
"Bukan begitu, The Demon Prodigy?"
Ungkap Aizo yang membuat Felix membuka matanya lebar-lebar karena terkejut, karena dia kira julukan lamanya sudah hilang.
"Aku terkejut kau masih mengingatnya, bahkan setelah aku menghilang. Yah walaupun itu hanya julukan sebagai pujian, sih" Felix menghela nafasnya lalu dia berbalik ke arah Aizo.
Julukan Felix didapat ketika ia masih anak-anak dulu, yakni ketika masih SMP. Dimana dia sering mengikuti uji nyali bersama teman-teman sekelasnya.
Namun yang aneh adalah, setiap kedatangan Felix ke tempat kosong biasa, suasana di sekitarnya pasti akan menjadi sangat buruk atau menyeramkan.
Itulah alasan mengapa Felix dijuluki "The Demon Prodigy" oleh teman-teman sekelasnya, dan Aizo mendengar rumor itu saat Felix membicarakan masa lalunya di markas Viper.
"Pada akhirnya julukan itu akan kembali kepadaku, yang secara kebetulan aku bisa menggunakan kekuatan iblis" tambah Felix saat dia berjalan mendekati Aizo.
"Akan kuberi tahu, mengapa aku masih hidup sampai saat ini, namun waktu kita tak banyak" ucap Felix sekali lagi, dia terus mondar-mandir di sekitaran Aizo dan Katsura.
3 Tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Agustus saat pendaratan Viper di semesta J-60, disaat seluruh anggota kebingungan dengan sistem waktu yang berbeda, Felix dan Toshi menemukan sebuah alat untuk membaca waktu.
Namun karena alat itu menempel pada gedung besar, mereka menjaga alat itu di tempatnya dan hanya memberi tahu waktu lewat telepon saja.
Pada saat itu sudah malam hari dan mereka berjaga dengan sangat santai karena hampir tidak ada orang atau kendaraan yang lewat.
"Aah, membosankan, ya, hanya menjaga benda ini sepanjang waktu" ucap Toshi yang sedang berbaring di trotoar, sambil mengetuk trotoar beberapa kali.
"Jangan muram begitu, lagipula bukannya enak berjaga disini? hanya diam diri saja bukannya capek-capek" respon Felix terhadap keluhan Toshi, dia mengistirahatkan punggungnya di tembok belakangnya.
"Ya benar, sih. Namun aku jadi tidak bisa beraksi dan ini membosankan, apakah ada hal yang bisa dimainkan untuk kondisi saat ini?" ucap Toshi dengan keluhannya yang sama, rasa kebosanannya sudah memuncak.
Situasi malam yang sunyi dan dingin menyelimuti mereka berdua, angin sepoi-sepoi terus menyapu jalanan dari dedaunan yang jatuh.
Felix menatap ke arah bulan purnama yang sedang bersinar diatasnya, mengerahkan cahaya silaunya ke permukaan bumi dengan wajah datar.
Sudah berpuluh-puluh menit berlalu sejak kapten dari setiap divisi menghubungi mereka, Toshi mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Bagaimana ini.. mereka tidak mengabari kita sekalipun, apa kau pikir mereka terkena masalah?" kata Toshi dengan raut wajah gelisah, terlihat matanya bergerak kesana dan kesini karena takut.
"Aku tidak tahu, seharusnya mereka terus mengabari kita setiap 10 menit" Felix berdiri dari duduknya, dia merasakan ada yang aneh. Raut wajahnya pun berubah menjadi lebih siaga akan sekitar.
"Mau mengeceknya?" usul Toshi yang ikut berdiri.
"Tidak, jangan dulu.. kita har-" sesaat sebelum Felix menyelesaikan perkataannya, pipinya tergores oleh peluru yang gagal mengenainya.
Felix masih terdiam berdiri, tangan kanannya berusaha meraih pipinya yang tergores barusan, setelah memastikan bahwa pipinya benar-benar tergores, dia pun sontak berteriak.
"TOSHI! LARI!" seru Felix lantang yang memecah kefokusan Toshi, lantas mereka berdua pun mulai berlari ke arah depan mereka, yakni hutan.
Sesaat setelah mereka mulai beranjak dari posisi awalnya, diikuti pula oleh tembakan peluru yang lagi-lagi meleset. Peluru itu tak mengeluarkan suara dan bergerak sangat cepat sehingga Felix dan Toshi tidak tahu asalnya darimana.
Mereka berdua meninggalkan semua barang-barang mereka di tempat dan lari menjauh dari sana. Para tentara yang tadi menembak pun keluar dari persembunyiannya dalam jumlah banyak.
"Kenapa bisa tiba-tiba ada tentara yang patroli?!" ucap Toshi panik selagi berlari.
"Jangan pikirkan itu dulu, kita harus cari tempat persembunyian!" jawab Felix dengan terengah-engah sambil terus memperhatikan jalannya.
Peluru yang lagi-lagi meleset melewati mereka berdua yang sedang berlari, membuat mereka semakin panik dan gelisah.
