Destiny Holder

Destiny Holder
Runtuhnya Viper



"Suza, ya.. baiklah akan kupanggil begitu saja" Katsura mengangguk setuju.


"Yosh baiklah, akan kumulai besok untuk kursusnya, jam 10 pagi, ya. Ku tunggu di lobby besok" kata Suza lalu pergi.


Katsura kembali duduk di kursinya, dan menyeruput tehnya lagi sambil membaca prolog dari buku yang barusan ia beli.


Feria menghampiri Katsura dibelakang bangku, dan bertanya, "Buku apa yang kamu beli?"


"Oh ini? ini adalah novel menceritakan tentang sebuah perempuan yang bereinkarnasi ke dunia baru, dan berencana untuk kembali ke dunia asalnya" jawab Katsura.


"Bukannya kamu akan membeli buku yang ringan ceritanya?"


"Setelah ku pikir-pikir, membaca cerita yang ringan itu membosankan. Seperti menonton kartun anak-anak. Makannya aku membeli yang agak sedikit berat, namun ada komedi nya."


"Memangnya itu ada komedi nya?"


"Tentu ada, dong. Aku sudah membaca tengah-tengah halamannya di awal, untuk mengecek saja. Ada lawakan yang menurutku lucu, jadi ini pasti bagus untukku."


Feria menatap buku itu, lalu bertanya, "Bukankah yang kamu butuhkan itu buku untuk pengendalian emosi? kenapa kamu membeli seperti itu?"


Katsura terdiam, dia lupa tujuan dia ke perpustakaan sebenarnya.


"Benar juga, ya. Aku lupa hehehe" Katsura beralasan.


"Kamu ini, ada-ada saja, yasudah nanti kalau sudah dibaca semuanya langsung saja cari yang baru" Feria berbaring di kasur karena kelelahan.


Katsura lanjut membaca bukunya, tak terasa dia sudah ada di bab ketiga, dia tak sadar karena ceritanya benar-benar seru.


Hari mulai gelap, Feria sedang tertidur pulas dan Katsura melanjutkan bacaannya. Ditengah-tengah bab dia berhenti, dan mengambil buku sejarah terbentuknya kedamaian dunia.


Dia mengambilnya tiba-tiba karena sangat penasaran dengan isinya, dan mulai membaca nya perlahan.


Sembari menyeruput tehnya yang sudah dingin, Katsura membaca prolog nya.


Sudah berjam-jam berlalu, Katsura keasikan membaca dan tak sadar sudah di ujung buku.


"Loh? cepat sekali sudah sampai sini, aku tak menyadarinya" Katsura baru sadar.


"1 Halaman lagi, dan buku ini akan selesai ku baca" Katsura membalikkan halamannya, tertulis sebuah tulisan besar bercetak tebal bertuliskan


...Berdasarkan Kisah Dan Kejadian Nyata....


Katsura terkejut dan terpaku melihat itu, jadi selama ini yang ia baca adalah kisah nyata. Tapi dia berusaha tidak meyakininya.


"Apa? berdasarkan kisah nyata? bagaimana bisa? itu pasti tidak mungkin, bencana yang hampir mengakibatkan kiamat, semua negara saling mengungsi di satu tempat, kelahiran bayi yang tidak terduga, dan bersatunya pulau-pulau."


"Dari buku itu, aku menyimpulkan bahwa kedamaian negara terbentuk karena bencana itu, dan kelahiran bayi disitu sangat istimewa karena hampir seluruh umat manusia mati ditelan bencana alam. Sekarang semua benua telah berpisah, tapi budaya, warga, keragaman sosialnya menjadi gabungan. Karena sedikitnya sisa manusia di zaman itu. Untuk memperbanyak jumlah mereka lagi, mereka terpaksa melakukan hubungan intim dengan orang dari negara lain. Makannya sekarang banyak blasteran dan semacamnya" urai Katsura sambil berdiri dari bangku nya.


"Jika ini berdasarkan kisah nyata, kenapa di cerita itu dinyatakan bahwa ada seorang kakek-kakek yang mampu menggunakan kelima elemen sebagai senjata? itu sudah pasti sihir. Dan ini kejadiannya baru 179 tahun yang lalu" Katsura kembali terpaku.


"Ah daripada aku memikirkan itu, mending aku tidur saja deh, ngantuk sekali" Katsura berbaring di sebelah Feria dan mulai memejamkan matanya.


Pagi sudah tiba, Katsura dan Feria sarapan dan bersiap untuk kursus. Disaat mereka sudah siap, Suza malah datang sendiri ke kamar mereka lalu berkata, "Kursus nya disini saja, lebih gampang juga."


"Hei kamu masuk tanpa permisi" kata Feria.


"Oh ya aku lupa, maaf deh. Jadi, mau kita mulai sekarang? aku sudah membawa kamus jika ada yang tidak paham" ucap Suza sambil mengeluarkan kamus dari tas nya.


"Padahal kami baru saja mau kesana, tapi yasudah lah, disini juga tidak apa" kata Katsura.


