
Hujan deras membasahi seluruh area penampungan, ada dua orang yang bertengkar berebut makanan, kedua orang itu menjadi pusat perhatian bagi semua orang.
"Dasar kau! ini milikku!" salah satu pria itu memukul anak kecil didepannya tepat di kepala, membuat sang anak terjatuh dan menangis.
Ibu dari sang anak tidak terima dengan wajah yang menahan amarah dari tadi akhirnya bisa meluapkan emosinya. Ibu itu memukul balik pria didepannya hingga hidungnya berdarah.
Pria itu semakin marah dan marah, saat dia maju untuk memukul lebih keras, Felix datang di tengah-tengah kedua orang itu dan menahan pukulan pria itu.
Felix datang dengan tidak memakai tudungnya, wajahnya mulai basah terkena air hujan, tatapan matanya tajam seperti biasa.
"Siapa kau ini?!" ujar pria itu dengan nada yang kesal.
"Hentikan semua ini, bodoh" Felix melepas genggaman tangannya dan mendorong pria itu menjauh.
Penyebab mengapa pria itu marah adalah karena sang anak selalu mencuri satu roti miliknya setiap hari, karena sudah tak bisa menahan amarahnya, akhirnya pria itu bertindak.
"Dia mencuri rotiku setiap hari! bagaimana bisa aku tenang jika persediaan makan disini semakin menipis?! aku juga punya keluarga untuk dinafkahi!" ujarnya lagi dengan lantang, menyentak semua yang mendengarnya termasuk sang ibu dan anak.
"Alice.. kita ini sudah bukan suami istri lagi jadi enyahlah dari hadapanku, aku sudah muak denganmu" pria itu berdiri dan mengusap bahunya.
Felix dengan tenang mendengarkan, lalu ia pun berkata, "Aku mengerti, namun jika terus seperti ini terus kalian takkan bisa bertahan hidup lebih lama" Felix kemudian meraih sesuatu di saku miliknya dibalik jubahnya.
Felix mengambil kartu kredit miliknya dan di berikan kepada pria itu. "Ambil ini dan gunakan baik-baik" ucapnya.
Pria itu pun sangat terkejut, walaupun dia baru saja mengacaukan suasana, namun dia tidak berhak mendapatkan sesuatu se berharga itu. "T-tidak usah, kalau begitu akan kubagi saja roti milikku dengannya-"
"Tidak, pakai saja ini. Disini terdapat banyak sekali uang yang bisa kalian pakai, kalian bisa gunakan sesuka kalian. Namun sebagai gantinya, aku perlu syarat untuk kalian tukarkan" wajah Felix menjadi semakin serius, tatapannya yang tajam seperti bisa membunuh orang.
...****************...
Bagian badan atas Katsura terpisah dari badan bawahnya secara diagonal, saat Katsura menyadari hal itu membuatnya sangat kaget.
Dia bukan terkejut karena akan mati, namun dia terkejut karena baru kali ini ada seseorang yang mampu melampaui kecepatan reaksinya sejauh ini, dan bahkan saat Zero menebas Katsura, dia tak melihat atau merasakan apapun sama sekali.
Zero melihat kebelakang dengan tatapan yang seolah mengejek, namun sebenarnya dia sedang mengetes sesuatu.
Tentu Katsura tidak akan mati semudah itu, tubuh nya menyatu kembali dengan sihir waktu, ketika Zero melihat aura hijau di sekitar tebasan yang ia berikan kepada Katsura, dia langsung tahu sihir apa yang Katsura gunakan.
"Itu mengejutkan" ucap Katsura setelah tubuhnya pulih kembali.
Katsura mencoba menganalisis dengan nomor dua yang terukir di wajah Zero, dia terus berpikir apa arti nomor itu.
"Itu takkan terjadi lagi" tambahnya, dan Katsura pun menguatkan aura Golden Orb-nya sampai terlihat kembali di sekitar tubuhnya.
"Kau punya mata yang unik" Zero mengedipkan satu matanya dan memetik jarinya, dan disaat itu juga Katsura reflek menghindar ke kanan.
Tebasan yang gila besarnya tercipta di dinding kastil, membuat Katsura lagi-lagi terkejut.
Tatapan mata Zero menjadi seperti bermain-main, dengan nyengiran di wajahnya, dia mulai berjalan ke depan perlahan.
