
"Kau pasti terkejut, aku sudah menduganya sejak awal" kata Azashi, dengan mata sinis kepada Katsura.
Sesaat Katsura membuka mulutnya, namun Azashi masih meneruskan omongannya, "Jika kau bertanya kenapa, tanyakanlah pada dirimu sendiri kenapa kehadiranmu membawa bencana pada kami semua."
"Jadi, aku diincar sedari tadi itu ulahmu?"
"Mungkin? bukan hanya aku yang mempunyai dendam kepadamu, Katsura."
"Jadi maksudmu kau menyalahkanku atas semua hal yang terjadi kepada kita?"
"Bukan cuma aku. Kami semua mempunyai masalah denganmu, Katsura."
"Ini rumit sekali, alih-alih menceritakannya dan memberitahuku secara langsung agar aku tahu kesalahanku dimana, kalian malah mencoba membunuhku" Katsura membela dirinya.
"Kesalahanmu adalah kau terlahir di dunia ini!" jawab Azashi lantang.
"Kalau kalian mencoba membunuhku, coba saja" ucapnya misterius, ucapannya sulit ditebak.
Katsura menunduk dan mengendurkan pertahanannya, celah terbuka lebar di manapun.
Azashi tak merasa aneh sedikitpun, dia kira Katsura sudah pasrah dengan takdirnya. Dia pun mengayunkan tangan kanannya keatas untuk memanggil kristal di bawah tanah.
Kristal besar muncul di bawah Katsura dan menusuknya hingga menembus tubuh nya.
Katsura tertusuk oleh bongkahan kristal yang sangat besar, darah nya bercucuran deras dari dadanya.
Wajahnya tak terlihat, namun Azashi dapat merasakan apa yang di sentuh oleh kristal miliknya, Tubuh Katsura dingin dan pucat.
"Dia.. sudah mati..?" Azashi kebingungan sendiri.
"Semudah itu, kah?" Vira juga keheranan, rencana yang sudah di susun matang sempurna malah tidak terpakai.
"Ini.. Sudah berakhir, kah?"
Semua anggota Descartados yang ada disana kebingungan sendiri dengan kejadian yang jelas terjadi di depan mereka.
"Itu benar! kita menang! dia sudah pasti mati, aku yakin sekali!" ucap Foyd gembira.
"Bagaimana kau se yakin itu?" Hiromi bertanya.
"Sudah beberapa menit berlalu dan dia masih seperti itu, tidak bergerak sama sekali. Biasanya manusia yang hampir mati, dia masih bisa bergerak sedikit. Namun ini sudah bermenit-menit berlalu dan dia tidak bergerak, ditambah tubuhnya dingin" jelas Foyd.
"Apakah dia masih bernafas, Azashi?" Hiromi bertanya kembali.
"Tidak.." jawab Azashi spontan.
"Benar apa kataku, bukan? KITA MENANG!" seru Foyd histeris.
"Kau sepertinya sangat senang dengan kematiannya, memang dampak dia bagimu apa?" kata Lika.
"Tentu saja aku sangat senang! dia sudah memotong kedua lengan ku, dia harus membayar apa yang harus dia bayar!" jawabnya lantang.
Yubino hanya melihat dari kejauhan, melihat Katsura yang dikira mati tertusuk bongkahan kristal.
"Ini.. Tidak mungkin.. Kan?"
"Memang tidak" kata Suizei dibelakang Aizo.
"Apa yang harus kita lakukan?!" Aizo berdiri dan memegangi bahu Suizei, dia sangat panik.
"Tenanglah, aku juga baru bebas dari pembekuan sel milik Lika, untung saja ada Feria yang terdampar disana juga."
"Berarti, kita kalah? tujuan musuh sudah tercapai" tanya Feria yang baru datang.
"Feria? kau tidak histeris?" tanya Aizo keheranan, biasanya jika terjadi sesuatu pada Katsura, Feria lah yang paling panik.
"Kau sedang mengejekku, ya?" balas Feria sedikit kesal.
"Habis, kau seperti tidak ada rasa kasihan sama sekali, atau jangan-jangan kau adalah musuh yang menyamar sama seperti yang lain?!" Aizo memasang kuda-kuda bertarung pada Feria, dia curiga.
"Tenanglah sedikit, Aizo. Lihat, dia kembali" ucap Suizei, lalu Aizo langsung berbalik badan.
Kristal yang menusuk Katsura hancur dan runtuh, tubuh Katsura pun terjatuh ke tanah.
"Lihat! dia benar-benar tidak mempunyai tenaga lagi! bahkan saat jatuh dia sangat lemas, sudah dipastikan ini kemenangan besar kita!!" teriak Foyd lagi.
