
Aizo merenung, lalu berkata, "Kira-kira kita bisa bantu Katsura gak, ya?"
"Soal kekuatan yang tersegel didalam tubuh sendiri, aku masih tak yakin bahwa itu bisa dilakukan oleh seseorang. Tapi, yang pasti adalah, ini lebih mudah dibandingkan kekuatannya tersegel di tempat lain, ataupun direnggut" Homura menanggapi.
"Untuk sekarang, biarkan saja dia sendiri dulu, mungkin dia bisa mendapatkan pencerahan jika ada waktu" tambahnya.
"Untuk sekarang, kita kembali saja dulu ke markas dan juga-"
"Semua orang-orang ini akan kita apakan?" Zeldris menyela.
"Kita bawa saja dulu ke markas, ku pastikan bahwa semuanya tak ada yang memberontak dengan menggunakan sihir" jawab Homura.
..." Saintly Manacle "...
Homura menciptakan borgol yang berisikan sihirnya, sudah dipastikan, yang memakai borgol ini tidak akan dapat menggunakan sihir mereka sama sekali, dan Homura membuat seluruh pasukan Showa yang masih hidup memakai borgol ini sembari di tuntun ke markas.
"Ayo, kita pergi" Homura mulai berjalan.
Di markas, Katsura sudah duluan sampai dan menemukan Feria yang sedang duduk termurung di depan pintu masuk, dengan sengaja Katsura menyentuh kepalanya.
Feria mengangkat kepalanya, sambil meneteskan air mata, dirinya perlahan mulai melihat wajah Katsura.
Pengelihatannya sangat buram, tapi setelah mendengar suara Katsura, dia langsung bisa melihat dengan jelas.
"KATSURA? ITUKAH DIRIMU?!" serunya gembira sambil memegang pipi Katsura.
Katsura menurunkan salah satu tangan Feria, lalu berkata, "Iya, ini aku" katanya dengan senyum tulus.
Air mata Feria yang tadinya sudah berhenti menetes, kembali mengucur deras setelah mengetahui Katsura masih hidup, pipinya menjadi merah dan dia pun memeluk Katsura dengan erat.
"Kupikir kau sudah ke alam baka..." ringisnya di bahu Katsura.
"Tidak, kok. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian" ucap Katsura lirih, lalu dia mengelus kepala Feria.
"Tapi kata Azashi kamu sudah mati saat bintang Alpha Centauri meledak, disitu aku sudah pasrah, tahu. Kukira kau akan berakhir sama seperti lelaki yang lain."
Katsura mendorong bahu Feria, sembari memegang bahunya, Katsura berkata, "Maafkan aku, ya. Aku sudah kembali sekarang."
Situasi yang canggung datang, jarak diantara mereka berdua tidak kurang dari satu langkah, perlahan Katsura maju dan mendorong Feria ke dinding.
Feria hanya berdiam diri, tak mampu melawan balik, dirinya hanya melihat tatapan Katsura yang semakin mendekat ke wajahnya.
Tangan Katsura mengangkat dagu Feria secara perlahan, mengarahkan mulutnya agar searah. Bibir mereka saling melambai, karena terlalu dekat.
"Kamu sangat imut ketika sedang menangis" ucapnya, lalu kedua bibir mereka pun bersentuhan.
Mereka berbagi ciuman pertama.
"Itu sedikit hadiah dariku, hehe" Katsura menjauhkan tubuhnya.
Feria terpaku di dekat dinding, tak bisa berkata-kata lagi, matanya melongo, menunjukkan seluruh emosinya.
"E-eh? APA YANG KAU LAKUKAN?" teriaknya marah, walau sebenarnya dia sangat senang.
"Aku menciummu, apa salahnya?"
"B-bodoh, kamu masih saja seperti dulu" katanya penuh tersipu malu. Wajahnya semakin merah.
"Katsura? itukah kau?" ucap Arizawa di pintu, dia baru saja membukanya.
"Halo" Katsura melambaikan tangannya.
"KAU... MASIH HIDUP?" teriaknya.
"Ya ampun, banyak sekali orang yang menanyakan hal itu kepadaku, aku ada disini itu berarti aku masih hidup lah" ujar Katsura.
"TIDAK TIDAK, SELAMAT DARI LEDAKAN SUPERNOVA ITU HAL YANG MUSTAHIL, BAHKAN UNTUK SEORANG DIRIMU" tambah Arizawa.
"Baiklah, akan kujelaskan semuanya didalam, ayo masuk" Katsura menarik tangan Feria dan masuk ke markas.
"Tentu, kecuali Zeldris, Homura dan Aizo, mereka sedang melawan bawahan Showa terakhir" jawab Arizawa.
"Oh, kalau itu aku sudah tahu, aku yang melancarkan serangan terakhir ke robot gundam itu" kata Katsura dengan sedikit bercanda.
"Lagipula, mengapa orang-orang berpikir aku sudah mati? apakah kau tidak sadar bahwa penghalang sudah ku nonaktifkan?" tambahnya.
