Destiny Holder

Destiny Holder
Berita Mengejutkan



"Siapa kau! ada urusan apa kau datang kemari?!" tanya seorang satpam dari ujung ruangan.


Pria itu hanya terdiam dan melewati satpam dengan santai seakan dia tak melihatnya. Satpam yang dilewati olehnya seketika langsung terkapar di lantai.


Parfum yang dikenakan pria itu adalah parfum yang dapat melemahkan semua indera jika terhisap. Sehingga siapapun yang menghisapnya akan terkapar seketika.


Pria itu kemudian terus berjalan menyusuri istana negara yang luas, semua satpam dan orang orang disana yang menghirup parfum tersebut langsung terjatuh tak berdaya.


"Hei kau yang disana! kami perintahkan berhenti sekarang!" ucap penjaga yang ada disitu sembari menggunakan masker gas respirator dan membawa senjata api.


"Rupanya ada yang cukup cerdik juga, tapi itu tak akan mengubah apapun selama aku ada disini" ucap Pria itu dan dia menyengir jahat.


"Tutup mulutmu!" sang Penjaga menembakan senapannya ke arah pria itu, nampak berhasil, dia melihat bahwa tubuh pria itu sudah berlumuran darah di lantai. Tapi dia masih tetap siaga dengan melihat lihat sekitar nya dengan seksama.


"Itu saja? kau bahkan tak membuatku tergores, lho" Pria itu masih sehat walafiat dibelakang penjaga.


"T-tidak mungkin! bagaimana bisa?" tanya penjaga itu dengan kebingungan.


"Bagaimana bisa? sederhana saja, kau sudah menghirup parfum ku, yang berarti aku melemahkan semua panca inderamu" jawab Pria itu.


"Aku sudah menggunakan masker respirator! semua gas akan disaring dengan sendirinya!" seru penjaga tersebut.


"Astaga, keras kepala sekali dirimu ya. Itulah yang menyebabkan mu dapat menghirup parfum ku. Coba sekarang lihat apakah akun benar benar ada didepanmu?" ucap Pria itu.


"Apa?" sang penjaga kebingungan, dia melihat sekelilingnya tidak terjadi apa apa, dia berpikir bahwa pria itu hanya membual saja, tapi.. sang penjaga tertebas di bagian perut.


"Uhowekkk" sang penjaga memuntahkan darah, lalu dia tergeletak tak berdaya di lantai.


"Ya ampun, ada ada saja dia mau menantangku. Baiklah, sudah saatnya ya?" Pria itu berjalan sampai ke depan ruangan Presiden.


*** Di Markas Viper ***


Homura sedang berada di kamarnya, sedang bersantai menonton tv sembari memakan cemilan.


"Acara tv akhir akhir ini jelek semua!" Homura kesal dan terus mengganti saluran tv hingga ia menemukan yang cocok.


"Berita terlalu monoton, isinya gitu-gitu saja tak ada yang menarik" Homura melirik ke jam dinding, waktu menunjukkan jam 5 sore.


"Ah aku mending menonton ulang film yang kubeli kemarin, saluran tv isinya hanya sampah saja" keluh Homura.


Kemudian ia keluar ruangan dan pergi kantin untuk membeli secangkir kopi.


Setelah itu ia pergi ke atas atap untuk melihat pekerjaan Yukichi dan yang lain sedang membenarkan atap yang bolong.


"Ayo semangat kerjanya" Homura menyeruput kopi dengan penuh nikmat.


"Datang datang hanya melihat sambil minum kopi, akan lebih cepat jika kau membantu tahu" ucap Yukichi.


"Ayolah aku hanya ingin melihat saja, tidak boleh ya?" ulasnya.


"Ya boleh sih, tapi kami akan lebih terbantu jika kau ikut serta juga" balas Yukichi.


"Yasudah aku akan mengawasi saja, semangat ya" ucapnya lalu pergi bersender di pagar atas.


"Jadi sudah berapa persen kemajuan nya?" tanya Homura.


"Kami baru selesai membuat fondasi awalnya, baru 20% mungkin" jelas Yukichi.


"Hasil kasar ya? Homura meminum kopinya lagi.