Di tengah-tengah pelarian, Felix seperti teringat sesuatu, dia membawa jubah Innoservato miliknya yang berada di pundaknya, sontak dia pun memberikan usulan.
"Mustahil kita bisa bersembunyi di saat yang seperti ini!" kata Toshi yang diiringi dengan banyak tembakan peluru dari belakang, namun tetap saja tidak mengenai mereka.
"Hanya sebentar saja! kita hanya perlu 3 detik untuk memakai Innoservato!"
Awalnya Toshi ragu untuk menerima usulan Felix, namun dia pun mengiyakan karena tidak ada jalan lain lagi.
"Baiklah! kita akan berpencar ke 2 arah dari sini, lalu kita akan bertemu lagi di jalan depan!" seru Toshi, yang mulai membelokkan arah larinya ke arah kanan.
Felix pun segera mengiyakan dan berbelok ke arah kiri. Hal ini membuat para tentara kebingungan mau pergi kemana terlebih dahulu, di antara celah waktu tentara yang bingung itu, Felix berhasil memakai jubah Innoservato miliknya dan hanya tinggal memakai tudungnya maka ia akan tidak terlihat.
"Yosh!" Felix mulai berlari ke arah pertemuan dengan Toshi, namun saat Toshi sudah terlihat dengan Felix, dia tidak sadar ada ranting didepannya sehingga membuatnya terjatuh.
Hal ini membuat tentara menjadi tahu posisi Felix sehingga saat tentara tersebut menembakkan pelurunya ke arah Felix, hal itu bertepatan dengan Toshi yang baru sampai ke tempat Felix sehingga bahu Toshi pun tertembak.
Toshi tersentak hingga mengeluarkan darah dari mulutnya, kedua kakinya bergetar hebat sampai dia pun harus terjatuh ke tanah, begitu dekat dengan Felix.
"To..shi.." mata Felix terbuka lebar-lebar, posisinya yang terjatuh berada di bawah badan Toshi yang berusaha menutupi keberadaan Felix dari para tentara.
"Cepat.. pergi.." ucap Toshi perlahan, suaranya menjadi sangat kecil dan bahkan untuk bernafas saja dia sedikit kesulitan.
"Tidak akan! kau harus pergi bersamaku! kau tidak boleh berakhir disini!" Felix tidak setuju dengan pendapat Toshi dan menentangnya dengan keras, namun Toshi yang sudah tertembak di bahu tidak bisa melanjutkan pelariannya.
"Lebih baik kehilangan satu daripada dua, jadi.. pergilah.. selagi masih sempat" tambah Toshi dengan suara yang semakin menipis.
"Apa maksudmu..?" Felix meneteskan air matanya, lalu untuk yang kedua kalinya, Toshi tertembak lagi oleh peluru. Kali ini di bagian kaki kanannya.
Felix segera bergerak mundur dari posisinya saat ini, kebetulan dia berada di dekat semak-semak jadi dia bersembunyi di balik semak itu.
Toshi kemudian terbaring lemas di tanah, begitu sebelum Felix memasuki semak-semak, dia memberikan senyuman hangat terakhir kepada Felix.
"Tolong sampaikan pada kakakku.. kalau ak-" belum sempat menyelesaikan kata-katanya, kepala Toshi berhasil di tembak oleh tentara yang baru saja datang ke lokasi.
Felix dengan cepat memakai tudung jubahnya dan Innoservato pun aktif. Dia tidak bisa dilihat ataupun di deteksi.
Suara semak-semak yang menandakan Felix sudah bergerak membuat para tentara bingung apa yang terjadi, padahal tidak ada siapapun di sana.
Dengan sangat berat hati dan tangisan yang mengucur dari matanya, Felix menatap ke Toshi sekali lagi, sebelum dia pergi meninggalkannya.
Selangkah dia berjalan, tiba-tiba dirinya terjatuh sangat tinggi, ternyata dia berada di tepi tebing. Felix terjatuh sangat keras, berkali-kali kepalanya membentur bebatuan yang besar, dia merasa bahwa inilah akhir untuknya juga.
Di bawah tebing, tidak ada daratan melainkan hanya lautan yang dalam. Setelah Felix terjatuh dari tebing, dia secara tidak langsung terjun bebas ke dalamnya lautan tak dikenal.
Dengan kondisi tubuh yang seperti itu, Felix tidak bisa memaksakan dirinya untuk berenang. Dia hanya mengikuti takdirnya dan tenggelam di dalam lautan.
Namun, suatu hal yang aneh terjadi. Saat Felix membuat dirinya sendiri tenggelam, dia tiba-tiba keluar dari permukaan laut dengan sendirinya.
"Hah!" sontaknya saat kepalanya berada diatas permukaan air.
"Dimana.. aku..?" tanyanya pada diri sendiri, setelah melihat ke sekitar, dia berada di tempat antah berantah. Tempatnya seperti gua bawah tanah dengan nuansa yang sangat menyeramkan, bahkan langit-langit gua itu berwarna merah pekat.
Felix seperti terlempar ke dunia lain di lautan tersebut.
Bersambung...