
Pesawat yang disiapkan Homura adalah pesawat kecil, yang hanya muat untuk 2-3 orang saja. Mirip seperti helikopter.
"Apa? ke Jepang? apa kamu yakin?" Feria memandangi Katsura, dia ragu bahwa kesana adalah pilihan yang tepat.
"Tentu, aku sebenarnya sudah merencanakan ini dari kemarin, soalnya mungkin saja negara Jepang yang terkenal akan ketenangannya bisa menyembuhkan emosiku ini" ulas Katsura sedih.
"Bagaimana dengan paspor dan lain-lain? apakah kita akan mendarat illegal?" Feria kembali bertanya.
"Hmm, mungkin sudah disiapkan oleh Homura disini, aku akan cek laci" Katsura membuka laci, ternyata semua dokumen yang diperlukan untuk pergi ke luar negeri sudah disiapkan.
Feria terkejut, bisa-bisanya Homura tahu kalau Katsura akan ke luar negeri.
"Ya ampun, kau seperti tahu arah pikiranku, Homura" Katsura menepuk dahinya.
"Baiklah, ayo berangkat! kita tak punya banyak waktu" ajak Katsura.
Feria masuk ke pesawat, dan pesawat mulai lepas landas. Di sisi lain, Homura yang sedang berlari melihat ke langit, dia melihat pesawatnya telah lepas landas dan pergi meninggalkan tempat ini.
"Bagus, pergilah sampai kau siap, Katsura. Serahkan saja yang disini kepada kami" kata Homura sambil berlari.
"Oh ya Katsura, omong-omong kamu sudah bisa bahasa Jepang?" tanya Feria.
"Belum terlalu mahir, sih. Dulu aku pernah belajar bahasa Jepang bersama Herald. Aku mungkin akan menggunakan bahasa Inggris saja. Tak akan sempat untuk belajar bahasa jepang. Tapi, semoga disana ada cara untuk menstabilkan emosiku ini" Katsura kembali curhat.
Feria tampak sedih melihat Katsura seperti itu, dia berharap semoga Katsura cepat menemukan cara nya.
Sudah 3 jam mereka di udara, Katsura mencari tempat untuk mendarat. Dia mencari tempat yang jauh dari pemukiman warga agar tak tampak mencurigakan.
Pesawat berhasil mendarat dengan baik, mereka mendarat di pesisir laut yang tak berpenghuni dan mulai berjalan menuju pemukiman warga.
Mereka berjalan cukup lama, tapi tak menemukan orang lain juga. Katsura yang kesal akhirnya membuka handphone miliknya dan menggunakan maps.
Ternyata, mereka berada sangat jauh dari kota, mereka berada di kawasan Aomori.
"Wah, jauh sekali jarak menuju Tokyo, aku menyesal mendarat disini" keluh Katsura yang berkeringat.
"Apa mau bermalam disekitar sini saja? kita mencari sebuah hotel atau penginapan dulu, baru kita pergi ke Tokyo" usul Feria.
"Tapi aku tak membawa uang, lagipula disini kan pakai Yen, aku mana punya mata uang Yen" Katsura mengeluarkan dompetnya, benar saja isinya kosong melompong.
"Aku bawa, sih. Tapi aku cuma membawa sekitar 1 juta saja, kalau di Yen-kan sekitar 9000 Yen" Feria bersuara.
"Apakah itu cukup untuk menyewa penginapan 1 malam? sebentar akan kucari dulu berapa harga semalam untuk menginap" kata Katsura.
"4000-5000 Yen, mungkin itu cukup, ayo kita pergi ke hotel" ucap Katsura.
"Oke-oke, mau hotel dimana? coba cek hotel terdekat" Feria mendempetkan dirinya ke Katsura dan memakai handphone Katsura untuk mencari.
"Ah! yang ini saja, jaraknya hanya 30km dari kita, ayo berangkat" Feria menarik tangan Katsura dan kembali berjalan.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya mereka sampai juga di hotel itu.
Mereka pun memesan kamar untuk 2 orang, dan resepsionis memberikan kunci kamarnya, nomornya adalah 55. Mereka pun mulai berjalan ke arah lift.
Saat berjalan, Katsura heran, kuncinya hanya diberikan satu saja. Lalu dia bertanya ke Feria, "Kita akan tidur bersama?"
Feria malu, mukanya menjadi merah dan menjawab, "K-Kalau kamu tidak mau juga tidak apa."
"Yasudah kita akan tidur bersama malam ini, ayo naik lift nya" balas Katsura.
Setelah mereka sampai di kamar, mereka melihat-lihat sekitar kamar, kamarnya sangat bagus dan rapi. Itulah yang dipikirkan Katsura saat ini.
"Huaaahhh, aku mengantuk sekali, kalau kamu ingin tidur, tidur saja, ya. Aku akan tidur duluan" Katsura langsung berbaring diatas ranjang yang empuk itu, dan mulai memejamkan mata.
"Kamu ini, langsung seenaknya saja, ya. Tapi aku akan menyusul nanti, ada yang harus kukerjakan dulu" balasnya.
Sementara itu, di sebuah desa kecil, ada sekelompok orang yang sedang berkemah dan menyalakan api unggun.
