
Energi didalam tubuh Katsura mendadak tidak ingin keluar, mereka tertahan suatu penghalang buatan Showa saat Katsura tertusuk tadi. Rasanya sangat menyakitkan, Katsura secara otomatis menonaktifkan mode Kirameku Hosi Akari-nya.
"Apa yang dia lakukan tadi?!" kata Katsura menahan sakit sambil memegangi bekas luka tusuknya.
"Kekuatanku.. Tidak mau keluar! mereka tersegel!" kata Katsura.
Katsura lalu menoleh dan memandangi energi supernova yang indah menghiasi angkasa yang gelap gulita.
"Indah juga, ya.." Katsura kini terpaku pada indahnya supernova dari jarak dekat, anehnya ia tak merasakan panas sama sekali padahal dia tak menggunakan sihir sama sekali.
"Daripada aku menunggu sampai aku tak bisa menggunakan sihir sama sekali, lebih baik aku berteleportasi sebelum sihirku sepenuhnya tersegel" Katsura mula berteleportasi secara bertahap, dia tidak bisa langsung berteleportasi ke bumi secara instan jika tidak menggunakan perubahan apapun.
Di sisi lain, Homura terlihat berhasil mengungguli Mora. Dengan sihir areanya, dia dapat mengungguli Mora dengan sangat mudah dalam pertarungan tangan kosong. Ditambah kondisinya sangat menguntungkan karena semua serangan yang bisa menghasilkan sebab akibat pada dirinya akan langsung terhenti.
"Ada apa? mana kesombonganmu di awal tadi, ha?!" gertak Homura sambil menghujani wajah Mora dengan tinjunya.
"Berisik sialan!" Mora membalasnya dengan tinjunya, tapi ditangkis dan dibalas lebih kejam oleh Homura dengan cara mematahkan tangannya.
"Aku bertanya, kemana kesombonganmu yang tadi?" kata Homura sambil memelintirkan tangan Mora. Mora terlihat kesakitan, tapi dia tak bisa melawan balik.
"Sihir areaku akan berakhir sebentar lagi, dan dia akan mendapatkan kondisi menang. Akan kuakhiri disaat sihirku berakhir" kata Homura dalam hati sambil terus menahan tangan Mora.
3... 2... 1... Sihir Area Homura menghilang, wajah Mora yang tadinya terlihat kesal dan putus asa menjadi gembira, dan dia tertawa lepas.
"AHAHAHA TADI KAU BERTANYA, MANA KESOMBONGANKU? SAKSIKAN LAH! kematian yang tak berharga" seru Mora kepada Homura.
"Begitu, ya?" Homura menyengir.
*DORR!
Kepala Mora tertembak sebuah peluru dari belakang, peluru itu bukan peluru biasa, jika ada salah satu organ yang tertembak peluru itu, maka organ itu akan langsung hancur seketika. Karena tidak kuat menahan radiasi yang ada didalam peluru.
Inilah cara Homura membunuh Mora, dengan sadisnya Mora tergeletak di tanah dengan darah yang sangat banyak.
"Akhirnya bagianku selesai juga" ucap Homura, lalu duduk di tanah.
"Kira-kira yang lain sudah selesai belum ya?" tambahnya sambil memandangi langit.
Yubino sedang berlutut di tanah, dengan kepala yang penuh darah itu ia tak mampu berdiri, karena otaknya sudah tertusuk oleh logam besi, dia jadi tak bisa berpikir jernih. Jika dia tak melapisi otaknya dengan penghalang api, mungkin dia sudah mati mengenaskan sekarang.
"Apakah sudah selesai? jadi begini petarung sekarang, sangat menyedihkan" ucap Guyu berbelasungkawa atas pertarungannya dengan Yubino yang tak memuaskan.
"Memang, tapi kami lebih cerdik dari kalian" balas Yubino dengan lemas, lalu sebuah pusaran angin yang besar muncul dari samping, menyerang Guyu.
Arizawa datang dengan luka yang ia terima, dia memaksakan dirinya untuk membantu Yubino yang lebih parah kondisinya.
"Kenapa kau datang kemari? kondisimu juga tak baik, loh" tanya Yubino kepada Arizawa.
"Aku baik-baik saja, selama kita bekerja sama, kita pasti bisa mengalahkan dia!" jawab Arizawa dengan semangat.
"Oke, tapi aku hanya bisa mengeluarkan satu sihir lagi saja, lebih dari itu maka aku akan kehabisan energi dan mati" Yubino bangkit perlahan, lalu berdiri dengan sempoyongan.
"Sudah selesai menyusun rencana? sekarang aku yang maju" kata Guyu di atas gedung.
