Destiny Holder

Destiny Holder
Pekerjaan



2 Hari setelah peresmian Mato menjadi pemimpin negara, Arizawa tampak lebih sibuk dari biasanya. Dia sangat kelelahan melihat-lihat dokumen yang dikirim oleh berbagai pihak. Dan acara mana yang harus ia hadiri.


Terkadang, Arizawa merasa menyesal melakukan pilihan ini. "Duh, lelah sekali rasanya, ya.. Aku ingin istirahat dulu" katanya sambil menidurkan badannya di meja kerja.


"Tok-tok-tok" suara ketukan pintu memecah kesantaian Arizawa.


"Masuklah."


Homura masuk membawakan beberapa makanan untuk Arizawa, dia juga merasa kasihan terhadap nya yang bekerja tanpa istirahat.


"Hey, ayo kita melihat markas, jangan bekerja terus, itu membosankan, tahu."


"Markas? kalian membangun markas baru?" Arizawa kaget, dia tak diberitahu siapapun tentang perencanaan pembangunan markas.


"Lho? bukannya kamu orang pertama yang diberi tahu oleh Katsura?" Homura menggelengkan kepalanya.


"Hah? masa, sih? aku tak ingat apa-apa" balasnya.


"Sepertinya kamu bekerja terlalu keras, kemarilah, ikut kita sebentar, kau butuh waktu rileks."


"Bagaimana dengan semua dokumen itu?" Arizawa memperlihatkan banyaknya dokumen-dokumen berserakan di mejanya.


"Tidak usah dipikirkan, biarkan saja" Homura berjalan keluar ruangan.


Arizawa tergoda mendengar perkataan Homura. Setelah berdiam diri cukup lama, dia akhirnya memutuskan untuk ikut Homura.


Arizawa pun berlari menghampiri Homura yang tengah berjalan.


"Jadi kau mau ikut, kan?"


"Tentu, dong! aku bosan sekali disana seharian."


Homura tersenyum, lalu dia pun menyuruh Arizawa membawakan tas nya.


"Kenapa kau menyerahkan nya padaku sialan?!"


"Pundakku berat, tahu. Kau saja yang bawakan, hahaha" canda nya.


"Aku yang lebih capek mengapa diberikan kepada ku?!" balasnya dengan agak kesal.


"Hehe, iya maaf, sini ku bawakan lagi" Homura mengambil kembali tas yang ia berikan kepada Arizawa.


"Jadi, dimana pembuatan Markas baru nya?"


"Ini murni permintaan Katsura, dia meminta di tengah-tengah hutan, menjadikan bangunan itu sebagai pusat. Dan dia juga merencanakan akan membuat sebuah barrier seperti kubah yang akan menutupi seluruh markas. Dia takut jika ada orang seperti Nico akan muncul kembali."


"Masuk akal, asal-usul mengapa kita mendapat sihir juga masih tidak jelas, dan kenapa semesta J-60 malah menyerang kita? bukankah konflik kita dengan mereka sudah selesai?"


"Alasannya tidak jelas, tapi aku mempunyai ide gila" kata Homura.


"Aku akan menganalisis mayat Nico, siapa tau aku bisa menemukan sesuatu" tambahnya.


"Bodoh! mayatnya mungkin sudah hangus atau bahkan lenyap. Kau lihat sendiri bagaimana dahsyatnya ledakan kala itu, kan?"


"Mungkin kau benar, tapi akan kucari sebisa mungkin, petunjuk sekecil apapun harus aku temukan."


"Atau.. kita pergi lagi ke semesta J-60?" Homura berkata yang tidak masuk akal.


Arizawa tersedak ludah sendiri, dia sangat kaget dengan perkataan Homura.


"Kau masih punya akal atau tidak, sih? jelas-jelas kita sudah kalah dari mereka, masih mau kesana juga? aku sih tidak mau."


"Kita punya Katsura, dia bisa membantu kita jika ada sesuatu yang mengancam kita."


"Walaupun ada dia, kau tidak ingat betapa canggihnya teknologi disana? semua yang ada disana benar-benar tak bisa dijelaskan secara logika. Walaupun kita memiliki Katsura juga, apa kau tak ingat yang dikatakan Karma? ada sebuah raja dan pengawalnya. Dan Nico adalah pengawal terbawah disana. Bisa dibayangkan sekuat apa pengawal tertinggi yang menjabat disana?"


Homura hanya terdiam, dia menyadari bahwa pergi kesana adalah hal yang buruk.


"Kau benar, akan ku urungkan niatku. Tapi aku akan tetap pergi mencari mayat Nico bagaimanapun caranya."


"Terserah kau saja" balas Arizawa cuek.


Homura dan Arizawa menaiki helikopter, dan mereka pergi ke tempat pembangunan markas.


Disaat hampir sampai, Arizawa terkagum, luas markasnya saja sangat besar sekali, lebih besar dari markas sebelumnya.


"Hey Homura, seberapa besar lahan ini?"


