Destiny Holder

Destiny Holder
Misi Penyelamatan Feria



Homura bertepuk tangan lalu berkata, "Bagus! itulah yang ku inginkan. Jadi kau harus berangkat besok. Lokasi nya akan ku infokan nanti, dah ya sampai jumpa besok" Homura pergi dari kamar Katsura.


Katsura menatap ke kalung yang diberikan Homura lalu bergumam, "Apa aku bisa menyelamatkan nya dalam kurun waktu 2 menit, ya?"


"Akan ku coba saja, jika aku sampai tak bisa mengalahkannya dalam 2 menit, maka aku tak layak untuk hidup" Katsura duduk di ranjangnya dan mulai merenung lagi.


"Lebih baik aku mencoba mencari cara untuk mengalahkannya, dari kelihatannya sepertinya dia tak mempunyai sihir. Berbeda dengan Nico atau Dorman, aura mereka sangat terasa sekali seramnya."


"Tapi aku juga tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya saja, mungkin itu hanyalah tipuan. Secara aku juga menghirup parfum dia, mungkin aku dimanipulasi agar tak merasakan energinya."


"Aku pakai sekarang saja kalungnya" Katsura berdiri dan kemudian memakai kalung yang Ia terima, dilihat-lihat dirinya cukup cocok memakai kalung.


"Cakep juga diriku, desain kalungnya sederhana, tapi keren" puji Katsura yang sedang berdiri didepan kaca.


Setelah Katsura memuji-muji dirinya sendiri, dia kembali berbaring di ranjangnya.


"Besok.. ya? aku harus memikirkan strategi yang matang untuk melawannya esok" Katsura memejamkan matanya dan siap tidur.


Homura sedang berjalan di lorong, dia sedang menuju ke ruang tamu untuk berbicara dengan Arizawa.


Sesampainya disana, Homura langsung duduk dan mulai berbincang.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Arizawa.


"Ini soal Katsura, aku tidak terlalu yakin kalung itu bisa membatasi kekuatan nya. Jika kalung itu hancur, maka tamatlah sudah kita" jawab Homura.


"Jika kau sekhawatir itu, mengapa kita tidak ikut sekalian untuk membantu Katsura?" tambah Arizawa.


"Tidak, kita biarkan saja Katsura yang menyelamatkan Feria seorang. Jika kita ikut, maka kita akan masuk kedalam perangkap musuh. Apakah kau ingat perkataan Tohiko saat itu? dia bilang dia ingin menghancurkan Viper. Maka mungkin saja dia adalah orang yang punya masalah dengan kita dari dulu dan sudah punya rencana yang matang. Jika kita bertindak gegabah sama saja kita masuk ke kandang harimau" ulas Homura.


"Kau benar, tapi selama ini kita tak pernah berbuat salah, apa kau ingat sesuatu?"


"Entahlah, ingatanku memudar seiring bertambahnya umur."


"Seingatku kita selalu baik kepada semua orang, entah dia itu siapa dan darimana, mungkin dia tidak suka dengan cara kita bekerja."


"Apakah dia dari semesta J-60?" Homura berteori liar.


"Tunggu, jangan menyimpulkan terlalu cepat. Kata Karma, yang tahu soal semesta kita hanya Nico dan dia seorang."


"Memang, tapi mungkin sinyal Nico itu mengundang seseorang datang kemari, seperti kata Karma juga."


"Masuk akal, tapi kita tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat" ujar Arizawa.


"Ya, aku ingin pergi tidur sekarang, besok adalah hari penentuan" kata Homura.


Homura pergi dari ruang tamu dan segera pergi tidur.


Keesokan harinya, Katsura dan Homura bertemu di lapangan dan mulai berbicara.


"Kau sudah siap Katsura?" tanya Homura.


Katsura menatap Homura dengan serius lalu berkata, "Aku siap."


"Baiklah, lokasi Tohiko berada di dekat pabrik kertas di sebelah utara dari sini. Jaraknya sekitar 50km, apakah kau sanggup?" urai Homura.


"Aku sanggup!" seru Katsura.


"Bagus, sekarang pergilah. Selamatkan Feria sebelum dia mati."


Katsura mengangguk dan mulai berlari. Homura berkata, "Tolong, jaga emosimu."


Katsura selama perjalanan berekspresi dingin, seakan tak acuh pada sekitarnya. Bahkan orang menyapanya pun tak Ia balas.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Katsura sampai didepan markas Tohiko.


Katsura masuk dan menolah-noleh mencari Feria, tapi tidak ketemu juga.


*Prok-Prok-Prok suara orang Bertepuk tangan dari belakang Katsura.


