
Nico berdiri dengan sempoyongan akibat luka nya yang walau sudah disembuhkan tetap membekaskan luka, dan dia pun mulai berbicara.
"Versace adalah seorang ilmuwan yang di usir dari tempat asalnya, yang ku tahu dia itu berasal dari planet lain dan dia benar-benar kaya. Bisa dibilang dia adalah orang terkaya di semestaku."
"Tunggu, planet lain?" Katsura menyela.
"Ya, bukan hanya bumi saja yang memiliki kehidupan makhluk hidup, di semesta kami ada sangat banyak planet yang dapat ditinggali. Ada banyak ras di setiap planet, dan Versace adalah ras yang paling langka karena dia paling mirip dengan manusia namun kecerdasan dan kekuatannya diatas mereka" lanjutnya.
"Anting emas yang dipakai olehnya adalah hadiah yang ia beli untuk seseorang namun tidak diterima. Harga sepasang anting itu bisa mencapai ratusan juta. Dan juga, dia memiliki beberapa planet dalam kekuasaannya."
"Dia menguasai planet?" Katsura menyela lagi.
"Ya, dan dia juga membeli penuh planet tersebut. Total nya dia menguasai 6 planet. Jadi sangat wajar jika dia memiliki sangat banyak pasukan."
"Kekuatan Versace tak se-dahsyat Ferus, namun kecerdikan dan kelicikannya membuatnya sangat sulit untuk dikalahkan. Sihir sejatinya adalah sihir kutukan, yang mana itu diturunkan dari keluarganya secara turun menurun."
"Namun, mengapa dia bisa sampai ke hadapan raja dan bisa menjadi pewaris takhta yang sah?"
"Kalau yang itu aku tidak tahu. Tanyakan saja ke orangnya langsung" balas Nico dengan sedikit bercanda.
"Kau ini.." Katsura sedikit kesal, namun mencoba tetap tenang.
"Jadi, ada apalagi tentangnya?" Katsura lanjut bertanya.
"Tidak ada lagi, hanya itu yang ku ketahui. Anggota Fourth Legacy memang sangat terkunci rapat dan sulit mendapatkan info mereka. Bahkan aku sampai sekarang tidak tahu bahwa temanmu Homura adalah salah satu anggota Fourth Legacy" ungkapnya tentang Fourth Legacy yang sangar rahasia.
"Jadi kau belum tahu itu?" Katsura sedikit kaget mendengar ungkapan Nico.
"Ya, dan bahkan sampai sekarang aku tidak tahu soal anggota ke empat mereka. Bisa jadi anggota ke empat sedang bersantai di istana" Nico berbalik.
"Jangankan Fourth Legacy, Escalivor saja aku tidak tahu banyak soal organisasi itu. Mereka ditempatkan di dekat ruangan raja dan tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangannya" tambahnya lagi.
Nico berbalik lagi dan menatap Katsura dengan serius, "Ayo Katsura, kita lanjutkan ini, ini belum selesai. Akan ku bantu kau sampai kau benar-benar siap" Dia pun menyiapkan kuda-kuda bertarungnya.
"Baiklah, bersiaplah!" Katsura kembali bersemangat.
Di sisi lain, di markas Feria yang baru saja siuman setelah pingsan dari hutan pun terheran-heran. "A-ah.. kepalaku.. pusing.. sekali.. ah.." rintihnya pelan.
"A-apa.. yang terjadi kala itu..? Homura.. dia..? dia..?" ucapnya, lalu tangisan deras turun dari matanya.
Feria menutupi mukanya dengan tangannya, menutupi tangis nya yang tidak terkendali sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa dan mengapa berulang kali.
Setelah cukup lama dia menangis, dia pun sadar bahwa itu bukanlah hal yang bisa diubah. Homura takkan kembali lagi, dia pun keluar kamarnya dan mencari Arizawa.
Arizawa berada diatas balkon di tempat Katsura tadi, dan dia menyadari ada seseorang yang sudah bangun.
"Hm? Feria? ataukah Aizo?" ucapnya yang lagi memandang langit bintang lalu berbalik ke arah belakang.
Arizawa pun turun dan melihat Feria yang sedang berjalan ke arah ruang tamu dengan badan yang lemas.
"Tunggu! apakah kau sudah bisa bergerak dengan benar?" Arizawa berlari menghampiri Feria.
