Destiny Holder

Destiny Holder
Pertempuran Telah Usai



Angin berhembus kencang dari arah barat, meniup area pertempuran yang sangat berantakan. Katsura berada di tengah-tengah jalan, dan para warga berdiri mengelilingi Katsura, wajah mereka tampak panik dan menunjukkan kecurigaan.


Katsura menarik nafas dan melihat ke sekitar, dia tidak bisa merasakan tubuhnya untuk sementara waktu, bahkan dia tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya menengok ke sekelilingnya, dia seakan ingin mengatakan sesuatu, namun suaranya tidak mau keluar.


Di barisan depan para warga ada seorang anak kecil yang ketakutan melihat kondisi Katsura, ibunya menggendong anaknya dan pergi.


Katsura mendengar saut-saut orang disekitar, berbisik tentangnya saat ini.


"*Apakah dia yang menyebabkan ini?"


"Tidak, tidak mungkin.. Lihat saja badannya penuh luka, dia pasti bertarung dengan seseorang."


"Ledakan tadi benar-benar hebat!"


"Sihir semacam apa itu tadi*?"


Walaupun Katsura tidak bisa berbicara, dia bisa mendengar. Dia memaksakan untuk berbicara namun tenggorokannya sangat sakit dan dia pun terjatuh ke permukaan.


Nafasnya semakin berat, jika ini bukan karena Golden Orb, Katsura pasti sudah mati 2 kali di pertempuran ini.


Kumpulan warga semakin mendekat setelah melihat Katsura terjatuh, mereka mendekat perlahan barangkali ada sesuatu lain yang akan terjadi.


Namun tiba-tiba dari jauh, ada seorang wanita berambut merah yang menerobos masuk ke barisan depan.


"Permisi, permisi!" katanya terburu-buru, menyingkirkan semua orang yang ada di depan.


Tak lama kemudian wanita berambut merah itu sudah ada di barisan terdepan, dia terengah-engah.


Katsura kebingungan, dia bertanya-tanya di dalam hatinya, "Siapa.. itu?"


Wanita itu menunduk dan menaruh tangannya pada punggung Katsura.


"Rasa ini.."


Setelah tangannya menyentuh punggung Katsura, badan Katsura terbakar oleh api, namun lukanya bukannya menambah, justru memudar.


Para warga di sekitar nya pun panik dan kembali mundur setelah melihat Katsura dibakar.


Setelah beberapa menit, Katsura kembali segar bugar tanpa ada luka sedikitpun, namun tenaga nya tak ikut pulih. Dia melihat ke arah wanita itu dan alangkah terkejutnya ia.


"F-Feria?!" teriaknya spontan.


"Kok kamu ada disini?" Katsura langsung berdiri didepannya.


"Tentu, aku kan mau menyelamatkanmu, aku tahu melawan dua orang itu pasti sulit, bahkan untukmu" jawabnya.


"Tidak tidak, maksudku kenapa kamu bisa tahu aku ada disini? belakangan ini kita tidak bertemu loh.."


"Tentu aku tahu, firasatku mengatakan kamu ada disini" jawabnya lagi dengan percaya diri.


"Terimakasih. Oh ya, kenapa kamu mewarnai rambutmu?" Katsura baru sadar penampilan Feria yang baru.


"Oh ini? aku hanya ingin mewarnainya saja, tidak ada alasan khusus. Jadi bagaimana? apakah cocok denganku?" Feria memainkan rambutnya dengan wajah yang sedikit memerah.


"Kamu sangat cantik dengan rambut ini."


Setelah mendengar ungkapan Katsura soal rambutnya, hati Feria berdebar kencang dan wajahnya semakin memerah.


"B-benarkah.. terimakasih.." ucapnya.


Katsura tersenyum, lalu salah satu warga maju dan berbicara pada Katsura.


"Ehem, permisi, maaf mengganggu waktu romansa kalian, namun bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" kata seorang pria tua dengan seragam kerja nya, dia seperti terlambat datang kerja.


"Oh ya maafkan aku, aku akan menjelaskannya."


"Pertama-tama aku bukanlah orang jahat, aku disini untuk menghentikan dua orang yang dianggap sebagai musuh kami. Mereka berdua sangat kuat dan aku dipaksa dikurung di dalam kubah, mungkin kalian sudah lihat itu."


"Aku meledakkannya dari dalam agar bisa menghancurkannya-"


"Bukan itu, maksudku, kenapa kau melawannya disini? kau bisa melawan orang itu di tempat yang lebih sepi warga, disini kau hanya menakut-nakuti kami."


"Maaf, ini sebenarnya tak biasa terjadi di daerah sini, mereka lah yang memilih tempat, mereka sampai disini duluan sebelum aku."


"Lantas apa tujuan mereka berpindah kota? mengapa kau bisa ada disini?"


