Destiny Holder

Destiny Holder
Pergi Ke Planet Drax



"Baiklah jadi kapan aku akan pergi?" Katsura menghentakkan satu kakinya berkali-kali ke lantai, menunjukkan bahwa dia tidak sabar.


"Sekarang" jawab Arizawa singkat.


"Apa? sekarang juga? persis sekarang?"


"Ya."


Katsura menghela nafas, "Duh, mengapa harus sekarang banget, sih?" keluhnya.


Arizawa memiringkan kepalanya ke kiri, "Bukankah kau sedang bersemangat? aku tahu ini pasti mudah bagimu!" ucapnya untuk menyemangati Katsura.


"Ya tapi kan aku baru saja sampai kesini.."


"Tidak ada tapi-tapi, ini pekerjaan lanjutan untukmu, tolong selesaikan untuk kami" Arizawa menepuk tangannya sekali lalu menempelkan lencana itu di bahu Katsura.


"Sekaligus ini juga hukuman bagimu karena telah meninggalkan kami tanpa kabar selama 7 bulan" Arizawa tersenyum kejam pada Katsura.


"Sampai segitunya, ya?"


Katsura menghela nafas sekali lagi dan akhirnya setuju untuk pergi, "Ya baiklah, aku akan pergi sekarang" katanya murung.


"Oh ayolah jangan murung begitu! ini tidak begitu buruk, kan?" Yubino merangkul Katsura dari belakang.


"Ya iya sih.. tapi.. bagaimana menurutmu, Feria?" Katsura menoleh ke arah Feria yang sedari tadi mendengarkan saja.


Feria tersenyum licik, "Ya itu pantas untukmu, semoga beruntung" katanya dengan sedikit emosi di wajahnya.


"Bahkan kamu juga?!" Katsura tidak percaya bahwa Feria juga menyetujuinya, biasanya dia ingin waktu berdua dengannya namun karena Katsura menghilang selama 7 bulan, Feria pun kesal juga.


"Ya baiklah baiklah, kirimkan koordinatnya."


"Yey! begitu dong!" kata Arizawa dengan penuh semangat, sementara Karma sedang memikirkan sesuatu dengan sangat keras dengan dua jari memegang dagunya.


"Ada apa, Karma? kau terlihat tertekan dari tadi" tanya Cezo yang kebingungan berada di samping Karma.


"Entahlah, aku merasakan sesuatu yang aneh dari Shin itu.." Karma menoleh ke arah Katsura, mereka berdua saling bertatapan.


"Katsura, hati-hati, bisa jadi orang yang akan kau temui lebih kuat darimu" ucapnya dengan wajah serius.


"Ya aku tahu itu, omong-omong.. Aizo, apakah kau mau ikut denganku?" Katsura berbalik dan mengajak Aizo yang sedang menyender di dinding, mendengarkan semua penjelasan.


Akhir-akhir ini Aizo jarang bicara, dia hanya melakukan tugasnya dan mendengarkan penjelasan selama 2 tahun terakhir.


Aizo menoleh, "Tidak, aku ada kerjaan disini" jawabnya singkat dan jelas, raut wajahnya juga terlihat sangat datar.


Setelah Katsura melihat raut wajah Aizo yang seperti itu, dia sedikit bingung dengan kepribadiannya sekarang.


"Jika tidak ada penjelasan lagi aku akan pergi, permisi" katanya dengan nada yang datar lalu dia pun berjalan meninggalkan kabin utama.


"Dia terlihat aneh belakangan ini" ucap Katsura.


"Katsura, sudah ku setting koordinat di kapalmu, pastikan saat kau sudah sampai disana, segera beri sinyal pada kami" Arizawa yang dari tadi sedang mengatur sistem di layar hologram akhirnya selesai menetapkan koordinat untuk Katsura.


"Tunggu, aku pergi menggunakan kapal?"


"Tentu saja! aku takkan membiarkan kau pergi dengan kecepatanmu sendiri sehingga membuat kami harus menunggu selama berbulan-bulan agar kau kembali" senyum jahat kembali muncul di wajah Arizawa, dia sangat kesal dengan kepergian Katsura sebelumnya.


"Serem!" batin Katsura terhadap wajah Arizawa saat ini yang ada di depannya.


"Yasudah aku pergi dulu" Katsura menghela nafas sekali lagi dan dia berbalik menuju ke pintu keluar kabin utama.


"Hati-hati!" ucapan terakhir yang Katsura dengar dari temannya sebelum dia benar-benar pergi ke planet baru yang aneh.


Tak lama kemudian, Katsura sampai di kapalnya, dia masuk dan mengatur titik koordinat nya, setelah melihat koordinat itu, Katsura sangat terkejut bahwa jaraknya sangatlah jauh.


Namun Katsura tetap meyakinkan dirinya untuk pergi dan setelah beberapa menit mesin dinyalakan, Katsura bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya.


Dari dalam kabin utama, Arizawa menyaksikan keberangkatan Katsura dari jendela. Tak lama kemudian Yukichi datang membawa secangkir teh untuknya.


