
Marx terkurung di sebuah bola energi, posisi tubuhnya seperti sedang di salib dengan kedua tangan yang direntangkan, pandangannya kebawah. Serta ada banyak selang di atas bola energi itu.
Selang itu berfungsi untuk menyerap kekuatan Marx, hal itu dilakukan oleh pria misterius yang ada di luar bangunan ini.
Pria itu berjalan mondar-mandir, tidak tahu arah tujuan hanya membuang waktunya saja, dan terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.
Pria itu berambut coklat dengan mata emas, tampilannya seperti seorang koboi dengan rompi coklat, namun dia tidak memakai topi nya.
Katsura masih dalam perjalanan yang jauh, dia berharap agar bisa cepat untuk membantu Marx karena dia tidak tahu situasi apa yang akan dihadapi Marx.
Sesaat kemudian, pria itu pun masuk ke dalam bangunan, untuk mengecek kinerja alatnya didepan Marx.
"Hmm, penyedotan nya berjalan dengan baik" kata pria itu yang sedang mengamati indikator di mesin yang ia buat.
Marx sangat lemas, kepalanya menunduk kebawah, dan dengan suara yang lemah di berbicara.
"Kau sebegitunya ingin mendapatkan hal yang sudah hilang kembali.. ya?"
Pria itu sedikit terpancing, namun dia membalas dengan tenang dan santai, "Lalu, apa salahnya?" ucapnya selagi dia mengotak atik mesinnya.
Marx menghembuskan nafas berat, lalu dia pun tidak berbicara lagi, kekuatannya sudah banyak terkuras oleh orang itu.
"Kau sama sekali tak berubah, Nora" gumam Marx dalam hatinya, sebelum dia memejamkan matanya untuk menahan proses penyerapan energi.
"Cih! berapa banyak kekuatan yang dia punya, sih? aku sudah menunggu selama bertahun-tahun lamanya namun kekuatannya tak habis juga sialan!" Nora memukul mesin di sampingnya dengan keras, dia lelah menunggu.
"Namun aku yakin.. sebentar lagi aku akan bisa bertemu denganmu.. aku yakin itu pasti akan terjadi.. tunggu lah saat itu, cintaku" Nora berjalan keluar bangunan dan melihat matahari dengan mata telanjang, dan mengarahkan tangannya keatas seakan dia menggenggam matahari itu.
Keinginannya untuk bertemu lagi dengan kekasih tercintanya sangat mendalam, dia rela memberikan apapun untuk bertemu dengannya lagi.
Tak lama kemudian setetes air mata mulai turun dari matanya, mengingat semua kenangan pahit yang dia alami bertahun-tahun yang lalu.
150 tahun yang lalu, planet ini masih dihuni oleh banyak manusia. Peradaban dan teknologi masih berkembang pesat, semua orang masih dapat tertawa dengan bebas dibawah sinar matahari.
Kehidupan di planet ini dulunya sangat banyak, namun semuanya berubah ketika satu bencana besar datang yang membawa seluruh umat manusia menuju akhirnya.
Seseorang datang menjajah dan menghancurkan seisi bumi, seseorang yang kuat dengan mata emas. Yakni Sora, datang untuk menginvasi dan membasmi seluruh umat manusia.
Dengan kejamnya dia membantai semua orang-orang dan tidak menyisakan satupun manusia yang hidup.
Di suatu tempat penuh ledakan, Nora sedang berlari-lari menggendong satu anak perempuannya beserta istrinya di belakang dengan anak laki-lakinya.
Mereka berdua berencana kabur dan mencari tempat aman untuk bersembunyi, mereka masih ingin melanjutkan hidup mereka sebagai pasangan.
Saat semua manusia sudah tewas dan bangunan runtuh, Sora berdiri diatas semua itu dan tertawa lepas, sebelum akhirnya dia menyadari ada beberapa orang yang selamat, yakni keluarga Nora.
Mereka terus berlari sampai didepan gua yang sempit, Nora masuk terlebih dulu namun sayangnya Sora mengetahui lokasi nya, dari atas langit, Sora menembakkan serangan yang membuat gua itu runtuh dan menutup jalan masuknya, lalu Sora pun membunuh manusia terakhir di bumi ini.
Sora berpikir semuanya telah usai, dia tidak mendeteksi adanya kehidupan lagi. Setelah Sora pergi, Nora bangkit dari tumpukkan bebatuan yang menimpanya, darah ada di sekujur tubuhnya dan tulangnya patah.
