
"Aku.. Kalah?" ucap Furuha lirih, ucapannya pelan sekali, sehingga hanya kelelawar dan sejenisnya yang dapat mendengar suaranya.
Furuha terpuruk tak berdaya di tanah, robot nya juga perlahan-lahan runtuh dan semua anggota badannya pecah.
"M-maaf, Kak Showa... Aku tak mampu memenuhi satupun keinginanmu.." bayang Showa teringat jelas di pikiran Furuha, dia membayangkan masa lalunya yang selalu saja merepotkan Showa.
Saat masih kecil, Furuha adalah adik angkat Showa. Orang tua Furuha meninggal dalam peperangan, Furuha hanya bisa menangis melihat jasad orang tuanya tergeletak di tanah berlumuran darah.
Cuaca sedang hujan deras, situasi pasca peperangan memang sangat mengerikan. Mayat tergeletak dimana-mana, senjata tajam tertancap di tanah, sisa-sisa energi sihir di tanah. Untung saja Showa datang menyelesaikan peperangan itu.
Showa adalah anak dari keluarga bangsawan, yakni Seifuku. Keluarga itu bertugas sebagai penyelesai perang dan sering dijuluki sebagai ' Penakluk Perang ' oleh para prajurit.
Keluarga Seifuku berhak memilih siapa kubu yang akan mereka pilih, biasanya keluarga Seifuku akan datang jika ada seseorang yang meminta bantuan, tak peduli itu dari kubu manapun, perwakilan keluarga Seifuku akan memilih siapa yang layak untuk dibantu.
Jika ada satu orang dari kubu A lalu meminta tolong keluarga Seifuku, dan setelah ditentukan bahwa keluarga Seifuku memilih kubu B, maka orang yang meminta bantuan tadi diberi dua pilihan. Dia bisa bergabung dengan kubu yang didukung keluarga Seifuku, atau mati ditempat.
Disaat salah satu anggota keluarga Seifuku bergabung dengan salah satu kubu di medan pertempuran, maka sudah dipastikan siapa kubu pemenangnya.
Saat Showa ingin pergi dari medan pertempuran, dia melihat anak perempuan sedang menangisi jasad. Setelah di dengarkan lagi, dia menangisi kedua orangtuanya yang telah Showa bunuh tadi.
"Ayah... Ibu... Kenapa kalian meninggalkanku sendirian.. Bagaimana cara aku makan.. Bagaimana caraku hidup.." ucapnya diiringi dengan tangis yang tak bisa dibendung.
Lalu Showa yang mana adalah anak dari seorang bangsawan, dia berempati dan ingin membuat Furuha yang sedang tak berdaya di depannya menjadi adik angkatnya.
"Hey, tidak ada gunanya kamu menangisi mayat itu, ayo kita pergi, ikutlah bersamaku. Kubawa kau ke tempat yang jauh lebih bagus" kata Showa sambil membungkuk.
"Kau.. Siapa?" Tanya Furuha mungil sambil terus mengucurkan air mata.
"Aku Showa, Seifuku Showa. Kau tak perlu menangisi mereka yang telah tiada, mereka akan lebih nyaman di surga jika tidak ada yang menangisi mereka. Jadi, jangan tangisi mereka lagi, ya? ikutlah bersamaku" Showa mengulurkan tangannya.
"Apakah kau orang baik?" tanyanya lagi.
"Tentu, aku adalah orang baik" jawab Showa, lalu dia tersenyum tulus.
Untungnya, Furuha belum cukup umur untuk tahu sejarah keluarga Seifuku, jadi dia tak akan tahu bahwa yang membunuh orang tuanya adalah Showa itu sendiri.
Mereka pun akrab dan menjadi rekan satu perjuangan, walau umur mereka berbeda jauh, tapi mereka sangat bisa bekerja sama.
Furuha sadar, bahwa dirinya belum cukup baik untuk membalas kebaikan Showa, maka dari itu dia selalu menempatkan dirinya di paling depan saat peperangan atau pertempuran. Setidaknya, bisa mengurangi beban bagi Showa. Namun, kenyatannya berkata lain.
Sampai saat ini, Showa lah yang selalu melindungi Furuha. Itu yang membuat Furuha kesal pada dirinya sendiri. Sampai titik ini, Furuha belum mengetahui sejarah asli keluarga Seifuku karena dirinya selalu ditempatkan pada misi yang berlangsung lama.
