Destiny Holder

Destiny Holder
Pertarungan Telah Mereda, Suizei Kembali!



Lubang hitam supermasif yang di orbit oleh planet Garganta terbelah menjadi dua bagian, lalu hancur berkeping-keping menjadi energi hampa.


Suizei yang sedang duduk termenung melihat pertempuran dari atas, fokusnya terpecahkan karena suara yang sangat dahsyat tercipta dari hancurnya lubang hitam supermasif. Dan dia pun sangat terkejut.


"Se dahsyat itu?!" katanya.


Katsura menatapi langit-langit planet itu yang mulai dihujani oleh pecahan lubang hitam, dan mulai menyedot apapun.


"Jadi pecahan ini seperti anak lubang hitam, yang tak jauh sama dari lubang hitam biasa. Jadi kuhancurkan saja semuanya" Katsura mengangkat sabitnya, dan mengarahkan ujung Crescent Deluz nya ke salah satu pecahan lubang hitam.


Jutaan bahkan milyaran kepingan pecahan lubang hitam mulai memasuki atmosfer planet Garganta, Katsura memusatkan seluruh energinya di ujung Crescent Deluz-nya, membuat bola energi berwarna sama seperti Crescent Deluz, yakni warna pink cerah.


Detik per detik kepingan pecahan lubang hitam semakin mendekat ke arah Katsura, yang tadinya baru di atmosfer, sekarang sudah berada di ketinggian 40.000 kaki di atas permukaan.


"Sedikit lagi.." gumam Katsura yang sedang fokus.


Di angkasa sana, Suizei melihat dengan jelas bahwa Katsura malah memilih memfokuskan energinya di satu titik ketimbang kabur dari planet.


"Bodoh! pergilah, Katsura! kau takkan sempat menghancurkan itu semua!" teriaknya di angkasa, walau takkan terdengar.


Kepingan pecahan lubang hitam itu telah sampai sangat dekat dengan Katsura, sekitar 3000 kaki dekatnya dengan permukaan.


"KATSURA!!!" teriak Suizei lagi yang sangat mengkhawatirkan Katsura.


Kepingan pecahan lubang hitam itu mulai menyedot energi yang dikumpulkan Katsura, beserta Crescent Deluz dan Katsura juga. Namun...


Katsura membuka matanya, lalu menyerukan sebuah jurus.


..." Creeping Holy Shot! "...


Disaat Katsura mengerahkan jurus itu, sepertiga planet sudah tersedot oleh kepingan itu.


Katsura menembakkan gelombang energi yang daritadi ia kumpulkan, lalu menembakkan nya ke satu kepingan yang ada tepat didepan Crescent Deluz-nya.


Setelah kepingan itu hancur dan lenyap, gelombang energi itu membelah diri menjadi dua bagian dan semakin banyak kian kali menghancurkan objek.


Ibarat sebuah perkalian pangkat, jurus Katsura yang ini dikali dua setiap jurus ini menghacurkan objek. Semakin banyak dan kian membanyak terus menerus tak peduli berapa jumlahnya.


"Apa yang..?" Suizei tiba-tiba terheran, Katsura selamat dan planetnya hanya lenyap sepertiga bagian dari asalnya.


"Begitu, ya.. Kau memang selalu diluar perkiraanku, Katsura" Suizei tersenyum lega.


Jurus itu sudah dua kali lebih banyak dari jumlah kepingan pecahan lubang hitam yang turun ke planet Garganta, yang akhirnya memusnahkan seluruh lubang hitam supermasif itu tanpa sisa.


Katsura terbang dan pergi menemui Suizei yang sedang duduk santai melihat pemandangan yang cukup indah baginya.


"Halo, aku kembali" Katsura berdiri disamping Suizei, dengan memakai mode Kirameku Hoshi Akari, ditambah dia mengangkat Crescent Deluz-nya diatas bahu.


"Kau lelah, bukan? lepaskan lah perubahan mu" kata Suizei.


"Iya, akan ku lepas sekarang" Katsura kembali ke mode biasanya, namun tiba-tiba Crescent Deluz-nya menghilang.


"Loh? kemana perginya senjataku?" tanyanya.


"Kau dan Crescent Deluz sudah menyatu secara penuh, bahkan Crescent Deluz sudah menyatu dengan energimu. Jadi kau bisa memanggil Crescent Deluz seperti kau memanggil sihir. Bedanya adalah Crescent Deluz tidak akan hancur, apapun yang terjadi. Karena jika ingin menghancurkannya itu perlu membunuhmu terlebih dahulu. Selama kau masih hidup, Crescent Deluz takkan hancur" jelas Suizei.


"Aku baru tahu bisa begitu, kau memang penempa yang jenius, Suizei! aku sangat-sangat berterimakasih" Katsura membungkukkan badannya, lalu dia duduk di samping Suizei.


"Tak usah sungkan begitu, kita juga rekan" balasnya.