"Tekanan energi ini.. Sangat mencekam, lebih dari Sairo, orang yang kuhadapi" raut wajah Arizawa menunjukkan sedikit takut.
"Arizawa, kau akan memancingnya untuk sementara waktu, apakah bisa? aku akan mengeluarkan jurus terkuatku" pinta Yubino kepada Arizawa, lalu dia duduk bersila di tanah.
"Batas waktuku hanya 2 menit, lakukan sebelum itu. Semoga beruntung" Arizawa tersenyum, lalu dia melompat ke depan.
"Hanya kau seorang? kemana rekanmu itu?" Guyu berbasa-basi.
"Tak usah dipedulikan, dia tak bisa bertarung lagi."
"Hanya kau dan aku, sangat disayangkan bahwa wanita sepertimu akan kalah ditanganku, aku sedih sekali" Guyu menangis.
"Orang ini.." tatapan Arizawa semakin sinis, lalu dia menciptakan pisau-pisau dari angin.
"Oh? dia menyerang duluan, ya."
..." Daggers Of Heaven! "...
Arizawa menembakkan beberapa pisaunya ke arah Guyu, namun dengan mudahnya dihindari dan ditangkis oleh baja cairnya.
..." Fire Spikes "...
Duri api yang sangat panjang muncul dari bawah mereka berdua, mereka tak terkena serangannya, tapi menggunakannya untuk alat berpijak agar lebih mudah menyerang.
"Apakah ini sihir Yubino itu? aku tidak tahu" batin Guyu kebingungan.
..." Amandment! "...
batang duri yang panjang itu berubah bentuk menjadi garis yang memanjang, seperti pisang yang terkelupas dari kulitnya. Garis itu bisa berubah sesuka hati pembuatnya, yakni Arizawa.
Sekarang Arizawa membuat area api berbentuk lingkaran diatas langit.
"Ternyata ini jurusmu" kata Guyu.
..." Formed! "...
Duri-duri kecil yang panjang menusuk dari pijakan Guyu, walau itu menimbulkan celah, tapi Arizawa secara tak sadar sudah terpotong lengan kirinya.
"Apa yan-" Guyu mengubah perspektif Arizawa, yang tadinya ia kira bahwa pijakan itu adalah jurusnya, padahal sebenarnya itu adalah jurus Guyu.
Di sisi lain, Zeldris memaksa keluar dari gelembung buatan Katsura, disaat dia keluar, dikejutkan oleh bentrokkan kekuatan yang luar biasa kuat antara Aizo dengan Furuha.
..." Kyu! "...
Furuha menyerang dengan gelombang angin dari pedangnya, namun hal itu langsung tertunduk ke tanah.
"Sial!" Furuha geram, dia melanjutkan jurusnya.
......" Nana! "......
..." Gravity Saturate! "...
Aizo membuat gelombang yang menarik segala sesuatu, termasuk serangan Furuha.
..." Seal "...
Sayangnya, serangan itu disegel oleh Furuha. Hal ini lah yang memberatkan Aizo karena setiap serangan yang bisa ia lancarkan, akan langsung di segel di tempat.
"Aizo! yang disini serahkan kepadaku! aku punya rencana!" seru Zeldris dari belakang.
"Zeldris?! kau sudah bangun? tunggu dul-"
..." Raitoningu Shōkan "...
Aizo menghilang, dia di teleportasikan ke tempat Arizawa berada.
"Bodoh sekali, padahal kau bisa lebih cepat menang jika ada temanmu itu" kata Furuha.
"Benarkah? aku sendiri saja sudah cukup, tahu."
..." Senkō Ga Hirameita! "...
Kilat cahata yang sangat cepat menembus tubuh Furuha, kilatan itu juga besar, sehingga membuat tubuh Furuha dari dada sampai bawa perut terbelah.
"Sebenarnya aku ini pura-pura pingsan, jadi aku tahu semua teknikmu saat kau melawan Aizo. Aku juga tahu, serangan Aizo hanya kurang pada kecepatan. Dan aku? aku ahlinya kecepatan" ungkap Zeldris dengan nada sombong.
..." Phoenix! "...
Burung api yang sangat besar nan panas menyerang dari bawah, membuat baja cair Guyu menguap dan menghilang, serangan itu membuka celah untuk Arizawa, tapi dia terjatuh ke tanah.
"Sial, Arizawa!!" Yubino berteriak, namun dirinya juga terjatuh.
"Serahkan kepadaku!" seru Aizo yang baru muncul di udara.
..." Divine Light! "...
Gelombang cahaya besar muncul melahap Phoenix dan juga Guyu didalamnya. Membuat mereka mati bersama.
"Aku.. berhasil!" seru Aizo gembira.
Bersambung...