Pengelihatannya buram, saat dia melihat ke depan, naas, istri dan anaknya tewas mengenaskan oleh Sora. Matanya terbuka lebar-lebar dan hatinya terasa tertusuk oleh bilah pedang.
Perlahan dia merangkak menuju mayat istrinya, dia menggenggam kepala istrinya dan memeluk tubuhnya erat-erat dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
"Jangan khawatir, cintaku.. aku akan membuat dunia dimana kau akan bisa melihat keindahan dunia ini sekali lagi bersamaku, aku berjanji" air mata mengucur ke pipi sang istri, Nora terus menggenggam istrinya dengan sangat erat.
Nora mengubur mayat istri dan anaknya di tempat yang sebagus mungkin, dan dia berambisi untuk mengembalikan kehidupan keluarga yang di renggut oleh Sora.
Tujuan akhirnya semakin dekat, Nora mengurung Marx dan dia percaya bahwa kekuatan yang ada di dalam diri Marx mampu mewujudkan keinginannya.
"Kekuatan yang besar pasti dapat melakukan hal besar" prinsip Nora yang dia camkan sedari dulu.
Beberapa saat kemudian, ada suara dentuman keras di tanah terdengar oleh Nora, dia pun sangat terkejut dan sedikit panik.
Jaraknya lumayan jauh, namun suaranya sangat keras. Asal suara itu adalah Katsura yang akhirnya sampai di planet bumi semesta U-507.
"Apa yang terjadi disini?" kata Katsura, dia sedang mengamati sekelilingnya yang penuh dedaunan hijau dan bangunan-bangunan kuno.
Dia pun seperti tidak yakin bahwa ada seseorang yang tinggal disini, karena kesunyian dan kekosongan yang ada disini.
"Jadi kau yang telah mengganggu waktuku untuk berduka, ya?" ucap seseorang dari tempat yang tidak diketahui.
Katsura mengingat suara Marx, namun ini bukan suaranya. Lantas dia pun curiga siapa yang berbicara dengannya sekarang.
"Siapa kau?" tanya Katsura lantang.
"Kau bukan Marx, kan?" tambahnya.
Nora pun bingung, ada yang mengenal Marx selain dirinya dan temannya yang sudah meninggal. Dia curiga Marx memiliki niat lain dengannya.
"Kau mengenal Marx juga?"
Katsura semakin bingung dibuatnya, akhirnya dia pun mengerahkan angin dahsyat untuk membuka seluruh dedaunan yang menutupi pandangannya, akhirnya dia bisa melihat sosok yang berbicara didepannya.
"Nora Dearbhla, salam kenal" Nora memperkenalkan diri.
"Katsura Laith" Katsura juga begitu, namun tatapannya sangat curiga dengan raut wajah Nora yang menunjukkan wajah sombong dan dingin.
"Apa tujuanmu kemari, Katsura?" Nora berdiri di atas akar pohon raksasa, dia berjalan perlahan ke kiri sementara Katsura bergerak ke kanan.
"Itu tidak penting, tidak ada urusannya denganmu" jawab Katsura sambil berjalan.
"Namun ada hubungannya dengan Marx, bukan?" tanya Nora lagi.
"Sudah kubilang bukan urusanmu."
"Oh begitu, kalau begitu matilah" Nora mengaktifkan mesin yang ada di punggungnya, mesin itu berubah menjadi sepasang sayap dengan kipas penembak laser di masing-masing sayap.
Dua laser mematikan mengarah ke arah Katsura, dengan tenang dia menarik nafas panjang.
..." Crescent Deluz "...
Katsura menebas dua laser itu di saat yang bersamaan dengan sabitnya, namun Nora tampak tidak terkejut. Dia lebih terkejut saat melihat pupil mata Katsura yang berwarna emas cerah, sama seperti Marx.
"Mau tidak mau aku harus melewati dirimu dulu" Katsura mengeluarkan aura Golden Orb-nya yang membuat Nora sekali lagi teringat masa lalunya.
"Aura emas itu... akhirnya aku mempunyai tempat untuk melampiaskan semua amarahku!" Nora tertawa lepas, aura berwarna ungu gelap menyelimuti dirinya.
Dia menutup setengah mukanya dengan telapak tangannya, dia berkata, "Ayo maju" dengan tatapan merendahkan.
Bersambung...