Destiny Holder

Destiny Holder
Strategi Homura



Katsura yang sebelumnya sudah pasrah dengan takdirnya, tiba-tiba dia disinari oleh cahaya harapan yang diberikan oleh Homura.


Katsura yang kehabisan energi dan stamina menoleh ke arah Homura di samping, dia tersenyum lalu memejamkan mata.


Homura datang bersama Arizawa, Aizo, Yubino, dan Zeldris. Sisanya menetap di markas karena Homura menyuruh mereka untuk menyusul nanti.


Tinjuan Ferus masih tertahan oleh tali Homura yang menembus kepalan tangannya.


"Ini jenis sihir yang tak pernah kutemui sebelumnya, kau pasti orang yang spesial" kata Ferus.


"Aku merasakan bahwa aku tak bisa mengeluarkan sihir atau energi di tangan kananku yang sedang tertusuk, ini pasti sihir penetralan" tambahnya.


"Tepat sekali, disaat lawan menyentuh sihirku, mereka juga tidak akan mampu menggunakan sihir sama sekali" kata Homura dengan sedikit sombong, dia merasa hebat karena telah diakui oleh Ferus.


"Benarkah begitu?" Ferus tersenyum licik.


Homura merasakan sesuatu yang jahat, matanya terbuka lebar ke arah Ferus.


Ferus mengangkat tangan kirinya.


..." Darkness Blast! "...


Dari telapak tangan Ferus, tercipta sebuah gelombang kegelapan yang sangat pekat dan kuat, dengan cepat serangan itu mengarah ke Homura.


Homura yang sudah menyadari itu lebih dulu sudah mempersiapkan apabila serangan miliknya gagal.


..." Holy Wall "...


Sesaat sebelum serangan Ferus melahap Homura, dirinya menciptakan sebuah penghalang yang terbuat dari sihir penetralannya. Dan serangan Ferus pun lenyap.


"Wow benar-benar mengagumkan. Sihir penetralan asli. Baru kali ini aku melihatnya. Ditambah kau juga sangat unik" Ferus dengan sangat cepat sudah berada di samping Homura saat dia berbicara.


Homura tak bisa menoleh ke samping, seluruh badannya terkunci seketika. Dia merasakan ancaman dari tubuh Ferus keluar, dan itu membuatnya ketakutan sampai berkeringat.


"Sihirmu ini benar-benar menarik dan unik, semua jenis sihir seperti elemen dasar sudah di konversi langsung menjadi penetralan. Jadi jurusnya tidak berubah, hanya saja komposisi yang diperlukan berbeda."


"Jika orang normal membutuhkan sebuah mana, kau mengubah mana milikmu terlebih dahulu menjadi energi penetralan, lalu baru digunakan menjadi sebuah sihir. Selama beribu-ribu tahun aku tak pernah menemukan kejadian seperti ini."


"Apakah itu sejatinya dari dalam dirimu? atau mungkin.. Ada bantuan dari luar?" Ferus menatap Homura dengan tajam.


Homura yang panik tak bisa mendengar seluruh perkataan Ferus, dia kerap memikirkan bagaimana caranya ia bisa kabur dari situ sementara anggota yang ikut bersamanya sedang mengevakuasi warga setempat.


Homura menggunakan sihirnya untuk melepas efek yang diberi Ferus, namun itu percuma karena efek yang sedang Homura rasakan saat ini adalah murni karena keberadaan Ferus didekatnya. Hal ini membuatnya semakin panik karena energi Ferus tak kunjung bisa dirasakan juga.


"Ya ampun kau se panik itu, ya? padahal aku hanya berbicara denganmu, lho."


"Bagaimana tidak panik jika berbicaranya dilakukan dengan cara seperti ini. Dasar monster!" kata hati Homura.


"Sepertinya kau kesulitan bergerak, padahal kau sudah cukup hebat bisa menyerangku tanpa terdeteksi sedikitpun olehku" Ferus mendekati Homura dengan tatapan tajamnya.


Homura merasa lebih terancam, namun tiba-tiba pijakan dirinya dan Ferus hancur akibat dipukul oleh seseorang.


Ferus terjatuh sementara Homura diangkat dan dibawa kabur. Setelah Homura bisa bergerak kembali, yang membawanya pergi adalah Aizo. Dia lebih dulu selesai mengevakuasi warga setempat.


Aizo membawa Homura ke tempat Katsura pingsan, dan dia juga sekalian membawa Katsura ke tempat yang lebih aman beserta Homura.


Sesampainya di tempat yang dirasa cukup jauh dari lokasi Ferus, mereka merencanakan sesuatu terlebih dahulu.


"Terimakasih, Aizo, tanpamu mungkin aku sudah mati disana" Homura sangat berterimakasih.


"Tak usah dipikirkan, jadi, bagaimana si Ferus itu?" tanya Aizo.


