
Malam sudah berlalu, pagi hari menyambut dengan cerah.
Semua anggota sudah bangun dan menjalankan rutinitasnya masing-masing.
Sesuai perkataan kemarin, Homura akan pergi ke kepulauan Ecuador untuk mencari serpihan mayat ataupun jejak Nico. Dia sedang mempersiapkan pesawatnya di dekat perkemahan.
Katsura yang tidak tahu Homura akan pergi ke kepulauan Ecuador, dia pun bertanya padanya. Jarang sekali Homura niat melakukan sesuatu.
"Hey Homura, kau akan pergi kemana dengan pesawat itu?"
"Aku akan pergi ke tempat pertarungan akhirmu dengan Nico, kepulauan Ecuador."
"Untuk apa kau pergi jauh-jauh? mau apa kau kesana?"
"Oh ya kau belum tahu detailnya, ya.. Jadi begini, aku kesana ingin memeriksa jejak Nico, seperti bau, serpihan baju, sisa energi, atau mayat sekalipun. Aku membutuhkan itu semua untuk riset kedepannya, tentang siapa dia, apa itu anggota kerajaan, mengapa dia mencari Golden Orb, siapa bantuan yang dipanggil nya, kita terlalu minim informasi."
"Bukankah dia sudah lenyap bersamaan dengan meledaknya lubang hitam itu? untuk apa kau tetap mencarinya jika dia benar-benar hilang sepenuhnya?"
"Tidak apa, walaupun ada petunjuk sekecil debu pun akan ku ambil, lagipula aku merasa bahwa, orang sepertinya tak mungkin mati setelah menerima serangan itu" Homura berkata dengan nada yang lebih tajam.
"Baiklah jika itu maumu, aku tak melarang juga. Tak biasanya kau rajin seperti ini" Katsura tertawa kecil.
"Memangnya aku se malas apa sih?" balas Homura dengan candaan.
"Yasudah kalau begitu, aku akan pergi dulu, sampai jumpa" Homura masuk ke pesawat nya dan melambaikan tangan ke Katsura.
"Hati-hati dijalan."
Pesawat pun lepas landas, Katsura kembali ke tempat pembangunan untuk lanjut membantu disertai dengan Yubino, membuat pekerjaannya menjadi sedikit lebih mudah.
"Mereka semua giat sekali, ya.. tak sabar markas baru akan jadi" ujar Raiha.
"Masih harus menunggu 3-4 bulan, loh. Rasanya aku ingin menyewa perumahan saja" Aizo berbicara dibelakang dan mendahului Raiha yang sedang berjalan.
"Memangnya kenapa kau tidak mau tidur di kemah, sih?"
"Gatak tahu rasanya, aku selalu digigit semut, bahkan diganggu jangkrik. Aku tak tahu kenapa bisa begitu, padahal sudah tutup seleting tenda nya" Aizo mengeluh, dia memperlihatkan luka gatal-gatal di sikunya.
"Kasihan sekali, tapi aku malah tak merasa apapun tuh, mungkin karena tenda mu dibawah pohon dan banyak tanaman, semut suka hinggap disitu" Raiha mengoleskan salep ke luka gatal di siku Aizo.
"Tidak usah repot-repot sampai memberiku obat, ini hanya luka biasa. Tapi aku memilih tempat itu agar tak terlalu panas saat siang hari, aku orangnya tak kuat panas."
"Harusnya kau semprotkan beberapa obat anti serangga disekitar tenda mu itu. Lagipula aku perhatikan, kau kalau tidur itu berantakan sekali, selalu berpindah-pindah tempat. Aku pernah lihat sekali kakimu membuka seleting tenda, tahu"
Aizo malu, ada yang memperhatikannya saat sedang tidur. Dia pun berkata, "Loh mengapa kau memperhatikan aku?"
"Kau lucu saat sedang tidur, aku mendapat sedikit hiburan, hahaha" gurau Raiha.
Mereka berdua terus berbicara sambil berjalan mengitari pembangunan markas.
Katsura dan Yubino bekerja sangat keras, mereka tak segan-segan menggunakan sihir nya untuk membantu pembangunan.
Yubino mengangkat besi di tanah menggunakan rantai apinya, sedangkan Katsura menggunakan perubahan Juryoku No Ikari-nya. Walau menguras banyak tenaga, dia tetap menggunakannya.
Ada sekitar 186 kuli yang ikut membantu pembangunan, masing-masing mempunyai tugasnya sendiri.
