganya. Tapi aku tak tahu cara berkomunikasi disini, kan kamu yang mengerti bahasa jepang, jadi tolong ya" Feria tersenyum ke Katsura, berharap semoga Katsura dapat berkomunikasi dengan orang Jepang.


Katsura menghela nafas dan menatap Feria dengan mata ikan mati, dia tidak terlalu fasih berbahasa Jepang.


"Kamu berharap apa dari aku berbahasa Jepang?"


"Hehe, kamu pokoknya harus bisa, lakukan sebaiknya ya!" Feria mengejek Katsura.


Selang beberapa menit, akhirnya bus sampai di halte, Katsura dan Feria pergi ke Ningyocho.


Selama perjalanan, supir mengajak Katsura berbincang. Tapi, selama perbincangan dengan supir, Katsura sangat tegang akan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan supir. Walau supirnya sangat ramah, tapi Katsura berharap agar pembicaraan nya cepat berakhir.


Akhirnya supir menghentikan pembicaraan, Katsura menghela nafas lega. Sesampainya di kamar dia ingin belajar bahasa Jepang ke orang yang lebih fasih.


Feria yang mendengar dari samping Katsura, hanya bisa tertawa kecil melihat Katsura yang gugup.


Waktu pun berlalu, Katsura dan Feria sudah sampai di Ningyocho, dan menuju ke hotel.


Setelah memesan kamar, mereka memasuki kamar dan merapihkan barang bawaan.


"Feria, apakah kamu bisa mencarikan guru untuk kursus bahasa Jepang? aku mau pergi ke perpustakaan diluar sana" kata Katsura di kasur.


"Eh? baiklah kalau begitu, akan kucarikan, tapi sebisaku, ya?" balasnya.


Katsura tersenyum dan berterimakasih. Lalu dia keluar kamar dan pergi ke perpustakaan. Dia berniat meminjam beberapa buku untuk menenangkan diri.


Sesampainya di perpustakaan, dia sangat bingung melihat banyaknya buku-buku yang terpajang di rak buku, menunggu untuk diambil.


"Banyak sekali, aku harus mengambil tema yang santai saja. Mungkin novel ini? novel ini bercerita tentang petualangan seseorang di hutan, mencari harta karun yang terpendam" Katsura mengambil 1 buku dan membaca sinopsisnya.


"Terlalu berat, kalau bisa aku akan memilih yang ber-genre komedi saja" Katsura meletakkan bukunya kembali.


Katsura kembali berjalan, tetapi saat berjalan ada 1 buku yang diliriknya, terlihat sangat menarik.


Dia mengambil buku itu, judulnya adalah "Sejarah Terbentuknya Kedamaian Dunia."


Katsura menganggap buku itu menarik, dan memutuskan untuk meminjamnya. Setelah itu dia lanjut berkeliling.


Katsura berjalan ke rak buku yang ber-genre komedi, dan mulai melihat-lihat.


"Isinya hanyalah cerita anak-anak, dan juga candaan anak-anak. Aku butuh yang sedikit lebih berat dari ini" Katsura meletakkan buku nya.


Dia lelah sudah mencari kesana dan kesini, tapi tak menemukan buku yang cocok juga. Ada salah satu pegawai perpustakaan sedang berjalan, Katsura menghampirinya.


"Permisi pak, saya mau meminta rekomendasi anda soal buku yang ber-genre komedi, tapi tidak terlalu ringan" ucapnya.


"Oh begitu, aku mengerti. Ikuti aku" balasnya.


"Huhh, untungnya aku pernah belajar bahasa Jepang" gumam Katsura dalam hati.


"Disini ya, aku telah menyimpan semua yang ber-genre isekai dan komedi yang bagus disini, mungkin itu bisa membantu. Aku permisi dulu" ucap pegawai itu meninggalkan Katsura.


"Isekai ya? kedengarannya cukup bagus!" seru Katsura.


Katsura membaca beberapa sinopsis bukunya, dan dia meminjam 5 buku yang bertemakan isekai dan komedi yang dibumbui sedikit romance.


"Total semuanya jadi 6 buku, pak. Pinjamannya hanya berlaku sampai 2 minggu kedepan, jika lebih dari itu belum dikembalikan juga, maka anda harus membayar denda" jelas kasir.


