
Di malam hari yang gelap nan sunyi, dua pemuda di ujung hutan sedang beradu kekuatan. Yang satu dipenuhi oleh amarah dan yang satu dipenuhi oleh rasa penasaran.
"HHGGRRRARAAAAHHHHHH" teriak Katsura yang termakan oleh amarahnya.
"Termakan amarah sendiri hanya dikarenakan cinta, kau ternyata masih naif, bocah." gerutu Nico mempersiapkan pedangnya untuk menebas.
Katsura yang lepas kendali dengan cepat berada di samping Nico, Nico bersiap menangkis serangan membabi buta dari Katsura.
Nico menghindari pukulan Katsura dengan santai dan berjalan kebelakang sambil mengatakan
"Aku sudah pernah melihat sekali mode mu itu, tak akan kubiarkan kau mengalahkanku lagi dengan mode itu"
"DISANA!" teriak Nico yang melihat celah diantara serangan Katsura dan Dia memukul Katsura tepat di wajah, namun pukulannya tak tembus ke kulit Katsura dikarenakan tekanan gravitasi yang sangat kuat.
Pertahanan Katsura ada 3 lapis, lapisan pertama adalah gravitasi keatas, lapisan kedua adalah gravitasi menurun. Namun, di lapisan ketiga ini dia menggabungkan keduanya dengan sangat banyak dan cepat.
Gravitasi keatas, maka benda di sekitar nya akan naik keatas, begitu juga menurun. Namun, jika keduanya digabungkan maka akan membuat objek itu melayang. Ini yang terjadi pada pukulan Nico.
Di lapisan ketiga juga Katsura melipatgandakan gravitasi naik dan turun berkali kali. Sehingga objek yang ingin menembus aura Katsura akan penyok seketika dikarenakan naik turun gravitasi nya dengan sangat cepat dan tidak stabil.
"Sialan tak bisa ku tembus, rasakan ini!" Nico mengayunkan pedangnya ke pundak Katsura. Namun walau senjata Nico terbuat dari cahaya, pedangnya tak mampu menembus aura Katsura.
"Kau tak memberiku pilihan.." gertak Nico sambil menggesek tanah kebelakang dengan kakinya.
..."Sihir Petir : Kecepatan Sang Halilintar"...
Nico mendorong Katsura dengan sangat jauh, dari lokasinya dengan markas Viper saat ini sekitar 40km jauhnya.
Katsura berteriak dan meluaskan area pelindung miliknya, sontak membuat Nico reflek mundur.
Nico menendang tanah sampai retak, melapisi tanah tanah yang berterbangan dengan petir dan dilemparkan ke Katsura.
"(Apakah dengan ini bisa menembus pertahanannya?)" tanyanya dalam hati.
Asap perlahan menghilang, Katsura sama sekali tak tergores oleh serangan Nico, Katsura langsung menerjang Nico dengan sangat cepat, membuatnya tak bereaksi dan berhasil dipukul di wajahnya.
Nico terpental, tapi dia mengikatkan kakinya pada salah satu pohon dengan sihir api agar tak terhempaskan lebih jauh lagi.
"Jadi begitu.. walaupun pertahanannya sangat kuat tapi serangannya biasa saja"
"Katsura.. jika kau mampu mengendalikan wujud itu tanpa dikuasai oleh amarahmu pasti Kau akan jauh lebih kuat dari ini, tapi sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi" ucap Nico yang sedang berdiri.
Nico bersiaga di belakangnya, dan benar dia memprediksi gerakan Katsura selanjutnya, Nico berhasil menangkis serangan yang Katsura lancarkan dengan kakinya.
"Gerakan mu terlalu monoton, bodoh!" ucapnya sambil membanting Katsura ke tanah.
"(Dalam sekejap, aku bisa menyentuhnya, jadi aku hanya harus bereaksi lebih cepat daripada dia mengaktifkan pelindungnya)" ucap Nico dalam hati.
