
Sudah 7 hari lamanya Homura berada di kepulauan Ecuador, dia akhirnya memutuskan untuk kembali.
"Sepertinya sudah cukup, walau aku tak menemukan bukti lain. Ini saja sudah sangat berharga. Dan aku perlu peralatan lab ku untuk menganalisa" kata Homura selagi duduk di batang pohon yang tumbang.
Sambil duduk, Homura *******-***** kertas catatan usang yang ia temukan, mungkin berasal dari petugas keamanan yang berjaga disekitar sini. Walau dia tinggal disini selama 7 hari, dia sama sekali tak menemukan satupun petugas yang menambal kawah besar ini.
"Mereka sangat tidak peduli sekali, ya? mentang-mentang ini adalah wilayah paling ujung" sindirnya.
Angin berhembus kencang, daun-daun berhamburan dihadapan Homura. Dia menatap hamburan daun itu, dan segera pergi meninggalkan Ecuador.
Sementara itu di tempat pembangunan markas, Katsura tak ikut membantu membangun markas. Dia butuh istirahat selama beberapa hari kedepan. Yang menggantikannya bekerja adalah Yubino.
Katsura menatap ke atas tiang dan melihat Yubino yang berkeringat sedang mengangkat besi.
"Heyy!! semangat kerjanya" seru Katsura dibawah.
"Ya ampun, lelah sekali rasanya, enak sekali dia bisa bersantai" keluh Yubino.
Katsura pun berjalan santai ke arah perkemahan sambil meminum kopi yang ia beli di dekat taman.
"Sepi sekali disini, orang-orang pada kemana ya?" Katsura sampai di perkemahan, tapi hanya melihat Aizo dan Azashi yang sedang bermain handphone.
"Mereka semua pada berwisata" kata Azashi.
"Tidak, mereka hanya melakukan tugas masing-masing" selak Aizo.
"Hey kau! kau tidak bisa diajak bercanda ya" ucap Azashi sedikit kesal.
"Memangnya pada kemana? biasanya ada Yukichi, Feria dan Cezo disini."
"Arizawa sedang bekerja didampingi dengan Raiha dan Feria. Sedangkan Cezo, Zeldris dan Hosura sedang berpatroli disekitaran hutan sebelah selatan" urai Aizo.
"Begitu, ya.. Mereka semua sibuk" Katsura sedikit kecewa.
"Kau kenapa tidak bekerja?" tanya Aizo sambil memakan permen.
"Aku juga butuh istirahat, selama 3 hari terakhir ini aku selalu memakai Juryoku no Ikari nonstop. Jika aku tidak istirahat, maka mungkin aku akan pingsan lagi seperti saat itu."
"Baiklah, istirahatlah semaumu" balas Aizo dengan santai.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, tekanan dari atas langit. Sehentak mereka semua terkejut.
Pesawat mendarat secara tiba-tiba diatas mereka semua, membuat tenda-tenda berterbangan.
Katsura baru sadar setelah melihat pintu pesawat nya, itu adalah pesawat Homura yang kemarin pergi ke kepulauan Ecuador.
"WOY! KALAU MAU MENDARAT JANGAN DISINI BODOH" teriak Katsura.
Homura tersadar, dia mendarat tepat diatas perkemahan. Dia pun langsung pindah tempat ke tempat awal ia lepas landas.
Tak lama, Homura keluar membawa kardus yang berisikan barang-barangnya.
"Bagus, tenda kita terbang semua" ucap Azashi sinis.
"Ehehe, maaf dong, aku lupa kalau disitu adalah perkemahannya" balas Homura.
"Ayo, bantu aku menyusun ulang tenda nya, Aizo" ajak Azashi pergi ke arah tenda itu terbang.
"Jadi, apa yang kau temukan disana?" tanya Katsura penasaran.
"Hmm, biar kulihat, aku menemukan sisa-sisa energi yang mirip sekali dengan Aoi Tsukiakari-mu. Dan juga kubus putih yang kuberikan padamu untuk menyerap sihir. Hanya itu saja yang bisa kutemukan dalam 7 hari ini."