"Mengapa kau tidak biarkan dia menggunakan kecepatan Golden Orb saja? kan dia bisa sampai lebih cepat, dan lagipula kita masih bisa berkomunikasi dengannya, kan?" Yukichi bertanya.


"Aku memiliki firasat buruk akhir-akhir ini, aku takkan biarkan dia mengalami dilatasi waktu lagi, aku lebih memilih menunggu berhari-hari agar dia kembali daripada harus menunggu berbulan-bulan agar dia kembali."


"Aku merasa bahaya mengincar kita kapan saja, jadi kita harus terus bersiaga" jawabnya dengan kepala dingin, Arizawa menaruh dua jari di jendela yang dingin itu.


Yukichi tertawa kecil, "Kau ini, masih sama saja seperti dulu, ya. Jadi, menurutmu berapa lama Katsura akan sampai di planet itu?"


"Hmm, jika perhitunganku benar.. maka dia harusnya sampai disana sekitar 20 jam dengan kecepatan itu."


"Lama juga, ya.. jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Yukichi terus berbasa-basi agar bisa terus berbicara dengan Arizawa, dia menikmati setiap detik perbincangannya.


"Menunggunya lah, apalagi?" senyum kecil terpapar di wajah Arizawa.


"Tak biasanya kau terus mengobrol denganku seperti ini, ada apa?" tanyanya.


"Tidak, hanya saja, aku penasaran dengan pemikiranmu setelah kepergian Homura, kau masih seperti biasanya. Tak berubah drastis seperti Aizo, yah aku tahu alasannya sih namun hal yang terjadi biarlah terjadi, ya kan?"


"Yah begitulah, akhir-akhir ini hari selalu membosankan, aku penasaran apa yang akan dilakukan Homura jika dia masih ada disini.."


...****************...


Di bumi, Yuichiro tampak sedang menghajar banyak maling yang masuk ke perumahan warga, dia menumpuk semua badan maling yang sudah tepar itu dan duduk diatasnya.


"Membosankan! apakah tidak ada lagi yang bisa dilakukan?" katanya dengan nada riang, kakinya bergerak kedepan dan kebelakang terus menerus.


"Kekuatanku asliku belum juga muncul, kata Master harusnya sebentar lagi.. namun aku tak dapat juga.. apalagi sekarang dia menghilang tanpa kabar.. duh!" Yuichiro berdiri di atas tumpukan tubuh para maling dan membuat salah satunya kesakitan.


"Kalian ada banyak banget sih, udah gitu lemah semua! kalian tak bisa diajak bermain sama sekali!" Yuichiro terus mengomel di atas sana.


Para maling yang sudah tidak bisa bergerak hanya bisa mendengarkan ocehan bodoh anak yang haus pertarungan tanpa henti, mereka rasa ingin mati saja.


"Selamat pagi, Yuichiro-kun" ucap seorang pria dewasa di balik nya.


"Siapa? mengapa kau tahu namaku?" Yuichiro berbalik dan melihat sesosok pria dewasa dengan pakaian anggota stasiun luar angkasa berbicara padanya.


"Aku adalah Kalon, salam kenal" Kalon memperkenalkan dirinya, dia berambut hitam panjang dan memakai kacamata. Dia juga menunjukkan lencana keanggotaan dengan nomor 2 di tengah-tengah lencana itu.


"Aku dengar kau ingin pertarungan, kan? aku memiliki pekerjaan yang cocok dengan itu.." Kalon mengeluarkan kartu hologram yang berisikan foto seseorang.


"Orang ini adalah kriminal hebat, dia sudah mengalahkan beberapa Cavalli kita."


Cavalli adalah panggilan khusus untuk prajurit yang menjaga stasiun luar angkasa, dan panggilan ini berbeda dari prajurit yang menjaga akademi di bumi, kekuatannya sangat besar.


Mata Yuichiro terbuka lebar-lebar, tanpa keraguan sedikitpun dia menerima tawaran dari Kalon, "Ya! tentu aku mau!" katanya dengan semangat.


"Bagus, ayo ikuti aku, kita lawan dia bersama!" Kalon mulai berjalan dan begitu juga Yuichiro, dia sangat bersemangat saat mendengar tawaran Kalon, dia tidak bisa berhenti senang.


...****************...


Setelah berjam-jam Katsura di angkasa, akhirnya dia sampai di planet yang ia tuju, planet Drax.


"Planet ini lebih besar daripada yang aku kira.." Katsura melihat keseluruhan planet dari kaca, besar planet ini melebihi planet Jupiter di semestanya.


Kapal Katsura masuk ke jangkauan Shin milik "seseorang" di dalam planet, namun karena ada Katsura di dalamnya, kapalnya tidak lenyap.


"Seseorang sudah datang, ya.. pasti itu umpannya.." ucap seorang pria di dalam gedung besi yang penuh dengan mesin-mesin berat.


Bersambung...