Destiny Holder

Destiny Holder
100 Tahun Yang Lalu, 1976.



"Katsura... Katsura..."


Suara Marx kembali terdengar dalam mimpi Katsura, dia terus memanggil Katsura. Suaranya samar-samar dan sangat kecil.


"Marx..?" Katsura membuka matanya perlahan di alam mimpi, dia berada di dalam bola emas transparan dengan cincin-cincin yang mengelilingi bola tersebut.


Katsura terbaring melayang di dalam bola, diluar bola adalah dunia putih, tidak ada warna lain selain warna putih.


"Ini.. Ini mimpi.. kan? dimana aku..?" Katsura bertanya pada dirinya sendiri, sementara suara Marx semakin terdengar jelas.


Katsura bangun dari tidurnya dan melihat ke sekelilingnya yang isinya hanya warna putih, dia berkata tidak ada apa-apa disini, mungkin hanya halusinasinya saja.


Lagi-lagi suara Marx terdengar, kali ini cukup keras sehingga membuat telinga Katsura sedikit sakit. Rasanya seperti ada yang berbicara menggunakan speaker di telinga.


Katsura mengeluh, dia tidak suka dengan kebisingan ini di telinganya.


Sesaat kemudian, Katsura pun menjawab panggilan dari Marx, "Apa?" katanya dengan nada tinggi.


"Akhirnya kau sadar juga, ini aku, Marx. Maafkan aku dengan komunikasi yang seperti ini, aku tidak bisa menghubungimu dengan cara biasa."


Marx berbicara, namun hanya suaranya saja yang terdengar, suaranya bergema seperti di kamar mandi.


"Oh ya benar juga, apa yang membuat komunikasi kita putus?" Katsura bertanya penasaran.


"*Aku baru mau membahas itu, ini adalah ulahnya Versace. Dia memutus ikatan Golden Orb diantara kita karena dia akan segera menyerap segel Golden Orb yang kau tanamkan di Embodiment Crystal."


"Tanpa adanya koneksi dari diriku, segel itu akan melemah*" jelas Marx.


"Tanpa koneksi darimu? aku masih bingung.. sebenarnya kau itu siapa dan kenapa kau terikat dengan Golden Orb-ku?" Katsura bertanya lagi pertanyaan yang sangat mengusik pikirannya.


"Soal itu aku masih belum bisa menjawab, aku akan menjawabnya saat kita bertemu nanti. Kau sekarang harus pergi ke masa lalu dan pergi bertemu pengguna Golden Orb di masa lalu."


"Untuk apa? dan pengguna Golden Orb di masa lalu? mengapa ada dua Golden Orb?" Katsura semakin bingung dibuat Marx.


"Golden Orb itu hanya ada satu di seluruh alam semesta. Walaupun hanya satu, namun kau bisa menemui pengguna yang lain di satu garis waktu yang sama" Marx menjawab.


"Lalu aku harus pergi ke semesta J-60? aku tidak mau kesana-"


"Tidak, tepat 100 tahun yang lalu dari besok, pengguna Golden Orb ada di semesta ini, di bumi ini" ungkap Marx mengejutkan.


"Apa.. Katamu?" Katsura seakan tidak percaya dengan kata-kata Marx.


"Ya benar, pergi temui dia dan tanya tentang cara menyegel sesuatu dengan Golden Orb. Kalau tidak, tak lama lagi Ferus akan bebas dari segel itu. Kau lah satu-satunya harapan karena kau mewarisi sihir waktu yang legendaris."


Suara Marx perlahan memudar, dan pengelihatan Katsura kabur, Katsura mulai sadar dari mimpinya.


Sesaat sebelum Katsura bangun dari tidurnya, Marx berkata, "Semoga beruntung, Katsura."


Katsura membuka matanya dan terbangun dari tidurnya, hari sudah menjelang subuh dan ternyata Katsura tidak sendirian di kamarnya, Feria tidur di sebelahnya.


"Lo? sejak kapan kamu ada disini?" Katsura penasaran, namun dia tampak tidak mau mengganggu Feria, dia menatapnya saja dengan tatapan kagum.


"Dia cantik sekali.." gumamnya.


Katsura mengelus kepalanya dan membelai rambutnya, Feria mengeluarkan reaksi di wajahnya, lalu Katsura pun segera bangun dari tempat tidurnya.


Katsura pergi keluar dan mencari Arizawa, namun tidak ketemu. Dia berjalan-jalan sebentar di sekitar markas untuk menghirup udara segar di pagi hari sebelum dia harus pergi ke masa lalu, mungkin akan ada pertempuran.


Katsura menarik nafas dalam-dalam, lalu dia pun pergi ke kuburan.