Seseorang berjalan ke arah kemah itu, ternyata ia adalah Homura yang kecapekan.
Semua orang di kemah itu adalah anggota Viper yang memakai jubah coklat sobek-sobek. Seperti gembel jalanan.
"Sepertinya ada semua, tapi aku rasa kita kehilangan Katsura dan Feria" balas Arizawa khawatir.
"Mereka sudah pergi ke negara lain, aku sudah menyuruh mereka. Tak ada yang perlu dikhawatirkan" Homura mengangkat tangannya.
"Begitu ya? baguslah. Mereka hanyalah harapan kita satu-satunya. Setelah Yubino ditangkap, aku tak tahu cara melawan mereka. Jumlahnya terlalu banyak. Yang bisa ku harapkan saat ini adalah Katsura kembali secepat mungkin dan memberantas semua musuh itu" Arizawa duduk murung di tanah.
"Aku yakin, dia pasti menemukan caranya. Kalau disini dia tak akan bisa tenang karena dia akan terus diburu, sama seperti kita" Homura mencoba menenangkan Arizawa.
"Tahu tidak? tadi aku mendengar bahwa yang mengutus para pasukan itu adalah pak Menteri" ungkap Cezo dibalik pohon.
Arizawa dan Homura sontak terkejut, Cezo melanjutkan pembicaraannya.
"Tujuan mereka kan menangkap semua yang mempunyai sihir, tapi tujuan pertama mereka adalah kita. Aku masih bingung kenapa mereka mengincar kita duluan" urai Cezo.
"Apakah kau yakin bahwa Menteri lah yang telah mengutus mereka?" Arizawa menatap Cezo dengan tatapan serius dan tajam.
"Tentu, saat aku mengumpat dibalik reruntuhan, mereka membicarakan sesuatu seperti ini."
"Apakah hanya itu saja yang ditangkap? pak Menteri akan marah jika kita hanya menangkap satu, ditambah katanya ada pengguna sihir waktu disini, ayo cari!" ucap seorang pasukan musuh.
"Begitulah kira-kira" Cezo mencoba mengulang pembicaraan yang ia dengar.
"Tak kusangka, mengapa beliau seperti itu, ya?" Homura merasa hilang kepercayaan kepada Menteri.
"Apakah menurut kalian ini ada hubungannya dengan Tohiko?" Aizo berpendapat liar.
"Darimana kau menyimpulkan itu?" tanya Arizawa balik.
"Tohiko kan membunuh presiden, setelah presiden tiada, mereka bisa bergerak dengan leluasa. Tohiko juga punya dendam ke Viper, masuk akal jika kita target pertama. Jadi bisa saja dia bekerja sama dengan Menteri dengan kesepakatan tertentu" jelas Aizo.
"Teori mu menarik, mungkin bisa saja terjadi. Tapi, yang terpenting saat ini adalah mencari markas baru, markas tercinta kita sudah hancur lebur" kata Homura.
"Atap yang baru ku kerjakan sia-sia dong" keluh Yukichi.
"Tapi harusnya Tohiko sudah tewas oleh Katsura, aku melihatnya dari kejauhan kalau dia tergeletak dengan darah dimana-mana" kata Homura sambil mencoba duduk.
"Baiklah, ayo tidur semuanya, pagi yang penuh pengejaran akan dimulai besok" Homura berbaring di dalam tenda.
Aizo menatap langit, lalu berkata dalam hati, "Katsura, cepatlah datang kemari, kami butuh kekuatan yang akan kau kendalikan."
Hari sudah menjelang pagi, Katsura bangun dari tidur nyenyak nya.
Katsura melirik ke arah Feria yang masih tertidur, dia tersenyum dan mulai membangunkannya.
"Hei.. ayo bangun sudah pagi, kita pergi ke Tokyo sekarang" kata Katsura sambil menggoyang-goyangkan badan Feria.
Feria membuka matanya, melihat Katsura yang membangunkannya dia malah tersenyum.
"Loh baru bangun sudah senyum saja, ayo kita bersiap-siap" Katsura tertawa kecil.
"Tidak, aku hanya senang bisa tidur bersamamu dalam satu kamar lagi" balasnya.
Setelah itupun mereka langsung berkemas dan siap pergi ke Tokyo, mereka menggunakan kereta agar menghemat tenaga.
Di kereta, Katsura berpikir, bagaimana cara dia mendapatkan uang, uang dari Feria tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.
"Hei Feria, menurutmu aku harus ngapain agar bisa mendapatkan uang?" tanya Katsura.
"Hmm, mungkin kamu bisa bekerja sampingan, tapi jangan yang terlalu berat. Itu saranku" Feria membalas dengan tersenyum.
"Hmm bekerja, ya? aku belum pernah bekerja sebelumnya. Hitung-hitung pengalaman juga, sih" kata Katsura dalam hati.
Setelah 5 jam, akhirnya mereka berdua sampai di stasiun Tokyo, dan mulai berjalan ke luar stasiun.
Katsura terkagum atas pemandangan yang ia lihat, biasanya dia melihat Tokyo hanya dari anime saja. Sedangkan Feria malah terfokus ke barang-barang menarik yang dijual diluar toko.
"Jadi ini... Tokyo!" seru mereka serentak.
Bersambung...