
"Yah, sudahlah tidak usah dipikirkan. Lagian itu juga cuma dongeng belaka, tak ada yang tahu pasti kebenarannya. Lebih baik kau membaca semua buku mu itu" kata Suza.
"Tunggu, kau tahu aku punya buku-buku darimana?" Katsura terkejut, Suza melihat buku-bukunya.
"Saat Feria ingin pergi menemui mu, sebenarnya aku sudah selesai mengajar. Tapi, aku melihat buku mu mencolok sekali di dekat meja, jadi kulihat saja isinya. Ternyata adalah panduan untuk memandu emosi. Sepertinya masalahmu sangat berat ya" ujar Suza.
"Jadi kau melihat buku ku, ya, iya begitulah ceritanya. Jadi benarkah besok kita akan berangkat?" Katsura semakin tak sabar.
"Tentu saja, silahkan baca dulu semua buku itu, akan kutunggu besok di depan hotel" Suza pergi meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan.
Katsura menatap Feria yang masih agak sedih soal perbuatannya, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam. Tapi ia menolaknya dan ingin pergi sendiri dulu.
Katsura semakin kesal kepada dirinya, terlalu lemah bahkan emosi saja dapat mengambil alih tubuhnya. Dia pun masuk kedalam dan mandi.
Setelah mandi, Katsura langsung membaca bukunya yang lain sembari menunggu Feria. Namun, sudah 1 jam lamanya dia belum juga kembali.
Katsura semakin khawatir, dia ingin pergi mencarinya tapi dia sedang ingin sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Homura.
Semua kabar dari Homura sudah dibaca oleh Katsura, semuanya kabar baik-baik saja.
"Ya halo ada apa, ya?" Homura mengangkat telepon Katsura.
"Halo, apa kabar dari semua anggota?" Katsura bertanya.
"Tentu mereka semua baik-baik saja, sekarang kami masih ada di hutan, tapi pindah ke bagian selatan. Mereka selalu saja mengejar kemanapun kami pergi" jawab Homura.
"Begitu, ya. Aku ingin memberikan kabar bahwa besok aku akan mendapatkan pelatihan khusus untuk pengontrolan emosi secara langsung" ungkap Katsura.
"Oh ya? bagus sekali! semuanya menunggu kedatanganmu, tahu. Semoga lancar, ya!" Homura memberi semangat.
"Iya terimakasih, ya. Ada satu hal lagi yang menganggu pikiranku" kata Katsura.
"Apakah Feria terlalu memasukkan hati ke setiap hal yang dia anggap tak baik baginya?" Katsura murung.
"Emm Feria ya? akan kukatakan saja, memang dari dulu dia selalu memasukkan kedalam hati begitu saja ketika ada masalah menimpanya, dibanding berpikir optimis, dia malah pesimis dan overthinking" jelas Homura.
"Memang kenapa kau menanyakan itu?" tanya Homura.
"Baru saja aku membentaknya, tapi itu adalah diriku yang dikendalikan emosiku lagi. Dan dia sedang pergi untuk sendiri, tapi sudah lebih dari 1 jam dia tak kembali juga" kata Katsura sedih.
"Tinggu, emosimu bisa bicara? bagaimana dengan kalung yang aku berikan?" Homura sedikit kaget mendengarnya.
"Tidak, sihirku tidak aktif kali ini, tidak tahu kenapa bisa begitu" balas Katsura.
"Sudah semakin parah, ya. Lebih baik kau jangan banyak berpikir, ada kemungkinan tubuhmu bisa diambil alih lagi" suruh Homura.
"Tidak, aku hanya penasaran soal Feria, apakah dia mempunyai trauma yang mendalam atau bagaimana, aku tak tahu menahu soal nya lebih dalam" ujar Katsura.
"Awalnya memang berjalan dengan baik, tapi, semakin lama dia semakin sering disuruh-suruh yang tak masuk akal. Dia pernah disuruh untuk melakukan transaksi narkoba dengan anggota geng. Saat itu uang yang dia bawa tidak cukup. Akhirnya dia diseret dan diikat di ruangan yang luas dan gelap. Disana dia disiksa dengan brutal. Misalnya tangannya dikuliti pelan-pelan, dan bahkan hampir diperkosa oleh ketua geng itu. Tapi dihentikan oleh pengasuhnya yang tiba-tiba datang. Dia sangat bahagia saat mendengar bahwa pengasuhnya datang untuk menyelamatkan nya. Tapi, sang pengasuh datang untuk membayar uang yang kurang. Dia tak peduli dengan Feria yang sedang menangis di hadapannya."