"Tidak apa.. aku sudah mendingan sekarang.. dimana yang lain?" tanyanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
"Mental mu masih belum stabil, istirahatlah lagi. Yang lain sedang di luar, Aizo masih pingsan, Katsura sedang berlatih, Zeldris dan Yubino pergi ke luar lagi untuk memberantas musuh, Yukichi dia sekarat setengah mati, dan Cezo.. entah dia dimana sekarang" Arizawa menjelaskan lokasi rekan-rekannya.
"Oh.. begitu.. jadi dia pergi berlatih lagi, ya.. a-ah.. kepalaku.. sangat sakit.." katanya, lalu dia terjatuh pelan dan memegangi dahinya.
Arizawa membantu Feria berdiri dan bertanya, "Apakah kau ingin kembali ke kamar?"
"U-uh.. tidak.. aku mau disini saja.." jawabnya lirih, wajahnya berkeringat sekarang.
Arizawa juga memberikan segelas air putih untuk Feria, "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyanya.
"Setelah minum, aku jadi lebih baik.. sepertinya aku memang dehidrasi se parah itu" katanya.
"Baguslah kalau begitu" Arizawa tersenyum, namun tak lama kemudian ada seseorang yang mengetok pintu.
*tok tok tok
Arizawa menoleh, "Hm? masuklah"
Pintu pun terbuka dan terlihat Cezo sudah kembali dari kota penuh kekacauan.
"Cezo! bagaimana kondisimu?" Arizawa terlihat sangat senang melihat Cezo masih hidup.
"Aku baik-baik saja, namun ini yang harus kau lihat" Cezo melambaikan telapak tangannya ke samping sebagai isyarat suatu benda, dan itu adalah Zeldris yang sekarat di dalam gelembung milik Cezo.
"Zeldris!" teriak Arizawa gelisah, matanya terbuka lebar dan perasaannya sangat sangat khawatir melihat kondisi Zeldris sekarang.
Badannya hampir terbelah dua bagian, tangannya terpotong satu dan banyak goresan di wajahnya. Saat ini Zeldris sedang di kondisi koma.
"Aku melihatnya terbaring lemas di tengah-tengah kota, entah dia sedang menghadapi siapa sampai luka nya separah itu. Aku kira awalnya dia sudah mati, namun dia masih berusaha bernafas dan bergerak sedikit demi sedikit entah ingin mencapai mana" jelasnya tentang bagaimana Cezo menemukan Zeldris.
"Saat ini kondisinya sangat parah, aku akan membawanya dan merawatnya. Kita tak bisa membiarkan Zeldris mati sekarang" tambahnya, wajahnya semakin kesal.
"Omong-omong, apakah kau sudah tahu tentang Homura?"
"Sudah, aku mendapatkan informasi dari alat-alat ku yang ada di helikopter Versace. Aku tahu semuanya bahkan pertarungan Homura dengan Yukichi. Aku rasa Zeldris melawan si monster itu" jawabnya, serta asumsinya terhadap kondisi Zeldris sekarang.
"Monster? maksudmu Homura?"
"Bukan, tapi Versace."
"Tch. Kapan peperangan ini akan berhenti berkecamuk.. aku hanya ingin damai.." Arizawa mengeluh, dan dia sangat kesal.
"Bersabarlah, Arizawa. Aku yakin Katsura akan membantu kita menangani ini. Dah ya, aku akan ke lab" kata Cezo sebelum dia pergi.
"Tolong sekalian dengan Yukichi, dia juga kondisinya sama dengan Zeldris" pinta Arizawa.
Cezo hanya mengangguk dari kejauhan.
Arizawa menghembuskan nafas berat, lalu dia duduk di sebelah Feria.
"Hey Arizawa, apakah kau tahu Katsura berlatih dimana?" tanya Feria.
"Aku tidak tahu, aku hanya merasakan getaran energi saja dari sini, dia pasti berlatih sangat jauh. Namun aku merasakan energi yang familier.." katanya.
"Untuk apa dia berlatih?"
"Dia akan memantapkan mentalnya untuk melawan Homura langsung. Kita hanya bisa menunggu saat dia selesai."
"Begitu, ya.. Jadi dia akan membunuhnya.." Feria tampak murung dan semakin sedih.
"Lupakanlah, Feria. Kita harus tetap maju, jangan sesekali menoleh kebelakang. Biarkan yang terjadi sudah terjadi. Kita akan membantu Katsura 9 hari lagi, peperangan akan segera dimulai, kurasa kita juga sebaiknya berlatih."
"Baiklah, ketua."
Bersambung...