Sementara itu, Arizawa sedang jalan-jalan bersama Yukichi, dia mencari barang di mall untuk membantunya di kantor nanti.
"Ini bagus, yang ini juga bagus, menurutmu pilih yang mana?" Arizawa sedang memilih 2 mug gelas dan meja yang lebih besar.
"Hmm, yang kiri terlihat lebih cocok untukmu, pekerja keras dan mandiri, ada motivasi tersendiri."
"Kau tahu banyak soal ini ya."
"Tentu dong, aku punya pengalaman di bidang mencari barang yang cocok. Pacarku sering menanyakan begitu soalnya" keluhnya.
"Kalau begitu aku beli ini, dan juga tv kecil itu untuk menghibur ku, akan ku pasang diatas pintu masuk."
"Baiklah."
"Aku ingin pergi makan ramen, apakah kau ingin ikut? kau terlihat lapar sehabis menemani ku begitu" ajak Arizawa.
"Aku ikut, aku lemas sekali belum sarapan dari pagi" balasnya.
Arizawa tersenyum, dan mereka pun pergi ke restoran ramen terdekat.
Di sisi lain, Feria sedang memikirikan sesuatu di dekat pantai. Bersama dengan Azashi dan Zeldris, mereka membantu mengangkut barang yang tertinggal.
"Mengapa aku merasa akan ada hal buruk menimpa kami di kemudian hari, ya?" gumam Feria dalam hati.
"Hey Feria, apakah kau tidak ada niat membantu? lumayan banyak barang disini, kami sedikit kesulitan" kata Azashi.
Perkataan itu memecah keheningan Feria, dia pun segera membantu Azashi dan Zeldris.
Homura akhirnya sampai di tempat pertarungan akhir Katsura dengan Nico, tempatnya masih sangat kacau balau dan sudah dikelilingi oleh garis polisi.
"Wah, mereka tak ada niatan memperbaiki kerusakan masif ini, ya?"
"Baguslah, mempermudah pekerjaan ku. Jika sudah ditambal mungkin aku akan meledakkan nya lagi."
Homura berjalan ke tengah kawah, energinya masih terasa jelas, energi itu merambat ke bawah tanah.
Homura curiga, ada apa dibawah tanah sana? setelah dia mengebor nya, ternyata hanya ada tumpukkan energi yang terbuang dari ledakan lubang hitam saja. Energi itu merambat ke bawah lumpur karena mencari tempat yang lembab.
Namun, Homura masih merasakan samar-samar energi Nico yang masih ia ingat sedikit. Walaupun tak sama persis, Homura rasa Nico masih hidup.
"Energi ini, persis seperti yang Nico keluarkan saat dia melawan Katsura dalam perubahan Aoi Tsukiakari-nya" Homura mengusap tanah.
"Baiklah, sisa energi ini akan kusimpan untuk ku teliti, mungkin saja dia meninggalkan jejak dari sini."
Disaat Homura sedang menginvestigasi, dia melihat sebuah kubus putih terkubur di tanah. Dia pun segera mengambilnya.
Ternyata, itu adalah alat yang ia berikan kepada Katsura untuk menyerap sihir. Tanpa pikir panjang Homura langsung menyimpannya.
"Aku sudah punya 2 kunci, energi yang mirip Aoi Tsukiakari, dan kubus ini, ini pasti meninggalkan jejak. Secara Nico pernah beradu energi dengan ini, alatku bisa melihat masa depan yang terjadi, lihat saja nanti" Homura serius, dia menatap kubus itu dengan tatapan penuh harapan.
Homura pun melanjutkan investigasinya. Hari sudah malam, Katsura dan yang lain sedang membahas hari mereka di perkemahan.
Kemajuan pembangunan markas meningkat 3% karena bantuan Yubino, dengan begini mereka bisa menikmati markas 3 bulan kedepan.
"Akhirnya dipercepat juga! aku tak tahan tidur disini" keluh Aizo lagi.
"Kau masih saja mengeluh soal itu, ya?" kata Raiha.
"Aku tak bisa berhenti mengeluh, lihat saja, besok tubuhku penuh gatal-gatal" Aizo semakin kesal dengan semut yang selalu menganggu nya.
"Baiklah, akan ku pindahkan tendamu ke tempat yang lebih aman serangga" kata Arizawa.
"Benarkah? mantap!" seru Aizo.
Bersambung...