"Saat di grebek oleh polisi, dia menyalahkan Feria karena sudah mau melakukan transaksi narkoba. Alhasil mereka dipenjara, saat masa penjara sudah selesai, Feria disekolahkan gratis oleh polisi yang sudah memenjarakannya, tapi harus mencari tempat tinggal sendiri. Walau bajunya sangat kusam, dia tetap bersemangat pergi ke sekolah, singkat cerita dia mempunyai teman bernama Kira, dia adalah sahabat terbaik yang dipunyai Feria. dia sangat memercayainya seperti keluarga sendiri. Mereka sering belajar bersama, makan bersama, bermain bersama dan sebagainya, dia juga ditawarkan tinggal dirumah Kira. Tapi, pada saat kelulusan, Feria tiba-tiba diusir dari rumah Kira. Karena Kira menganggap sekolah sudah selesai, dia tak punya alasan lagi untuk berteman dengannya."
"Dia sebenarnya tak sudi berteman dengan Feria, tapi dia terpaksa karena dia juga membutuhkan teman, dia juga tak punya teman di sekolah. Semua kata-kata itu ia lontarkan persis dihadapan Feria. Feria hanya bisa menangis, kesedihannya tak terbendung lagi. Dia tidak butuh penyelamat atau apapun, dia hanya butuh teman untuk berbagi cerita dan dapat dipercaya. Karena itulah dia sangat hati-hati saat memilih teman sekarang. Dimalam itu juga aku menemukannya sedang duduk termenung di trotoar." urai Homura.
Katsura hanya termenung mendengar masa lalu Feria, tak bisa dibayangkan betapa kesalnya Feria saat itu, tak terbendung lagi amarahnya. Tapi, dia berhasil menahannya.
"Begitu, ya, aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia. Yasudah terimakasih ya atas penjelasannya, aku ingin tidur lebih cepat" kata Katsura.
"Iya, sama-sama" Homura mematikan teleponnya.
Katsura pun pergi tidur, disaat dia sudah terlelap tidur, Feria memasuki kamar. Saat dia ingin berbaring, dia berkata kecil, "Sepertinya kamu adalah orang yang baik, semoga kamu tidak seperti Kira dan yang lain."
Katsura bangun lebih pagi, dia kaget karena ada Feria yang sedang tidur di sampingnya. Dia pun tersenyum.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Katsura dan Feria sudah berada di lobby hotel untuk bersiap dijemput oleh Suza.
Suza menelpon, dia sudah berada didepan lobby. Katsura dan Feria naik ke mobil dan mereka pun berangkat.
Jarak dari Tokyo ke Nachikatsuura lumayan jauh, di perjalanan Katsura membaca bukunya dan berpikir latihan seperti apa yang akan dia dapatkan.
Sesampainya disana, Katsura sedikit terkejut melihat pemandangan alamnya, sangat asri nan indah.
"Sebentar ya, tunggu disini saja, aku ingin menyewa penginapan" kata Suza.
"Ini, pakailah kartu ku, ini diberikan oleh wakil pemimpin organisasi kami untuk segala kebutuhan kami disini" Feria mengeluarkan kartu kreditnya.
"Tidak apa-apa? baiklah, kalian tunggu ya" Suza pun pergi.
Katsura dan Feria saling diam-diam saja, hanya sedikit komunikasi. Katsura masih merasa tak enak dengan kejadian kemarin.
Selang beberapa menit, Suza kembali membawa kunci dan pamflet.
"Kertas apa itu?" tanya Feria.
"Ini adalah selembaran pamflet tentang air terjun Nachi, kebetulan sekali tadi aku bertemu orang yang bekerja disana jadi kita sudah dibolehkan masuk. Aku sudah membeli tiket untuk ke air terjun, dan menyewa kamar" ulas Suza.
"Wah, kau benar-benar cepat tanggap, ya!" puji Katsura.
"Sudah-sudah, kalian istirahat dulu, nanti sore kita akan berangkat kesana."
Bersambung...