
"Dari mana kau dapat semua informasi itu? aku yakin itu bukan informasi sembarangan" tanya Homura penuh rasa curiga.
"Kau sudah lupa? aku ini intel, tahu. Aku tahu hampir seisi kastil dan juga para anggota nya. Dan semua yang kuceritakan tentang Ferus itu sudah semuanya. Aku tak bisa menggali informasi lebih banyak lagi soal itu" jawab Karma.
"Jika informasi yang kau bilang barusan itu semuanya benar, maka kita harus memikirkan cara yang baru untuk mengalahkannya. Kit-"
"Ah tidak usah pusing soal itu terus-terusan! masalah kalian bukan hanya dari Ferus, ataupun semesta ku. Sebentar lagi mungkin kalian akan menghadapi masalah internal dari kalian sendiri" Karma menyela dengan nada tinggi, lalu berbalik badan.
"Apa yang kau maksud?" Arizawa membuka matanya.
"Tak tahu" kemudian Karma menjadi butiran debu, menyatu dengan angin.
"Orang itu benar-benar misterius. Sebenarnya dia ada di pihak mana, sih?" ucap Zeldris sambil melihat bintang yang bersinar di langit malam.
"Bukan di pihak kita, namun juga bukan di pihak musuh. Lebih baik kita membawa semuanya ke markas dan membicarakannya disana baik-baik." suruh Homura.
"Apakah kita kuat membawa mereka? keadaan kita juga sedang tidak baik-baik saja" ujar Aizo.
Homura kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya, sebuah benda berbentuk kubus yang sangat kecil, seukuran dengan krikil.
"Kita mempunyai ini" katanya sambil melemparkan benda itu ke atas dan mengaktifkan benda itu.
Kubus itu menjadi besar dan cukup untuk menampung semua orang yang ada disitu.
Semua orang yang ada disana tertimpa kubus Homura, namun itu tak melukai mereka. Mereka justru menembus nya dan langsung berada didalamnya.
"Apa ini?" tanya Feria dan Cezo bersamaan.
"Kita pergi sekarang" kubus itu kemudian menghilang dalam sekejap, dan muncul didalam markas.
Sesampainya di markas, kubus itu perlahan menghilang. Itu adalah alat teleportasi terbaru buatan Homura. Namun hanya bisa sekali pakai.
"Wah, ternyata bisa langsung teleportasi!" ucap Aizo kagum.
"Cepat berikan perawatan bagi Yubino dan Katsura. Dan suruh juga bawahan Showa yang tersisa untuk mengobati mereka. Kusarankan agar tetap diawasi salah satu dari kita" ujar Homura.
"Biar aku saja yang mengawasi" Feria mengajukan diri.
"Baiklah, untuk yang lainnya, istirahat seperti biasa saja. Kita tak tidur semalaman untuk menghadapi Ferus itu. Dan sekarang sudah pukul lima pagi" kata Homura, lalu dia masuk ke kamarnya.
Feria berlari ke ruangan Katsura dirawat, dia disana rela menunggu disamping Katsura hingga dia bangun. Sambil melihat wajahnya dan memuji-mujinya terus menerus.
Tanpa disadari, air mata Feria tiba-tiba menetes dan mengenai dahi Katsura. Seketika Feria bingung dan bertanya pada dirinya sendiri, "Mengapa aku menangis, ya?"
"Aku mencintainya terlalu dalam."
Di sisi lain, Azashi yang tak kunjung pulang malah berada di sebuah gedung bekas yang tak berpenghuni. Gedung itu seperti bekas pabrik tak terpakai, tempatnya sangat kumuh dan bau. Bahkan ada garis polisi di pintunya.
Azashi mendekat ke pintu itu dan merobek garis polisi nya. Pintu itu terbuka dan menunjukkan alat-alat yang telah berkarat sepenuhnya.
Banyak serangga yang menjadikan tempat itu sebagai markas mereka, bahkan Azashi juga menemukan markas kecoak.
"Aku benci kecoak" Azashi melemparkan sebuah bola api untuk membakar habis semua kecoak itu.
Lalu tiba-tiba sebuah jarum angin dengan kecepatan yang sangat kencang menyerang Azashi dari arah jam 10.
Seolah itu tahu akan terjadi, Azashi lebih dulu menghindar dan jarum itu mengenai pipa berkarat dibelakangnya.
"Yo! sudah lama ya" terdengar suara orang menghantam lantai atas.