"Tapi perkiraanku, mungkin 10km²" ulas Homura.


"Besar sekali, lalu, ini dana darimana?"


"Ini adalah sumbangan sukarela dari warga. Karena kita menangkap dan menghilangkan penjahat dalam negara yang berbahaya, Johan. Kita diberikan penghargaan yang sangat tinggi oleh mereka. Mereka sangat berterimakasih, dan mau membantu kita apapun kebutuhannya."


"Kebetulan kita butuh markas baru, jadi kupakai saja untuk itu" jelas Homura.


"Pantas saja, jika kau memakai dana kita, pasti tidak akan terbeli lahan sebesar ini."


Helikopter kemudian turun di tempat yang sudah disiapkan oleh Katsura dan yang lain.


Homura melompat keluar bersamaan dengan Arizawa. Cezo terkejut, Arizawa mau pergi keluar dari ruangannya.


"Jadi kau akhirnya memutuskan juga, ya? pasti membosankan disana sendirian" kata Cezo.


"Aku sudah muak dengan dokumen-dokumen itu, aku ingin santai" balas Arizawa sambil meregangkan tubuhnya.


"Baguslah, lihat pemandangan ini bersama kami. Walau pemandangan sebuah pembangunan, sih, hehe" gurau Azashi yang datang sambil membawa kopi.


"Apakah itu kopi untukku? terimakasih" Arizawa menyodorkan tangannya ke kopi yang dibawa Azashi.


Azashi menarik tangannya, dia berkata, "Eh tidak, ini punya Katsura, dia sudah bekerja keras dari tadi. Aku tidak tahu kau akan datang, jadi aku tidak membuatkan lebih. Kalau mau, buat sendiri saja, ada banyak di tenda" kata Azashi.


Arizawa terkejut, dia baru sadar Katsura tak menyambut kedatangannya. Lalu dia pun bertanya, "Katsura bekerja? pantas saja dia tak menyambutku. Dimana dia sekarang?"


"Lihat saja ke atas besi disana" Homura menunjuk ke atas fondasi yang baru dibangun.


Ternyata Katsura sedang membantu membangun fondasi awal. Dengan sihir gravitasi nya, dia bisa menancapkan tiang fondasi jauh lebih mudah.


"Oh itu kau ya, Arizawa?" ucap Katsura diatas tiang, lalu dia turun kebawah.


Keringatnya membasahi sekujur tubuh, dia bekerja sangat keras.


"Kau tampak kelelahan, matamu mencerminkan itu semua" kata Katsura kepada Arizawa.


"Apa kau tidak tidur beberapa hari ini?" tambahnya.


"Memang, aku tidak tidur belakangan ini karena banyaknya tugas presiden sebelumnya, dia sangat malas sekali mengerjakan tugasnya."


"Kalau begitu istirahat saja di tenda, aku sih akan terus bekerja, dah ya!" Katsura ingin melompat, tapi Homura menghentikannya.


"Tunggu, perubahan Aoi Tsukiakari mu telah mencapai batasnya, kan? kau juga harusnya istirahat" kata Homura.


"Aku tidak punya batasan, hahaha" gurau Katsura. Tapi, setelah itu Katsura langsung terbaring lemas di tanah.


Katsura sudah menggunakan perubahan Aoi Tsukiakari-nya selama 3 hari 3 malam, akhirnya dia tumbang.


Malam pun datang, Katsura terbangun di tengah-tengah perkemahan.


"Kau sudah bangun, ya, Katsura?" ucap Feria yang memangku Katsura.


"Loh? aku dimana ini?" kata Katsura lirih.


"Kau pingsan lagi, Katsura. Tapi sekarang kau sudah aman, kau bersama kami" kata Cezo.


"Sudah kubilang, jangan paksakan dirimu saat memakai Aoi Tsukiakari, itu sangat membebani tubuhmu" kata Homura yang sedang membakar sosis.


Katsura menunduk, dia terlalu percaya diri saat merasa dia bisa melakukan perubahan Aoi Tsukiakari selamanya. Ternyata tidak.


"Iya, maafkan aku" katanya penuh penyesalan.


Tiba-tiba terdengar suara telapak kaki di dekat tenda, semua anggota waspada. Perlahan cahaya rembulan menguak orang yang sedang berjalan ke arah Mato, ternyata dia adalah Yubino yang baru sadar.


"Hai kalian, apa kabar?" sapa nya.


"Oh ternyata kau, kukira siapa" Yukichi merasa lebih tenang.


"Akhirnya kau sadar juga, ya. Bagaimana rasa tubuhmu? apakah sihirmu juga sudah pulih kembali setelah diserap?" kata Katsura.


"Aku tidak tahu, namun rasanya tubuhku jauh lebih baik dari sebelumnya" jawab Yubino sambil memutar lengan kanannya.


"Baguslah kalau begitu, ayo duduk bersama kami, bagaimana ceritamu saat ditangkap oleh bawahan Johan?" Katsura bertanya.


Bersambung...