"Katsura..!!! Katsura..!!!" teriak dari salah satu anggota Viper mencari keberadaan Katsura.
"Tch sialan, mereka menyusul ya, aku tak akan menang jika dikeroyok begini, baiklah akan kupakai cara ini"
..."Sihir Kegelapan : Jurang Gelap Penuh Marabahaya"...
Yubino, Homura, Arizawa, dan Yukichi sedang mencari Katsura di dalam hutan. Nico membuat sihir ilusi kepada mereka untuk memperlambat gerakan mereka.
Yubino, Homura, Arizawa dan Yukichi dibuat kebingungan oleh dinding hitam yang tiba tiba muncul didepan mereka, seakan nyata, mereka terjatuh kebawah.
"HUWAAA MENGAPA KITA TERJATUH WOI!" teriak Arizawa panik.
"Santailah, aku juga tak tahu yang terjadi" balas Yukichi.
..."Sihir Air : Gelembung Permaisuri"...
Yubino menciptakan gelembung air raksasa dibawah agar mereka tak kesakitan saat mendarat.
"Aduh duh-duh.. sakit sekali" keluh Arizawa sambil memegangi punggungnya.
"Walau sudah dilindungi dengan sihir Yubino masih tetap sakit, ya?" ucap Homura.
"Sebenarnya berapa sih tinggi jurang ini, ga keliatan langit sama sekali loh" ucap Yukichi yang melihat keatas dengan seksama.
Tiba-tiba monster seperti harimau dan singa muncul dihadapan mereka dan bersiap menerkam mereka.
"WOI WOI KOK ADA HARIMAU DISINI?" seru Arizawa semakin panik.
"Gampang, tinggal kubasmi saja mereka!" ucap Yubino dengan penuh semangat.
"Nah sekarang mereka sudah tak mengganggu lagi" ucap Nico menoleh kebelakang.
Katsura menerkam dari depan, tapi dapat ditangkap pukulannya oleh Nico.
"Kau.. akan berakhir disini!" Nico menusukkan pedangnya ke perut Katsura.
..."Sihir Cahaya : Sinar Cahaya Pengadilan!"...
...**** Di Dalam Jiwa Katsura ****...
Katsura membuka matanya, yang ia lihat hanyalah dinding dinding merah seperti darah yang mengelilinginya.
Setelah dia menengok-nengok kesana dan kemari dia menemukan dirinya yang sedang terikat oleh tali hitam dari atas.
"Itu.. Bukannya diriku..?" tanya Katsura yang sangat kebingungan apa yang sedang terjadi.
"Apakah aku mati? kok aku bisa melihat tubuhku sendiri" ucapnya lagi.
Nico menyengir, dan dia terbang keatas untuk menyusul Katsura yang sedang melayang tanpa tujuan.
"Menyedihkan, jadi ini yang kau sebut amarah? jika dibandingkan mungkin amarahku lebih kuat darimu! amarahmu berasal dari cinta, dan itu sangat naif!" teriaknya di udara.
"Apa itu? aku mendengar suara Nico disana.." ucap Katsura yang mencari cari asal dari suara itu.
Setelah dicari cari dan tidak ketemu, Katsura akhirnya menyadari bahwa dia sedang didalam pikirannya sendiri.
"Bagaimana caraku keluar dari sini??!! aku harus kembali melawannya sebelum aku dibunuh secara permanen!" ucap Katsura yang panik dan berjalan jalan didepan tubuhnya yang sedang diikat.
"Amarah dari cinta ya? memangnya itu hal yang.. salah?"
"Dipikir pikir iya juga, sih. emosi karena hal semacam cinta itu sangat aneh dan egois"
"Mengapa aku se kesal itu, ya..?" ucap Katsura yang sedang berkaca pada dirinya sendiri.
"Tidak ada gunanya lagi kau menyembunyikan kebenaran.. tunjukkan padaku memori mu yang sebenarnya!" seru Nico yang sedang memukuli wajah Katsura.
