Destiny Holder

Destiny Holder
Menyerah Atau Melawan?



"Kita hanya punya dua pilihan, menyerah atau kita melawannya" suasana menekan, namun tak ada yang memberikan jawaban.


"Aku tak setuju dengan keduanya" jika Homura masih ada mungkin dia akan mengucapkan hal itu.


Zeldris muak dengan pembicaraan ini, dia pun berjalan ke luar markas dengan emosi, dia menendang pintu sangat kencang.


"Dia sulit menerima kenyataannya" Arizawa menunduk dan merenung.


"Jika kita ingin melawannya, kita harus persiapkan mental kita semua. Apakah sudah ada yang mau? aku rasa tidak ada" Yubino memberi saran.


"Kata Homura, dia bilang bahwa jangan ganggu rencananya yang sekarang, dan dia mengatakan itu sambil meneteskan air mata."


"Dia menangis?" Yubino bertanya, dia sedikit tidak yakin.


"Ya, walau hanya meneteskan sedikit air mata saja, itu membuatku tak ingin melawannya. Kesannya seperti dia memohon agar dia tak membunuh teman temannya sendiri" Katsura menjelaskan.


"Apakah menurutmu kita bisa kembali menyadarkannya dari jalan yang telah ia pilih?" tambah Katsura, dia semakin murung.


"Menurutku tidak, jika dia memang merencanakan semua ini dari awal maka sudah dipastikan dia takkan berpaling. Dia hanya akan kesulitan melawan kita semua" jawabnya, lalu dia berjalan ke pintu.


"Aku juga harus melihat nya secara langsung, jadi, aku akan mencarinya" kata Yubino sebelum dia keluar markas.


"Sepertinya aku harus istirahat, Feria dan Aizo masih terlihat sangat murung dan tidak mungkin bisa diajak bicara" Katsura berdiri, dia berjalan ke kamarnya.


Katsura menoleh ke Arizawa, "Arizawa juga begitu, dia hanya duduk termenung menunduk sedari tadi" tanggapannya soal Arizawa, lalu dia pun masuk ke kamar untuk beristirahat karena sudah sangat lama dia tidak tidur.


"Malam terburuk" katanya sebelum memejamkan matanya.


Tidak lama kemudian Katsura pun terlelap dalam tidurnya, di dalam mimpi nya pun dia terus terbayang-bayang oleh bayangan Homura.


Di dunia nyata ia memanggil-manggil namanya terus menerus, badannya berkeringat meskipun dia di ruangan yang dingin.


"H-Homura..!" katanya terengah-engah, seperti sedang mengejar sesuatu.


Tangannya mencoba meraih sesuatu ke atap namun tidak sampai juga. Sampai pada akhirnya ia terbangun dan hari masih gelap. Jam menunjukan pukul dua pagi dan dia hanya tidur selama 3 jam.


Kepalanya sangat pusing dan wajahnya seperti menangis lagi, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa dia bisa sampai terbawa mimpi begitu.


"Ah.. Aku hanya tidur sebentar dan sekarang seluruh rasa sakit seusai pertempuran sangat terasa.. Aku rasanya ingin mati saja" katanya sambil memegang matanya.


"Mungkin aku perlu udara segar" Katsura berjalan ke balkon dan menikmati udara malam yang sangat segar.


Biasanya jika pikirannya menumpuk, setiup angin di malam hari bisa menghilangkan pikirannya. Namun sekarang berbeda, justru semakin menumpuk di dalam pikiran.


Katsura menatap bintang-bintang agar pikirannya tenang, namun tetap tidak bekerja, baru kali ini dia mengalami patah hati tersakit sepanjang hidupnya.


"Mengapa dunia sangat kejam, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Badan Katsura masih terlalu lemas, jika saja dia disuguhkan pertarungan melawan orang-orang Versace, kemungkinan dia kalah sangat besar.


Sekilas, terlihat bintang jatuh di angkasa, mata Katsura pun terbuka lebar dan segera memohon permohonan.


Dia berharap semoga Homura tidak benar-benar mengkhianati nya, walau dia tahu memberi harapan pada bintang jatuh adalah omong kosong dan juga harapan itu sangat sulit di wujudkan, dia tetap berusaha untuk yang terakhir kalinya.


"Jika aku menyerah, maka Mato tidak akan ada artinya lagi. Mau tidak mau aku harus melawan!" Katsura menegaskan dirinya dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin.


