Destiny Holder

Destiny Holder
Nachi (2)



Katsura, Feria dan Suza pergi ke penginapan, dan beristirahat sebentar. Tapi Katsura hanya tidur selama 1 jam saja, dia mulai merasa tak tenang.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, mereka sudah berada di mobil lagi dan berangkat ke air terjun.


Selama perjalanan, Katsura seperti menahan sesuatu. Dia sedang berusaha untuk tenang agar emosinya tak mengendalikannya lagi, karena dia merasa seperti akan lepas kendali lagi.


"Katsura, sabarlah sebentar lagi akan sampai, kau bisa mengamuk sepuasnya disana" ucap Suza.


"Tunggu, mengamuk?" Feria merasa bahwa membiarkan Katsura mengamuk malah akan menambah masalah.


"Iya, semua yang dilanda emosi sebesar itu akan disuruh melawan emosinya sendiri, dan saat sedang melawannya, tubuh aslinya akan dikendalikan sesaat. Kita harus bertaruh bahwa dia akan menyelesaikannya dengan cepat" jelas Suza.


"Tapi saat dia sedang lepas kendali, dia akan sangat berbahaya. Dia bisa menghancurkan apapun yang ada disekitarnya" bisik Feria kepada Suza.


"Tak ada pilihan selain kita menahannya, kalau tidak maka tidak akan pernah selesai" balasnya.


Selang beberapa menit, mereka sampai juga di air terjun. Karena sudah malam, mereka membuat kemah disekitar mobil. Mereka memilih berangkat sore agar besok pagi bisa langsung mengakses air terjunnya.


Saat sudah membuat kemah, Katsura langsung berbaring tidur untuk menyurutkan perasaannya. Sementara itu Feria dan Suza sedang berbincang di dekat api unggun.


"Kau, apakah kau masih menyimpan rasa soal kemarin?" tanya Suza.


Feria menatap kebawah dengan murung lalu berkata, "Iya, walaupun aku tahu bahwa dia dikendalikan, aku malah menjadi sedikit tidak percaya dirinya. Mengingatkanku pada masa lalu, dan aku benci itu."


"Sepertinya kau dan dia sama-sama mengalami hal yang berat, ya? memang cocok kalian untuk bersama" Suza mengatakannya dengan sedikit rasa iri.


"Walaupun begitu, dia pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi, aku masih sedikit ragu-ragu untuk menerimanya, aku takut kejadian seperti dulu terjadi lagi. Tapi jika aku menggantungnya terlalu lama, kasihan juga dirinya" ungkap Feria.


"Apa yang kau katakan setelah dia mengungkapkan itu?"


"Aku tak bisa menjawabnya, karena langsung datang seorang musuh kami. Dan dia pun berubah ke wujud penuh emosi malam itu."


Feria seketika terdiam, dia mendapat ide cemerlang. Dia berpikir bahwa mungkin saja Homura dapat membantu.


Feria mengeluarkan handphone nya, dan langsung menelpon Homura.


"Ya, halo?" sapa Homura.


"Halo Homura, aku butuh bantuanmu" kata Feria.


"Bantuan apa? cepat katakan saja, tak biasanya kau meminta bantuanku" balasnya.


"Apa kau bisa menekankan efek kalung Katsura lebih cepat aktifnya? atau mungkin bisa kau kontrol?"


"Menekankan efeknya? maksudmu menambah dosisnya?"


"Kurang lebih seperti itu, sihirmu kan bisa menetralkan sihir lain, apakah bisa menetralkan emosi juga?"


"Kalau hal itu sepertinya mustahil, sihirku tidak bekerja seperti itu. Tapi, jika aku kontrol dari sini mungkin bisa."


"Apakah benar? besok Katsura akan menjalankan latihannya dengan melawan emosinya sendiri. Tapi, tubuhnya akan dikuasai sebentar. Aku takut jika dia tiba-tiba mengaktifkan sihir gravitasinya. Kita tidak ada yang bisa menghentikannya."


