Destiny Holder

Destiny Holder
Keputusan Katsura, Nico Adalah Rekan



"Senjata.. Dari sihir? apakah hal seperti itu bisa terjadi?" Katsura bertanya, matanya menyala penuh harapan.


"Kau pernah menyerangku dengan pedang petir, masa kau lupa?"


"Tidak, bukan seperti itu maksudku. Maksudku adalah, apakah ada senjata yang benar-benar permanen yang terbuat dari sihir? kalau pedang petir itu hanya bertahan sampai energiku terkuras saja. Apakah senjata itu juga bisa tetap digunakan meski aku tak mempunyai secuil sihir?" tanya Katsura lagi, dia sedang bersemangat.


"Tentu ada. Contohnya ada pada Energy Sword, kau tahu, kan?"


"Tunggu, Energy Sword terbuat dari sihir? kukira itu adalah pancaran energi plasma yang terbuat dari dalam pegangan pedang. Karena dalam penelitianku bersama Homura, itu jelas-jelas sangat mirip dengan energi plasma."


"Ya, senjata itu dibuat oleh Kuro, mantan tingkatan ketiga. Sihirnya adalah sihir plasma. Karena dia telah pensiun, makannya ia memproduksi aecara masal senjata itu."


"Sihir bisa sama persis dengan yang asli? aku masih tidak percaya itu" kata Katsura pelan.


"Tch kau ini, Sebuah sihir sudah pasti akan menyerupai aslinya, apalagi jika sihir itu telah memasuki tingkatan sihir sejati. Akan sulit jika melawan orang yang ada di tingkatan sihir sejati, dan dia sangat pintar. Bisa jadi mereka mereplika semuanya dan mempermainkan lawannya seperti sebuah boneka."


"Dari kemarin aku kerap mendengar soal sihir sejati lah, sihir itu lah, apakah kau bisa menjelaskan hal itu?" pinta Katsura lagi.


"Kau sudah sampai di tahap sihir sejati tapi kau tak mengetahui sejarahnya? cukup aneh, sih."


"Maka dari itu aku bertanya, apa itu sihir sejati?"


"Kita mulai dari awal dulu, pertama adalah mana. Kau pasti sudah paham tentang mana ini, mana adalah sumber energi sihir, dan menjadi sebuah syarat seseorang jika ingin mempunyai sihir."


"Mana ada dimana-mana. Di sekitar kita, di seluruh bumi, galaksi, alam semesta, bahkan Creosphere. Mana menjadi hal yang dasar bagi orang yang mempunyai sihir."


"Jika sudah mempunyai mana, biasanya seseorang akan membangkitkan salah satu sihirnya, tergantung momen yang ia dapat. Emosi dan mana, mereka berdua saling berhubungan. Jika emosi meningkat atau menurun, maka aliran mana akan menyempit dan membludak keluar. Ini yang terjadi saat kau melawan aku, Katsura" Nico menatap Katsura, lalu ia melanjutkan penjelasannya.


"Mana selain bisa digunakan untuk membuat sihir, bisa juga untuk merasakan keadaan di sekitar, ataupun menguatkan kekuatan fisik pengguna. Itu semua tergantung pemakai."


"Sekarang kita masuk ke tingkatan sihir, yang mana terbagi menjadi tiga bagian. Cara agar bisa meningkatkan tingkatan sihir adalah dengan berlatih, atau bisa dengan menggunakan terus menerus. Tidak berlaku untuk sihir sejati."


"Lalu masuk ke tingkatan yang pertama, ada sihir standar. Sesuai namanya, sihir standar adalah sihir yang sangat mendasar bagi seorang pemula, sihir ini sangat mudah untuk diamati, karena pengguna sihir standar ini sudah dipastikan hanya dapat menggunakan sihir elemen dasar saja. Misalnya seperti sihir api, angin, air, listrik, dan tanah."


"Sihir ini adalah sihir pagi para pemula yang baru saja membuka sihir mereka, jika mereka sudah sangat terbiasa dan menguasai sepenuhnya sihir di tingkatan ini, maka mereka akan masuk ke tingkatan selanjutnya, yaitu tingkat lanjutan."


"Mereka yang masuk ke tingkatan ini ditandai dengan berevolusinya sihir mereka menjadi 5 kali lipat lebih kuat dari biasanya. Dan mereka juga membuka sihir baru, yaitu cahaya dan kegelapan. Mereka yang masuk ke tingkatan ini sudah pasti terampil dalam menjaga mana dan stamina, maka kau harus mulai berhati-hati jika menghadapi seorang tingkatan lanjutan."


