Destiny Holder

Destiny Holder
Yuichiro Sakatou



Saat Katsura tengah berjalan di lorong yang cukup panjang, ponsel Katsura berdering, dia pun berhenti sejenak untuk menjawab telepon itu.


"Ya? kenapa?" ucapnya sambil terus berjalan pelan.


"Ah, Katsura, dia pergi tanpa alasan, dan sedang ada penjahat kecil di sekitar sini, mungkin kamu mau lihat perkembangannya seperti apa.." ucap Feria dalam telepon, dia sedang berada di balkon dan memandangi stasiun luar angkasa dari bumi.


"Lagi? tapi kali ini aku mungkin bisa pergi kesana, aku akan pergi sekarang" Katsura menutup teleponnya dan bergegas kembali ke bumi, untuk melihat perkembangan seseorang.


Di bumi, akademi sihir mato telah berlangsung selama 2 tahun terakhir semenjak kembalinya perdamaian. Banyak anak-anak yang masuk ke akademi dan belajar cara menggunakan sihir di jalan yang benar.


Sejak munculnya Golden Orb di semesta yang ditinggalinya, hukum sihir pasti akan berlaku dan semua orang yang ada di semesta itu akan bisa menggunakan sihir.


Sihir dapat digunakan untuk banyak hal baik, seperti membantu pembangunan atau membantu menyelesaikan konflik. Namun, semua hal tidak selalu berada di sisi positif.


Orang-orang yang tidak benar juga bisa menggunakan sihir, dan mereka menggunakan sihir sebagai senjata untuk penaklukan dan sebagainya, dan itu membuat dunia cukup kacau setelah sihir menjadi umum di mata orang-orang.


Maka dari itu terbentuklah stasiun luar angkasa Mato, yang mengawasi seisi bumi dari orang-orang jahat yang menggunakan sihir di sisi gelap.


Di kota, terlihat bahwa seluruh warga sedang panik berlari-larian kesana dan kemari mencari perlindungan, ada sekelompok orang yang sedang menjarah kota mereka, dan mereka berasal dari negara lain.


Kelompok itu berisikan 5 orang, dari tampang masing-masing mereka bisa dibilang lumayan kuat dan berpengalaman, wajah sangar dan badan yang besar cukup menakuti orang disekitar.


Mereka menaiki hewan raksasa yang terbuat dari batu, hewan itu berbentuk bulat dan hanya memiliki 2 kaki, 1 mata yang tertutup, dan mulut. Mereka memanggil hewan ini "Gloom."


Mereka memerintah Gloom untuk menghancurkan seisi kota, para warga yang bisa menggunakan sihir mencoba melawan mereka, namun mereka bukanlah lawan yang pantas bagi para penjahat ini.


Gloom dapat memakan serangan lawan dan mengembalikannya, hal ini yang membuat mereka sulit di kalahkan.


"Ahahaha! rasakan itu! Gloom kami akan menghancurkan semuanya!" seorang pria menyeru dengan semangat dari atas kepala Gloom.


Ketika para warga sedang dilanda kekacauan dan kehancuran, seorang anak laki-laki berumur 13 tahun datang tepat di hadapan Gloom yang sedang mengamuk.


"Wah-wah, ternyata ada yang mengacau disekitar sini" kata anak itu sambil memukul satu telapak tangannya dengan satu tangan yang dikepalkan.


"Kau ini siapa? hanya bocah kecil, kau takkan bisa menghentikan kami, bocah" kata orang itu, dia kelihatan seperti pemimpin dari kelompok mereka.


"Namaku adalah Erick, senang bertemu denganmu, walau sebentar lagi kau akan mati, sih" Erick memperkenalkan diri dengan sombong.


"Oh ya? bagaimana kalau kita cari tahu saja?" anak itu menyengir misterius, lalu secara tiba-tiba Gloom hancur berkeping-keping.


Erick sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dia dan 4 rekannya terjatuh dari kepala Gloom.


"Sialan apa yang sudah kau lakukan?!!" salah satu anggota kelompok Erick maju ke arah anak itu, namun anak itu dengan mudahnya menangkis pukulan orang dewasa.