"Dia menyeramkan, bagai mimpi buruk sungguhan. Saat dia mendekatiku aku tak bisa bergerak sama sekali, bahkan menoleh pun aku tidak bisa. Ditambah itu bukan sihir, tapi efek dari keberadaannya."


"Benar-benar menyeramkan. Jadi, kita pergi melawannya sambil menunggu Katsura kembali pulih begitu?" tanya Zeldris.


"Ya, dan juga menunggu tim markas untuk menyelesaikan penelitianku. Dengan adanya Cezo disana, aku yakin akan cepat selesai" ujar Homura.


"Aku akan menyusun rencana, pertama-tama yang maju digaris depan adalah Aizo dan Zeldris, sementara Yubino kau bertugas untuk mencari celah saat Aizo dan Zeldris bertarung melawan Ferus."


"Dan aku akan berada di garis belakang untuk membuat jurus pamungkas ku. Sihir penetralan biasa tak cukup untuk membuatnya tak dapat menggunakan sihir."


"Tunggu, apa maksudmu?" Arizawa menyelak.


"Kubilang dia tak bisa dinetralkan. Walau hanya sementara, namun itu tak cukup untuk mengalahkannya. Tadi saat Ferus ingin meninju kepala Katsura dengan sihirnya, setelah kutusuk tangan kanan itu dengan sihirku, dia tak bisa menggunakan sihir dari tangan kanannya."


"Lalu?" Arizawa menyela lagi.


"Jadi kau mau kami jadi umpan?" Zeldris sedikit khawatir.


"Ya, jangan terlalu dekat dengan dia, serang dari jarak jauh saja. Tahan sekitar 6 menit lalu aku mungkin sudah siap. Apakah kalian siap?"


"Tentu, mari kita lakukan ini" Yubino melangkah maju dan berani.


"Kita ambil posisi" Semuanya maju sesuai rencana Homura.


Dengan agresif, Zeldris menyerang Ferus ketika dia melihat untuk pertama kalinya.


..." Lightning Bolt! "...


Bola listrik ditembakkan secara acak, Ferus menggenggam satu bola listrik yang datang kepadanya, setelah bola yang digenggam nya hancur, bola yang lain juga hancur, termasuk yang masih ditangan Zeldris.


..." Juryoku No Ikari! "...


Aizo mengkopi kekuatan Katsura, dia melemparkan bebatuan yang sudah terkena efek dari sihir gravitasinya.


"Kekuatan mengkopi orang lain? menarik.. Kalian semua benar-benar menarik!" teriak Ferus kesenangan.


"Sepertinya akan kunaikkan sedikit kekuatanku, sebagai hadiah untuk kalian."


..." 11 Persen "...


Angin berhembus dari tubuh Ferus, walau tidak terlalu kuat namun cukup membuat Aizo dan Zeldris gemetar.


"Tidak ada waktu untuk gentar!" seru Zeldris.


..." Thunder Strike! '...


Dengan cepat Zeldris meninju dari samping kanan Ferus, diiringi dengan Aizo juga yang meninju dari samping kiri, Ferus menahan keduanya dengan masing-masing satu jari saja.


"Apa yang-" kata Aizo dan Zeldris bersaman.


..." Demon Touch "...


Aizo dan Zeldris terpental sangat jauh setelah Ferus merapalkan jurus, setelah itu Yubino pun menyerang.


..." Wrath Of Phoenix! "...


Burung Phoenix yang besar mengarah ke arah Ferus yang baru saja menyerang. Tapi serangan itu ditahan dengan satu tangan saja.


Secara tiba-tiba Zeldris sudah ada dibelakang Ferus dengan sebuah pedang petirnya.


"Dia cepat" Ferus menoleh kebelakang.


Zeldris tak ingin terlalu lama didekat Ferus, jadi dia hanya menebas punggungnya saja. Dan itu membuat luka untuk Ferus.


Setelah itu Zeldris langsung mundur kembali ke sisi Yubino.


"Kerja bagus!" puji Yubino.


"Sebentar lagi.. Tahanlah teman-teman" ucap Homura.


Phoenix milik Yubino telah lenyap, Phoenix miliknya tak cukup kuat untuk menahan tekanan keberadaan dari Ferus.


"Sepertinya kalian tidak boleh kuanggap main-main biasa" tatapan matanya mulai serius.


Sementara itu, Katsura pun akhirnya membuka matanya.


"Dimana aku? dimana Ferus?!" katanya.


"Hei tenanglah, kau sudah kehabisan energi, beristirahat dulu sebentar" Arizawa menenangkan Katsura.


"Loh ternyata dia tak sendirian?" kata Katsura.


"Ya, setelah mendengar cerita dari Karma mana mungkin dia pergi sendirian."


"Karma? dia kembali lagi?"


"Ya, dan dia memberi banyak informasi."


Bersambung...