"Oh ya satu lagi, aku menemukan suatu gumpalan energi yang menyatu ke bawah lumpur, setelah aku analisis selama 7 hari juga, itu adalah sisa energi dari ledakan lubang hitam. Mereka menggumpal di tempat yang lembab supaya menyuburkan tanah yang ada disitu. Dan juga aku tak membawa yang itu, biarkan saja menjadi pupuk untuk tanah disana" jelas Homura sambil memperlihatkan barang bukti.
Katsura terkagum, Homura bisa menemukan bukti sekecil itu. Dia pun berkata, "Jadi kerjaanmu disana selama 7 hari hanya menganalisis gumpalan energi?"
"Yaa begitu lah. Aku tak mempunyai lab disana, makannya memakan waktu yang lama."
"Begitu ya, baiklah. Semoga itu semua membuahkan hasil" kata Katsura.
"Kalau begitu aku akan pergi ke lab-ku dulu, aku masih sangat penasaran dengan barang ini" Homura pergi meninggalkan Katsura, menuju lab bawah tanahnya.
"Kau tidak ingin beristirahat? kau baru juga sampai sini."
"Tidak usah, aku sudah istirahat cukup lama malam itu."
Situasi beralih ke Zeldris, Hosura dan Cezo. Mereka sedang menelusuri sebuah hutan lebat.
Zeldris dan Cezo sedang berjalan bersama, sedangkan Hosura hilang entah kemana.
Hosura terpisah dari Zeldris dan Cezo, tapi dia terus melanjutkan perjalanannya. Dia pun sampai di tempat yang agak mencurigakan. Dia melihat ada pesawat kecil modern yang usang dan lusuh.
Hosura inisiatif mendekati pesawat itu, ia menyadari bahwa ini pernah dihuni oleh seseorang. Tapi, teknologi dalam pesawat itu terlalu canggih untuk negaranya. Dia menjadi heran, siapakah yang memakai pesawat ini.
"Pesawat ini sudah sedikit berkarat, ditambah tanaman merambat masuk kedalam, seperti ada kesan yang disembunyikan" Hosura mencabut tanaman dan akar yang menyelimuti layar di dekat kursi sopir.
Hosura terkejut, pesawat itu sedang memancarkan sinyal darurat. Dengan cepat ia langsung berusaha kabur dari pesawat itu untuk memanggil Cezo dan Zeldris.
"Gawat, aku tak bisa menyelesaikan ini sendiri, aku akan memanggil C-"
Hosura tertusuk sebuah pedang saat dia sedang berlari. Tentu Hosura sangat keheranan tentang apa yang tengah terjadi padanya, darahnya bercucuran deras, dan dia memuntahkan darah.
Hosura berlutut tak berdaya, pedang itu berhasil dicabut oleh pelaku.
"S-siapa disana?!" Hosura menengok ke arah suara itu dengan mata penuh ketakutan yang hampir menangis.
"Tidak perlu ketakutan begitu" pria itu perlahan menunjukan dirinya, rambutnya berwarna putih panjang, dengan sedikit jahitan di wajahnya.
Hosura hanya bisa terdiam, dia tak bisa berdiri, apalagi lari. Ditambah banyak pasukan berjubah putih yang muncul dari balik bayangan di belakang pria itu.
"Tuan Showa, apa yang harus kita lakukan kepada orang ini?" ucap seorang pengawal nya.
"Biarkan saja, sebentar lagi juga dia akan kehabisan darah dan mati."
"Jadi disini tempat pengirim sinyal itu, ya? sinyalnya darurat, berisikan bahwa tuan Dorman telah tiada. Tapi aku tak merasakan adanya hawa-hawanya disini, apakah dia sudah mati?" asumsi Showa terhadap sinyal yang dikirim oleh Nico.
"Pengirim sinyal ini, dia seorang anggota kerajaan. Walau yang paling rendah" jelas Showa sambil melihat pesawat itu.
"Hey kau, darimana asalmu? kau sepertinya memiliki sedikit mana" Showa menghampiri Hosura yang tak berdaya.
"Hufftt, tak akan ku beritahu."
"Oh begitu?"
Hosura mengeluarkan pistol dan menembakannya keatas. Dia tahu bahwa jika dia menyerang Showa, maka dia akan langsung mati dengan mengenaskan.
Zeldris dan Cezo melihat sinyal itu dan segera berlari ke arah Hosura.
"Kau berusaha memanggil bantuan? tak ada gunanya, bodoh" Showa menendang perut Hosura hingga tergeletak.