"Yah, menghilangnya penghalang itu membuatku sedikit terkejut, kukira penghalang itu hancur karena Showa, atau mungkin terkena sihir Homura" ulas Arizawa.
"Walau termasuk ke golongan sihir, penghalang ku takkan lenyap hanya karena sihir penetralan Homura. Karena sudah wajar jika tingkatan sihir bawah takkan mampu memengaruhi tingkatan sihir yang ada diatasnya" jelas Katsura.
"Kau tahu itu darimana?" Feria bertanya penasaran.
"Dari anime" jawabnya tersenyum.
Sesampainya di tempat kerja, tentu saja semua orang terkejut bahwa Katsura masih hidup setelah menerima supernova dari jarak dekat.
"Awalnya, aku masih sama saja, sedang bertarung melawan Showa. Kekuatannya benar-benar mengerikan dan sangat merepotkan, Aku dalam perubahan terbaruku, yakni Murasaki No Tenmado saja kesulitan menghadapi nya."
"Lalu, dia melancarkan serangan yang sangat efektif untuk membuatku terdorong hingga sangat dekat dengan Alpha Centauri, aku bahkan sampai di permukaannya. Lalu dia meledakannya. Disitu, aku sudah pasrah dengan takdirku. Karena, tak ada yang bisa menahan ledakan supernova dari jarak sedekat itu."
"Tapi, tubuhku berkata lain. Dengan otomatis, tubuhku yang terluka bahkan hampir lenyap beregenerasi kembali dan menyerap energi ledakan supernova itu dan menjadikannya kekuatan baru, kunamakan Kirameku Hoshi Akari."
"Dengan kekuatan itu, aku mampu menandingi Showa, bahkan melampauinya jauh. Sesaat sebelum dia bertambah kuat lagi, aku membelanya menjadi dua bagian. Aku memenangkan pertarungan itu. Tapi, konskuensi nya adalah kekuatanku tersegel didalam diriku sendiri. Ini semua adalah ulah Showa dari awal aku bertemu" jelas Katsura terperinci.
"Jadi begitu, tubuhmu merespon reaksi sebelum hal itu benar-benar terjadi, kekuatan yang mengerikan" kata Azashi.
"Lalu, bagaimana dengan kekuatanmu? apakah bisa dikembalikan seperti semula?" tanya Yukichi.
"Mungkin bisa, tapi aku masih tak tahu cara untuk mengembalikannya. Homura juga berkata demikian, jadi aku memutuskan untuk berkelana sendirian dulu di luar markas."
"Tunggu, itu terlalu beresiko, tak kuizinkan kau keluar sendirian. Bagaimana jika ada pasukan Showa ber kekuatan menyerangmu?" bantah Arizawa tegas.
"Semua pasukan Showa berhasil ku amankan, mereka mau berpihak pada kita, dan sekarang sedang dalam perjalanan kemari bersama Homura, Zeldris dan Aizo. Lagipula, kekuatan fisikku tak tersegel, aku bisa memberi perlawanan pada mereka" balas Katsura.
"Kau adalah aset paling berharga bagi kami, Katsura. Kami tak mungkin membiarkanmu pergi sendirian" ujar Yubino.
"Percayalah padaku, sungguh. Aku akan kembali dengan kekuatan yang sudah kembali semula" Katsura tersenyum, lalu berjalan ke arah pintu keluar.
Feria menghadang, lalu berkata, "Apa kamu mau meninggalkanku sendiri lagi? kamu baru saja pulang, masa kamu mau pergi lagi. Izinkan aku berkelana bersamamu."
"Maaf ya, aku janji, setelah aku pulang, aku akan berduaan bersamamu sampai kamu puas, sekarang aku tak bisa mengajakmu karena terlalu berbahaya. Dan aku perlu waktu sendiri, maaf ya" Katsura menolak secara halus.
Feria pun mengalah, lalu dia berkata lagi, "Janji ya! kamu harus pulang dengan selamat!"
"Iya, darling."
Hari sudah malam, Katsura berjalan di hutan lebat, yang jauh dari markas. Sambil membawa senter, ia mengarahkan senternya kesana dan kemari. Siapa tau dia akan menemukan petunjuk seperti artefak kuno atau semacamnya.
Katsura pun lelah, lalu dia memakan bekal bawaannya dan menyalakan api unggun.
Sekilas, Katsura mendengar suara di balik semak-semak, dia berpikir bahwa itu adalah tikus saja. Namun, suara itu kian mendekat dan mengeras.
"Siapa disana!?" Katsura berdiri dan mengarahkan senternya ke arah suara itu.
"Kau masih sehat ternyata, Katsura Laith" ucap seorang pria misterius dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya.
Katsura yang mendengar suara itu seperti sangat familier, lalu dia kembali bertanya, "Darimana kau tahu namaku?!"
"Oh aku tahu, aku pernah melawanmu sebelumnya" pria itu perlahan membuka tudung yang menutupi wajahnya.
Katsura terpelongo tidak percaya.
"N-Nico?"
"Selamat malam, Katsura" kata Nico dengan senyum misteriusnya.
Bersambung...