
"Tolong... Jaga dia... Katsura.."
Homura memejamkan matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya didepan Katsura dan Feria.
Katsura menunduk, dia menjatuhkan Crescent Deluz-nya ke tanah, dan dia menggenggam botol kecil yang diberikan Homura kuat-kuat dan dia juga meletakkan genggaman tangannya di hati.
"Selamat tinggal.. Homura.." ucapnya pelan, tangisan mulai membasahi wajah Katsura.
Feria yang bersembunyi di belakang punggung Katsura juga mulai menangis, mereka menangis dibawah sinar matahari yang akan segera tenggelam.
Selang beberapa menit kemudian, Katsura mengusap air matanya dan membersihkan wajahnya dari air mata.
Embodiment Crystal yang sudah retak dan kehilangan setengah lapisan segelnya tergeletak di tanah, lalu Katsura mengambil nya.
"Kita apakan dia..?" Feria bertanya sambil menangis.
"Walaupun dia sudah berkhianat kepada kita selama ini, namun dia membantu banyak sekali untuk kita, dia harus beristirahat di tempat yang lebih layak" Katsura menjawab.
"Bagaimana reaksi yang lain jika mengetahui ini?"
Katsura hanya diam saja dan tidak menjawab, dia pun melapisi mayat tubuh Homura dengan sihir gravitasinya, membuatnya dapat melayangkannya sesuka hati.
"Sekarang kita harus kembali ke markas dan melihat yang lain, mungkin mereka sudah selesai dengan perang disana" kata Katsura tanpa menghadap ke belakang, dia mengangkat tubuh Homura.
Feria mengangguk dan menyetujui, "Aku membawa helikopter kesini, kita tak bisa membawa mayat seseorang dengan terbang biasa" katanya dengan senyuman.
Mereka berdua pun berjalan ke arah helikopter Feria, ketika sampai disana Katsura pun langsung menerbangkannya dengan cepat dan pergi ke markas.
Setelah beberapa menit mereka sampai di markas dan mendarat. Ketika mereka berdua berjalan mendekati pintu masuk, mereka mendengar tanggapan semua orang terhadap perang yang baru saja mereka hadapi.
"Tadi itu benar-benar menyenangkan sekali! musuh-musuh yang ada disana sangatlah lemah! hahaha!" Yubino terlihat sangat puas dengan hasil perang ini.
"Aku setuju denganmu, ini seperti pembuangan potensi, mereka semua mati sia-sia. Apakah ada rencana lain dibalik ini? Homura dan Versace juga tidak ketemu, ditambah sikap Zeldris yang tiba-tiba memberontak dan kabur.. Feria yang mendadak hilang dan Katsura yang tak kunjung kembali, aku pusing dengan semua ini" Arizawa duduk di sofa dan meringkuk.
Katsura dan Feria pun segera masuk dari pintu depan, dengan wajah yang terlihat sudah lelah dengan semua ini.
"Oh! Katsura! akhirnya kau pulang juga!" kata Arizawa, dia sangat senang Katsura kembali dengan selamat.
"Ya aku kembali."
"Tunggu, jika kau sudah kembali artinya.." Arizawa mulai sedikit berkeringat.
Katsura membawa masuk mayat Homura, dan semua yang ada disana pun sangat terpukul, tangisan Arizawa tak bisa dibendung lagi, dia mengeluarkan semua emosinya begitu melihat wajah Homura yang sudah tidak bernafas lagi.
Atmosfer didalam markas penuh kesedihan dan duka, Katsura pun pergi keluar untuk mencari angin.
Diluar, angin berhembus cukup kencang, Katsura juga ditemani oleh Aizo di sampingnya.
"Kukira kau akan bersedih didalam?" tanya Katsura.
"Aku sudah cukup bersedih untuk orang, aku takkan melakukannya lagi" jawabnya dengan nada datar.
Katsura menyadari perubahan sikap Aizo, dia pun memilih untuk tidak berbicara sementara yang lain masih dilanda oleh kesedihan dan ketidakpercayaan.
Setelah beberapa menit, Katsura dipanggil masuk dan mayat tubuh Homura sudah dibungkus dengan peti mati.
"Kita akan menguburkannya sekarang?"
"Ya, dia harus beristirahat dengan tenang, walau dia pergi mengkhianati kita, jasa dia kepada kita sangatlah besar. Kita berhutang padanya" jawab Suizei.
"Aku mengerti" Katsura mendekat ke Arizawa dan menepuk pundaknya.