"Benar, ini kemenangan kita. Kita harus berpesta setelah ini. Mato akan kita rebut besok pagi, mereka tidak ada apa-apanya tanpa dia" ujar Bill.
"Kalau tahu begini mudahnya, untuk apa aku repot-repot menyusun rencana sampai memperhitungkan kemungkinan buruknya? ah ya sudahlah, yang penting kita menang" Hiromi sedikit kecewa.
Katsura menepuk pundaknya seakan dia membersihkan sebuah debu pada setelannya, "Hanya segini saja? kukira bisa lebih" ucapnya.
Seluruh mata tertuju pada Katsura, terutama anggota Descartados. Mereka melongo melihat apa yang terjadi di depan mereka.
"B-bagaimana bisa?" Azashi berkeringat dingin.
"Kau harusnya sudah mati! dasar kau monster sialan!" Foyd mencaci Katsura.
"Berisik, minimal kau punya tangan untuk menunjuk" balas Katsura mengejek.
Foyd geram, karena sudah terlahap emosi yang mendalam, dia menggunakan tubuh Azashi untuk memakai sihirnya, namun justru dia yang tertusuk duluan oleh laser cahaya milik Katsura.
"Apa yang kau lakukan? sampai bisa mencurangi kematian begitu" tanya Hiromi.
"Bagaimana menjelaskannya ya.. Intinya aku tak bisa mati dengan sebab apapun" jawab Katsura yang terdengar tak masuk akal.
"Bohong" Hiromi menjentikkan jarinya dan mengurung kepala Katsura dalam sebuah kubus, lalu meledakannya.
Tubuh Katsura tanpa kepala masih bisa bergerak bebas, dan kepala Katsura kembali beregenerasi menggunakan sihir waktunya.
"Lihat?" Katsura mencoba membuktikan.
Hiromi mulai berkeringat dingin setelah melihat kemampuan Katsura yang di luar akal sehat.
"Aku tahu ini mustahil, namun ini kenyataannya. Aku merubah takdirku sendiri? bukan aku juga."
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Intinya ada yang memanipulasi takdirku secara langsung agar aku tak bisa mati, namun itu bukan aku yang melakukannya. Mungkin seperti itu cara kerja Golden Orb" jawab Katsura.
Hiromi mulai kesal, namun dia tetap memiliki rencana.
"Semuanya, kita mundur dari sini. Ini perintah!" seru Hiromi pada bawahannya.
"Kau kira aku akan membiarkan kalian pergi hidup-hidup? maaf saja" Katsura membuka kepalan tangannya dan menggunakan sihir gravitasinya untuk menjerat Descartados.
"Aku.. T-tidak bisa b-er-gera-k.." ucap Hiromi, dia keberatan menahan gravitasi.
"Akan kubuat kalian hancur menahan beratnya gravitasi" Katsura mulai serius.
Azashi memaksa mengangkat kedua tangannya, dia membuat sebuah jurus.
..." Pluere Venalicium! "...
Kristal berukuran kecil menghujani seluruh area pertempuran, namun tak berdampak besar karena hanya menimbulkan goresan saja, jadi Mato sama sekali tidak bergerak.
"Serangan yang tidak berguna" Katsura mengejek.
"Mungkin."
..." Activa! "...
Luka goresan yang ada pada Mato menyala, bagaikan sebuah penanda.
"Apa ini?" kata Katsura, setelah luka itu menyala terang, sihir dia tiba-tiba lenyap.
"Ini.. Sihir Homura" Katsura menatap telapak tangannya yang sudah tidak beraura merah.
"Sebaiknya kalian jangan menggunakan sihir. Karena dengan kombinasi sihir kami, jika kalian memaksa menggunakan sihir, efek sihir kalian akan langsung lenyap ditambah akan mendapat sedikit 'luka' dari kristal milikku" ujar Azashi yang bebas dari jeratan gravitasi.
"Jadi kalian juga mendapatkan sihir Homura, ya.. Sialan."
"Marah lah sesukamu, Katsura. Kemenangan sudah pasti ada di tangan kami jika sudah begini" ucap Hiromi dengan senyuman misterius.
Di benak seluruh anggota Mato tiba-tiba terbayang sebuah pria dengan rambut panjang sampai bahu didalam ruangan putih.
Pria itu tersenyum, lalu luka itu berubah warna menjadi silver. Terkecuali Katsura, saat dia bertemu pria itu, ruangannya hancur berkeping-keping.
Suizei merasa gelisah dan panik, dia mengenal sosok yang dia lihat saat di ruangan putih.
"Siapa.. itu?" Aizo dan Feria bingung.
"Yotsuya... Dia bergerak" ucapnya berat, seakan dia adalah musuh yang merepotkan.
Bersambung...