Katsura menoleh kebelakang, ternyata Tohiko memunculkan dirinya.


"Kukira kau akan kesini dengan rombongan mu, percaya diri sekali ya dirimu" ucapnya.


"Dimana wanita itu?" tanya Katsura.


"Wanita itu? kau kesini untuk menyelamatkan nya? dia sudah tidak berdaya lagi" balasnya.


"Apa yang kau maksud?"


"Dia sudah tidak berdaya lagi, bahkan untuk berdiri saja dia tak mampu."


Tohiko terkejut, dan langsung mengeluarkan pistolnya, namun Katsura sudah berada di depannya persis.


Dengan adanya Katsura didepan Tohiko, Tohiko langsung tersungkur ke tanah, tak kuat menahan gravitasi Katsura.


Tohiko kesal, dan dia mencoba menekan tombol yang ada di saku celananya. Katsura memukul tanah dengan keras, membuat seisi bangunan retak.


Ternyata Tohiko menghilang dari pandangan Katsura, dia sudah berada diatas atap.


"Hahh.. Hah... Gila, kekuatan apa itu?" Tohiko tampak kesulitan dan berkeringat.


Katsura menerobos dari bawah, meninju atap hingga hancur. Tohiko menekan tombol nya lagi dan berada di belakang pohon.


Tombol yang ada di saku Tohiko adalah tombol untuk ber teleportasi kemanapun yang dia inginkan, tapi masih dalam 1 lingkup area yang dijangkau. Jangkauannya sekitar 100 meter.


Katsura berteriak, dan membuat bebatuan yang ada disekitarnya terbang mengikuti dirinya.


Tohiko mengintip sedikit, tapi Ia ditinju tepat di wajah oleh Katsura.


Tohiko terpental sangat jauh, tinjuan Katsura membuat tanah disekitarnya hancur dan meninggalkan bekas.


Katsura melompat-lompat menaiki pohon untuk mengejar Tohiko.


"Sialan! dia kuat sekali!" keluh Tohiko kesal.


Tohiko saat ini berada di belakang tebing yang tinggi, dia berniat ber teleportasi ke atas tebing, tapi Katsura muncul dan menghantam dirinya hingga tebing itu runtuh.


Waktu telah berlalu 1 menit. Katsura pergi dan mulai menghancurkan area sekitarnya dengan auranya.


Auranya meluas sampai 1 kilometer, semua tanah yang ada didalam radiusnya hancur tak bersisa, lalu terlihat lah Feria yang sedang diikat di ruangan bawah tanah.


Katsura langsung menuju kesana dengan cepat, dan melepas semua ikatan Feria.


Tohiko bangun, tubuhnya penuh darah dan luka karena bebatuan yang menimpanya.


"Sial! bagaimana dia tidak terpengaruh parfum ku?!!" ucapnya kesal.


Feria membuka matanya perlahan, dan berkata, "Katsura..?" matanya berkaca-kaca dan berair.


"Ku kira kau takkan bisa mengendalikan ini" ucapnya lagi.


DOORRR


Katsura tertembak tepat di dada, dengan senapan energi milik Tohiko.


Tohiko terengah-engah menembakannya, jadi sedikit meleset yang tadinya Ia incar adalah jantung Katsura.


"KATSURAA!!" teriak Feria panik.


Tohiko ber teleportasi ke samping Feria dan mau membawanya pergi lagi.


"Kau tak boleh kabur sialan!" ucap Tohiko.


Waktu sudah berjalan 1:50 Menit. Katsura bangkit dan langsung mengincar kaki kanan Tohiko dan meninjunya hingga copot.


Tohiko yang keheranan, tak sadar kaki kanannya telah putus ditinju Katsura.


Tohiko ingin ber teleportasi, tapi tombolnya hancur.


Katsura dengan cepat menggendong Feria dan kabur dengan cepat.


"Katsura? kau membunuhnya?" tanya Feria.


Katsura yang masih dalam mode lepas kendalinya tak bisa menjawabnya, dia mengabaikannya dan tetap berlari.


2 menit.


Kalung Homura aktif dan menetralisir sihir Katsura, membuatnya terjatuh di jalan dan pingsan.


"KATSURA?? KATSURA??!! JANGAN MATI!" seru Feria panik.


Di tempat pertarungan tadi, ada seseorang yang mengamati pergerakan Katsura dan dia berkata, "Oh dia punya kekuatan semacam itu ya? itu akan menjadi milikku nanti!" kemudian dian menghilang.


Tohiko sekarat, dia tak bisa bergerak dan hanya bisa menunggu pertolongan.


Hari mulai sore, Katsura belum kunjung bangun juga. Selain itu, ada masalah yang menimpa Viper.


Bersambung...