"Maafkan aku tentang apa yang terjadi disini" Katsura tersenyum dan menunduk.


"Eh, tidak, jika memang benar itu tujuan musuhmu maka kami lah yang seharusnya berterimakasih" pria itu seakan tidak menerima permintaan maaf Katsura karena merasa tidak pantas.


"Baiklah, kalau begitu selamat tinggal, ya" Katsura berbalik dan menggenggam tangan Feria, lalu berteleportasi ke lapangan luas.


"K-kenapa kamu membawa kita kesini?" wajah Feria masih memerah akibat perkataan Katsura tadi.


"Aku rasa setelah pertempuran melawan Versace dan Homura ada yang tertinggal. Dan juga kenapa wajahmu merah begitu? kau baik-baik saja?" Katsura mendekatkan wajahnya ke Feria.


"T-t-tidak! aku baik-baik saja.." Feria semakin malu dibuatnya, suaranya terbata-bata.


"Barang apa yang tertinggal..?" Feria berusaha mengalihkan topik, wajahnya masih merah seperti tomat.


"Embodiment Crystal yang mengurung Ferus, aku tak ingat jatuh dimana, aku khawatir itu pecah dan Ferus sudah keluar tanpa sengaja. Itu akan menjadi hal yang buruk."


"Tunggu, hilang? kalau begitu kita harus mencarinya!" Feria sedikit panik, wajah malu nya seketika hilang.


Mereka berdua mencari bersama-sama, sampai pada akhirnya Katsura menemukan sebuah batu besar yang menjungkal keatas.


Katsura berjalan ke balik batu itu dan menemukan seseorang, disaat itu juga dia memanggil Crescent Deluz-nya.


Feria yang sadar Katsura memanggil senjatanya bersembunyi di belakang nya.


Orang itu membuka matanya, dia sekarat setengah mati, orang itu adalah Homura.


"Uh.. Kau, ya.. Katsura.. Apakah kau akan membunuhku?" tanyanya pelan, suaranya serak.


"Menurutmu setelah semua apa yang kah buat?" Katsura bertanya kembali dengan nada yang dingin, dan dia mengangkat sabitnya.


"He.. Kau benar.. aku tidak bisa dimaafkan setelah apa yang ku perbuat pada kalian.. Kau sedang mencari ini, bukan..?" Homura mengeluarkan Embodiment Crystal dari jubahnya.


Mata Katsura terbuka lebar-lebar, "Bagaimana bisa kau mendapatkannya? apa kau akan meneruskan tekad Versace dan menggunakannya dihadapanku?"


"Ti..dak.. aku sudah tidak punya stamina untuk berdiri, apalagi bertarung.. ambil saja ini.." Homura menyerahkan kristalnya pada Katsura.


"Sepertinya jika tidak ku bunuh juga kau akan tetap mati, ya?"


"Benar.. Tanyakanlah semua yang kau mau tanya.."


"Mengapa kau bergabung dengan Versace? apa alasanmu?"


"Sebenarnya aku bekerja sama dengannya hanya sampai jika berhasil menggulingkan Ferus.. hanya itu saja yang aku inginkan, sisanya terserah dia."


"Jadi kau benar dari semesta J-10?"


"Ya.. Itu benar.. umurku juga sudah ratusan tahun lamanya.. sama seperti Versace."


Homura seketika batuk darah cukup parah, dan memperlihatkan luka tebasan yang sangat parah di badannya.


"Jika.. kau pergi.. ke 100 tahun lalu.. kau akan tahu.. sejarah dari dirimu juga.."


"Golden Orb yang kau dapat itu dari Dorman, bukan? sejak aku tahu ada pengguna Golden Orb.. aku langsung membuat rencana ini.. rencana yang berlangsung cukup lama.. bahkan dari awal aku menyusup.."


Homura batuk darah lagi, dia sudah diambang kematian. Homura pun memberikan Katsura botol kecil yang panjang, berisikan cairan sihirnya.


"Untuk apa ini?"


"Terima.. saja.. itu.. akan.. membantumu.. suatu saat nanti..."


"Jika aku perlu sihirmu maka aku hanya perlu menyuruh Aizo mengkopinya-"


"Tidak bisa.. sihirku.. bukanlah sihir asli.. ini sebenarnya adalah cairan yang dibuat khusus oleh permata dan bahan kimia.. Namun berkat bantuan Versace.. aku berhasil menjadikannya sebagai sihirku.. ambillah, tolong."


Katsura mengambil botol itu, lalu Homura pun semakin tidak bertenaga.


"Terimakasih.. dan maaf.. untuk semuanya.. Katsura.. dan juga.. Feria.. Kau akan aman.. bersama Katsura.. Tolong jaga dia baik-baik.. Ka.. Katsura.."


Homura menghembuskan nafas terakhirnya didepan Katsura dan Feria.


Bersambung...