"Hmm baiklah, tapi kau harus terus terhubung denganku untuk berkomunikasi. Jika ingin langsung mengaktifkannya, bilang saja langsung di telepon."


"Baiklah, besok jam 7 pagi akan langsung ku telepon, terimakasih ya, Homura!"


"Sama-sama."


"Kau berhasil mendapat bantuan?" tanya Suza.


"Iya."


"Bagus, kalau begitu kita akan semakin mudah, tinggal dia nya saja."


Hari berlalu, pagi menyambut dengan cerah, Katsura bangun perlahan menuju air terjun.


Air mengalir dari atas hingga bawah dengan deras, Suza menyuruh Katsura untuk segera melepas bajunya dan bertapa di bawah air yang turun dengan deras.


"Kau yakin aku bisa?" Katsura merasa agak takut.


"Tentu, pikirkan hal yang menenangkan hati dan jiwamu, pikirkanlah alam dan sebagainya" balas Suza.


"Baiklah."


Katsura duduk dibawah air, merasakan beratnya air yang mengalir deras dari atas. Dia mencoba untuk tetap tenang dan memikirkan hal lain.


Awalnya dia merasa terbebani, walau memejamkan mata, matanya selalu bergerak kesana dan kemari.


"Berat.... berat...." gumamnya dalam hati.


Selang beberapa menit, dia akhirnya mulai terbiasa dengan air itu. Tapi, Suza menambah volume airnya dengan sihirnya.


Katsura yang awalnya tenang, menjadi mendadak marah dalam keadaan memejamkan mata.


"Tahanlah! air ini akan semakin berat jika kau marah!" seru Suza.


Disaat sedang mencoba tenang, Katsura terdiam sejenak. Tapi, dirinya mengeluarkan aura merah perlahan. Feria yang melihat itu langsung bilang ke Homura bahwa ia perlu mengaktifkan kalungnya sekarang.


Aura merah itu semakin membesar seiring waktu, tapi Homura mengaktifkan nya dengan tepat waktu. Aura itu langsung menciut dan menghilang.


Katsura yang tak sadar mengeluarkan aura itu, tetap berusaha tenang.


Sudah 1 jam berlalu, Katsura sudah terbiasa dengan beratnya air yang dikeluarkan. Suza merasa bahwa ini sudah cukup, tapi Feria berkata belum.


Mereka mencoba melakukan hal yang membuat Katsura marah, memancing emosinya keluar tapi tanpa mengeluarkan gravitasinya.


Namun, tiba-tiba Katsura menghilang dari pandangan mereka berdua. Feria panik dan mencari-carinya kesana dan kemari. Tapi tak ditemukan juga.


Suza turun dari atas dan berkata, "Biarkan saja, itu memang prosesnya. Jika dia sudah hilang dari sana, maka dia sudah dibawa kedalam gua tersembunyi untuk melawan emosinya sendiri. Aku pernah mengalaminya."


"Semoga saja begitu" tambahnya.


Katsura terbangun di gua yang sangat gelap, dia bingung dia ada dimana.


"Dimana aku!!?!" serunya.


"Kau ada di dalam tempatmu sendiri" ucap orang misterius dibalik bayangan yang perlahan menunjukan dirinya.


"Kau.. diriku?" muka Katsura pucat setelah mengetahui seseorang di depannya.


"Terkejut, ya? memang seperti itu dirimu, lemah dan tidak berpendirian teguh. Bodohnya."


"Berisik!" Katsura memukul tepat di wajahnya, tapi tak terpengaruh.


"Bodoh, serangan ragu-ragu seperti itu takkan bisa melukaiku!" balasnya.


Dirinya yang satu lagi memukul balik dengan kencang, mementalkan Katsura ke ujung gua.


"Bodoh, bodoh sekali. Aku, Ikari tak bisa memaafkan hal itu" ungkapnya.