Katsura membawa dua tangkai bunga dan satu buket bunga kesana, sesampainya disana dia duduk di depan makam Herald, dia bercerita tentang seluruh pengalamannya pada sahabatnya yang telah tiada itu. Katsura menaruh masing-masing tangkai bunga pada makam Herald dan Homura dan berpamitan pada mereka.


Katsura surah menghabiskan waktu sekitar 30 menit disana, dia berpikir sudah waktunya untuk pergi. Namun sebelum itu, Katsura pergi ke makam ibunya dan menaruh buket bunga di atasnya.


Lalu setelah itu Katsura pun berbalik dan Feria menunggu nya di belakang, Katsura sedikit terkejut dia tahu kemana Katsura akan pergi.


"Maaf, kamu sudah siap pergi sekarang?" Katsura mengkonfirmasi sekali lagi.


"Ya aku siap" senyum lebar muncul di wajah Feria, dia sangat senang bisa pergi bersama Katsura.


"Sebaiknya kita kembali ke markas dulu."


Katsura dan Feria kembali ke markas, di luar sudah ada rekan-rekan yang menunggunya.


"Katsura, kapan kau akan kembali?" Suizei bertanya.


"Secepatnya, mungkin beberapa jam jika urusanku cepat" jawab Katsura diiringi tawa kecil.


"Baiklah, akan ku tunggu ya" balas Suizei.


"Katsura, apa kau yakin ingin membawa ini?" Cezo datang membawa Embodiment Crystal yang masih retak.


Katsura mengangguk, "Ya aku yakin, aku akan memperbaikinya. Percayalah padaku" katanya.


Cezo tersenyum dan memberikan Embodiment Crystal pada Katsura. Katsura pun berjalan menjauh dari markas, berdiri berhadapan dengan Feria.


"Kau siap?"


Feria mengangguk setuju, dan menggenggam tangan Katsura.


"Baiklah, sampai jumpa, semuanya!"


..." Jikan No Modori, 100! "...


Lingkaran berwarna hijau bercahaya mengitari pijakan Katsura dan Feria, lingkaran itu bertambah satu dan naik ke atas nya sampai ke kepala, setelah itu semua lingkarannya membanting diri ke tanah dan di saat itu pula Katsura dan Feria telah hilang.


Tahun 1976, tahun penuh kekacauan, dari langitnya saja berwarna oranye ke merah merahan begitu pula dengan awannya.


Bencana alam dimana-mana, daratan hancur dan retak, gunung berapi meletus berkali-kali, gempa di seluruh penjuru dunia, bahkan adanya tsunami. Bumi di tahun ini benar-benar seperti kiamat.


Bangunan semuanya hancur lebur, manusia hampir musnah, hanya tersisa beberapa ribu lagi dari puluhan juta. Seluruh benua menyatu menjadi satu seperti superbenua Pangea di zaman dulu.


Ada sebuah mobil ambulan yang sedang melaju sangat kencang, sepertinya mobil itu sedang mengejar waktu.


Didalam ambulan itu ada seorang ibu hamil yang hendak melahirkan, namun karena alasan yang tidak diketahui, usia kandungan ibu itu sekitar 11 bulan.


Ibu itu sedang berusaha keras melahirkan, didampingi suaminya di sampingnya dan beberapa bidan, namun walau begitu usahanya tetap saja gagal.


Mobil itu kini akan melalui jembatan, dan mobil itu melaju semakin kencang.


"Aahh!! aku tidak bisa!!" ibu hamil itu berusaha sekuat tenaga namun tetap saja tidak bisa, supir ambulan berkata untuk bertahan karena sebentar lagi mereka akan sampai di rumah sakit terakhir.


Namun naas, ditengah-tengah jembatan, jembatan itu mulai runtuh akibat gempa, pasien pun kehilangan fokusnya dan pingsan.


Dari semua manusia hanya tersisa satu ibu hamil dan ini adalah yang terakhir, namanya yakni Katsura Sina. Jika bayi ini lahir maka akan membawa perubahan besar bagi dunia di masa depan.


Mobil terus melaju dengan kencang, perjalanan yang sangat menegangkan membuat Sina hampir meninggal di tempat. Namun dia tetap selamat setelah mobil itu melewati jembatan yang sudah runtuh tertelan oleh air.


"Bertahan lah, sayangku! kita sebentar lagi sampai!" suaminya mencoba menenangkan istrinya.


Di tengah-tengah perjalanan mobil terhenti, seseorang dengan rambut emas dan jubah putih menghentikan mobil itu secara paksa, auranya sangat mencekam.


"Berhenti disana, mulai dari sini tidak akan ada lagi yang lahir!" kata pria itu.


Bersambung...