Dia juga mengangkat tangannya ke langit dan melancarkan tembakan energi ke awan, yang membuat awan itu menghilang dan langit angkasa yang dihiasi oleh banyak bintang pun terlihat jelas.


Tentu suara itu juga sangat keras dan berhasil membangunkan Arizawa yang tertidur.


"Apakah Katsura bertarung? aku merasakan suaranya dari atas" Arizawa berjalan ke arah balkon.


"Katsura?" Arizawa membuka pintu balkon dan melihat Katsura yang sedang mengangkat tangannya.


"Oh kau sudah bangun, maaf aku membangunkanmu, aku hanya melatih tubuhku lagi agar tidak lemas" Katsura menoleh dan memberi tahu apa yang sedang ia lakukan.


"Aku sudah memutuskan, aku sendiri yang akan melawannya, kalian mungkin tidak akan sanggup, namun mungkin aku bisa" Katsura berjalan ke sisi Arizawa dan menepuk pundaknya.


"Jadi, kau akan membunuhnya?" tanyanya dengan nada pelan, membuat Katsura berpikir lagi.


Katsura diam sebentar, "Ya, akan ku bunuh dia" jawabnya percaya diri.


"Mungkin kau benar, hanya kau yang dapat melakukannya, tolong, sampaikan pesan terakhir ku padanya jika kau bertemu."


"Buka lah kotak itu, dan juga, semoga kau beruntung. Ucapkan lah perkataan itu setelah kau mengalahkannya. Berjanjilah padaku, ya?" Arizawa mengetuk dada Katsura sekali, lalu dia kembali ke bawah.


Sebelum Arizawa pergi, Katsura berjanji akan menyampaikan itu setelah dia mengalahkan Homura nanti.


Saat Arizawa berada di tangga, dia teringat sesuatu, "Kau akan melawannya sekarang juga?" tanyanya, dengan wajah memelas.


"Tidak mungkin, jika sekarang aku pergi melawannya, aku takkan sanggup melihat wajahnya saja. Aku akan latihan, kata Cezo mereka akan menginvasi 10 hari lagi bukan?"


"Kita akan memenangkan peperangan itu" Katsura serius, nadanya meningkat.


Arizawa tersenyum kecil, lalu dia kembali ke bawah. Katsura pun merasa dia perlu bantuan seseorang yang dia kenal.


"Apakah orang itu bisa membantu?" tanyanya.


Situasi berpindah ke Zeldris yang sedang melampiaskan emosi dan kekesalannya ke orang-orang Versace. Dia tidak terima semua fakta yang dia dengar.


"Tidak, itu tidak mungkin!" katanya lantang, lalu dia meledakkan kepala seseorang.


"Apa-apaan orang itu! dia berkata semua yang ada di pikirannya lalu dia membunuh salah satu dari kita!" seru seseorang dengan sangat ketakutan.


Zeldris terus berjalan sempoyongan sambil meledakkan jalan jalan di sampingnya, dia kini terlihat seperti seorang penjahat karena seisi kota terbakar habis.


Orang yang tadi mengoceh juga sudah di bunuh oleh Zeldris karena amarahnya sendiri.


"Berhenti! kau takkan bisa bergerak sekarang! diamlah dan biarkan kami mengambil sihirmu!" kata seorang pria yang berhasil mengikat tangan Zeldris dengan tali khusus, dan orang itu bergerombol.


Zeldris juga diikat oleh tali yang lainnya, kakinya dan badannya terikat juga. Namun dia tak bereaksi dan hanya mengalirkan listrik statis sehingga semua orang tadi mati tersetrum.


"Semuanya terus saja terus saja berdatangan, AYO SINI HADAPI AKU SEMUANYA SIALAN!" teriaknya dengan penuh amarah.


"Wah wah ada pengacau disini, sepertinya bawahan ku banyak yang tewas" ucap seseorang diatas gedung.


Zeldris tak menoleh dan meledakkan tempat itu dengan pikirannya, namun suara itu tak hilang.


"Tidak sopan menyerang orang yang baru sampai."


Orang itu menunjukkan dirinya, ternyata dia adalah Versace yang menggunakan tutup mata di mata kirinya.


Angin berhembus kencang, meniup rambut Zeldris yang panjang itu. Tatapan keduanya sangat serius, pertanda pertarungan akan terjadi..


Bersambung...