"Mengapa aku ini lemah sekali? bangunlah bodoh!" gumamnya.


"Hey lemah, lihat kemari" Ikari menjambak Katsura yang terbaring menjadi berdiri, dan menjadikannya samsak untuk dipukuli.


"Kau sengat lemah tanpa diriku, kau harusnya berterimakasih padaku, bukannya mau menghilangkanku."


"Lupakan saja, akan kubunuh kau dan akan kupakai tubuhmu untuk selamanya."


Ikari memukul Katsura tepat di wajah, tapi Katsura menangkap pukulannya dengan tenang.


"Aku mengerti sekarang, bahwa aku hanya perlu mengalahkan mu disini dan sekarang juga!"


"Kau takkan pernah bisa menang melawanku, kau bahkan tak bisa melawan musuh tanpa sihir dan emosi. Kau membutuhkan segalanya dariku."


"Berisik, bodoh" Katsura menembakkan bola api kecil dari ujung telunjuknya, walaupun meleset tapi itu membuat Ikari tak berkutik seketika.


"Tunggu, dia mampu mematahkan hukum disini?" katanya.


Mata Katsura berapi-api penuh semangat, hati dan jiwanya penuh ketenangan siap untuk melawan balik.


Ikari tersenyum remeh, dan dia mengeluarkan aura merah mencekam nya, seketika Katsura bergetar dan berkeringat.


......" Sihir Petir : Jalanan Petir "......


Katsura membuat serangan petir horizontal, Ikari mampu menghindarinya dengan mudah, tapi Katsura menyerang dari bawah tanah.


..." Raijin Sekki "...


Serangan petir diagonal, meninggalkan bekas luka di leher Ikari.


"Sial!!" gertaknya.


Ikari menendang lantai gua dengan kencang, dan batu-batu yang berterbangan dilemparkan dengan kencang dan membabi buta.


Katsura dengan santai menghindarinya. Saat sudah dekat, dia meninjunya dengan tangan api.


Ikari tak berkutik dijadikan samsak balik oleh Katsura, mukanya hampir terbakar dengan tangan Katsura.


"SIALLLL!!! GGRRAAAHAHHHH!!!" teriaknya di dalam gua sehingga menggetarkan seluruh gua.


"Kau tak layak menggunakan kekuatan itu, diriku yang lain" kata Katsura.


..." Judgement Light! "...


Katsura melancarkan serangan laser cahaya ke seluruh arah, memotong segala bebatuan yang melindungi Ikari, dan membuatnya tertimpa bebatuan itu sendiri.


Katsura berjalan perlahan mendekati Ikari, dengan santainya ia bahkan tak perlu mengkhawatirkan sekitar nya yang mulai runtuh.


"Hey kau, namamu Ikari, ya?"


"Berisik kau."


"Berhentilah bersikap seperti itu, kita ini sebenarnya satu kesatuan, mengapa kau tidak membiarkanku memakai kekuatan itu dengan terkendali?"


"Kau menggunakannya terlalu ceroboh, aku berpikir bahwa memberikan kepercayaan padamu mungkin salah besar. Kekuatan ini besarnya bukan main, kau dapat melukai tubuhmu sendiri, tahu."


"Jadi hanya karena itu kau menjadi sangat sensitif? menyedihkan sekali diriku yang satu lagi ini"


"Kalau kita bersama, maka kita akan jauh lebih hebat. Ingat yang dikatakan Nico? dia berkata bahwa kekuatan ini akan sangat hebat jika dikendalikan. Jadi, apakah kau mau bertarung di sisiku?"


"Ya ampun, sejak dulu kau memang tak pernah berubah ya, dasar bocah."


Katsura dan Ikari berjabat tangan, dan mereka kembali menjadi satu, lalu ke permukaan dengan wujud amarahnya.


Feria dan Suza terkejut, tapi Katsura dengan santainya bilang, "Aku kembali"


"Akan ku namakan jurus ini, Juryoku No Ikari!"


Bersambung...