Destiny Holder

Destiny Holder
Serangan Balik, Hiromi Mundur



"Apa maksud semua ini, Homura?!" ujar Katsura, dengan darah di mulutnya.


"Aku adalah Foyd. Homura yang asli sudah kami tangkap sebelum aku ada di markas."


"Foyd? dari nama kemampuanmu, sepertinya kau anggota Descartados juga, kan?" kata Katsura terbata-bata, darah dari mulutnya terus bercucuran.


"Ya, dan sebaiknya kau jangan terlalu banyak berbicara, karena semakin banyak kau berbicara, maka racunnya akan semakin cepat menyebar" ucap Foyd, lalu dia mendorong pedangnya agar menusuk lebih dalam ulu hati Katsura.


Katsura menggenggam bilah pedang yang menusuknya dengan kencang, lalu menariknya agar bisa terlepas.


Teriakannya cukup untuk membuatku Foyd terganggu, namun cengkramannya pada pedang itu tak terlepaskan.


Bilah pedang yang tajam itu mengkikis kulit tangan Katsura dan membuatnya berdarah.


Yubino berlari dan ingin membantu Katsura, namun dia dihentikan oleh pria pengguna tali emas.


"Tidak akan kubiarkan kau kesana" katanya dibalik jubah dan topeng.


"Berisik! pergi kau pengecut dibalik topeng!" Yubino dengan kesal meninju pria itu dengan kepalan tangan yang dilapisi oleh api.


Mata Katsura seketika berkilauan dan memancarkan cahaya berwarna merah muda cerah. Foyd tak merasakan apapun, namun..


..." Crescent Deluz! "...


Crescent Deluz Katsura berhasil dipanggil, dengan cepat Katsura mengayunkan sabitnya hingga membuat kedua tangan Foyd terpotong dan menyisakan pedang tanpa penyerang yang menusuk perutnya.


Katsura kesal, lalu dia pun memutarkan sabitnya. Hampir saja membuat kepala Foyd terpenggal, namun ia lebih dulu mundur sehingga hanya beberapa helai rambut yang jatuh.


"Bagaimana bisa dia mendapatkan senjata itu lagi!?" katanya panik, begitu pula Hiromi. Dia tak memprediksi ini akan terjadi pada rencananya.


"Mustahil! harusnya dia masih belum bisa menggunakan sihirnya!" Hiromi menggerutu.


"Tamat kalian sudah, jangan pernah meremehkan Katsura, walau keadaannya sudah di ujung tanduk" ucap Suizei percaya diri.


Katsura perlahan menarik pedang yang menusuknya dan membuangnya, kini pendarahannya semakin parah dan dia pun tertunduk di tanah.


Sambil memegangi lukanya, Katsura mencoba menutupi lukanya menggunakan energi nya. Untuk sementara agar tak mengganggu pertarungannya.


Foyd tak bisa berdiri, dia terpuruk di bawah pohon menunggu seseorang menyelamatkannya. Nafasnya tak karuan, dia panik setengah mati setelah melihat Katsura dengan senjata nya.


Foyd sudah pasrah akan ajalnya, dan dia tak bisa mengikuti Hiromi lebih lama lagi.


Katsura selesai menutupi lukanya, lalu dia kembali berdiri dan mengangkat Crescent Deluz-nya.


"Sialan! aku tak bisa membantu Foyd disana! dia masih punya peran penting dalam rencana ini!" ucap Hiromi didalam hatinya.


Katsura melompat tinggi dan menerjang Foyd dari atas dengan sabitnya, dia sangat kesal karena sudah ditipu.


Saat Crescent Deluz sudah hampir mengenai Foyd, namun Crescent Deluz berhasil di tahan oleh Vira dengan pisau kecilnya.


"Ini.. Sangat... Berat!" katanya, sambil menahan terjangan Katsura bersama Crescent Deluz.


"Bodoh Vira! jangan menahan kekuatan senjatanya!" Hiromi menengok sesaat dan melihat aksi nekat dari Vira.


"Kau melihat kemana?" badan Hiromi tertebas oleh Suizei, meninggalkan luka diagonal yang besar pada badannya.


Kekuatan besar yang beradu dengan kekuatan yang lebih kecil tentunya yang besar akan menang, namun dalam kasus ini, Vira terus bertahan walau tekanan dari Crescent Deluz luar biasa kuat.


Di sisi lain, Yubino terlihat sudah mengalahkan pria pengguna tali emas, dan menuju ke lokasi Katsura.


Di luar dugaan, pria pengguna tali emas itu masih dapat menggunakan sihirnya di balik batang pohon yang besar.


Tali itu mengarah kepada Vira dan Foyd, dan dia menariknya keluar dari sana sehingga Crescent Deluz Katsura menyentuh tanah.


Serangan Katsura itu menciptakan gelombang serangan yang tajam dan besar, gelombang itu memotong pepohonan dan bebatuan pada jarak 200 meter.


"Cih dia kabur, ya."


Sementara itu Arizawa dan Yukichi yang berada di bawah tanah tempat Mato bertempur, mendengar semua suara pertempuran yang ada di atas.


Tanah di bawah sana bergetar, Arizawa sedikit panik.


"Apa yang terjadi diatas?!"


"Dari suara hantaman terakhir, aku asumsikan itu adalah serangan Katsura. Dia sudah mendapatkan kembali Crescent Deluz-nya" jawab Arizawa.


"Tapi bagaimana bisa?"


