
"Master!" Yuichiro terkejut setelah ada Katsura di belakangnya dan mengusap kepalanya, dia senang bisa dipuji oleh gurunya secara langsung.
Katsura memiliki murid dari akademi sihir, dan ini sudah semenjak 1 tahun yang lalu, ketika Katsura sedang melihat-lihat keadaan di akademi, dia melihat satu orang yang menarik perhatiannya, dan dia rasa anak itu memiliki potensi yang besar.
Katsura akhirnya menjadikan anak yang bernama Yuichiro Sakatou sebagai murid angkatnya, walau sebelumnya Yuichiro sudah memiliki guru di akademi, namun karena Katsura yang meminta untuk mendidiknya secara pribadi, gurunya yang lama pun menyetujuinya.
"Kerja bagus, Yuichiro. Kau sekarang sudah bisa lebih mengendalikan kekuatanmu itu, nanti kau pasti bisa melebihiku" Katsura memuji Yuichiro lagi atas pencapaiannya yang berhasil menang melawan 5 orang dewasa sendirian.
"Mustahil aku bisa melampauimu" Yuichiro tersenyum, dia menganggap bahwa omongan Katsura tadi sebagai candaan sesaat saja.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan pada orang ini?" Yuichiro melihat ke arah Erick yang tunduk di atas tanah.
"Ingat untuk tidak membunuhnya, walaupun orang yang kau lawan sudah membahayakan banyak orang lain, itu adalah aturannya" ujar Katsura saat Yuichiro tiba-tiba menunduk, seakan ingin memberikan serangan.
Aturan dalam akademi sihir adalah tidak membunuh lawan yang di lawan, sekalipun mereka adalah penjahat keji, namun mereka harus diadili dibawah hukum. Kecuali yang dilawan berasal dari semesta lain, peraturan ini ditetapkan oleh Arizawa agar keseimbangan tetap terjaga.
Erick sekarang sudah sekarat, namun tekadnya masih terus bergejolak dalam hatinya, api semangatnya belum pudar, dia pun mencengkeram tanah dengan kuat.
"Iya aku tahu, master" ucap Yuichiro, dia awalnya sedikit lupa dengan aturan.
"Siapa yang peduli jika kau adalah salah satu pendiri akademi..? siapa yang peduli?!!" Erick berteriak sangat keras dan dengan nada murka, dia pun bangun perlahan.
Setelah bangun, Erick mengepalkan satu tangannya dan membuat Katsura terkurung oleh batu kristal yang dia buat, kristal itu menempel ke tubuh Katsura hingga membuat bola kristal raksasa di langit bumi.
Erick dengan ambisinya yang kuat berhasil membangkitkan sihir sejatinya di situasi genting seperti ini, dia menatap Yuichiro dengan penuh amarah dan emosi, tatapannya setajam pedang yang baru di asah.
"Tidak akan ada yang bisa memberhentikan ku sekarang! aku akan menjadikan diriku dan keluargaku tinggal di tempat yang layak! aku takkan gugur disini!" seru Erick dengan penuh amarah, dia merasa kekuatannya semakin meningkat drastis.
Wajah Yuichiro seakan malas dengan keadaan saat ini, wajahnya sangat datar walau Erick sudah melakukan hal yang cukup besar.
"Kenapa wajahmu seperti itu? menyebalkan sekali, tahu" ujar Erick, dia melihat wajah Yuichiro cukup membuatnya semakin kesal.
"Tidak ada, hanya saja, kau tidak tahu siapa yang kau lawan" Yuichiro menyengir dan itu membuat Erick semakin murka.
..." Crystalized Sulfur! "...
Erick menyerukan nama jurusnya dengan nada tinggi, sebuah cairan belerang beku merambat ke arah Yuichiro, namun dia tetap tenang sekali seakan tidak akan berefek apapun padanya.
Saat cairan beku itu berjarak beberapa inci dari tubuh Yuichiro, gelombang tebasan berwarna emas cerah memotong rambatan serangan Erick dan menghilangkannya secara total.
Erick sangat terkejut, ada seseorang yang mampu memotong serangan terkuatnya. Setelah itu dia mendengar ada yang berbicara padanya di belakang.
"Kau berhasil membangkitkan sihir sejatimu di saat-saat terakhir, aku sedikit kagum pada ambisimu yang kuat itu. Namun sayang sekali, kau salah pilih lawan" Katsura berhasil keluar dari bola kristal raksasa, dan berbicara dengan nada tenang seakan memberi apresiasi pada Erick.
"Bagaimana... kau bisa keluar dari sana..?" Erick berkeringat, wajahnya pucat.