Aura ungu gelap mulai bertebaran di sekitar tubuh Zero, Katsura yang melihat itu bereaksi dengan menciptakan tiang-tiang cahaya di setiap sisi tubuh Zero.
Setelah beberapa saat, keempat tiang cahaya itu menyala dan menghubungkan dengan yang lainnya dan menjulang tinggi keatas, menembus atap kastil sampai ke langit.
Zero terkena serangan langsung, namun dia selamat tanpa luka apapun, berjalan keluar pilar cahaya yang sedang melenyapkan apapun yang menghalanginya.
Katsura tidak terkejut dengan itu, karena dia tahu bahwa serangan itu pasti takkan bisa menumbangkannya.
"Bagaimana dengan ini?" Katsura mulai memposisikan Crescent Deluz-nya menghadap ke Zero.
Zero semakin bersemangat melihat kuda-kuda Katsura, dia pun membuka pertahanannya seakan dia siap untuk mati. Dia juga merentangkan tangannya lebar-lebar.
Katsura menarik nafas, lalu dia melemparkan Crescent Deluz-nya ke arah Zero, Crescent Deluz itu berputar sangat kencang dan kuat, namun Zero berhasil mematahkan gagang tengah Crescent Deluz menjadi dua bagian, sehingga putaran Crescent Deluz itu tidak mengenai nya.
Namun, Crescent Deluz yang telah terpotong itu terus berputar di masing-masing sisi nya sampai mengenai dinding di belakang, Katsura melompat maju dengan pedang aura Golden Orb di tangannya, mengayunkannya secara vertikal dari atas ke bawah.
Zero lengah, dia menahan serangan Katsura dengan kedua telapak tangannya yang menyentuh energi itu secara langsung, biasanya aura Golden Orb pasti akan melenyapkan apapun yang ada disekitarnya, namun Zero menahan aura itu dengan tangan kosong.
Katsura terus mendorong pedangnya dengan sangat kuat, Zero pun sedikit kewalahan, wajahnya terlihat tertekan menahan serangan Katsura dalam jangka waktu yang lama.
Katsura akhirnya memutus serangan itu dengan menendang perut Zero agar menjauh, dengan cara itu pertahanan Zero terbuka lebar.
Katsura memanfaatkan itu dan melompati angin untuk menerjang Zero, namun kecepatan reaksi Zero melebihi Katsura, dia terlebih dahulu bangun dan dia mencoba menahan pedang Katsura lagi, namun dengan satu tangannya.
Pedang Katsura bertemu dengan tangan Zero lagi, namun kali ini Zero lebih bersiap, aura ungu miliknya keluar dari tangan yang menahan pedang Katsura.
..." Repulsión! "...
Aura ungu di tangan Zero menghasilkan serangan berupa energi besar yang mendorong Katsura sangat jauh, dinding kastil miliknya berlubang cukup lebar.
Pedang Katsura terkikis akibat peraduan energi yang sangat kuat, pedangnya kini menjadi setengah saja.
"Sialan" gerutunya, lalu dia mengembalikan wujud pedang itu menjadi aura Golden Orb di sekeliling tubuhnya.
Dari tempat Katsura terlempar, lebih tepatnya di bolongan kastil Zero masih terdapat asap yang cukup tebal. Dari sana, Zero menembakkan bola-bola energi ungu gelap dalam jumlah banyak.
Katsura tak menghindar, dia mengeluarkan Juryoku No Ikari disaat yang bersamaan dengan Golden Orb, jangkauan manipulasi gravitasinya semakin luas.
Saat bola energi itu mendekati Katsura, bola nya terhenti total oleh gravitasi Katsura, dia berhasil mengambil alih seluruh serangan Zero yang barusan dilancarkan.
Katsura membuka lengannya dan melancarkan serangan Zero kembali padanya.
Namun diluar dugaan, serangan itu bukannya menyerang Zero dan kastilnya, bola energi itu justru meledak ditempat.
Katsura tak terkena ledakannya, dia melindungi dirinya sendiri dengan perisai energi miliknya. Saat dia melihat bayangan orang berjalan dari kejauhan, dia bersiap-siap untuk mematikan perisainya.
Namun, Zero lagi-lagi memberikan kejutan untuk Katsura. Dari tempatnya saat ini, dia melancarkan tembok energi lurus ke depan dengan sangat cepat, menembus perisai Katsura dan bahkan membuat Katsura harus kehilangan bagian kanan tubuhnya.
Bersambung...