Destiny Holder

Destiny Holder
Versace dan Zeldris



Cuaca akhir-akhir ini sangat buruk, selalu gelap mendung dimanapun dan kapanpun. Saat ini, di tengah-tengah kota Bekasi yang setengah hancur, Zeldris yang sedang termakan emosi dan ego nya sendiri menatap tajam Versace yang baru datang.


"Apa kau yang menghancurkan kota yang indah ini? sangat disayangkan sekali, ya.. Kau benar-benar jahat" katanya, nadanya seperti sedang bercanda.


"Jangan bercanda, aku tahu kau adalah dalang dari semua ini, walaupun aku tidak mengenalmu dan tidak pernah bertemu denganmu. Wajahmu membuatku muak!" Zeldris maju dengan kecepatan penuh dan berada didepan Verace, dia siap meninju Versace 1 detik kedepan.


"Hahaha! sangat lucu ketika kau berpikir bisa mengenaiku" ucapnya di belakang Zeldris, membuatnya terkejut dan berpikir-pikir apa yang sedang dia pukul saat ini.


Diri Versace yang sedang Zeldris pukul kian redup dan menjadi cahaya biru modern. "Cih, hologram" ucapnya kesal.


"Aku kagumi emosimu itu, namun jangan bertindak terlalu gegabah" dia menatap Zeldris tajam, lalu seketika pinggangnya terluka sangat parah, hampir berlubang penuh. Untungnya dia sempat bereaksi akan energi yang tiba-tiba muncul.


"A-apa itu.. h-hanya dengan se kedip mata?!" Zeldris panik dan menutupi bagian lukanya.


Versace tak bergerak dari tempatnya, namun Zeldris menyadari akan ada yang datang lagi. Dia dengan cepat mundur menjauh, dan benar saja, jika dia tidak berpindah sudah dipastikan dia akan tercincang habis-habisan.


"Kekuatan macam apa itu..?!"


"Oh? mengapa kau selalu menghindar?" Zeldris tak sadar di belakang nya ada sebuah jaring laba-laba besar berwarna abu-abu.


Dia menoleh kebelakang dengan wajah yang sangat panik, namun dia terlambat dan setengah lengannya terpotong.


"Sial!!" geramnya.


"Orang ini.. sangat kuat! kecepatan serangannya bahkan melebihi kecepatan ku saat ini.. Ini gawat!" gumamnya sembari berlari kesana dan kemari.


Versace tertawa kecil dan berkata bahwa semua yang Zeldris lakukan tidak ada gunanya, dengan nada yang dipermainkan, Zeldris tahu bahwa orang yang dia lawan sangatlah kuat.


"Orang ini.. dipastikan dia berada sejajar dengan Katsura.. atau bahkan Ferus..!" gumamnya selagi berlari menghindar semua serangan yang tak terlihat.


Tak lama kemudian dia berhasil lolos dari pandangan Versace, dia bersembunyi dibalik mobil yang terbalik. Dia terengah-engah dan sangat kelelahan karena dia memiliki luka yang sangat serius.


"Aku harus kembali.. Ini berbahaya..!" ucapnya, namun sesaat dia melihat koin emas yang sangat berkilauan tergeletak di tanah, sangat menggoda untuk diambil.


Zeldris yang biasanya sangat acuh terhadap apapun yang tidak mengganggu, malah jadi tertarik ke koin itu entah apa yang terjadi.


"Siapa yang meletakkan koin sebagus ini di jal-" beberapa saat kemudian koin itu meledak dan menghasilkan duri-duri emas dari bawah tanah sebagai bekas ledakan.


Zeldris berhasil mengelak sesaat sebelum ledakan itu terjadi, dia dengan satu lengannya selamat.


"Apa-apaan itu?!"


"Pergerakan mu sangat bagus, pasti Homura melatihmu dengan sangat baik" ucap Versace persis di sebelah kuping Zeldris.


Zeldris bereaksi sangat cepat dan berhasil melukai pipi Versace dengan reflek tangannya disertai petirnya.


Hal itu membuat Versace mundur, dan Zeldris bisa bernafas lega. "Secepat itu?!" tanyanya keheranan.


"Mengapa kau berkata tentang Homura, sialan! tahu apa kau tentang dia!" seru Zeldris murka.


"Tahu apa tentangnya? dia bekerja bersamaku sekarang, bukankah rekanmu yang bernama Katsura sudah memberi tahu mu? atau kau adalah orang yang keras kepala?" Versace mengungkapkan kebenarannya, yang membuat Zeldris semakin tidak percaya.


"Aku tidak percaya dengan semua omongan mu, bangsat!" teriaknya.