"Jadi Golden Orb telah menghilang, ya.. Sungguh tiba-tiba sekali. Untungnya aku berjaga di sekitaran planet ini. Tapi mengapa sang pengirim sinyal di sini? apakah ada jejak tuan Dorman disini?" Showa terlihat merenung sejenak, memikirkan segala hal yang mungkin terjadi.
Suara hentakan kaki seseorang mulai terdengar oleh Showa, itu memecah keheningan disana.
"HOSURAAAA!!!!" teriak Zeldris ketika melihat Hosura tergeletak di tanah beserta darah.
"J-jangan kesini" Hosura memberikan tanda lewat tangannya, seketika Cezo langsung menarik Zeldris untuk kembali dan berkata, "Jangan gegabah!"
"Jadi kalian temannya, ya?" Showa membalikkan badannya, membuat Cezo dan Zeldris waspada.
Cezo terlihat merinding ketakutan, dia merasakan aura yang dikeluarkan oleh Showa sangat menyeramkan, bahkan terasa jauh lebih kuat daripada aura Nico. Dia pun berbisik pada Zeldris, "Orang itu lebih bahaya dari yang kita kira, selamatkan Hosura dan langsung pergi!"
"Kalian berbisik apa?" entah bagaimana Showa tiba-tiba berada di belakang Cezo dan Zeldris, dan memberikan luka sayat di tubuh mereka.
"A-apa?" Cezo keheranan sendiri, tubuhnya lemas tak berdaya setelah terkena serangan tak terlihat dari Showa.
"Akan kutanyakan pada kalian, apakah kalian tahu atau mengenal seseorang bernama Dorman Akami?" Showa berbicara serius.
"Itu, pertanyaan yang sama seperti Karma dan Nico!" gumam Cezo dalam hati.
"Jadi dia sampai disini berkat sinyal yang dikirim Nico itu, ya? sialan! kita mendapat masalah baru" tambahnya.
"Tidak ada jawaban? maka akan kuan-"
"Tidak pernah!" bantah Zeldris tegas.
"Baiklah kalau begitu, mati lah dengan tenang" Showa memperlihatkan pedang kecilnya, dia membuka sarung pedang itu perlahan.
..." Jizoku Kanōna Denryoku! " ...
Zeldris diam-diam menyembunyikan sihirnya, seketika ia membuat listrik berbentuk segitiga yang terus menyala yang memutari Showa di lehernya.
"Cepat ambil Hosura selagi aku menahannya!" kata Zeldris.
Cezo berlari ke arah Hosura dan mengangkatnya, tapi dirinya ditembak oleh salah satu pengawal Showa.
"CEZOOOO!!!" teriak Zeldris histeris.
"Tak ada gunanya kau menyelamatkan temanmu, dia sebentar lagi akan mati. Atau mau langsung mati saja?" Showa bersiap menebas, dia tak memedulikan sihir Zeldris meskipun itu memotong kepalanya.
Zeldris yang waspada langsung berlari lebih cepat untuk menangkap Cezo, dan dia tidak terkena tebasan dari Showa.
Namun, Hosura yang tak berdaya dibuat makin tak berdaya lagi. Dirinya seperti tercabik-cabik oleh harimau.
"SIALL!" Zeldris geram, dia membuat segel tangan membentuk monyet, dan seketika membuat lingkaran kuning menyerupai petir mengelilingi dirinya, Cezo serta Hosura.
..." Raitoningu Shōkan "...
"Tak ku sangka kau memiliki sihir sebesar ini, Hahaha! katakan siapa namamu!" Showa terlihat bersenang-senang dengan semua ini, dia tertawa.
"Zeldris Trichonta" balasnya.
"Sihirmu sangat mengagumkan, Zeldris! kau layak mendapat pujian dariku" kata Showa sambil mempersiapkan pedangnya seperti ingin menembak.
"Asal kau tahu saja, aku bukanlah yang terkuat di organisasi ini."
Showa kebingungan, dia lantas berkata, "Jadi begitu, kalian semua memang menarik. Dengan ini ku sampaikan deklarasi perang dengan organisasi mu!"
"Tenang saja, aku juga tidak kuat-kuat amat, kok" katanya dengan nada misterius.
Zeldris tersentak, lalu mereka pun berteleportasi ke perkemahan.
Bersambung...