"Sihirmu adalah sihir kristal... mengingatkanku pada seseorang.." tambah Katsura, sebelum dia membuat Erick pingsan dengan satu pukulan di lehernya.
"Tadi itu sangat menegangkan, ya, hehehe" kata Yuichiro, dia bersenang-senang dengan semua ini.
Kristal dan batu yang tadinya mengurung Katsura di langit runtuh satu persatu, kembali menyentuh tanah.
"Ya baiklah akan kuingat! lagipula itu juga adalah gayaku bertarung" balas Yuichiro dengan tawa santai, lalu mereka berdua pun mulai berjalan ke arah akademi dengan 5 orang penjahat yang berhasil mereka amankan.
Disaat mereka sedang berjalan menuju akademi, pikiran Katsura tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, namun yang belum pernah terjadi.
Ingatan yang dilihatnya adalah terkurung di sebuah bola energi dengan banyak alat-alat di luar nya. Ingatan yang terbagi antara Katsura dengan orang lain.
Lantas Katsura berhenti sejenak dan memegangi kepalanya, bertanya pada dirinya sendiri apa yang dia lihat barusan.
Ingatan itu sangat buram dan tidak beraturan, dan ada sedikit bisikan di kepala Katsura.
"Katsura... Katsura..." bisikan kecil bahkan hampir tak terdengar terus mengulang di pikiran Katsura.
Suara itu semakin mengeras dan terus mengeras di pikiran Katsura, dan suara itu memohon pertolongan padanya.
"Tolong..? siapa yang meminta pertolonganku..?" Katsura berbicara pada dirinya sendiri, dan saat itu juga Yuichiro panik melihat masternya bertingkah sangat aneh.
Yuichiro mencoba membangunkan Katsura dari ingatan yang tiba-tiba datang, namun tidak berhasil. Pengelihatan Katsura sangat buram, pendengarannya hanya terdengar suara bisikan di kepalanya yang terus memanggil namanya.
"Datang lah secepatnya... Katsura... dia bisa menjadi ancaman bagimu..." tambah suara itu, lalu Katsura pun mengingat sesuatu bahwa suara ini adalah suara Marx.
Marx sudah sangat lama tidak menghubungi Katsura, baru kali ini dia mendapat panggilan darinya lagi namun dengan cara yang aneh.
"Marx..? itukah kau?" Katsura mencoba merespon, namun Marx tidak menjawab. Dia hanya menanamkan koordinat pada pikiran Katsura lalu semua bisikan itu hilang, Katsura kembali ke realita.
Didepannya ada Yuichiro yang berusaha keras untuk membangunkannya, namun terus saja gagal. Setelah melihat Katsura sudah kembali sadar, dia sangat senang.
"Master!! kau tidak apa-apa?" Yuichiro memeluk Katsura, dia sangat khawatir tentang keadaannya tadi.
"Ya.. aku baik-baik saja.. hanya sedikit ingatan yang mengganggu. Ayo kita pergi" Katsura berdiri kembali, namun dia menyuruh Yuichiro untuk pergi sendiri ke akademi membawa 5 penjahat yang sudah di ikat oleh alat sihir buatan Feria.
Yuichiro pun menyetujui perintah Katsura dan pergi sendirian, sementara Katsura kembali ke markas untuk bertemu Feria, memberi tahu soal ingatannya barusan.
Sesampainya disana setelah Katsura menceritakan ingatannya tadi, Feria terkejut bahwa Marx masih bisa menghubungi Katsura lewat pikiran walau koneksi mereka sudah terputus tanpa ada alasan yang jelas.
"Jadi kamu mau pergi ke koordinat itu dan menyelamatkannya?" Feria bertanya dengan wajah serius.
"Ya, dia memintaku. Dan ini juga perdana aku bertemu dengannya, mungkin aku akan bisa mendapatkan jawaban yang aku cari selama ini.."
"Baiklah, tapi tolong, pulanglah, ya" Feria menggenggam tangan Katsura sebelum dia pergi dengan Golden Orb nya.
Katsura bergegas karena Marx terlihat dalam situasi yang sangat genting dan berbahaya. Koordinat yang dituju Katsura menuju ke semesta lain, yakni semesta U-507, jaraknya sangat jauh dari semesta Katsura.
Sementara itu, di sebuah planet hijau yang penuh dengan bangunan berkarat dan lumut, seorang pria sedang berjalan kesana dan kemari, memikirkan sesuatu yang hebat.
Dan di dalam bangunan yang berkarat dan berlumut itu ada bola energi yang mengurung Marx bersama dengan banyaknya alat-alat asing.
Bersambung...