Katsura mengangguk, dan pergi dari perpustakaan. Dia bergegas kembali ke kamarnya untuk membaca sebagian dari bukunya.


Feria tak ada di kamar, mungkin dia masih mencari guru untuk kursus. Katsura duduk di kursi dan menyeduh teh hijau.


Saat hendak membaca, Katsura dikejutkan dengan nada dering handphonenya.


"Siapa sih yang menelpon ku?" Katsura tampak kesal.


Setelah di cek, ternyata Homura menelpon Katsura. Dia terkejut, mungkin ada hal penting yang harus dia ketahui.


"Iya, ada apa, Homura?" ucap Katsura di telepon.


"Oh hey Katsura! bagaimana keadaanmu disana? apakah kau baik-baik saja?" sahut Homura.


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu dan anggota Viper yang lain? tanya Katsura.


"Mereka semua baik, kita sedang di dalam hutan yang lebat. Musuh tak akan bisa melacak keberadaan kami" ulasnya.


"Baguslah kalau begitu, tapi apa yang membuatmu menelponku?" Katsura penasaran.


"Oh iya, aku meninggalkan kartu kredit di pesawat itu, untuk kau menyewa penginapan dan semacamnya, aku lupa memberitahukan saat pertemuan terakhir kita" jelas Homura.


"Oh! kau ternyata ingat ya, kukira lupa, lho" Katsura menghela nafas lega, dia tak usah bekerja.


"Hahaha, pasti kau mengira kau akan bekerja paruh waktu kan?" Homura mengejek.


"Kartu kreditnya kusimpan di bagasi pesawat, bersamaan dengan perlengkapan seperti baju dan lain-lain" ulasnya.


"Kau memang yang terbaik, Homura!" seru Katsura.


"Omong-omong, aku akan ke topik yang lebih serius" nada pembicaraannya seketika menjadi lebih serius dari sebelumnya. Katsura siap mendengarkan.


"Jadi begini, yang menyerang kami adalah bawahan menteri, semua ulahnya. Menurut teori Aizo, dia bekerja sama dengan Tohiko. Dia berencana untuk mengambil semua sihir yang kita punya."


"Kau adalah yang paling besar kekuatannya, jadi kami semua mengharapkan mu disini" jelas Homura.


"Kau mau aku melawannya, begitu? walaupun begitu aku mas-"


"Masih terpacu emosimu, bukan? aku sudah tahu, kau tidak usah mengulangi nya lagi. Kita semua berharap kau dapat menyembuhkan itu dengan segera dan pergi melawan menteri. Jangan ragu, karena dia memang murni jahat" kata Homura.


"Kalau begitu sudah ya, aku ada urusan. Sampai jumpa!" Homura menutup teleponnya.


"Aku harus melawan menteri? separah itu kah dirinya?" Katsura menatap kebawah dengan murung.


Pintu kamar terbuka, Feria datang membawa seseorang.


"Hei Katsura! perkenalkan! dia adalah Suzanne Kogiwara!" seru Feria.


"Halo, salam kenal" ucapnya.


"Apakah kau adalah guru kami?" tanya Katsura bahagia.


"Tentu, tapi kamu tidak usah memakai bahasa Jepang dulu, bahasa Indonesia saja" katanya.


Katsura bingung, kenapa harus memakai bahasa asalnya.


"Ekhem, akan ku jelaskan. Dia adalah orang Indonesia, sama seperi kita, Katsura" kata Feria.


"Wah! bagus dong! jadi aku tidak usah memakai bahasa Inggris, hehe" ungkapnya.


"Iya, begitu lah simpelnya, dia di luar sana bertanya-tanya apakah ada yang bersedia menjadi guru bahasa Jepang, tapi dia melihat google translate agar tahu jawaban orang-orang" urai Suza.


Feria malu, dan langsung menutup mulut Suza. "SSSSTTTT.. jangan beri tahu dong!" katanya.


"Hehe, maaf deh" ucapnya.


"Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanya Katsura.


"Kau boleh memanggilku Suza saja, atau boleh pakai nama lengkap ku."


Bersambung...