"Huhh.. Huhh.. capek juga, ya" keluh Aizo yang berkeringat.


"Jangan mengeluh, ayo semangat" ucap Azashi.


"Ya tapi ini kan sudah sore, mari kita lanjutkan besok saja" ucap Aizo.


"Hmm baiklah jika itu yang kau mau, kau bisa berhenti dulu. Aku masih mau melanjutkan" jawab Yukichi.


"Benarkah? asik!" seru nya.


"Ya sudah kalau begitu aku mau istirahat dulu, capek" Aizo meregangkan badannya lalu turun kebawah.


"Kalau begitu semangat kerjanya, aku akan ikut Aizo kebawah" Homura melambai ke Yukichi, Azashi dan Yubino.


Homura berlari menghampiri Aizo dengan berkata. "Hei tunggu, kau mau kemana?"


"Aku ingin ke kantin, lalu mungkin akan ke kamar untuk mandi, gerah sekali rasanya" jawab Aizo.


"Oh yasudah deh, aku tidak jadi minta bantuanmu" ucap Homura.


"Bantuan apa?" tanya Aizo.


Arizawa berlari di lorong dengan panik, saat dia melihat ada Aizo dan Homura dia langsung menghampiri ke mereka.


"Ada apa kau terburu-buru begitu?" tanya Homura.


"PANGGILKAN.. PANGGILKAN SEMUA ANGGOTA! KITA KUMPUL DI RUANG TAMU SEKARANG JUGA!" teriaknya dengan ekspresi yang sangat kaget, ada berita yang tak terduga datang.


"Eh? memangnya ada apa?" tanya Aizo.


"TIDAK USAH BANYAK TANYA! PANGGILKAN SAJA!" balas Arizawa.


Homura dan Aizo memanggil semua anggota dan berkumpul di ruang tamu, kecuali Katsura karena dia masih butuh istirahat. Semua anggota telah berkumpul di ruang tamu bersiap untuk mendengarkan berita dari Arizawa.


"Ada apa?" tanya Cezo.


"Oke, pertama tama.. Presiden kita telah dibunuh."


"APA?!!" seru semua anggota terkaget.


"Jangan panik dulu, akan kujelaskan secara perlahan."


"Presiden kita tewas dibunuh dengan luka tikam di dada, dan luka bentur di seluruh wajah. Dan semua anggota yang bekerja di istana negara semuanya dihabisi" jelas Arizawa.


"Apakah ini semua berhubungan dengan pembunuh berantai tempo hari itu?" tanya Homura.


"Berjalan saja? apakah itu benar?" tanya Cezo.


"Iya, dia merusak semua panca indera lawan jika parfumnya dihirup, setelah panca indera nya hancur, racun itu akan menyebar ke seluruh tubuh dan merusak semua organ" jawab Arizawa.


"Dia bisa menjadi bahaya untuk kita, jadi apakah kita akan pergi menyelidiki nya?" tanya Homura.


Arizawa memasang muka kesal lalu berkata. "Mau tidak mau kita harus menyelidiki ini.. Ini menyangkut keseluruhan negara kita."


"Jadi pada akhirnya kita harus turun tangan juga ya? baiklah mari kita tunjukan kehebatan kita di mata warga" ucap Homura percaya diri.


"Kita akan ke lokasi pukul 9 malam, siapkan lah diri kalian semua. Untuk Katsura biarkan saja dia, dia harus beristirahat yang cukup sebelum ikut beraksi" ulas Arizawa.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Katsura akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Hoaaammm aku tidur seharian ya?" Katsura bangun dari tempat tidurnya dan meregangkan badannya.


"Ada apa sih diluar kok kayak semua orang sedang buru buru?" ucap Katsura yang kebingungan dengan situasi sekarang.


Saat Katsura berjalan ke ruang tamu, dia melihat Homura yang sedang berlari dan mulai menanyakan soal situasi saat ini.


"Singkat saja Katsura, Presiden kita telah tewas dibunuh. Kita semua sedang bersiap untuk menginvestigasi. Jika kau mau ikut bersiaplah"


Katsura terkejut mendengar berita itu, dia tidak percaya bahwa sekelas Presiden akan dengan mudahnya dibunuh.