Semua anggota Viper masih ditengah hutan dengan berpakaian jubah coklat yang kusam dan lusuh menutupi kepala sampai kaki.


Terlihat Homura sedang berjalan ke kemah, tapi Arizawa berlari menghampiri Homura.


"Ada apa terburu-buru begitu?" tanya Homura.


"Hah... hahh.... panggilkan semua anggota, cepat!" pinta Arizawa terengah-engah.


Homura memanggil semuanya untuk berkumpul, dia menggunakan tombol untuk memanggil semua anggota. Setiap anggota sudah dipasangkan alarm khusus di jubah masing-masing. Jika ada kepentingan, maka alarm itu akan berbunyi.


Selang beberapa saat, semua sudah berkumpul dan Arizawa memulai pembicaraannya.


"Oke semuanya, dengarkan baik-baik, tidak boleh ada yang memotong pembicaraan" Homura bertepuk tangan untuk mengalihkan fokus para anggota.


"Oke, pertama, Viper telah dicap sebagai pengkhianat oleh menteri. Dan ini sudah disebarluaskan ke masyarakat awam."


Semua anggota hanya bisa terdiam, Arizawa melanjutkan pembicaraannya.


"Dan nama Yubino Yurike sudah disebarluaskan menjadi pengkhianat negara karena mencoba melawan menteri. Dan saat aku mendengar itu, menteri juga berniat menghapuskan Viper dari negeri ini. Dan itu benar-benar terjadi. Jadi, jika kita mau membeli sesuatu atau apapun itu, jika kita diketahui adalah anggota Viper, maka kita hanya akan diusir."


"Tapi, untungnya menteri tidak hafal semua nama anggota, jadi, untuk saat ini hanya Yubino dan aku yang dalam bahaya. Dan satu lagi, untung saja Cezo berhasil menyabotase data menteri jadi dia tidak akan tahu nama-nama anggota kita." urai Arizawa.


"Sementara ini kita akan terus bersama dan saling mengabarkan apapun. Bahkan detail kecil pun tidak apa. Dan pastikan juga kita memakai jubah ini dan menutup kepala kita. Supaya tidak digugat oleh masyarakat" kata Homura.


"Jadi kita harus melakukan apa?" tanya Raiha di belakang.


"Entahlah, aku tidak ingin organisasi ini bubar. Tapi, begitulah keputusan mereka. Mungkin poster namaku akan ditempel dimana-mana sebagai buronan yang belum ditangkap. Aku hanya bisa pasrah sebagai pemimpin" kata Arizawa menyerah dengan keadaan.


"Tidak, kita masih punya Katsura! kita harapkan semuanya pada dia, semoga saja dia tidak membuat kekacauan yang lebih dari ini. Aku tak ingin kita berpisah seperti ini" curhat Homura didepan teman-temannya.


"Tapi mau sampai kapan dia disana terus? lambat laun kita akan tertangkap juga" kata Hosura.


"Kenapa kita tidak kabur juga? bukankah itu akan lebih baik?" tanya Zeldris.


"Kabur? kau mau menyebrangi lautan? kita tidak punya kendaraan terbang lagi, jika punya pun akan ku gunakan itu dari awal. Aku hanya menyiapkan 1 untuk kabur, dan itu kecil sekali, hanya muat sekitar 2-3 orang. Aku menyerahkannya ke Katsura karena aku percaya dia lah harapan kita satu-satunya" jelas Homura.


"Katsura, jangan sampai membuang waktu berharga mu, tak ada jaminan bahwa kita akan selamat sampai sebulan kedepan" Homura mengambil handphone nya. Ternyata dia merekam semua ungkapan Arizawa dan mengirimkannya ke Katsura.


"Bagaimana dengan Yubino? apakah kita akan diam saja begitu?" tanya Raiha.


"Kita tak bisa bertindak gegabah. Jika menyelinap dan merebutnya saja, maka identitas kita juga akan kelihatan oleh CCTV. poster yang berisi wajah kita siap disebarluaskan nanti" kata Arizawa.


"Yang terpenting saat ini adalah, kabur, kabur, dan kabur. Jika memungkinkan aku ingin mencari sebuah bangunan mati. Walau berhantu juga tidak apa, asal bisa menjadi tempat perlindungan. Aku lelah kita terkena hujan terus" ucap Aizo yang duduk di tanah.


"Tenang saja, kita percayakan semuanya ke Katsura, aku yakin dia pasti dapat menyelesaikan ini. Bersama Feria juga" Arizawa kembali tersenyum penuh harapan.


Hari sudah malam, kursus Katsura sudah selesai, dia sedang mendengarkan rekaman yang dikirimkan oleh Homura.


Katsura hanya bisa terpaku dan terdiam lagi, mengingat bahwa dulu ia berpikir bahwa menjadi menteri adalah hal terkeren. Yang sekarang malah menjadi musuhnya.


Feria bingung melihat Katsura yang terdiam diri, dia menghampiri nya.


"Hey ada apa? kamu bengong terus daritadi" kata Feria.


"Aku.. aku bersumpah akan membunuh menteri dan mengembalikan nama baik Viper!" serunya.


Bersambung...