
Katsura yang sedang menggendong Feria, tiba-tiba kalungnya aktif dan tubuhnya terselimuti energi bewarna hijau muda.
Disaat itu juga, Feria terjatuh, bersamaan dengan Katsura yang pingsan.
Mereka terjatuh di dekat pohon yang cukup besar, dan disekitarnya ada sungai yang memungkinkan mereka untuk menginap semalam.
"Aduh.. sakit tahu, kamu kenapa pingsan tiba-tiba, sih?" keluh Feria sambil memegangi kepalanya yang habis terbentur.
"Apakah kita harus menginap dulu disini? aku tidak tahu arah" Feria menoleh ke sekitarnya, dan menemukan sungai.
"Ada sungai! memungkinkan kita untuk bisa mengambil minum" Feria menoleh ke arah sungai, dan mulai berjalan ke arah nya.
"Aku akan mengambil sedikit saja. Sambil menunggu Katsura bangun, mungkin aku akan mencoba membuat kemah sendiri dari ranting-ranting pohon" Feria mengambil air dan memasukkannya kedalam botol yang dia temukan.
Setelah itu, Feria mulai mengumpulkan ranting-ranting yang berjatuhan dan merakit kemah sendiri. Walau tidak bagus, tapi setidaknya cukup untuk tempat perlindungan.
Waktu mulai malam, Katsura tak kunjung bangun juga, membuat Feria sedikit panik. Dia mencoba membangunkan Katsura dengan menggoyang-goyangkan pundaknya, namun tetap saja dia tak bangun juga.
"Duhh kamu kapan bangun, sih? aku takut, tahu. Oh ya aku kedinginan, aku akan membuat api unggun saja" usul Feria.
Feria mulai mengumpulkan ranting-ranting lagi, dan membakarnya dengan gesekan antara 2 batu. Cara yang tradisional.
Setelah apinya menyala, dia pun langsung mendekatkan dirinya ke api agar terasa hangat.
Selang beberapa menit, Feria yang sedang melamun tiba-tiba di tepuk pundaknya oleh seseorang.
Feria menoleh perlahan, ternyata Katsura sudah sadar dan Feria dengan cepat langsung memeluk Katsura dan berteriak, "HUWAA AKHIRNYA KAIN BANGUN JUGA, AKU KHAWATIR TAHU!"
"Ehehe maaf ya aku pingsan, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Katsura dengan tersenyum tulus.
Wajah Feria memelas kasihan, mengeluarkan air mata dan pipinya merah merona.
"Aku tidak baik-baik saja" katanya.
Katsura mulai merasa kecewa lagi pada dirinya, dan berkata, "Apa yang membuatmu merasa begitu? aku kan sudah ada disini."
"Mengapa kamu tidak langsung menyelamatkan ku disaat aku diculik? mengapa aku harus menunggu sangat lama untuk di selamatkan olehmu? kemana perginya Homura dan Viper?" katanya dengan nada kesal.
"Aku saat itu lepas kendali, lagi. Disaat itu juga aku pingsan dan aku tidak bisa menyelamatkan mu, jika aku tidak dihalangi Homura pasti kamu sudah ada ditanganku sejak kemarin."
"Mengapa dia menghalangimu? apakah aku hanya beban bagi mereka? sampai-sampai aku dibawa kabur oleh musuh dan mereka hanya diam saja begitu?" ungkap Feria yang masih kesal dengan mereka.
"Mereka tidak bertindak gegabah. Karena, seluruh anggota telah menghirup parfum milik Tohiko, jika langsung pergi menyelamatkanmu maka seluruh indera kita dapat dipermainkan olehnya. Aku yakin, ini adalah keputusan yang bijak oleh Homura" jawab Katsura.
"Lalu mengapa aku harus menunggu sangat lama sampai bisa dijemput olehmu? dan mengapa mereka tidak ikut menyerbu markas musuh juga?" tanyanya balik.
"Kau menunggu sangat lama? kan baru kemarin, loh" Katsura kaget, merasa ada yang aneh.
"Hah? baru kemarin? yang aku rasakan sudah lebih dari 1 minggu, tahu!" balasnya.
"1.. Minggu? aneh sekali, kita bahas ini nanti. Alasan mengapa hanya aku yang datang adalah karena aku dibiarkan mengamuk sepuasnya, tapi batas waktuku adalah 2 menit, jika sudah lebih dari 2 menit, maka aku harus segera kabur dari sana secepat mungkin" jelas Katsura.
"Yang penting adalah keselamatan dirimu, bagaimana dirimu? apakah ada yang terluka?" tanya Katsura.
"Tidak ada, sih, tapi aku hanya merasa tersedot saja" ungkapnya.
"Tersedot?" Katsura melotot memikirkan apa yang terjadi pada Feria, tapi ia mengungkapkan nya duluan.
"Ya, sepertinya tujuan mereka adalah menyedot sihir. Aku sepertinya punya kekuatan terpendam, tapi selama ini aku tak mengeluarkan potensinya saja. Dan lagi aku disana merasa sangat lama sekali, itu kenapa ya? aku juga masih heran."
"(Sihir? kenapa sekarang semua orang mempunyai sihir? apakah anggota Viper yang lain juga memilikinya? aku tidak tahu)" Katsura bergumam dalam hati.