"Entahlah, mungkin dia memakai suatu alat atau bagaimana. Aku harap mereka menemukan kita dibawah sini dan menghancurkan kubus ini dari luar" ujar Arizawa putus asa, dia sedari tadi mencoba menghacurkan kubus nya dari dalam, namun tidak hancur juga.


Kembali ke atas permukaan, Vira dan Foyd selamat. "Terimakasih, Bill" ucap Vira.


"Kukira kita berdua akan mati tadi, itu nyaris saja!"


Hiromi terpental, dia membentur pohon dan membuat dahan pohon itu jatuh mengenainya.


"Kita harus membantu Hiromi sekarang dan memerintahkannya untuk mundur! ini sudah diluar perkiraan nya" kata Bill, lalu dia berdiri walau tubuhnya penuh luka.


Suizei tak memiliki belas kasihan lagi, dia menyiapkan pedang bermata dua miliknya dan dengan ujung pedangnya, dia mengarahkannya ke leher Hiromi sesaat sebelum di bunuh.


"Ada kata-kata terakhir, pengkhianat?"


"L-lihat belakang mu, bodoh" jawabnya pelan.


Suizei langsung menengok ke belakang dan ternyata wanita pengguna debu es masih bisa berdiri walau sempoyongan.


..." Te Congelaras! "...


Suizei membeku seketika dan tidak bisa bergerak sama sekali.


Hiromi berdiri dan berjalan ke arah wanita itu, "Ayo Lika, kita temui yang lain disana" ucapnya sambil menepuk pundak Lina.


"Sepertinya hal yang salah kita beradu kekuatan dengan Mato, kita tak memperkirakan bahwa Katsura akan mendapatkan kekuatannya kembali" ucap Bill kepada Hiromi.


"Soal itu, aku juga tidak tahu pasti. Namun aku mempunyai rencana cadangan, kita perlu menun-"


Sebuah gelombang super kuat datang dari arah utara dan hampir mengenai mereka semua.


Katsura turun dari atas, membawa Crescent Deluz-nya yang semakin bercahaya pertanda bahwa kekuatannya semakin pulih.


"Dalam keadaan terluka begini, aku tak yakin bisa menang melawan mereka semua" Katsura ragu.


Kemudian dia tiba-tiba tertarik ke alam bawah sadarnya, dia bertemu dengan anak dengan rambut emas serta jubah merah berbulu di hadapannya.


"Dimana.. ini? tadi aku sedang bertarung, kan?"


"Apakah kau mengingat dimana terakhir kali kau berjumpa denganku?" anak itu berbalik dan menunjukkan matanya yang berwarna emas cerah.


"Kalau tidak salah.. Saat aku pertama kali mendapatkan Golden Orb dan sedang melawan Ferus.. dan namamu, Marx, bukan?"


"Tepat sekali, aku membawamu kesini karena aku punya urusan penting denganmu, ada yang ingin aku bicarakan."


"Aku tak bisa disini terlalu lama! jika tidak, mungkin badan asli ku sudah di bunuh terlebih dahulu! aku sedang di incar habis-habisan oleh musuh" Katsura menolak.


"Atau kemungkinan lainnya, musuh akan kabur karena melihatku dengan senjataku" tambahnya.


"Tenang saja, di dimensi ini, yaitu tempat dimana Golden Orb berada. Di dalam dirimu, waktu akan berbeda dengan yang di dunia asli."


"Jadi maksudmu..."


"Ya, waktu disini tidak ada pengaruhnya dengan di dunia nyata. Jadi kau bisa bebas berkeliaran disini sementara tubuh aslimu sedang berdiam diri saja, begitu pula dengan keadaan musuh dan rekanmu."


"Dan juga, kau takkan bisa mati."


"Apa maksudmu? aku hanyalah makhluk biasa. Lagipula siapa kau?"


"Aku adalah kekuatanmu" Marx menatap Katsura dengan serius.


Katsura hanya terdiam, Marx melanjutkan pembicaraan nya.


"Kau takkan bisa mati sekarang, percaya padaku. Semua luka, pasti akan sembuh. Kau tidak akan bisa mati dengan cara apapun, bahkan walau kau dibunuh oleh Ferus sekalipun."


"Ingat momen dimana kepalamu terpisah saat melawan Ferus? kau hidup lagi, bukan?"


Katsura mengangguk pelan.


"Itu adalah kekuatan Golden Orb, dia melindungi pengguna nya agar tidak mati. Jadi, kau sekarang bisa terus bertarung tanpa takut mati oleh serangan musuh."


"Bagaimana bisa aku percaya padamu?"


"Aku yang membawamu ke dimensi ini, Katsura."


Katsura jadi semakin yakin, lalu dia pun mengepalkan tangannya.


"Terimakasih, Marx."


"Pergilah, kalahkan semua pengecut itu."


Katsura kembali ke dunia nyata, dan benar saja dia belum bergerak sama sekali, sama dengan Hiromi.


Katsura berlari cepat dan mengayunkan sabitnya menyamping keatas, dia berada di depan Foyd.


Lagi-lagi serangan Katsura diinterupsi oleh sebuah bongkahan kristal yang muncul dari tanah. Kristal itu berwarna hijau terang dan sangat besar.


Di tempat Katsura berada, ada kristal kecil yang mengelilingi pijakan Katsura.


Kristal hijau besar di depan Katsura pun menghilang, lalu menunjukkan sosok yang Katsura kenal.


"Azashi!?" katanya, setelah melihat Azashi bersekongkol dengan Hiromi.


Bersambung...