"Bangun.. Bangunlah bodoh!" teriak Katsura yang sedang membangunkan dirinya sendiri yang sedang terikat.
"Kita bisa, tidak, kita harus menghentikan dia!" ucap Katsura yang semakin panik dirinya yang asli semakin kehilangan kesadaran.
Nico memukul sekali lagi, ditangkap oleh Katsura.
"Oh kau sudah bangun, ya?" ucapnya.
"Jika mode ku ini bergantung pada kendali emosiku, aku hanya perlu membuangnya saja.." ucap Katsura di dalam pikirannya.
Katsura belum sadar, dia masih lepas kendali, tapi dia bisa sedikit mengontrol tubuhnya satu persatu.
Katsura meninju wajah Nico, yang membuatnya terpental hingga 10km jauhnya di udara. Lalu dia meninju udara berkali-kali sehingga menimbulkan Shockwave yang menghujani Nico.
"Hanya.. Perlu satu tembakan lagi dan dia akan mati.." ucap Nico yang sedang dihujani Shockwave, lalu dia membuat gaya pistol dari tangannya dan mengarahkan ke arah Katsura.
..."Sihir Cahaya : Tembakan Sinar Surgawi!"...
Laser dari jarak 10km menembus perut Katsura dengan sangat cepat, melebihi kecepatan kedipan mata.
Nico yang sudah sangat kesal, dia tak peduli lagi pada lokasi Dorman sekarang, dia berniat untuk membawa Katsura pulang bersamanya ke semestanya untuk di eksekusi.
"Aku tak perlu menunggu kau mengatakan kebenaran, aku hanya perlu membawamu ke semestaku agar aku bisa menelusuri isi memori mu dengan lebih dalam!" teriak Nico yang sedang menuju ke arah Katsura.
"Yang berarti jika kau mati tak akan menjadi masalah, kau bisa kembali dihidupkan disana. setelah kau memberi tahu kebenarannya kau akan kubunuh lagi.." ucap Nico yang sudah berada di samping Katsura.
"Selamat Tinggal."
Nico mengayunkan pedangnya dan menghempaskan Katsura dengan sangat jauh, sampai ke tengah Samudera Pasifik.
Nico secara cepat langsung berada di tempat Katsura terhempas, menunggunya mengambang untuk diambil.
"Bangunlah.. Bangunlah bodoh!!!!!" teriak Katsura sambil menampar nampar dirinya sendiri.
"Jangan biarkan kau mati disini dasar pecundang! pengecut yang naif! bangunlah!" ucap Katsura semakin panik sambil menarik narik tali yang sedang mengikatnya.
Lalu sesaat dia melihat kilas balik saat Nico memberitahunya soal hebatnya kekuatan gravitasinya jika dia tak hilang kendali.
"Begitu, ya.. jadi aku hanya perlu sadar kembali saat dalam keadaan mode gravitasi ini, dan mungkin aku akan menguasainya!"
"Oke pertama tarik nafas dalam dalam... hembuskan..."
"Buang semua emosi negatifmu.. ubahlah menjadi energi yang positif!" seru Katsura dengan penuh semangat.
Katsura yang di dalam air membuka matanya dan langsung menekankan gravitasi di sekitarnua dengan area yang sangat luas, melebihi sebuah benua di tengah Samudera Pasifik.
Permukaan air sampai ke permukaan tanah dibawah air terbuka sangat lebar, dengan Katsura sebagai pusatnya.
Nico terkaget dan tak bisa berhenti memelototi tengah Samudera itu yang membentuk pusaran sangat luas. dia tak menyangka Katsura yang dalam mode gravitasi nya jika sedang tidak terlelap oleh amarah akan sekuat ini.
"Mari kita mulai.. ronde keduanya, tidak, ronde Terakhir, Nico!" seru Katsura tersenyum remeh.
Bersambung...