"Mungkin.. tempat yang kamu tempati itu tidak terpengaruh oleh waktu? jadi kamu tidak akan tahu waktu yang telah terlewat" Katsura berpendapat.
"Tempat tidak terpengaruh waktu? itu mungkin saja terjadi, tapi ini adalah semesta kita, aku jadi heran mengapa bisa ada ruangan seperti itu, ya? jika kita ada di semesta J-60 maka tidak akan heran lagi" ucapnya.
"Hey Katsura, apakah kamu pikir Tohiko itu berasal dari semesta J-60?"
"Itu mungkin saja terjadi, tapi yang tahu koordinat semesta kita hanyalah Nico seorang. Dan dia telah mati, harusnya tidak sempat untuk memanggil bantuan" balas Katsura.
"(Tapi bagaimana jika kata Karma itu memang nyata? katanya Nico mengirimkan sinyal darurat lewat pesawatnya, apakah itu sampai pada seseorang? tapi katanya jarak antara semesta ku dan J-60 itu sangatlah jauh. Apakah ada yang berpatroli di atas sana?)" Katsura kembali bergumam didalam hati.
"Baiklah, yang terpenting adalah keselamatan dirimu, aku senang dapat melihatmu lagi" Katsura mengelus kepala Feria.
"Baiklah, ayo kita kembali ke markas, aku masih ingat arahnya, kalau tidak salah ke arah sini" Katsura mengenggam tangan Feria dan menariknya ke arah utara.
Mereka mulai berjalan, perlahan tapi pasti, sampailah mereka di markas Viper setelah beberapa menit. Namun, ada kejanggalan besar.
Markasnya.. Terbakar
Katsura dan Feria tak bisa berhenti memelototi markas mereka yang terbakar habis, hanya menyisakan pagar saja.
"Apa.. Apa yang terjadi??" Katsura panik, sementara itu Feria berlindung dibalik punggung Katsura.
"Aku harus memadamkannya!" serunya.
..." Sihir Air : Aliran Sungai Yang Damai "...
Air mengalir deras dari tangan Katsura, namun Homura datang menetralkan air yang diciptakan Katsura.
"Kau... Homura!" Katsura kaget.
"Kenapa lagi-lagi kau menghalangi ku?" tanyanya dengan nada kesal.
"Huhh... Huh... Huhh... Cepat pergi dari sini!" suruh Homura.
"Tunggu, aku tak mengerti apa yang terjadi, cepat beri tahu saja!" pinta Katsura.
"Akan kujelaskan secara singkat, setelah ini kalian berdua pergi naik pesawat yang kusiapkan, oke?" katanya.
"Sekelompok orang aneh datang secara tiba-tiba, mereka masuk tanpa permisi dan langsung mengobrak-abrik seisi markas, mereka seakan mencari sesuatu."
"Mereka ada banyak sekali, total ada 37 yang berhasil aku tangkap, sisanya aku tak tahu" jelas Homura.
"Disana ada Yubino, kan? mengapa dia tidak membantu mengalahkan musuh musuh?" tanya Feria yang sedang ketakutan.
"Dia memang membantu, tapi hanya sesaat, setelah itu dia di tangkap oleh mereka. Dia tidak bisa lagi menggunakan sihirnya, mereka mempunyai penetralisir sihir sama seperti milikku" ungkap Homura.
"Cepatlah pergi! tujuan mereka adalah menangkap yang mempunyai sihir! untung aku selamat dan berhasil kabur" tambah Homura.
"Tunggu, bagaimana dengan anggota yang lain?" tanya Katsura.
"Mereka baik-baik saja, walau banyak luka tapi mereka berusaha kabur dari sini, hanya aku saja yang belum kabur karena mempersiapkan pesawat untuk kalian" balasnya.
"Kalau begitu aku akan membantu memberantas mereka. Itu sangat mudah, kan?" Katsura percaya diri dan mengambil posisi.
"Jangan, bodoh! cepat pergi saja dari sini!" tolak Homura spontan.
Setelah itu, ada banyak orang yang membawa senter dari arah timur dan melihat Homura sedang berbincang.
Homura menoleh, lalu dia menyeru, "CEPAT, INI KAPSUL PESAWATNYA, PERGI SEKARANG JUGA! KAU ADALAH ASET PENTING BAGI KITA! PERGI SEJAUH-JAUHNYA!"
"Kau tidak ikut-"
"PERGI SAJA! AKU MASIH PUNYA URUSAN, JANGAN KHAWATIRKAN KAMI!" teriaknya.
Katsura dan Feria langsung pergi ke tempat yang aman dan menyiapkan pesawat mereka.
Pesawat mereka berada di dalam kapsul, hanya tinggal melemparkannya saja maka pesawat akan muncul.
Homura menggunakan sihir anginnya untuk membingungkan para musuh, dan dia lari dengan sangat cepat.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan tempat yang luas dan aman. Mereka pun memunculkan pesawatnya dan menyiapkannya.
"Kita akan kemana Katsura?" tanya Feria di bangku pesawat.
"Tidak tahu, tapi aku punya salah satu tempat tujuan ku" ucapnya.
"Kemana itu?" tanya Feria.
"Kita akan... Ke Jepang!" seru Katsura sambil menatap Feria.
Bersambung...