"Maaf.. Maafkan aku..." ucapnya lagi sambil menangis, lalu dia merenggut tanah dengan tangan mungilnya. Setelah itu, dirinya pun mati karena tak bisa beregenerasi.
"Itu momen yang pas sekali, Katsura" ucap Homura.
"Tunggu, ini betulan kau kan, Katsura..?" tanya Aizo dengan mata yang seakan-akan tidak percaya.
"Ini aku, kok. Memang kau kira aku kenapa?" jawab Katsura.
"Kukira kau mati saat ledakan supernova terjadi.. Soalnya itu yang Homura katakan! ditambah, Azashi juga setuju dengan pernyataan itu, aku sudah pasrah sejak mereka berdua setuju. Ternyata mereka hanya mempermainkanku saja" ujar Aizo kesal.
"Tunggu! dia adalah Katsura Laith, jika dia disini maka... Dimana Tuan Showa..?" ucap salah satu prajurit Showa.
"Showa telah mati. Salah sendiri kalau dia terlalu meremehkan aku" jawab Katsura sinis.
Semua pasukan Showa mengangkat tangannya masing-masing dan berlutut. Mereka menyerah tanpa syarat. Setelah pemimpin mereka dan komandan mereka telah tiada semua.
"Hei Homura, menurutmu, apakah bagus jika kita merekrut mereka sebagai pasukan?" usul Katsura.
"Idemu tak ada salahnya dicoba, lakukan saja sesukamu" kata Homura, lalu dia tersenyum.
"Sebelum kekuatanku sepenuhnya hilang, akan kulepas dulu Lugar Cerrado ini" Katsura menaikkan energinya lagi.
Showa sebenarnya sudah menanamkan teknik pada tubuh Katsura sejak awal mereka bertemu, yakni di perkemahan. Dia menanamkan itu agar Katsura kehilangan kekuatannya.
Cara kerja tekniknya adalah, setiap Katsura menggunakan sebuah sihir ataupun jurus, maka teknik itu akan mulai bekerja perlahan. Sampai pada titik puncaknya, yaitu saat penggunaan Kirameku Hoshi Akari.
Saat ini Katsura masih bisa menggunakan beberapa sihir sampai pada akhirnya dia akan benar-benar tak bisa menggunakan sihirnya.
"Tunggu, apa katam-"
Katsura mengangkat tangannya seraya berseru, "Modoru"
Pilar-pilar di berbagai tempat mulai hancur, dan sinar yang dilancarkan mulai melenyap, dan bangunan-bangunan yang hancur kembali lagi seperti semula.
Lugar Cerrado Katsura membedakan waktu yang ada didalam areanya, dan yang ada diluarnya. Jadi, mau sampai dilenyapkanpun, bangunan yang ada didalam Lugar Cerrado sudah ter "simpan" sebelum lenyap. Saat Lugar Cerrado di nonaktifkan, maka bangunan yang mengalami perubahan akan kembali ke bentuk saat Lugar Cerrado baru di rapal.
"Apa katamu tadi, Katsura?" tanya Homura.
"Aku akan kehilangan kekuatanku, ini ulah Showa. Aku akan mencari cara untuk mengembalikannya. Ini adalah jurus terakhir yang bisa kulakukan. Sedari tadi aku terus menerus tersesat diluar angkasa, hehe" ungkap Katsura.
"Aku tak bisa menggunakan sihir yang terlalu banyak karena jika begitu, teknik Showa akan terus terukir dan mempercepat dampaknya" tambahnya.
"Lalu, kau bagaimana selanjutnya?" Aizo tampak murung.
"Aku tak apa, beri aku waktu sebentar untuk memikirkan ini" Katsura berjalan pergi dari sana.
"Tanganmu kenapa, Zeldris?" saat Katsura pergi, dia melihat kedua tangan Zeldris yang menjadi ungu kehitaman.
"Aku tak apa-apa, hanya sedikit lumpuh" jawabnya.
"Sedikit, ya.. Apakah itu efek sihir?" tanya Katsura lagi.
"Sudah jelas, jika bukan mungkin aku sudah sembuh daritadi."
"Kalau begitu minta netralkan saja ke Homura, dia pasti bisa" kata Katsura lalu pergi meninggalkan Zeldris.
Bersambung...