"Jika kau tak percaya tak apa, makannya itu kita perlu menginvestigasi nya" ucap Homura lalu pergi.


"Situasinya sedang gawat, ya, Aku harus segera bersiap" Katsura kembali masuk ke kamarnya untuk menyiapkan segala kebutuhannya.


Sudah saatnya untuk berangkat, semua anggota Viper sudah berada di istana negara untuk menyelidiki kasus.


"Jadi disini tempatnya dibunuh, pas sekali di tempat kerja beliau" ucap Arizawa.


"Mayatnya dikemanakan?" tanya Cezo kepada para penjaga.


"Sudah kami bawa ke keluarga beliau, setelah itu akan langsung dimakamkan. Tidak ada yang boleh menyentuh sedikitpun jasad beliau" ucap penjaga.


"Kami pun tidak boleh memeriksanya?" tanya Aizo.


"Tidak"


"Baiklah"


"Kita ambil sampel darahnya saja, dan juga beberapa jejak sepatu disini. Si pembunuh ini kurang handal dalam menyembunyikan jejaknya, dia meninggalkan sidik jari di dinding sebelah sana" ulas Arizawa.


Feria sedang melihat lihat kebawah kolong meja, dan melihat ada sebuah pisau dan pil.


"Eh apa itu?" Feria mengambil barangnya, tetapi Pria misterius itu menerjang Feria dari arah jendela.


"FERIA!" seru Katsura lalu berlari ke arah pria itu.


"TUNGGU! JANGAN DEKATI DIA!" teriak Homura.


Para penjaga bersiap mengambil posisi sambil mengarahkan senapan mereka.


"Kau kalah jumlah! mundurlah sekarang juga!" gertak Yubino.


"Jumlah? jumlah bukanlah hal yang masalah, coba sekarang lihat belakangmu" ucapnya.


Para penjaga disekitar ruangan langsung terkapar di lantai karena menghirup parfum pria itu.


"JANGAN HIRUP PARFUM ITU!" seru Arizawa kepada seluruh anggota Viper.


Pria itu berdiri dan menyombongkan dirinya sambil menyekap Feria.


"Jika kalian bergerak sedikitpun entah apa yang akan terjadi dengan wanita ini" ucapnya sambil menodongkan pistol ke kepala Feria.


"Katsura.. tolong... aku.." ucap Feria dengan lirih.


"LEPASKAN DIA BRENGSEK!" gertak Katsura sambil membuat bola api di tangannya.


Homura melirik ke Katsura dengan penuh siaga, dia tak mau istana negara menjadi area pertempuran.


"Jika kau ingin bertempur, akan kusiapkan dulu, Katsura, bersabarlah!" seru Arizawa.


Arizawa mengayunkan tangannya dengan cepat, tak sadar dia menggunakan sihir angin yang sangat kuat, bahkan mampu membuat meja kerja terbang ke luar jendela.


Pria itu mulai kehilangan keseimbangan dan mau melepaskan Feria.


Katsura yang sudah terlalu marah langsung memasuki mode gravitasi nya.


"KATSURA HENTIKAN! DIA SUDAH MELEPASNYA!" teriak Homura.


Katsura dengan cepat menerjang pria itu dengan pukulannya, namun ditahan oleh Homura.


"CUKUP!" Homura menggunakan sihir penetralan nya untuk membuat Katsura kembali sadar, tapi Ia malah pingsan.


"Dia sudah melepaskan Feria, lihat-" Homura kebingungan, pria itu dan Feria telah menghilang dari pandangannya.


"DISANA!" seru Aizo menunjuk keatas pohon.


"Kalian semua telah menghirup parfum ku, indera kalian sudah bermasalah sekarang. Aku akan pergi membawa wanita ini sebagai sandera" ucapnya.


"Sialan kau ini sebenarnya siapa?!" tanya Yubino kesal.


"Aku..? aku lupa memperkenalkan diri"


"Suzuwara Tohiko.. orang yang akan menghancurkan Viper sampai ke inti intinya" ucapnya dengan senyum jahatnya.


Setelah itu ia menghilang.


Bersambung...