"Jadi, apakah kau tertarik untuk kembali? tujuanmu juga sudah tercapai, kan? membuat senjata terkuat yang ada di seluruh alam semesta?" ajak Katsura kepada Suizei untuk kembali ke Mato.


"Kembali ke Viper? yang benar saja, mereka sudah jadi buronan negara, kan? aku tak mau kesana dengan reputasi yang buruk" tolak Suizei, namun ada hal yang belum ia ketahui.


"Tunggu, Arizawa menjadi presiden? hebat sekali" Suizei terkejut.


"Sebenarnya aku selalu memantau kalian dari jauh, namun saat kejadian dengan Johan atau apalah namanya itu aku sudah tak memedulikan kalian lagi dan memilih untuk fokus mencari bahan terkuat di seluruh alam semesta" tambahnya.


"Dan apakah sudah ketemu?"


"Sudah, itu adalah energimu, Katsura."


"Tunggu, apa maksudmu?"


"Entah mengapa energi mu sangat jauh berbeda dengan energi ku, maupun orang lain. Energimu terlalu kuat, bahkan menurutku, energimu mampu menciptakan ulang sebuah alam semesta beserta isi-isinya."


"Apakah tidak terlalu berlebihan?"


"Kali ini aku tidak bercanda, serius. Energimu sangat spesial. Jadi, jika aku ingin membuat senjata, aku mohon bantuannya, ya! hehe."


"Baiklah, kurasa tidak apa menyumbangkan energi sendiri untuk rekan."


Mereka berdua pun beristirahat sambil menatapi planet Garganta yang atmosfernya di penuhi sihir Katsura tadi, sampai pada akhirnya Suizei pun berdiri lalu mengatakan.


"Setelah kupikirkan kembali, sepertinya sudah saatnya aku kembali ke bumi, aku rindu masakan disana" kata Suizei, lalu dia tertawa kecil.


"Baguslah kalau begitu, aku turut senang" balas Katsura dengan senyumnya.


"Jadi, kapan kita berangkat?" tanya Suizei, dia sudah tidak sabar untuk kembali.


"Kau mau pergi sekarang? aku tak keberatan, aku bisa berteleportasi. Kemasi barang-barang mu, kita akan berangkat setelah kau siap."


Setelah beberapa menit, Suizei selesai mengemasi barang-barang nya, dan mereka pun meninggalkan tempat itu. Dengan cepat dan singkat, mereka berdua sudah berada di hutan tempat Katsura dan Nico berbincang hangat.


"Tunggu, mengapa aku kesini? kalau dia lihat Nico bisa gawat, akan kurahasiakan identitas Nico serahasia mungkin" kata Katsura di dalam hati.


"Suizei, kau pergilah duluan, aku baru ingat aku ada perlu disini. Jarak markas dari sini tak terlalu jauh, kau hanya perlu berjalan sekitar 4-5 kilometer ke arah barat. Dah ya" pinta Katsura.


"Oh baiklah, sampai ketemu di markas" Suizei menuruti permintaan Katsura, lalu dia pun pergi.


Setelah beberapa menit Suizei pergi, Katsura menyerukan, "Keluarlah, Nico."


"Kau peka sekali, ya. Merahasiakan identitasku yang sudah membelot dari semestaku. Padahal itu bisa memberikan keuntungan bagi Homura, sang ilmuwan jenius" kata Nico dibalik pohon.


"Aku masih tak siap memberitahukan bahwa aku bersekutu denganmu. Jadi aku lebih memilih merahasiakannya saja."


"Bagus, jadi kau sudah mendapatkan senjatanya, ya?"


"Tentu" Katsura meningkatkan energinya, lalu memperlihatkan Crescent Deluz pada Nico.


"Senjata yang.. Menakjubkan. Meskipun aku tak yakin kita bisa mengalahkan Ferus dengan ini saja" kata Nico.


"Memang sekuat itu dia? sampai-sampai kau putus asa begitu."


"Kalau kau jadi aku, kau pasti takkan berani melihatnya. Hawa keberadaannya saja sudah dapat membuat orang mati. Sihirnya juga adalah pengendalian dimensi.. Benar-benar tak masuk akal sehat" ungkap Nico.


"Mengerikan juga, ya. Ngomong-ngomong, kekuatanku sudah kembali seperti yang kau katakan. Aku benar perlu sebuah senjata untuk mengembalikan kekuatanku. Terimakasih ya" Katsura tersenyum.


"Bukan masalah. Dah ya, aku ingin pergi latihan dulu. Atau kau, mau ikut bersamaku?" ajak Nico sembari menghadap ke belakang bersiap untuk pergi.


"Tidak dulu deh, lain kali saja. Aku ingin mengabarkan ke rekan ku yang lain soal berita ini" Katsura menolak.


"Baiklah, sampai jumpa lagi" Nico pun menghilang tanpa jejak.


Bersambung...