"Dia bilang maaf untuk semuanya" Katsura berbisik pada Arizawa, dan segelintir air mata mengalir lagi di wajahnya.
Setelah dimakamkan, semuanya terhening, dan Arizawa bertanya, "Katsura, dimana Zeldris?"
"Sayangnya, dia juga telah tiada. Dia tewas di depanku" jawab Katsura pelan.
Walau mendengar kabar sedih lagi, namun semuanya sudah tidak bisa menangis, mereka tidak bisa lagi mengeluarkan air mata, yang terasa hanyalah perasaan yang sangat menusuk di hati.
Setelah cukup lama berada di makam, "Selamat tinggal, Homura" Arizawa menyentuh batu nisan milik Homura dan kemudian pulang bersama yang lain.
Hari ini Mato kehilangan dua anggota berharga, tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, Katsura akan mengakhiri semua misteri ini, dia akan pergi ke masa lalu besok pagi.
Sesampainya di markas, Arizawa meminta Katsura untuk menjelaskan semuanya yang terjadi padanya.
"Singkatnya, Versace dan Homura membuat perang disini sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian kalian, mereka berdua pergi ke kota lain untuk menjalankan rencananya, yakni menyerap kekuatan Ferus, menghapus sejarah dan menulisnya ulang."
"Sebenarnya Homura tidak punya alasan khusus untuk membantu Versace, dia tak memberi tahu ku alasan aslinya, namun salah satunya adalah dia ingin menggulingkan Ferus sedari dulu" jelas Katsura singkat.
"Mengalihkan perhatian kita? dia rela membuang banyak sekali pasukan hanya untuk itu?" Suizei berkomentar.
"Ya, saat dia menyerap kekuatan Ferus, dia sangat rentan untuk terkena serangan. Makannya itu dengan perang yang ada disini, kalian pasti tidak akan menyadari dia sedang menyerap kekuatan Ferus. Dan ini buktinya" Katsura menunjukkan Embodiment Crystal yang sudah retak.
"Ini.. Sangat berbahaya" ucap Cezo.
"Kita harus segera memperbaikinya atau Ferus akan lepas dari segelnya!" tambahnya.
Katsura memberikan Embodiment Crystal pada Cezo dan mempercayakan Cezo untuk memperbaikinya.
"Menulis ulang sejarah? tujuan macam apa itu?" Suizei bertanya.
"Ya, aku juga tidak memahami betul pemikirannya, sangat aneh" jawab Katsura.
Setelah berbicara panjang lebar tentang apa yang dialaminya, Katsura pun pergi ke kamarnya dan dia sedikit terkejut didepan pintu kamarnya ada Feria yang menunggunya.
"Feria? ada apa?"
Dengan wajah yang malu-malu dia tak menjawab, dia mengode kepada Katsura. Katsura paham dan dia berjalan mendekat, jaraknya beberapa centimeter dari tubuh Feria.
"Ada apa?" Katsura berbicara dengan nada pelan dan lembut.
Feria menutup matanya dan berjalan maju ke depan, memeluk Katsura erat-erat.
"Apakah kita sudah ada waktu untuk berduaan sekarang..? aku.. aku merindukanmu.." ucapnya, suaranya sangat pelan dan dia menyembunyikan mukanya di balik baju Katsura.
Katsura mengelus kepala Feria dengan lembut, "Maaf, ya. Aku janji ini adalah yang terakhir kalinya aku berpergian, besok aku akan pergi ke 100 tahun di masa lalu... aku juga sebenarnya sangat ingin berduaan bersamamu namun..-"
"Kalau begitu bawa aku bersamamu!" Feria memeluk semakin erat, tangisan mulai mengucur lagi dari matanya.
Katsura memahami perasaan Feria, dia memeluk balik Feria dan mengecup kepalanya.
"Iya baiklah, besok kita pergi bersama" jangan menangis, ya?
Feria berhenti menangis dan bahkan memeluk Katsura lebih erat, dia sangat sangat bahagia saat Katsura mau mengajaknya juga.
Feria tertawa kecil, dia pun berdiri dan masuk ke kamarnya. Perasaan Katsura berdebar-debar saat ini, dia tak pernah mengalami hal seperti tadi. Katsura pun masuk ke kamarnya dan mulai beristirahat.
Di dalam mimpinya, suara Marx kembali terdengar di pikiran Katsura.
"Katsura... Katsura..."
Bersambung...