"Baiklah kalau begitu, kau akan melihatnya sendiri nanti. Aku sudah kehabisan waktu, selamat tinggal" Versace berbalik dan masuk ke portal buatannya.


"Tungg-" luka Zeldris semakin terbuka, dan dia tersungkur ke tanah.


"Sebaiknya kau sembuhkan luka itu. Dah, ya" Versace pun pergi.


Zeldris merintih kesakitan, namun dia merangkak menuju tempat terakhir kali Versace berdiri sambil mengatakan, "J-jangan k-kabur.. kau.. brengsek!" katanya terisak.


Kecepatannya juga bukan main-main, bisa disetarakan dengan Katsura secara langsung. Bahkan lebih cepat dari itu. Namun disini dia berhasil ditumbangkan dengan sangat mudah oleh Versace, yang membuatnya sedikit was-was dengannya.


"Sialan!" ucapnya sebelum kehilangan kesadaran.


Situasi berpindah ke Katsura, dia berada di tengah hutan, mencari seseorang. Yakni Nico.


Katsura berjalan santai di tengah lahan luas, menunggu sampai Nico keluar dari persembunyiannya.


"Ada apa kau kemari? hm?" tanyanya seketika.


"Aku ingin dilatih olehmu, tolong. Hanya kau yang bisa kuminta pertolongan sekarang" Katsura meminta serius, tatapannya sangat penuh harapan.


"Berlatih? berlatih apa?" tanyanya.


"Aku ingin memperkuat mentalku. Rekan yang sangat kupercaya berkhianat dan menyerang kami. Aku sangat tak menyangka itu semua. 9 hari dari sekarang dia akan merencanakan penyerangan. Bersama Versace" jelas Katsura tentang masalah yang ia hadapi saat ini.


"Versace, ya.. ini akan sulit. Baiklah, akan kubantu kau" Nico menyetujui.


"Namun, mengapa kau meminta pertolongan padaku?" tanyanya, mengkonfirmasi.


"Hanya kau yang bisa kupercaya untuk melatihku. Kau juga pasti tahu sedikit soal Versace itu, makannya aku datang padamu" jawab Katsura yakin.


"Bersiaplah, ambil posisimu" Nico menyiapkan kuda-kuda nya.


"Tunggu, kita langsung bertarung?!"


Nico menerjang Katsura dengan satu tangannya, Katsura menahan dengan tangannya juga.


"Tunggu, bukan pelatihan seperti ini yang aku inginkan!" serunya.


"Ikuti saja alurnya dulu!" Nico berseru, dan lanjut menyerang Katsura dengan menendang dari bawah.


Katsura mengikuti ucapan Nico dan membalasnya dengan hantaman berat di wajah Nico. Nico terpental ke pepohonan, namun dia tak berhenti, dia membuat gelombang angin yang sangat kuat untuk menyerang Katsura.


"Peraturan di pelatihan ku adalah jangan memakai sihir apapun! terutama Golden Orb!" seru nya ditengah-tengah pertarungan.


Katsura berlindung dibalik batu dengan pukulannya ke tanah yang membuat batu itu naik keatas, batu itu hancur dengan sendirinya.


Katsura maju dari samping dan Nico sudah mendahului pergerakannya. Kepalanya di tendang sangat keras, sampai dahinya terluka cukup parah.


"Jangan berhenti!" Nico melanjutkan pukulan tajam dari tangan kanannya menuju bahu Katsura, Katsura membalas dengan aura nya yang membuat barrier di sekelilingnya.


Nico mundur, Katsura melompat dan menendang Nico lebih jauh. Kepala Katsura berdarah-darah, tatapannya sangat serius kali ini.


Dari bawah, Nico melemparkan bebatuan dan pepohonan ke udara, Katsura lengah dan tak dapat menghindar. Dia terpental bersama pohon yang dilemparkan itu.


Katsura memaksa mendorong pohon yang terpental bersamanya kebawah, dan menendang udara untuk kembali ke pertarungan.


Nico mengarahkan tinjunya ke udara, dan Katsura membalasnya. Mereka berdua beradu tinju sangat dahsyat bahkan sampai membuat pohon disekitar mereka terbawa kencangnya angin yang dibuat mereka.


Adu pukulan itu berakhir tidak ada yang menang, Katsura mundur dan bersiap untuk pukulan lainnya.


Namun saat dia menemukan celah dari Nico, tiba-tiba Nico berubah menjadi Homura di pandangannya, dan membuat pergerakan nya tidak karuan.


Alhasil dia ditinju tepat di wajah oleh Nico.


Bersambung...