Azashi menatap arah suara itu dengan tatapan sinis, dan terlihat sebuah pria yang berdiri di lantai atas.
Dengan pakaian ala anak punk, baju bekas dan celana jeans yang robek. Disertai dengan senyuman anehnya.
"Jangan menatapku begitu, aku merasa tidak aman" ucap Azashi kesal.
"Oh ayolah, kita ini teman lama, kan?" pria itu juga menunjukkan pedang kecilnya yang sedang ia putar dengan tangan kirinya.
"Kau tak berubah, ya, Hiromi. Masih saja suka memainkan pedang karatan itu" ucapan Azashi sedikit menusuk.
"Ahaha, apa maksudmu sialan? lagipula, apa yang membawamu kemari? butuh bantuan kami lalu mencampakkan kami lagi? aku menolaknya, terimakasih" balasan Hiromi cukup mengejutkan.
"Kali ini aku butuh bantuan kalian. Benar-benar bantuan. Atau aku juga bisa berpihak pada kalian" tawar Azashi.
"Apa? menjadi pihak kami? maaf saja tapi kami tak bisa menerima anggota Viper lagi. Mantan dari organisasi itu sudah banyak. Silahkan pergi" Hiromi menolak mentah-mentah.
Azashi memasang ekspresi kesal, dia merasa dirinya dipermainkan.
"Kau sedang bercanda, kan?"
"Untuk apa aku bercanda? apa untungnya jika akun bercanda sekarang? pergilah. Kami tak membutuhkan anggota dari organisasi sampah."
"Dilihat-lihat kau menggunakan kaki buatan sihir, apa yang terjadi dengan kaki itu? ditambah lubang di dadamu juga" Hiromi sedikit menyinggung soal luka Azashi.
Luka Azashi memang cukup fatal, namun dia bisa menggunakan sihirnya untuk merekonstruksi bagian tubuhnya yang hilang. Jadi walau kakinya saat ini sudah buntung dipotong oleh Arizawa, dia masih bisa berjalan layaknya orang normal karena sihirnya.
Walau bagian yang direkonstruksi itu tak sama dengan warna kulit, melainkan warna oranye kemerahan. Jadi mudah diketahui oleh siapapun yang melihatnya.
"Kudengar omongan mu makin pedas, ya" Azashi semakin kesal, tatapannya menjadi tajam.
"Apa yang terjadi dengan organisasi sampah itu setelah kedatangan 3 bocah ingusan yang tak tahu apapun? Aku yakin sebentar lagi itu akan hancur."
"Kalau begitu pemikiran kita sama. Ayo kita hancurkan bersama" omongan yang mengejutkan terucap oleh mulut Azashi.
Hiromi dari yang tadinya hanya menyepelekan semua omongan Azashi, menjadi lebih memerhatikan nya.
"Tunggu, kau apa?"
"Aku bilang, ayo kita hancurkan organisasi itu bersama. Makannya aku butuh bantuan kalian" ajaknya lagi.
"Hahh.. Kau pikir kami tak tahu kedatangan 3 bocah ingusan itu membawa Viper ke langit? kekuatan bocah itu sudah gila. Walau satu mati saat misi, namun kedua bocah lainnya sangat kuat. Lain kali jika ingin meminta bantuan, pikir dulu pakai otak" lagi-lagi Hiromi menolak.
"Aku meminta kesempatan ini karena yang terkuat sedang tak sadarkan diri dan kehabisan stamina setelah pertarungan semalam. Aku yakin kau pasti menontonnya dari sini" Azashi terus membujuk.
"Kekuatan kami takkan cukup, dan jumlah mereka lebih daripada kita. Dan juga ada Homura di pihak mereka. Kita kalah dari segi kekuatan, dan juga kecerdikan."
"Tak apa, semuanya masih kelelahan akibat pertarungan semalam. Aku mempunyai rencana yang bagus, dengarkan aku" tatapan mata Azashi menjadi semakin serius.
Hiromi menatapnya dalam diam, lalu dia pun menghela nafas dan memanggil keseluruhan anggota nya.
"Baiklah baiklah, kami akan membantumu lagi. Namun ingat, rencana ini harus berhasil, oke?" tujuh anggota yang lainnya muncul dibalik kegelapan, mereka semua ditutupi oleh jubah dan bayangan.
"Sekarang katakan rencana itu, kami mendengarkan."
Di sisi lain, Katsura akhirnya membuka matanya, dia sudah sadar.
Bersambung...