"Sekarang kita masuk ke topik utama, sihir sejati. Ini adalah kondisi ketika sang pengguna mengetahui jati diri aslinya, dan menerima dirinya. Setelah itu, mana akan berevolusi dan menjadikannya sihir yang merepresentasikan dari hati sang pengguna, biasanya jenis sihir mereka juga tercermin dari situ."


"Ciri ini paling mencolok dari semuanya, karena tipe sihir yang didapatkan dari sihir sejati ini adalah sihir yang mandiri, atau hanya ada satu pengguna. Dan juga sihir ini diluar dari lima sihir elemen dasar dan sihir cahaya atau kegelapan. Jika kau menemukan sihir diluar tujuh tadi, maka sudah pasti ia adalah pengguna sihir sejati" urai Nico.


"Seperti sihir atom Showa, dan sihir gravitasi milikku?" Katsura menyimpulkan.


"Tepat, ditambah, pada dirimu itu terdapat suatu hal yang sangat aneh, kau mempunyai dua tipe sihir sejati, yang mana ini sudah berlainan dari hukum semesta. Sihir waktu dan gravitasi, kedua sihir yang sangat kuat, terutama sihir waktu. Sihir waktu biasanya diwarisi hanya kepada tingkatan kedua di kerajaan."


"Jadi, maksudmu aku adalah seorang yang melanggar hukum alam?"


"Ya, didalam sejarah tidak pernah tercatat ada orang yang mempunyai dua tipe sihir sejati. Entah darimana kau mendapatkannya."


"Sihir waktu harusnya bisa digunakan meski kau tidak mempunyai mana, atau saluran mana mu tersumbat. Karena pada dasarnya sihir waktu itu tidak berhubungan dengan mana lagi, dia sudah diluar konsep energi. Asal kau tahu dan mengingat rasa saat kau menggunakan sihir itu, kujamin kau bisa melakukan sihir waktu lagi."


"Apa kau yakin? sihir waktu yang melindungi tubuhku hancur dilahap oleh sihirmu, kukira tak akan bisa kembali lagi."


"Coba saja dulu, coba kau pulihkan batang pohon yang rubuh disana, kembalikan di waktu pohon itu belum rubuh" Nico menunjuk ke arah pohon yang tumbang.


Katsura berjalan ke arah pohon itu, dia berdiri dan memejamkan matanya sambil membayangkan saat dia menggunakan sihir waktunya.


"Mm..Mmm...." gumamnya.


Katsura mengangkat dan membuka telapak tangannya ke arah pohon yang tumbang, lalu secara mengejutkan aura hijau muda keluar dari tangan Katsura menuju pohon itu.


Pohon itu kembali ke semula, disaat sebelum rubuh karena ditinju Nico.


"Lihat? apa kataku, kan" ucap Nico.


Katsura membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia melihat pohon yang dihadapannya kembali seperti semula.


"Kau.. Memang jenius, Nico!" puji Katsura gembira.


"Terimakasih untuk pujiannya, namun aku rasa tak pantas mendapatkan pujian itu, temanmu Homura jauh lebih cocok mendapatkan pujian itu" balas Nico dengan tersenyum kecil.


"Terimakasih untuk bantuanmu, berkat kau aku jadi percaya diri jika ada yang datang menyerang lagi."


"Jadi kau sudah percaya kepadaku? sekarang saatnya kau mencari cara untuk membuat senjata dari sihir murni."


"Apakah kau bisa membuatnya?"


"Tentu tidak, hal itu harus dibuat dari sang penempa handal dan berwawasan luas akan senjata, sedangkan aku tidak" kata Nico.


"Tunggu..." Katsura memikirkan sesuatu, lalu terpikirkan Suizei di benaknya.


"Suizei?" katanya.


..."Dia berencana untuk membuat senjata terkuat di alam semesta, dan dia menjelajahi luar angkasa untuk mendapat bahan yang ia perlukan."...


Katsura mengingat perkataan Arizawa, lalu dirinya mulai terbang perlahan.


"Mau kemana kau?" tanya Nico.


"Aku akan mencari keberadaan rekanku yang ahli membuat senjata. Setelah ini aku akan datang lagi kepadamu" Katsura semakin tinggi dan meningkatkan kecepatannya.


"Baiklah kalau begitu, semoga beruntung."


"Terimakasih."


Bersambung...