"Oh? kekuatanmu hanya segini? sangat disayangkan" anak itu meninju perut orang itu hingga dia terpental ke langit, setelah dia melayang di atas langit, dia pun dibanting ke tanah oleh anak itu menggunakan dua jari nya dari bawah.


"Sialan, maju semua!" Erick memerintahkan 3 bawahannya untuk menyerang anak itu yang sedang terbuka pertahanannya.


Anak itu semakin tersenyum melihat banyaknya penjahat yang datang kepadanya, 3 orang sedang berlari ke arahnya, dia mengangkat sedikit jarinya dan mengangkat tanah yang dipijak bawahan Erick.


"Hahaha! lucu sekali! ayo main lagi!" anak itu tertawa puas, lalu 2 orang bawahan Erick menerjang bersama dengan sihir api yang ada di tangan mereka.


"Rasakan ini bocah!" ujar kedua orang itu di atas udara, namun tiba-tiba pergerakan mereka terkunci di udara, tidak terjatuh dan tidak bergerak.


"Apa.. ini..?" ucap mereka kebingungan.


Anak itu tertawa lagi, kali ini dia melemparkan kedua orang itu ke belakangnya dengan jarinya. Yang satu ke kiri dan yang satu lagi ke kanan.


Anak itu melompat dan berbalik, lalu dia melemparkan bola cahaya pada kedua orang itu dan meledakkannya.


Kini posisi anak itu berada di udara, di belakangnya ada satu bawahan Erick yang belum kalah, dia dengan pedang besar nya akan menebas anak itu hingga tewas.


"Inilah akhirmu, bocah-"


Anak itu menunjukkan ekspresi serius lalu dengan cepat pria itu terdorong sendiri ke atasnya, lalu meledakkannya hingga tak tersisa.


"Udah semua, nih. Sisa kau yang tersisa. Kira-kira harus ku apakan, ya?" anak itu berjalan ke arah Erick yang tergeletak di tanah.


"Kau pikir.. kau sudah menang, ya?!" tanah di sekitar mulai berguncang hebat, anak itu sedikit khawatir.


"Hahaha!! mana ekspresimu yang sok tadi? tunjukkan sekali lagi!" Erick menggertak, guncangan tanah disekitarnya semakin kuat.


Setelah guncangan tanah yang berlangsung cukup lama, sebuah raksasa batu tercipta dari bangunan yang ada disekitar, raksasa itu sangat besar, tingginya sekitar 70 meter.


Anak itu mulai memasang ekspresi sedikit takut, namun dia tetap berusaha tenang. Erick berdiri diatas kepala raksasa itu, dia mulai menggerakan tangan raksasanya untuk menghantam tanah dibawah.


Hantaman itu sangat dahsyat, gelombang angin tercipta dari hantaman tangan raksasa itu. Anak itu menarik nafasnya, lalu dia menendang tangan raksasa itu sehingga membuatnya terpotong.


"Apa?!" Erick tak bisa berkata-kata, lalu anak itu melanjutkan serangan fisiknya yang mampu memotong bagian raksasa itu satu persatu.


"Ehh apa ini? bukankah kau menyuruh ekspresi sombong ku kembali? ahahaha!" anak itu melancarkan serangan terakhir di kepala raksasa sehingga membuatnya hancur berkeping-keping.


Erick terjatuh dari udara, anak itu berteleportasi ke atas punggungnya dan menendangnya dengan sangat kuat.


Erick terhantam sangat kuat ke tanah, seluruh tulangnya retak disebabkan oleh satu anak kecil.


Anak itu menghampiri Erick yang sudah sekarat, namun Erick yang penuh ambisi masih berusaha bangun.


"Jangan... pikir... semuanya... telah usai... bodoh..." ucapnya lemas.


"Ya, ya, lalu apa?" Katsura datang dari belakang anak itu.


"Master!" seru anak itu.


"Kerja bagus, Yuichiro, kau sudah mampu mengalahkan lawan yang cukup kuat. Katsura mengusap kepala Yuichiro.


Bersambung...